Speak Your Mind!!! Sikap Orang Tua yang Bisa Menyakiti Jiwa Anak

489

Maret 27, 2012 oleh nugraheniismyname

Speak Your Mind!! Sikap Orang Tua yang Bisa Menyakiti Jiwa Anak

Salam Pardes dan 5 Sahabat Hantu!

Anak manusia dilahirkan ke dunia memiliki takdir hidup yang berbeda-beda. Ada sebagian anak yang mendapat perlakuan yang baik dari kedua orang tua. Tapi, ada juga anak yang selalu mendapat perlakuan yang buruk dari orang tua.

Menurut pengamatan saya, berikut ini beberapa contoh perilaku orang tua yang bisa menyakiti jiwa anak. Don’t Try This at Home!

  1. Orang tua yang tidak peduli dengan perasaan anak, yang mereka pentingkan adalah perasaan mereka sendiri. Orang tua cenderung memaksakan apa yang mereka inginkan terhadap anak. Sehingga, anak tidak dihargai sama sekali. Orang tua marah jika anak menyakiti perasaan orang tua. Tapi, mereka akan seenak saja bertindak dan berperilaku yang bisa menyakiti perasaan anak.
  2. Orang tua yang berkata kasar terhadap anak-anak, ditandai dengan orang tua yang sering mengumpat dan mencaci di depan anak-anak mereka. Bahkan, terkadang orang tua sering menyalahkan apa yang dilakukan anak tanpa menjelaskan dimana letak kesalahan anak. Pokoknya, jika apa yang dilakukan dan apa yang diinginkan anak tidak sesuai dengan keinginan orang tua maka si anak langsung akan dimarahi dan dicaci bahkan dihina. Mereka tidak bisa menasehati anak dengan cara baik-baik.
  3. Orang tua yang sering bicara kasar biasanya disertai dengan kekerasan secara fisik. Jika si anak bertindak yang tidak sesuai dengan pandangan orang tua maka si anak bisa saja disiksa seperti dilempar helm, dilempar gembok pintu gerbang, dipukul dengan sapu dan lain-lain
  4. Orang tua mementingkan perasaan mereka sendiri biasanya juga mereka tidak peduli dengan anak. Seperti misalnya, orang tua tidak peduli dengan nilai sekolah, orang tua tidak peduli dengan kegiatan anak, orang tua tidak peduli dengan prestasi anak, orang tua tidak peduli dengan kebutuhan anak. Yang mereka pikirkan hanyalah kebutuhan mereka sendiri. Ini termasuk dalam tipe orang tua egois.
  5. Orang tua yang bersikap memusuhi anak, orang tua merasa mereka berhak atas hidup anak. Jadi, ketika anak bertingkah tidak sesuai dengan keinginan orang tua maka anak tersebut akan dimusuhi. Setiap anak ingin mengeluarkan pendapat maka orang tua akan langsung menanggapinya dengan amarah dan sikap bermusuhan. Kata andalah mereka adalah, “Kamu ini hidup dibiayai orang tua dan masih ikut orang tua tapi kamu selalu menentang orang tua.”. Padahal anak menentang bukan tanpa alasan, mungkin mereka ingin menyuarakan kata hati mereka supaya orang tua lebih bisa memperhatikannya.
  6. Orang tua yang mengandalkan uang dalam membesarkan anaknya. Memang, orang tua sibuk mencari uang untuk biaya keluarga. Akan tetapi, orang tua sering menggunakan kekuasaan uangnya untuk menguasai anak. Mereka akan mengungkit-ungkit biaya dan uang yang telah mereka keluarkan untuk membiayai anak di depan anak tatkala anak melakukan hal yang tidak disukai orang tua.
  7. Orang tua yang membiarkan anaknya hidup dengan dirinya sendiri. Dalam hal ini, orang tua tidak peduli dengan anak. Mereka tidak tahu apa yang dibutuhkan anak sehingga anak berjalan di jalannya sendiri tanpa bimbingan dari orang tua. Anak hidup dengan pemikiran sendiri, anak mengambil keputusan sendiri, anak harus menghadapi masalahnya sendiri. Memang cara ini bisa membuat anak menjadi mandiri sekaligus merasa kesepian.
  8. Orang tua yang sibuk bekerja dan sibuk dengan bisnis dan urusan sendiri sehingga mereka mengabaikan anak-anaknya. Anak tidak hanya butuh uang untuk dibesarkan, tapi perhatian dari orang tua sangat dibutuhkan anak.
  9. Kedua Orang tua yang sering bertengkar dihadapan anak juga bisa berdampak buruk bagi anak. Apalagi pertengkaran itu berakhir dengan kekerasan yang juga melibatkan anak. Anak dijadikan pelampiasan emosi kedua orang tua, padahal anak tidak tahu apa-apa.

Lalu, apa yang biasanya dilakukan anak yang hidupnya tersakiti oleh orang tua?

  1. Ada beberapa anak yang mengungkapkan rasa berontaknya dengan melakukan hal negatif, mereka melakukan apa yang ia suka tapi kelakuan itu cenderung berdampak merugikan diri sendiri, mereka cenderung akan menyakiti dirinya sendiri tanpa ia tahu. Misalnya mereka akan menjadi anak yang bandel, berbuat kejahatan, suka berkelahi, suka minum-minuman keras, suka menghamburkan uang tanpa alasan yang jelas, bahkan yang paling parah mereka bisa membunuh dirinya sendiri.
  2. Ada beberapa anak yang memilih bersikap tidak peduli dan santai-santai saja. Mereka bersikap masa bodoh dan cuek. Mereka juga tidak peduli dengan apa yang dilakukan orang tua terhadapnya. Pokoknya anak jenis ini akhirnya tidak memiliki rasa kepedulian karena anak ini meniru apa yang telah diajarkan oleh orang tuanya. Orang tua yang tidak peduli dengan anak-anaknya. Maka si anak juga menjadi tidak peduli dengan orang tua.
  3. Ada sebagian anak yang berhati mulia, walau mereka telah disakiti oleh orang tua. Mereka tetap patuh kepada orang tua. Mereka selalu mengikuti keinginan orang tua. Mereka dengan ikhlas menerima perlakuan orang tua terhadap mereka.
  4. Ada sebagian anak juga bersikap memberontak. Tapi, dalam hal ini, mereka memberontak secara positif. Akibat kurangnya rasa kepedulian orang tua terhadap anak, maka anak dengan jenis ini akan selalu melakukan apa yang ia suka akan tetapi apa yang ia suka itu harus berdampak positif bagi dirinya sendiri. Jenis anak ini akan menunjukkan jika ia mampu menjadi anak baik walau segala apa yang ia lakukan tidak pernah berkenan di hati orang tua. Walaupun apa yang ia lakukan tak pernah dihargai, anak ini akan terus membuktikan jika ia bisa hidup di jalannya sendiri. Akan tetapi, biasanya anak ini memiliki prinsip hidup yang kuat.  Ia akan menentang orang tua jika orang tua tidak sepaham dengan prinsip hidupnya. Pada intinya, jenis anak ini menjalani hidupnya sesuai dengan prinsip hidupnya sendiri. Jenis anak ini akan melakukan apa yang ia suka asalkan apa yang ia suka itu berdampak baik bagi hidupnya dan tidak merugikan orang lain.

Sebagai anak, kita dituntut untuk selalu berbakti kepada orang tua. Jika kita melawan orang tua sedikit saja maka kita akan mendapat dosa. Akan tetapi, anak juga butuh sekali diperlakukan dan dididik dengan baik supaya jiwa anak tidak terganggu dan tersakiti. Buatlah anak merasa nyaman dan aman hidup di dunia ini.

Oleh karena itu, sebelum anda memutuskan untuk memiliki anak. Pikirkanlah cara mendidik dan mengasuh anak dengan baik. Jangan sakiti hati anak jika anda tidak ingin disakiti oleh anak. Kelak jika orang tua sudah sangat renta, maka orang tua butuh anak untuk bisa merawat orang tua di hari senjanya. Oleh karena itu perlakukan anak anda dengan sebaik-baiknya.

Bagi anak-anak yang telah tersakiti oleh perilaku orang tua. Tetaplah doakan kedua orang tua kita. Karena pintu surga akan terbuka bagi anak-anak yang selalu mendoakan orang tuanya. Jangan pernah menyakiti diri sendiri dan sayangilah diri kita sendiri.

Sekian dan terimakasih.

489 thoughts on “Speak Your Mind!!! Sikap Orang Tua yang Bisa Menyakiti Jiwa Anak

  1. tami mengatakan:

    Setuju… tulisannya gamblang n apa adanya. Sekali lg setuju.

    Suka

    • egia m syahbana mengatakan:

      aku juga sensib denganmu dia hanya memikirkan perasaanya saja

      Suka

      • awaluddin mengatakan:

        saya juga sdih banget sudah hampir 40 tahun umurku banyak usaha aku lakukan banyak uang aku hamburkan namun mama selalu menyakiti hatiku …bahkan hanya utk hal hak spele dia bisa mengeluarkan kutukan…sering aku berkhayal andai saja kita bisa memilih ibu kita sendiri tentunya kau akan pilih ibu dr kawnaku yg kukenal lemah lembut dan selalu enjaga perasaan nanknya….putus asa terus mneghantui apalagi kalo marah mama suka merembet ke istri dan ankku ygtidak tau menau ….ada gak ya ygmau aku angkat aku jadi anak? aku buth sandaran tempat mengadu …sesuatu yg tidak bisa ak bicarakan dengfan istri,,,,sejak kecil kau di asuh nenek kemuadian nenek meninggal aku ikut paman sampe menikah,,,hal ini dilakukan ayah karena ayah tidak melihat chemistry sbg mana ibu dan anak antara aku dan mama….ah sudahlah kuterima saja takdirku ini saya hanya ingin teman2 yg punya ibu yg menyayangi mu setulus hati….bersyukurlah dan bahagiakan ibumu semampu kalian seblum aja memisahkan….tidak banyak orang seberuntung kalian…banyak sekali anak yg dianiaya secara fisik dfan mental oleh ibu kandungnya sendiri..sampe detik ini

        Suka

      • nugraheniismyname mengatakan:

        Yang kuat ya Pak…mungkin itu cobaan hidup yang bisa jadi pahala bila bisa melaluinya.

        Suka

      • Doni saputro mengatakan:

        kalau saya solusinya gimana ya.. ibu saya sering berkata kasar sllu nuduh saya, dan bilang tidak percaya lagi sama saya.. jujr saya ingin pergi dri rumah dan ingin kerja kota lain apapun itu. tolong saya

        Suka

      • nugraheniismyname mengatakan:

        Kalau bisa dicari sebab musabab kenapa ibu bisa bersikap seperti itu. Kalau masalah ada pada dirimu sebisa mungkin diperbaiki diri sendiri, namun klu kamu sudah merasa jd anak baik2+berbakti+patuh pada ortu, dan ternyata memang ibu yang memiliki sifat marah2 tanpa sebab dan tdk mudah percaya, maka bisa diusahakan mandiri atau bisa seperti pemikiranmu tadi yaitu kerja dan ngekos di luar kota agar tidak berseteru terus dg ibu.
        Sekian bila tidak berkenan, harap maklum.

        Suka

  2. nugraheniismyname mengatakan:

    terimakasih banyak sudah menyetujui tulisan ini ya …..

    Suka

  3. Helen mengatakan:

    diri saya banget…makasih ud posting tulisan ini…

    Suka

  4. Maya mengatakan:

    Saya setuju, dan posisi aku sekarang memberontak karna ketidaksetujuan atas sikap mereka.

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      memberontak tidak apa-apa asal kita tidak menyakiti dan merugikan diri sendiri. tunjukkan kepada orang tua jika jiwa kita besar dan berharga. Tetap berjuang karena dunia ini sangat jahat.

      aku berikan kutipan dari paulo coelho, semoga bermanfaat:
      Aku memaafkan air mata yang harus kutumpahkan,
      Aku memaafkan rasa sakit dan kekecewaan,
      Aku memaafkan semua pengkhianatan serta kebohongan,
      Aku memaafkan semua fitnah dan tipu-muslihat,
      Aku memaafkan kebencian serta penganiayaan,
      Aku memaafkan pukulan-pukulan yang melukai,
      Aku memaafkan impian-impian yang rusak,
      Aku memaafkan harapan-harapan yang mati sebelum waktunya,
      Aku memaafkan permusuhan dan kecemburuan,
      Aku memaafkan ketidakpedulian dan niat jahat,
      Aku memaafkan ketidakadilan yang dijalankan atas nama keadilan,
      Aku memaafkan kemarahan serta kekejaman,
      Aku memaafkan kelalaian dan sikap menghina,
      Aku memaafkan dunia dan semua kejahatannya.
      (oleh karena itu maafkanlah sikap keduaorang tua apabila mereka tanpa sengaja menyakiti hati kita dan maafkan juga dunia yang jahat ini)

      kutipan lain
      Aku memiliki kemampuan mencintai, terlepas dari apakah aku balas dicintai,
      Kemampuan memberi, bahkan saat aku tidak punya apa-apa,
      Kemampuan bekerja dengan bahagia, bahkan di tengah kesulitan-kesulitan,
      Kemampuan mengulurkan tangan, bahkan saat aku benar-benar sendirian dan diabaikan,
      Kemampuan untuk mengusap air mata, bahkan saat aku menangis,
      Kemampuan percaya, bahkan saat tidak seorang pun percaya padaku.
      (oleh karena itu tetaplah menjadi jiwa yang kuat, besar dan mampu menghadapi cocaan-cobaan hidup).

      Tetap semangat karena di dunia ini ada banyak anak yang memiliki takdir yang sama seperti yang saya tulis di artikel.

      Suka

  5. djoni mengatakan:

    Banyak orangtua yg tidak sadar. Mrk merasa tidak melakukan kekerasan secara fisik. Tapi mereka telah melakukan kekerasan psikologis terhadap anaknya. Ini jauh lebih berbahaya.

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Ya benar. Apalagi kalau jiwa anak menjadi terganggu/trauma karena hal itu. Dan hal itu terbawa hingga dewasa, itu sangat mengerikan.

      Suka

    • Yazid mengatakan:

      Betul bnget

      Suka

    • VAF mengatakan:

      setuju.
      psikolog jadi terganggu.selalu dihantui perasaan terluka karna orang tua.
      aku bahkan capek dan ingin menyerah(bunuh diri).
      tapi aku berfikir.suatu saat aku akan buktikan bukan hanya dia anaknya.tapi ada aku.
      secara fisik mau pun mental aku pernah merasakan kekerasan yg dikasih orang tua.
      bahkan dia sibungsu yg laki-laki(dan aku perempuan). lebih banyak aku yg mendapatkan kekerasan.
      pernah suatu ketika aku bertanya pada ibu.kenapa cuma aku yang di kerasin(dipukul dan dicaci) oleh kalian.kenapa dia tidak pernah mendapatkanya.ibu menjawab nanti klo dia dikerasin(pukul atau dimarahin) dia bisa sakit.
      terus bagaimana denganku? ibu menjawab kamu harus mengalah sma dia(sibungsu).

      sakit rasanya.
      ketika aku dipukul atau di katai yg jelek2aku selalu diam.karna orang tua menyuruh untuk mengalah.
      di keluarga cuma aku yang terluka.baik fisik maupun mental.tapi aku yakin pasti ada hikmahnya dari semua ini

      Suka

  6. Woen mengatakan:

    Maaf, saya sangat tidak setuju dengan kalimat pada:
    3. Ada sebagian anak yang berhati mulia, walau mereka telah disakiti oleh orang tua. Mereka tetap patuh kepada orang tua. Mereka selalu mengikuti keinginan orang tua. Mereka dengan ikhlas menerima perlakuan orang tua terhadap mereka.

    Jika kita membiarkan sesuatu yang bersalah dihadapan kita, dan kita menuruti saja itu namanya sama saja kita disuruh mencuri dan kita melakukan pencurian. Bodoh itu namanya. Sudah tahu itu salah kenapa masih diturut? Apa benar anda berpendapat demikian???? Mohon di pikir ulang pemikiran saya yang soal ini “Membiarkan sesuatu yang salah, padahal kita bisa menolongnya, tetapi justru kita membantu dan melakukan yang berdosa sekalipun kita tahu itu salah, dan kita pasti berdosa” Sebab “Salah” ya “Salah” BUkan “Benar”.

    Misal Mencuri ya Mencuri, dan itu salah.
    Orang tua itu punya tanggung jawab yang besar, jika anak sampai seperti itu, artinya orang tua yang bersalah, harus koreksi diri sebab pengalaman orang tua lebih banyak. Jika orang tua tidak mampu, maka ortu yang bersalah. Bukan anak.

    Mohon di anulir tulisan diatas tersebut. Sebab Tuhan tidak pernah menyuruh kita melakukan sebuah tindakan yang salah. Bahkan kita harus berkorban untuk sebuah kebenaran bukan. ^_^

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Saya menulis semua tulisan ini berdasarkan kisah nyata yang dialami oleh orang-orang yang sangat dekat dengan saya. Jadi, saya tidak sembarangan menulis tulisan ini.

      Terimakasih atas pemikiran dan kunjungan saudara🙂

      Suka

      • Kim tata mengatakan:

        Semua yang ditulis oleh nugra itu benar. Memang ada anak yang berhati mulia seperti itu.
        Saya setuju sekali juga kalau mendidik anak haruslah dg cara yang benar. Jangan memaki2 anak, memaksanya bahkan sampe memukulnya. Bila ini sering dilakukan maka anak yang pada dasarnya sangat mencintai ortunya. Kemungkinan akan tumbuh menjadi anak yang pemberontak walau dengan hal positip. Dia hampir tidak akan mempercayai ucapan orang tuanya. Dan setiap kali jika orang tuanya melarang apa yang menurutnya hal itu positip dia akan teringat akan masa lalu dimana ortunya suka mengekang dan selalu memaksanya. Maka pada saat seperti itu anak ini akan memberontak dengan keras. Karena di lain pihak dia berfikir hal itu positip dan di pihak lain dia berfikir dia sangat menyayangi ortunya tapi kenapa ortunya tidak pernah mengerti ttg dirinya selama ini. Kenapa ortunya selalu mengekang dia.
        Dan type anak yang seperti ini apabila dia mendapatkan teman yang bisa mengerti akan dirinya. Dia akan sangat mengidolakan temannya itu bahkan sampe untuk menentang ortunya sendiri. Dan ini tidak baik, kalau dia tidak salah memilih teman yang bisa ia percaya tapi kalau salah???

        Maka dari itu untuk para ortu. Harap untuk intropeksi diri. Apabila merasa memiliki anak yang pemberontak dan keras kepala cobalah berfikir mundur kebelakang. Bagaimana pola didik anda terhadap mereka dulu. Jangan hanya bisanya menghakimi anak sebagai anak durhaka dan menyumpahinya macam macam. Namun coba untuk intropeksi diri dan coba untuk bisa mengrrti dan sangat untuk mengrrti dengan hati anak yang sudah terlanjur mengalami luka batin akibat sikap salah ortunya terdahulu. Demikian komentar saya. Apabila ada yang kurang berkenan harap dimaafkan.

        Suka

    • Need Help mengatakan:

      Dikawin paksa itu salah bukan???, Aye setujuh dengan penulis , karena aye sudah ngalaminnya sendiri, aye terima di begitukan , karena secara ancaman psikologis, kalau ngak di turutin orangtua marah2 bahkan ngamuk2 sampai sakit, kita sebagai anak ngak mau orang tua sakit, walau akhirnya, ngorbanin diri sendiri sampai nge batin, dan hidup berantakan,…sampai sekarang aye masih di rongrong secara fisik dan psikis, harus setor uang gajian untuk bayar hutang ortu, dan psikologis , harus liat mereka marah2 dan ngamuk2 saban hari, sampai ngak punya waktu untuk diri sendiri,…mau di lawan? silahkan kalau mau lihat mereka jatuh sakit

      Suka

      • nugraheniismyname mengatakan:

        Ya kamu mungkin termasuk anak yang tidak tegaan dan kadang anak yang tidak tegaan lebih sering ‘menderita’ apalagi jika usahanya selama ini tidak mendapat balasan perlakuan yang sama, bahkan tidak ada orang yang mengerti, dimanfaatkan, dan kadang dikambinghitamkan.

        Klu sampe mental terganggu sebaiknya konsultasi ke psikolog/psikiater.

        Suka

    • rere mengatakan:

      Ini saya. Tetap berusaha jadi anak baik. Menurut. Si si baiknya saya berprestasi secara akademik. Sisi buruknya saya lemah secara emosional dan sosialisasi. Yg kelemahan itu pada akhirnya melemahkan kecerdasan juga, sebab aplikasi ilmunya selalu terhambat masalah emosional dan sosiologi, terutama saat berinteraksi dengan orang lain.
      .
      Pada waktunya, kesabaran sebagai anak penurut akan meledak juga. Ketika kegagalan kegagalan dalam hal emosional dan sosial berdatangan, menjadi terus menyalahkan ibu. Menurunkan produktivitas keseluruhan hidup saya.
      .
      Semoga kita semua menemukan jalan keluar.
      .

      Suka

  7. Rizal Sullivan mengatakan:

    terus apa tindak kita sebangai anak,terhadap orang tua yang seperti itu ?

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Tetap tabah dan sabar dan mandiri. Tidak usah merepotkan orang tua, misal kalau masih jadi pelajar carilah beasiswa, kemudian lulus dan cari kerja, setelah kerja, bisa bangun rumah sendiri dan tinggal sendiri.
      Kalau memang perilaku orang tua sangat parah (kalau kamu sudah protes kepada orangtua tentang sikap mereka, tapi tidak diindahkan) maka, minta tolonglah kepada saudara, tetangga yang dipercaya untuk mengingatkan perilaku orang tua yang tidak pantas.

      Suka

  8. abigail mengatakan:

    saya bungsu 3 bersaudara…
    saya termasuk anak tumbuh dalam keegoisan ortu (ayah)
    kakak-kakak dan saya,akhirnya tumbuh menjadi pribadi yg lebih tough dr anak2 lain.
    dampak bagi anak yg memiliki prinsip hidup benar adlh menghindari sikap buruk orang tua (ayah) dan menjadikan orang tua sebagai pribadi yg berkarakter salah dan tdk pantas ditiru. Sangat tdk bercita-cita tumbuh menjadi pribadi spt orang tua. (ayah)
    semasa remaja saya tdk krasan di rumah, menyibukkan diri dg aktifitas sekolah
    masa kuliah saya berusaha mandiri,hidup sendiri
    masa bekerja seperti saat ini harus membiayai ayah yg masih dg sifat keegoisan dan tidak bersyukur ditambah lagi dg seorang adik tiri dari hasil perselingkuhan yg harus saya biayai dan tinggal serumah dgn saya. Kadang saya kehabisan kata2. Satu hal yg bs sy syukuri melalui semuanya saya tumbuh menjadi orng bermental tangguh.

    Disukai oleh 1 orang

  9. hamba allah mengatakan:

    saya mempunyai ortu yang sangat berada, tetapi setelah saya menikah semuanya berubah drastis dan situasi sering kali menyedihkan untuk saya … apapun yang saya pakai selalu di ungkit2 dan dibahas sampai menyedihkan hati saya … dan kalau ortu saya kesal seringkali mengungkapkan kata2 yang menyakitkan hati seolah2 semua yang saya pakai dan nikmati adalah milik mereka dan saya tidak berhak untuk ikut menikmatinya … sampai2 saya selalu berdoa dan berharap untuk bisa menjadi mandiri supaya saya tidak akan menggangu harta mereka lagi … kenapa orangtua yang selalu mencari2 untuk anaknya dan mampu untuk memberi semu2nya ke anaknya tetap menghitung2 apa yang telah kami pakai dan ikut nikmati, kenapa orangtua kadang suka mengungkit2 hartanya untuk menyakitkan hati anaknya sampai2 kami harus berfikir berdoa dan berusaha supaya tidak akan menganggu2 kekayaan ortu … subhanallah astagfirullah allahhuakbar … mudah2an saya slalu diberi kesabaran dan kesuksesan supaya saya tidak tergantung oleh siapa2 yang suatu saat akan sangat menyakitkan hatiku …

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      ya memang semua orangtua ingin agar anaknya mandiri. hanya saja cara mereka ‘mengingatkan’ kita agar kita menjadi lebih mandiri itu berbeda-beda (bahkan sering menyakitkan hati). oleh karena itu tetap tabah dan sabar. tetap berusaha untuk mandiri dan berdiri di kaki sendiri. jika kita masih bergantung kepada orangtua, sebisa mungkin membantu apa saja semampu kita. orangtua menginginkan kita untuk mandiri bukan karena mereka membenci kita. tapi orangtua berpikir, “jika anak-anakku belum mandiri, bagaimana nasib anakku jika aku bertambah tua dan aku tiada. siapa yang akan membantu anakku?”. Oleh karena itu tetap berpikir luas dan positif, sedikit demi sedikit berjuang dan berusaha untuk mandiri, berkarya, dan berprestasi sesuai dengan cara kita sendiri.

      Suka

  10. taufiq mengatakan:

    apa yang sering saya lakukan ,selalu salah dmata ibuku…
    aku seperti dianak tirikan,awalny ku mencoba bersabar!!!
    tapi semakin kesini,ak tdak tahan dg perlakuan ibuku,
    hidupku semkin terpuruk!!!
    dan sekarang pun kita tdak saling bicara!!!

    ak ingin pergi dr rumah…
    apakah ak berdosa,jika ak pergi tanpa pamit!!!
    karena ku tdk berbicara dg ibu!!!

    mohon jawabany!!!

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      jangan terburu-buru mengambil keputusan jika masih dalam keadaan emosi. sebaiknya tanyakan kepada ibu, “kenapa apa yang kamu lakukan selalu salah di mata ibu?” Tanyakan, “apa arti diri kamu bagi hidup ibu? toh, kamu ada di dunia ini juga melalui perantara ibu.” Jika ibu sudah menjawab, sebisa mungkin kamu juga menjelaskan apa yang sebenarnya kamu inginkan. setelah itu buat titik temu. jika kamu merasa tidak juga menemukan titik temu, maka ikutilah kata hatimu (melalui perenungan yang dalam, jangan gunakan emosi atau amarah). Berusahalah untuk berjuang untuk menyelamatkan hidupmu. misalnya dengan cara bersabar, ikhlas, dan tentu saja harus menjadi pribadi yang kuat dan mandiri. mandiri dan berprestasi dan berjuang dengan caramu sendiri (tentu saja dengan cara yang baik) karena yang tahu segala sesuatu tentang dirimu hanyalah dirimu sendiri dan Tuhanmu.

      Suka

      • salsa mengatakan:

        Asssalamu alaikum ,
        Bagus, terimakasih atas post nya ,
        Saya mau bertanua sekaligus memberi tau
        Apa yg anda tulis itu mirip sekali sperti apa yang saya alami dan ortu saya juga memang seperti itu nahh saya mau tanya kalau orng tua seperti itu lalu kita ajak dia berdoa atau ibadah ke pada tuhan tetapi mereka tidk pernah mau mendengar itu bagai mana kita menjadi anak harus bertindak seperti ap?? Mohoh di jawab yhh terimkasih asalamu alikum

        Suka

      • nugraheniismyname mengatakan:

        Wa’alaikumussalam. Ya mau bagaimana lagi? Itu sudah watak ortu mungkin. Jadi daripada menambah dosa, sebagai anak ya usaha tetap mendoakan dan selalu berbuat baik. Seperti misal contoh kisah nabi Ibrahim. Ayahnya tidak mau menyembah Tuhan yang esa. Tapi nabi Ibrahim tidak memusuhi ayahnya. Ya begitulah kira2. Terap mendoakan dan berbuat baik kepada ortu ya.

        Disukai oleh 1 orang

      • linda mengatakan:

        hampir sama dengan yg sy alami, dr sejak kecil sd sekarang mjd single parent, perlakuan ortu menganaktirikan sy dng kk sy yg sdh mandiri dan kaya.sdgkan saya dng kondisi spt ini, bukannya di support,disemangati, malah diejek2, diperlakukan spt ank yg g berbakti pd ortu, sll dan sll mengungkit materi yang diberikan utk sy dan cucu mereka. parahnya skrg jstru ortu tdk pernh mengajak bicara lagi! bgmn cara spy ortu mengerti ,selain kita hrs doakan trs? minta bantuan sdr pun tdk mungkin krn sy tdk dekat dgn sdr2.

        Suka

  11. Koe Hamsong mengatakan:

    terima kasih atas masukannya yng sudah di sampaikan di atas memang berat rasanya menjalani hidup dengan kondisi orang yag terdekat (orang tua ) memiliki sifat yang keras mau di bawa kemana perasaan dan pikiran ini….saya sangat senang dengan yang di sampaikan sekali lagi…TRIMAKASIH🙂

    Suka

  12. ms.intan mengatakan:

    Inti dari masalah kita sama mba. “Nafkah yang diungkit2”. Aku pikir biaya2 seperti makan, operasi ketika sakit, pendidikan dll merupakan kewajiban mrk sbg ortu. Toh sy merasa sbg anak, sudah menjadi anak yg baik. Tp msh aja msh kurang baik untuk mereka. Ada satu ketika sy disuruh berangkat umroh, mrk yg bayarin ikhlas ktnya, tp krn sy gak enak saya blg itu hutang dan akan sy cicil stiap bulannya dr gaji sy. Br 3 bln sy lunasi, sy resign dr pekerjaan dan tidak bs meneruskan cicilannya hingga sy mendapat kerja lg.saya sakit dn harus operasi minor, biayanya pk uang ortu lg. Krn memang sy gak pny uang. Dn seringkali biaya2 tsb semuanya diungkit2. Itu sgt menyakitkan perasaan mba.
    Padahal biaya umroh itu sy anggap sbghutang, sy cukup tau diri utk bertanggung jawab terhadap hutang saya. Lbh baik tidak umroh kan jika hingga saat ini diungkit2 terus, mslh biaya ibadah lho itu. Waktu mau brgkt jg sy gak minta kok. Sy gak ngerti mereka itu msh punya hati atau nggak.

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Bagaimana ya, mbak? ya pokoknya tetap sabar dan tabah. Siapa tahu melalui sikap dan sifat orangtua yang berperilaku seperti itu, jika kita tetap sabar dan tabah dalam menghadapi ortu maka hal itu bisa menjadi ladang pahala bagi kita semuanya. Aamiin.

      Suka

    • awaluddin mengatakan:

      mamaku suka giu juga ungkit ungkit apa yg sudah diberikan kepada ku..padahal saya nggak minta tuh dilahirkamn sama dia…kalo saya tau bakal ditagih tagih begini saya tentunya akan memilih mama yg iklas dan penuh pengorbanan sebagaimana yg banyakdi tulis di syair syai dan dongeng

      Suka

  13. ade mudawari mengatakan:

    Asslamualaikum. Wr.wb
    Saya ingin bertanya bagaimana sikap seorang anak kpd orang tuanya jika mereka marah marah tnpa sebab,, dan selalu membela orang lain dibandingkn dengan anaknya sendiri,,,!?
    Terimakasi wassalam,,

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Wa’alaikumussalam. Akan saya coba saya jawab semampu saya, ya…
      jadi begini, jika kamu selama ini merasa tidak melanggar ajaran agama dan norma sosial dimasyarakat, pada saat orangtua marah-marah tanpa sebab, maka tanyakan sama ortu “Kenapa aku dimarahi? Salahku apa, Ayah/Ibu?” (bertanya seperti ini kalau kamu merasa tidak bersalah, lho).
      Kalau ortu menjawab dengan mencari-cari kesalahan (dan kadang biasanya kalau ortu marah-marah tanpa sebab, marahnya bisa melebar kemana-mana), pada saat kamu dimarahi tanpa sebab ini, maka kamu harus membela diri dengan cara yang elegan dan pintar. Katakan saja kepada ortu, “ayah/ibu, mengapa aku dijadikan pelampiasan kemarahan ayah/ibu?” (Hal ini bisa ditanyakan karena biasanya ortu marah-marah tanpa sebab kepada kita itu karena pasti di luar rumah, ayah/ibu sedang ada masalah/bermasalah dengan orang lain).
      Nah, setelah bertanya mengapa kamu dijadikan pelampiasan kemarahan ortu, maka katakan juga “kalau ayah/ibu sedang ada masalah dengan orang lain, seharusnya ayah/ibu selesaikan masalah dengan orang lain itu. Mengapa aku yang dimarah-marahi?”
      Kalau ayah/ibu tetap marah bahkan ayah/ibu marah-marah sambil berteriak-teriak dan ada tanda-tanda ayah/ibu akan menyerang kamu, maka selamatkan dirimu sendiri.

      Jadi pada intinya jika ortu marah-marah tanpa sebab maka ajaklah berkomunikasi walau hati juga jengkel karena dimarahi tanpa sebab, usahakan bersikap tenang.

      Jika kemarahan ortu tidak terkendali maka setahu saya ada beberapa sikap anak yang dilakukan:
      1. Sikap anak yang ikut marah-marah balik karena anak ini juga memiliki emosi tinggi. Sebaiknya hal ini jangan dilakukan karena setan akan ikut campur dan membuat kita semakin marah.
      2. Sikap anak yang langsung masuk ke kamar, mengunci pintu, bersedih, menangis, terpuruk, menyesali nasib dll. Hal ini juga sebaiknya jangan dilakukan karena setan juga akan membisiki supaya kita bertambah terpuruk dan tidak bisa berpikir sehat.
      3. Sikap anak yang memilih jalan-jalan saja keluar rumah untuk menghibur diri karena dimarahi tanpa sebab oleh ortu
      4. sikap anak yang tetap sabar dan tabah dan berdoa semoga Tuhan memberi kekuatan dan ketabahan hati karena memiliki ortu yang pemarah.
      Sikap yang keempat ini perlu dilakukan karena jika kamu muslim maka kamu harus bisa menahan rasa marah/jengkel. Hal ini seperti yang Rasulullah sabdakan, “Janganlah engkau marah.” dan juga Rasulullah bersabda, “Orang yang kuat bukanlah orang yang hebat dalam bertengkar, sesungguhnya orang yang kuat adalah orang yang bisa menahan emosi ketika harus marah.
      Kalau bisa katakan sabda nabi ini kepada ortu(jika kamu muslim) agar ortu menghentikan kebiasaan marah-marah tanpa sebab.
      sekian jawaban dari saya, mohon maaf apabila tidak berkenan. dan terimkasih atas kunjungannya, yaa

      Suka

      • melianawitanto mengatakan:

        Jadi gini mbak, aku jg sperti itu peetama sabar terus, dri umur sd kls 6 saben ortu bertengkar krn msalah hubungan keduanya . skrg sampai 20 th sampe2 tdk bisa haid sjak usia 18. Aku jd tekanan batin. Apa lg 20 th ini aku msh blm bs mandiri jd gmn ya? Wlo kuliah beasiswa dn hidup kerja sndiri jg. Tdk pernah minta. Tpi ini masalah batin, jd jarang suka ngmong. Mbak @nugraheniismyname

        Suka

      • nugraheniismyname mengatakan:

        Ya seperti itu kadang seperti ada jiwa anak2 yang menderita dan kurang kasih sayang atau perhatian, dimana jiwa anak2 tsb terus membuntuti atau hidup di tubuh hingga dewasa bahkan bisa jadi pd saat tua nanti

        Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Oiya, tentang masalah kenapa ortu lebih membela orang lain maka sebaiknya hal ini juga di komunikasikan dengan ortu. katakan kepada ortu mengapa orang lain lebih berharga ketimbang dirimu, apakah orang lain lebih berarti dibandingkan dengan dirimu, katakan juga apapun yang akan terjadi semua orang pasti akan kembali ke keluarga bukan kepada orang lain, mintalah agar ortu lebih memperhatikanmu. Apabila ortu tidak mau berubah ya tetap bersabar dan doakan ortu semoga ortu mendapat hidayah dan tentu saja kamu harus berjuang menyelamatkan diri sendiri dengan mandiri dan berkarya sesuai dengan kemampuanmu.

      Suka

  14. elza mengatakan:

    Pacar bs putus, suami istri bs cerai, teman baik bs menjauh..tp ortu anak sampai akhirat tidak akan bs diputus hubungannya. Nasib baik pabila seorang anak memiliki ortu penuh kasih sayang lahir batin, Nasib buruk pabila seorang anak memiliki ortu egois, pemarah, n kasar. Tulisan diatas benar adanya, carilah pelarian yg positif, jikalau kita tidak dihargai ortu sendiri, maka dunia yg akan menghargai kita…anak yg tumbuh dr ortu yg egois pasti akan lebih tough dr anak lain. selesaikan pendidikan, cari pekerjaan yg bs dibanggakan, menabung, miliki rumah mandiri, pilihlah pasangan yg karakternya jauh dr egois..niscaya kita akan menjadi ortu yg terbaik utk anak2 kita nanti, krn sdh merasakan pedihnya disakiti oleh ortu. Kuncinya pegang prinsip n fokus pd apa yg menjadi tujuan hidup anda. Cheers!

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Ya terimakasih atas sarannya, sdr Elza. Semoga komentar dan kunjunganmu bisa menjadi inspirasi bagi kita semua.

      Suka

    • fitri mengatakan:

      Ortu anak sampe akhirat?
      Beda ortu saya, apa apa saya diancam g dianggap anak, di usir dari rumah, diancam g di peduliin lagi, jdi ya terpaksa baik buruknya ya nurut aja..
      Saya blm bisa apa apa..
      Pernah g saya turuti sekali, trnyata ancamannya benar terjadi.
      Saya numpang tmpat tinggl d rmh tmn saya, bnr2 ortu saya g peduli.
      Smpe akirnya kota ini kena gempa, baru saya di cari-cari.
      Itu pun sama ibu saya, ayah saya tetap g peduli.

      Suka

    • hidayat mengatakan:

      Tapi jika semua keinginan di atas terwujud, apakah kelak kita akan tetap mengajak orang tua untuk tinggal bersama walaupun sifatnya belum berubah…?

      Suka

  15. […] sikap ORTU yg bisa menyakiti jiwa anak […]

    Suka

  16. saya mempunyai orang tua yang sangat penyayang, kami hidup berkecukupan, hingga akhirnya ada seseorang sebut saja “A” yang hingga saat ini sangat berpengaruh dalam hidup saya. saya anak terakhir, tentunya sangat dimanjakan dalam keluarga. saya dulu ingin sekali menjadi tentara, dan sangat didukung oleh orang tua saya. namun kehadiran seseorang itu membuat haluan hidup saya berubah total, saya didoktrin untuk menjadi apa yang A mau, saya telah menganggap A sebagai ayah angkat saya sendiri karena saya sangat percaya padanya. orang tua saya terutama ibu sangat menentang pada setiap keputusan yang saya ambil. saya bersikeras, karena si A sangat meyakinkan saya akan sesuatu. seiring berjalannya waktu, ayah kandung saya meninggal setengah tahun kemudian ibu juga menyusul ayah saya. dan sekarang saya menjadi yatim piatu. lagi-lagi saya hanya mempercayakan hidup saya kepada A, dan akhirnya saya tidak menjadi tentara dan tidak juga menjadi seseorang yang diinginkan si A. saya tidak menjadi apa-apa. namun saya tetap percaya kepada A. akhir-akhir ini si A memperlakukan saya seperti seorang budak. apa yang harus saya lakukan kepada hidup saya, apa harus terus mempercayainya atau??

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      seandainya kamu tidak nyaman dengan keberadaan orang tersebut sebaiknya kamu menyelamatkan diri. jika usaha sendiri tidak bisa maka bisa meminta bantuan kerabat yang dipercaya untuk menyelamatkan hidupmu.

      Suka

  17. astrid mengatakan:

    sama halnya denganku semua perlakuan tak adil, kata2 kasar, umpatan2 dan sumpah2 yang jelek2 selalu di lontarkan untukku padahal aku sudah berusaha sekeras mungkin untuk membahagiakan mereka semampuku walau gajiku kecil akan tetapi bukan itu jadi alasan membiarkan aku tanpa bantuan mereka karena aku kan belum menikah, seharusnya yang sudah menikahlah yang dibiarkan mandiri. apa karena yg menikah itu anak kesayangan mereka ya….

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      ya mau bagaimana lagi? tetap sabar, tabah, semangat, dan mandiri serta ikhlas.

      Suka

      • linda mengatakan:

        jwbn apa ,selain: BERSABAR, TABAH?
        tdk ada kah jwb lain ? krn komentator disini membutuhkn jwb lbh dr itu.

        Suka

      • nugraheniismyname mengatakan:

        Yang tahu kondisi diri sendiri tentu anda? Jawaban yang pasti tentu saja Mandiri baik secara finansial, dll

        Kalau di antara kalian belum mandiri maka berusaha mandiri. Dan untuk mandiri tentu kadang tidak semudah membalikkan telapak tangan dan itu dibutuhkan kesabaran kan? Anda tidak sabar? Lalu anda marah? Marah pada siapa? Marah pada keadaan? Marah pada nasib? Marah pada Tuhan? Marah di blog ini? Apa ini menyelesaikan masalah?
        Saya di sini bukan penyelesai masalah. Saya hanya mendengarkan bila ada yang mau curhat. Yang bisa menyelesaikan masalah tentu orang yang mengalami masalah.
        (Itu kalau belum mandiri, maka mandirilah)

        Kalau sampai depresi ya pergi ke psikiater. Kalau dianiaya orangtua ya minta tolong ke tetangga atau lembaga perlindungan anak atau ke polisi atau ke lembaga yang terkait.

        Suka

      • nugraheniismyname mengatakan:

        Oiya saya tambahi ya mbak…
        Hidup bukan sesuatu yang instan.

        Jika anda pengen solusi,, keluar rumahlah… Cari usaha mandiri sesuai kemampuan dan bakat anda, bakat dan hobi bisa jadi usaha mandiri untuk ditekuni, tunjukkan bahwa anda tak seburuk yang orang tua anda pikirkan… Memang itu semua butuh proses kesabaran, tapi jika anda mau keluar dari zona nyaman anda dengan sedikit kesabaran dan usaha, saya yakin orang tua anda pasti berubah sikap

        Suka

  18. carin mengatakan:

    Persis bngt!
    100jempol untk posting tulisanny!
    Makasih😦
    Satu lgi nih : sering ngebeda2in ank (gk adil) anak laki2 lebih d manjain drpd ank perempuan. Emg ap bedany sih ank laki2 sm perempuan?????? *down*

    Suka

  19. dopi mengatakan:

    Sya slalu brusaha sabar. Sya blm pernah bertengkar mulut atw bersuara tinggi. Jk sya tdk tahan sya lari k kamar atw msk k kamar mandi hanya untuk menangis dan menenangkan hati sya. Sya fikir ini ujian dr tuhan untuk menguji kesabaran sya. Krn ortu tdk mungkin d lawan. Akan durhaka jk d lawan. Tak henti2 nya sya berdoa kpd Tuhan agar bs merubah sifat ortu sya. Apapun yg sya buat tdk prnah d hargai. Pdahal dr kelas 6 SD sya sdh mencari uang sendiri dg berdagang. Bukan krn ortu sya org tidak mampu tp krn tdk perduli dg sya. Pdahal ortu sya org yg berkecukupan. Namun d sisi positif nya sya berfikir dg hdp yg keras mencari uang,sekarang sya adalah org bak batang ubi singkong. Yg d tusuk k tanah mn aja msh bs hidup. Sya bs ini dan bs itu. Tdk susah bg sya mencari uang.

    Suka

  20. Ana mengatakan:

    yah.. saya diam saja deh..

    Suka

  21. jlamprong mengatakan:

    pengalaman pribadi

    Suka

  22. febri mengatakan:

    Sudah 3 tahun saya mengalami perdebatan dengan ibu mengenai pilihan hidup saya . saya wanita yg ingin menikah dengan laki” yg saya sayangi tapi ibu saya sangat membeci pilihan saya , karna alasan fisik laki” yg sayangi jelek itu alasan utama dan alasan lainya karna pd saat itu dia belum mapan dlam pekerjaan nya .. sampai setelah 3 tahun laki” yg sayangi bisa bekerja di perusahan yg bagus dgn gaji yg bagus pula . Dan kami mencoba untuk meminta restu kembali .. tp nihil sampai sekarang ibu saya tidak memberikan restu juga , malah menganggap saya anak yg durhaka , karna tidak menuruti keinginan orang tua , dan malah membela orang lain . Ada perasan lelah menjalani ini semua .. tetapi kami sampai detik ini masi saling menjaga cinta yg kami miliki .. tetap bertahan dan berusaha meyakinkan ibu saya agar suatu saat nanti mau mengiklaskas dan merestui hubungan kami , berdoa dan berusaha karna kami masih yakin dengan takdir kami .

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      jika yakin atas keputusan kita sendiri tidak masalah, asalkan kita bisa mempertanggungjawabkan keputusan kita. Tunjukkan saja jika keputusanmu itu tepat di hadapan ibu. jangan lupa tetap harus berbakti dan menyayangi ibu, walau berbeda pemikiran.

      Suka

  23. maya mengatakan:

    Tulisannya bagus. Diri saya bangetttt. Dan akhirnya saya memutuskan utk menjauh dr ortu saya dlm hal ini ibu saya. Sy menjalani hidup saya seperti point no 4. Tp sampai detik ini ibu saya tidak berubah sm skali. Tetap memandang saya anak tak berguna dan tak berbakti. Tp saya yakin, Allah Maha Tau sgalanya yg ada dlm hati saya. Saya tetap mencintai beliau, ibu saya.

    Suka

  24. windyws mengatakan:

    Kalo anak yang tersakiti karna bapak nya selingkuh gmn,? apa yg harus dilakukan. pdhl katanya bapak sudah tobat. ternyata dibelakang masih selingkuh dgb orang yg sama. pdhl ibu saya sudah menuruti yang bapak mau.😦

    Suka

  25. aya mengatakan:

    Setuju bnget, yg paling ngena org tua yg memusuhi anakny. Apakah para org tua tau sakitny anak saat org tua mereka sendiri yg memusuhiny?

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      ya sabar dan ikhlas sajalah…orangtua terkadang merasa berhak atas hidup anak jadi ya mau bagaimana lagi?

      Suka

      • maya mengatakan:

        Saat ini saya sendiri telah menjadi ibu dari 2 org anak, dan saya mengambil hikmahnya saja, memetik pelajaran dari kisah hidup saya semoga saya tidak bersikap seperti itu kepada anak2 saya. Dan ya benar, seperti apapun beliau adalah tetap ibu yg tlah melahirkan saya. Sy tetap berusaha menghormati beliau.

        Suka

      • nugraheniismyname mengatakan:

        Ya benar. Krn sudah tau betapa mengerikannya dibesarkan dg cara2 di artikel, maka jangan mewariskannya kpd anak.

        Suka

      • ami mengatakan:

        Assalamualaikum, sy seorang ibu rmh tangga mempunyai 3 anak , semuanya laki2, bagi saya memberikan biaya makan, sekolah, dll adalah suatu kewajiban semoga ini menjadi akan membuahkan pahala untuk saya, insya Allah saya tidak akan mengungkit di kemudian hari, hanya saya kecewa kalau anak kuliahnya mogok dan susah di suruh sholat.

        Suka

      • nugraheniismyname mengatakan:

        Wa’alaikummussalam…
        Ya Bu… memang terkadang ada keluarga jika ortu baik maka bisa jadi punya anak kurang menurut…tapi ada juga keluarga walau anaknya baik dan tidak bandel tapi masih saja diperlakukan kurang baik oleh ortu. Ya mungkin anak ibu lebih dinasehati baik-baik jika kuliah dan beribadah itu juga untuk bekal hidup kelak agar bisa lebih mandiri dan lebih tabah untuk bertahan di dunia ini. Tapi itu hanya saran dari saya, yang lebih tahu kondisi anak tentu ibu Ami sendiri. Semoga ibu diberi kesabaran dan ketabahan dalam mendidik dan membesarkan anak ya bu… Aamiin.

        Suka

  26. dita mengatakan:

    Kalau ingin memberitahu perasaan hati yang sakit kepada orang tua kita,tapi kita bingung untuk mengukapkan nya.karna ada rasa takut dari ucapan kita malah menyakitin ortu/malah masal nya malah tambah panjang.jika kita udah coba sabar tapi hati ini masih terasa sakit apa yang harus kita lakukan?

    Suka

  27. samaran mengatakan:

    Saya memiliki orang tua yang menurut saya selalu bersikap berbeda thdp saya dan orang lain. Jika ada orang lain berbicara, mereka didengarkan dengan antusias.. Tetapi jika saya sedang berbicara, saya dicuekin. Dianggap tidak ada. Saya juga selalu dibanding-bandingkan dengan anak orang lain… Padahal saya sudah berusaha untuk selalu menyenangkan hati mereka. Kalau ada suatu masalah, pasti saya yang dituduh sebagai pembuat onar… Tapi sekarang saya sudah kebal terhadap perlakuan ortu saya. Saya hanya perlu bersabar dan mengambil hikmahnya agar saat menjadi orang tua nanti, saya dapat menjadi orang tua yang menghargai anaknya sendiri🙂

    Suka

  28. Galuh mengatakan:

    Curhat sedikit.
    Saya baru lulus SMA dan sekarang sedang cari PTN. Snmptn saya disuruh mama saya pilih satu jurusan saja di salah satu PTN A, 2 pilihan lainnya kosong. Saya gagal. Saya ikut sbmptn disuruh untuk pilih seperti pilihan snmptn. Saya pikir, rugi sekali jika 2 pilihan kosong. Saya coba mengusulkan PTN B lagi tapi di tolak karena dianggap PTN B itu jelek. Dengan berat hati saya menuruti kemauan orang tua saya. Saya juga coba USM STAN dan saya gagal. 3 minggu saya mulai dijauhi tak diajak bicara tak dianggap oleh orang tua saya. Saya kecewa kenapa saat saya jatuh saya tidak dihibur malah dijauhi. Sbm saya juga gagal. Mama saya selalu membandingkan saya dengan tetangga. Membicarakan keburukan saya kepada teman temannya. Saya sudah mencoba untuk mengajak bicara lagi, membantunya tapi semua percuma. Saya tetap tidak dianggap. Kesalahan saya selalu diungkit ungkit. Sedangkan apa yg sy sudah lakukan tak pernah dianggap hebat. Saya cuma bisa bersabar dan berdoa.

    Suka

  29. linda mengatakan:

    sedih, sampai ga bisa berkata kata lagi…..

    Suka

  30. linda mengatakan:

    Anjing, babi, bangsat, masuk neraka jahanam, nyesel gw ngelahirin elo, mati aja lo. segala makian, pukulan pakai sapu, di telanjangi di depan umum, di kunciin di tempat gelap, hasil masakan di lempar, dari sejak TK sampai umur 32, hidup dan besar selalu penuh cacian makian, pukulan, sumpah serapah, sampai di katain perawan tua oleh ibu kandung sendiri, karena Ibu yang stress masa kecil sampai tua nya juga di dera kekejaman ibu kandung dan keluarganya, sampai berapa turunan kah ini harus terjadi.
    Sejak kecil sudah penuh trauma, namun aku selalu bermimpi untuk menjadi orang yg berhasil untuk dapat membahagiakan Ibu, mengangkat ibu dari kemiskinan dan penderitaan yang membuatnya sangat stress, bedanya ibu masih peduli dengan masa depan ku, sampai sekarang akhirnya aku berhasil menjadi seorang manager di perusahaan besar, sudah bisa belikan ibu rumah, tidak lagi ngontrak di lingkungan kumuh, dan meminta uang dari cacian keluarga.
    Sampai untuk nikah aku selalu mikir berkali kali bagaimana dengan nasib ibuku, tapi tega2nya jika ibu marah ibu malah ngatain aku perawan tua, padahal aku perawan tua karena mikirin nasib dia,
    sampai aku setua ini ibu masih seenaknya lancang mengumpat ku sesuka hatinya, marahin aku di depan umum, ngatain anjing, teriak teriak sampai semua tetangga dengar, segala makian yang sejak kecil aku dengar, masih terus ku dengar sampai setua ini, sampai aku ga tahan, aku maki lagi ibuku, semakin ibuku menyakiti hati ku, aku memaki nya lebih sakit hati.
    aku sudah tidak peduli lagi, hanya maslaah kecil saja, ngatainnya makiannya selangit, langsung sumpah serapah masuk neraka, sampai aku katain lagi ibu juga lebih dulu masuk neraka, kalau tuhan tanya kenapa aku durhaka, aku akan bilang ibu yang sudah membuat aku durhaka.
    aku sedih, kenapa aku ga bisa punya orang tua yang bijak, yang mengajarkan kelembutan,
    sampai aku sangat sayang sama ibu ku, ibu ga percaya aku sayang sama dia, padahal untuk mencapai kesuksesan ku itu butuh pengorbanan yang besar hanya karena niat untuk bisa membahagiakan Ibu yang selama hidupnya menderita.
    Ibu orang yang ga mau di nasehati, ibu selalu merasa benar, ga pernah merasa salah, bahkan untuk kesehatannya sendiri dia ga peduli, jarang minum jarang makan , padahal semua gaji ku sudah ku serahkan ke dia, terserah dia mau beli apa, percuma saja rasanya aku punya gaji besar, kalau ibu tetap seperti orang kurang makan, sampai kurus kering tinggal tulang. berat badangnya cuma 30 kg, tapi suaranya tetep melengking dan pahit, Ibu tidak memperdulikan kesehatannya dan sering mengeluh sakit ini ssakit itu, semua penyakit yang di buat buat sendiri, sedangkan aku kerja, kalau ibu sakit siapa yang bisa ngiurus ibu, gimana aku bisa kerja dengan tenang, ga bisa di nasehatin, cepat tersinggung dan langsung mengeluarkan makian makian yang menyayat hati, bertubi tubi dan mengata2in segala kekurangan ku, apa yang pernah ku ceritakan ke IBu, di balikinnya lagi, seperti mengatain musuh.

    Aku sudha muak dengan semua ini, aku sudah ga peduli lagi jika di cap anak durhaka, apakah aku sekalian saja jadi anak durhaka, aku tinggal kan ibu ku tua sendiri dengan kemarahannya, kebencian nya pada dunia yang selalu di tumpakan ke anak2nya. aku sangat malu kepada tetangga2 dan teman 2 dengan sikap dan kata 2 ibuku yang liar, dan juga suka berantem dengan tetangga2.
    walaupun sejak kecil aku selalu di perlakukan semena mena, aku tetap sayang sama ibu, karena aku tau ibu begitu karena penderitaan ibu yang luar biasa membesarkan anak2nya dari kekejaman keluarganya, kekejaman ayahku, orang orang di sekitarnya,
    Tapi apakah aku harus selamanya mengerti ibu, sedangkan ibu tak pernah mengerti aku.
    Dia tetap dengan ke super egoisannya sendiri, yang selalu merasa bahwa orang tua selalu benar, dan anak selalu salah.
    kakak dan adik2ku sudah cukup frustasi dalam hidupnya karena besar dengan kekerasan dan kekasaran, sampai mereka sudah tidak mau lagi peduli sama Ibu, mereka sudah pergi menjaga jarak,
    hanya aku yang masih berusaha untuk tetap berjuang untuk merubah hidup untuk dapat melepaskan ibu dari kesengsaraan karena himpitan ekonomi.

    Aku benar benar sudah muak. sepertinya sudah tidak ada artinya lagi aku berusaha berbuat baik sama Ibu, aku ingin meninggalkan ibu.
    Tapi suatu saat pasti aku akan kangen dan kasian sama Ibu.aku tidak tega melihatnya tua dan sendirian, tapi apakah aku bisa tahan dengan sikap dan kata2 ibu yang tidak pernah menghargai aku

    Suka

    • linda mengatakan:

      sikapnya makian nya, pukulannya pakai sapu yang sampai memar memar, sampai aku minta ampun terampun 2 karena sakitnya tulang kering kakiku di pkul terus, seolah olah adalah hukuman karena aku adalah anak bajingan, pelacur, maling, pergaulan bebas, narkoba, atau karena memaki ibu lebih dulu. padahal sejak kecil sampai aku lulus kuliah, semua sakit hati aku ga pernah terlontar keluar dari mulut, semuanya terbenam di hati dan di otak, karna takut ibu semakin menjadi jadi, pas aku sudha bekerja saja, aku berontak, aku ga mau di perlakukan seenak enak ibu ku , namun tetap saja umpatan dia lebih dasyat, bedanya ga lagi pukul pakai sapu, karena aku sudha bisa tarik sapunya.
      Padahal aku sudah berusaha menjadi anak yang rajin belajar, sampai juara umum satu di sekolah, tapi ibu ga prnah datang untuk mengambil raport ku, ga pernah peduli, sampai aku malu di tanya sama wali kelas, kok ibu kamu ga peduli bgt si anaknya juara, sampai aku ga pernah pacaran selama sekolah, aku masuk universitas negri yang murah dapat beasiswa, karena kalau tidak aku tidak bisa kuliah,
      pulang kerja dulu capek2 juga aku masak supaya ibu mau makan, sampai akhirnya aku kecapeaan sendiri, sakit , dan jadi sudah tidak perduli lagi ibu mau makan atau tidak, waktu aku kerja, aku sangat ngirit sampe ga punya pergaulan karna uangnya ku tabung buat beli rumah dan hanya kebeli rumah kecil sempit, tapi ibu sering marah marah karna rumahnya sempit, ga pernah menjadi orang yang bersyukur, selalu mengeluh, merasa hidup selalu menderita, sering ngmong bosan hidup begini bosan ini bosan itu,makan ini bosan makan itu bosan, tapi masak ga mau, beli makanan yang enak enak dan mahal dikit juga ga mau, bingung harus gimana, sampai aku berusaha keras nailk jabatan, umur 27 dah jadi manager, uang ku tabung untuk beli rumah lagi yang besar di lingkungan yang enak,
      Ibu ku sangat senang, aku juga senang melihat ibu senang, ibu sudah mulai bersyukur bisa tinggal dilingkungan yang lebih baik,

      Tapi tetap saja, kalau aku melakukan kesalahan kecil sedikit, atau sedikit menasehati ibu atau ga sependepat dengan Ibu yang pikirannya selalu di bawa negatif, langsung keluar semua cacian makian yang menyayat hati.
      Sedih bgt rasanya. tempat bercerita pun aku ga ada, karena aku sebenarnya aku malu menceritakan ibu sendiri.
      dan aku juga ga mau orang meremehkan atau membenci ibuku.
      dan karena sudah sering di sumpah masuk neraka, padahal hanya kesalahan kecil, aku jadi sudah terbiasa dan jadi tidak takut lagi di sumpah masuk neraka,

      Suka

  31. linda mengatakan:

    ditengah keputus asaan ku, dan rasa berdosa ku kepada Allah , karena aku telah menjadi anak yang durhaka, karna tidak tahan menahan emosi ku dengan ibu, aku juga mengata ngatain ibu dengan perkataan yang sangat menyakitkan, bahkan aku sudah tidak perduli lagi jika betapa ibu sakitnya, sampai ibu pernah nangis2 guling guling di jalanan teriak teriak kaya orang gila mencari aku yang kabur dari rumah, aku ga peduli, ibu sudah sangat stress, tapi ga gila, ketika aku sadar, aku hanya bisa berdoa, semoga Allag dapat memberi ketenangan dan kedamaian pada ku dan Ibu ku, hidayah dan petunjuk pada Ibu ku dan aku, sedih bgt rasanya, pengen rasanya punya ibu yang bijak dan penyabar, seperti orang tua seharusnya, sebenernya Ibu ku baik, dia masih peduli bawa dan membesarkan sendiri anak2nya meski hidupnya susah, tapi sikapnya yang kasar, emosi yang meletup, keegoisan yang luar biasa dan selalu merasa benar, itu yang bikin anak2nya ga tahan, dan ga pernah mau introspeksi diri, hidupmnya selalu merasa susah dan menderita, dan setiap anak2nya harus bisa mengerti dia dan merasakan penderitaannya yang terkadang suka terlalu lebay. sampai kapan ini berakhir

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Ya memang kadang jika kita diperlakukan spt anak yg tdk berguna maka bisa saja kita jg marah. Tp kadang ortu spt itu juga bsa bersikap baik. Sbg anak kadang bingung…. terkadang ada anak sampai berpikir, apakah ortu spt itu mengidap ‘personality disorder’ ? Atau bagaimana? Klu terkena mental disorder/ personality disorder biasanya itu juga menurun. Ini hanya perkiraan saja sih, saya juga bukan psikolog…

      Suka

  32. Devita Irni Yolanda mengatakan:

    Ibu tiri saya sikapnya begitu, dia selalu hina hina saya di depan orang lain, saya sakit hati banget, dia bagus bagusin dirinya di depan orang lain, sedangkan saya dan adik saya di hina hina terus, dia cuma mikirin uang dari ayah saya, dia egois banget, saya salah sedikit di marahin, lalu kalau saya di marahin saya kan saya akuin kesalahan saya, tapi dia malah bilang saya melawan, padahal saya cuma ngasih alasan kenapa saya salah. menurut kalian saya harus apa ya?

    Disukai oleh 1 orang

  33. Hamba Allah mengatakan:

    Assalamualaikum mba. Saya mau tanya nih. Saya itu punya masalah dgn mama saya. Ceritanya saya itu kan pendengaran dan penglihatan agak kurang. Jadi waktu itu mama memanggil saya berkali2 tapi saya kurang dengar. Mama lalu marah2 ke saya mba. Dia itu minta tolong ngeluarin pakaian dari mesin cuci. Saya kira dia bilang gantung pakaiannya jd pakaiannya saya gantung. Mama lalu marah2 dan bilang “Dasar pemalas”. Bukan kali ini saja beliau bilang begitu tapi sering sekali sejak saya kelas 6sd. Saya tahu diri mba kalau saya malas tapi sakit hati juga dibilang begitu terus. Setiap kali dibilang bgt saya langsung nangis mba krna sya itu tipenya langsung nangis kalau dibentak
    Kan perkataan adalah doa makanya saya sakit hati dibilang begitu sama mama. saya sdh brusaha sabar tanpa batas mba. mama selalu bilang “kalau dibilangin jgn nangis harusnya intropeksi diri kalau kamu tuh memang slh”. Saya waktu itu khilap mba lalu saya bilang “iya saya tau saya malas” sambil melempar pakaian ke lantai. Mama marah lalu memukuli saya dan menelpon ke papa ttg kejadian ini. Mama lalu bilang “makan,nyuci, kesekolah semuanya sendiri!” . akhirnya saya nangis sejadi2 nya di kamar sampai tertidur. Saya putus asa mba. Saya bahkan berdoa supaya saya pulang ke rumah allah saat itu juga. bahkan saya hampir mau kabur dr rumah. untung saja iman saya kuat mba ngga sampai bunuh diri krna dri dlu udh depresi dgn sikap mama. Jadi saya harus bagaimana mba? saya sudah ngga mampu dan ingin cpt2 pulang ke rmah allah rasanya mba
    Tolong kasi solusi mba. Terimakasih.
    Wassalamualaikum wr.wb.

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Wa’alaikumussalam wr wb.
      Mama dan papa sudah tau kalau pendengaran dan penglihatan agak kurang belum? Kalau sedang ada masalah seperti itu, kamu bisa bilang sama mama tentang masalahmu itu. Bilang saja, “maaf ma, saya kurang dengar.” Kalau bisa ceritakan jika km ada masalah dengan penglihatan dan pendengaran, siapa tahu nanti mama dan papa bisa memberi solusi. Toh itu bukan kehendakmu karena semua kekurangan dan kelebihan itu karunia dari Tuhan.
      Kalau mama dan papa merupakan ortu bijak pasti beliau akan mengerti dan memahami kondisimu.

      Intinya bicarakan dan komunikasikan masalahmu, tentu saja dengan sabar.

      Kalau masalah depresi, saya kira semua anak yang diperlakukan tidak baik oleh ortu pasti kadang bisa depresi. Tapi jangan terlalu menuruti pemikiran pada saat depresi.

      Tetap berpikiran positif dan kuat. Sebisa mungkin selalu membantu ortu, kalau sedang sedih sekali atau depresi, cari-cari artikel di internet, cara bagaimana mengatasi depresi. Kalau depresi terlalu parah dan mengganggu kehidupan, ya bisa dicoba berkonsultasi ke ahli kejiwaan.

      Dan intinya, kamu dan kita semua tentu harus sabar tabah ikhlas dan kuat. Semoga Tuhan selalu menambah kekuatan bagi kita semua. Aamiin.

      Suka

  34. moniquefirsty21 mengatakan:

    Reblogged this on Monique Firsty and commented:
    Tambahan ilmu parenting

    Suka

  35. dian mengatakan:

    saya hidup di keluarga yg berkecukupan.. namun ayah dan ibu saya slalu bertengkar mereka ber-2 beda agama.. ibu saya slalu mengharuskan smua yg ia inginkan sampai suatu saat saya masuk di sebuah smp.. awalnya biasa” saja namun setelah beberapa hari saya merasa tidak nyaman di sekolah itu dikarenakan guru”nya yg tidak peduli terhadap muridnya dan guru” itu galak..
    saya sudah pernah bilang ke ibu saya ” bu ak gak kuat lge sekolah disana,walaupun 3 tahun tapi itu susah buat ak bu.. gurunya galak ak kayak tertekan banget disana”
    ibuku menjawab”km tu diem aja,nurut aja disana ya disana yg biayain sekolah selama ini kan ibu kamu mau nurut ibu apa ayahmu?”
    ak hanya terdiam.. walaupun rasa ini masih saya pendam..
    sampe tiap hari saya nangis meratapi nasib saya..apa yg harus saya lakukan,pliiiss saya butuh saran..

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Saya juga dulu pernah sekolah di sekolah favorit. Sekolahnya disiplin sekali, gurunya galak, guru tidak peduli dengan siswanya yang bodoh, bahkan yang bodoh sering dihina dan dibully sama guru sendiri, belum lagi teman2 juga mengelompok (yang pintar cuma mau temenan sma yang pintar. Saya dulu sering dapat nilai matematika jelek, oleh karena itu guru matematika membully saya. Setiap pelajaran saya disuruh maju ke depan. Bahkan saya pernah masuk BP krn nilai matematika jelek, mereka berpikir siswa yang tidak bisa matematika adalah sebuah kehinaan dan kejahatan. Akhirnya saya mengikuti permainan mereka. Saya les matematika di tempat guru yang galak. Saya belajar terus supaya tidak dicap sebagai anak bodoh. Saya berusaha bertahan di sekolah itu karena memang saya tidak mau merepotkan orangtua. Soalnya kan kalau pindah pasti repot urus sana urus sini.

      Saya akhirnya bisa lulus juga dari sekolah itu walau sekolah ditempat itu sangat membuat tertekan. Akhirnya sampai sekarang, setiap kali saya lewat di depan sekolah saya yang dulu, saya merasa tidak suka sekali dengan sekolah itu.

      Jadi cobalah membuat strategi bertahan agar tidak pindah sekolah. Cobalah dulu menyesuaikan diri. Namun jika kamu benar-benar tertekan, dan sampai depresi, cobalah bilang baik-baik sama ibu. Bilang sama ibu bahwa kamu tertekan, ini bukan soal nurut ibu atau nurut ayah, tapi ini masalah tentang perasaan tertekan. Coba dijelaskan secara baik2, sopan, dan jelaskan semua perasaan tertekanmu dan dampak buruknya bagi dirimu sendiri kepada orangtua.

      Hanya itu yang bisa saya sarankan. Klu bnyk kekurangan, mohon maaf yaa. Sebagai anak yang pernah tertekan karena sekolah, saya sedikit mengerti perasaan tertekanmu, tapi tetap bertahan dan jangan murung dan bersedih.

      Suka

  36. moringa mengatakan:

    Halo salam kenal. Tulisan kamu benar2 mengena sekali. Saya sampai sekarang masih memendam sakit hati kepada ortu saya, terutama ayah. Saya termasuk keluarga berkecukupan, saya bisa bersekolah sampai s2. Saya termasuk anak penurut dan tertutup, saya tidak terlalu dekat dengan ortu saya, mgkn krn dr kecil sampai smp saya bersama pengasuh dan ortu sy dua2nya bekerja. Walaupun tidak dekat, tp sy memiliki moral untuk berbakti kepada ortu. Sy tidak bandel, sekolah saya pun lancar, selalu masuk sekolah favorit, hingga pada saat sma, sy gagal masuk sma paling favorit di kota saya, bukan krn akademis sy tp sekolah itu mempunyai tes fisik ala militer, dan saya benar2 lemah di olahraga. Walaupun sy akhirnya masuk sma favorit yg lain, tp ayah sy suka mengungkit apabila ada anak lain yg lolos ke sekolah tersebut. Waktu lulus sma, sy dipaksa untuk mengambil kedokteran, tp sy tidak mau dan memilih merantau kuliah di Jawa, sampai skg pun ayah kadang suka mengungkit dengan tampang kecewa krn sy bukan dokter kalau ada anak orang lain yg jd dokter. Saya lulus s1 dan lgsg lanjut s2. Masa ini adalah masa terberat saya, sy yg introvert dan selalu menyimpan masalah dan sakit hati saya akhirnya mencapai puncaknya. Sy dipermainkan oleh dosen pembimbing thesis sy dan membuat kelulusan sy telat. Ayah sy selalu memarahi saya, dan kata2nya sangat menyakitkan, sy dibilang bakal gagal di dunia kerja nantinya, sy buang2duit ortu dan sebagainya, pdhl waktu itu sy sudah cukup stres dengan polah dosen saya. Sy mengalami apa yg namanya nervous breakdown, sy histeris dan berusaha melukai diri saya sendiri, setiap hari saya serasa mau mati saja, selama satu tahun saya ke psikiater dan minum obat penenang, tentu saja ortu saya tidak tahu soal ini, saya kerja part-time agar bs berobat ke psikiater. Dan akhirnya saya lulus, dan tepat pd hari ultah sy, sy di diagnosa kista parah, yg mengakibatkan satu ovarium sy harus diangkat. Bayangkan ada kista seberat 8kg dan sy tidak sadar saking stressful. Ortu sy dulunya hanya memarahi sy krn sy gemuk, hal ini jg membuat sy stres dan sakit hati, sy hanya makan 1x sehari, kd kalau lapar sy harus makan diam2 supaya tidak ketahuan ortu, dan ini sejak dr sy sma.

    Kehilangan satu ovarium sy benar2 mengubah hidup sy. Pikiran sy terbuka, hidup ini hanya sekali dan sy tidak mau menyesalinya. Ketika wisuda s2 ayah sy bertingkah lg, waktu itu sy sudah dikira oleh perusahaan, jd sy tidak bingung lg mencari pekerjaan. Setelah wisuda, sy ingin stay di jogja selama seminggu, krn saya bakal pulkam utk selamanya, itu jg sy menginap di rumah tante, bukan di hotel. Wajar bukan, setelah kuliah panjang dan operasi besar, sy ingin refreshing sebentar sebelum kerja. Ayah sy marah, dan memaksa sy pulang setelah wisuda, sy dianggap berfoya2. Untuk pertama kali saya stood up. Saya dicaci dan hampir mau ditampar kalau ibu tidak melerai. Akhirnya sy disuruh tidak usah pulang dan ayah saya pulang sendiri. Tp krn desakan keluarga, setelah seminggu sy disuruh pulang ke rumah dan minta maaf. Pdhl sy berniat mau ngekos dan hidup mandiri saja. Karena ibu memohon terpaksa sy minta maaf, itupun sehabis minta maaf saya masih dihina dan kepala sy ditunjul, sy yg benar2 sakit hati pun menangis histeris, setelah itu ayah sy agak melunak dan mau memaafkan walaupun pd saat itu, sebenarnya dia yg harus minta maaf.

    Hubungan sy dengan ayah semakin memburuk. Saya bekerja di perusahaan menengah di kota saya, saya mendapatkan gaji yang cukup besar untuk ukuran fresh graduate, sy senang bukan kepalang. Tp ayah sy selalu sj mengejek sy, dia ingin sy bekerja di perusahaan besar seperti pertamina. Ketika sy naik gaji pun, bukan pujian yg dilontarkan malah hinaan, dia bilang bahwa perusahaan tempat sy bekerja mau bangkrut.

    Sy benar2 sakit hati, sy stres sampai sakit dulu dan kehilangan sesuatu yg penting. Kakak sy jg sama seperti sy, dan lebih parah. Kakak sy gagal ginjal dan harus cuci darah tiap minggu. Kakak sy jg sakit hati krn dia lebih parah dihina nya, krn dia gagal lulus s1. Dia selalu dihina, bahkan waktu kakak sy mau minta dibantu carik kerjaan di kantor ayah, ayah menolaknya, dgn alasan malu. Kakak sy akhirnya jd penjaga warnet, bayangkan ayah sy dulu gw di perusahaan tambang dan kakak sy cmn penjaga warnet. Sekarang kakak sy jd kontraktor kecil2an, dan sudah pergi dr rumah.

    Sy tahu ayah sy skg menderita, anak2nya dua2nya menjauhinya, sy anggap itu karma. Ini jg kalau bukan krn ibu, sy sudah lari dr rumah.

    Bagi yg sakit hati karena tidak dihormati ortu, ingat, hidup ini hanya sekali, dan hidupmu bukan milik ortu tp dirimu. Biar saja kata orang durhaka, org yg mengerti penderitaan ini pasti membela. Berjuanglah demi kebahagiaanmu, bukan orang lain.

    Suka

  37. Belajar Sabar mengatakan:

    Belajar sabar memang susah, apalagi jika posisi kita sebagai anak yang selalu di salahkan, padahal kita tak melakukan apa-apa. Ingatlah pada Yang Kuasa, jangan putus asa, karena kta tidak sendirian kawan.

    Suka

  38. anak yg tersakiti mengatakan:

    Begitu banyak kejadian yg saya alami dr orangtua egois otoriter saya tumbuh menjadi anak sgt yg emosional pemarah saya selalu dikekang awalnya saya nurut tp makin besar makin tak dihargai sma sekali blm lg sifat perhitungan ortu yg benr2 mebuat muak!!! wkt kecil saya sering dipukuli pakai geSper smpai biru mulut saya dicabein sampai bnr2 perih dikunci dlm kamar tidur/mandi yg gelap dilempar kaleng atau apa aja klo saya tdk nurut kemauan ortu pdhl masalah sepele krn nonton tv lewat dr jam 9 blom jam jam 9 jg udh dilempar2 gesper/ kalengnya,sampai saya pnya anak dua saya msh sgt sering dibikin sakit hati oleh perlakuan org tua,sampai mertua saya mulai tau ke aroganan ortu saya saya cm bs nangis tentunya.Saya jd malas sholat & berdia utk mereka saya benr2 tlah sakit hati

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Ya terkadang hal tersebut memang tragis. Bahkan anak2 korban kekerasan ortu bisa sering bertanya kepada Tuhan, “mengapa bisa hidup seperti ini?”. Tapi ya usahakan tetap berpikir positif kepada Tuhan. Usahakan tetap beribadah dan mendoakan ortu. Dan tetap tabah & sabar.

      Suka

  39. rigan23 mengatakan:

    kaya ortu ku😥

    Suka

  40. dwiutaminingrum mengatakan:

    Seharusnya,saya yg masih berumur muda seperti sekarang ini setidaknya mendapat perhatian orangtua.
    Apalagi sekarang berada dikelas akhir sekolah menengah atas.
    Tetapi orangtua laki2 yg bajingan itu selalu membuat saya stres dan merasa tertekan.
    Dia menuduh saya melakukan hal yg tidak benar.
    Dia juga suka mengungkit ungkit hal yg terjadi di masa lampau.
    Ibu tak sanggup berbuat apa2,tak mampu utk membela.
    Terkadang saya merasa ingin mengakhiri hidup,tapi masih teringat ibu,saya sangat menyayangi ibu saya.
    Apa yg harus lakukan kedepannya.?
    Haruskah saya terus bersabar dan tabah.?
    Tapi rasanya SABAR itu sudah habis.

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Terkadang dalam kondisi seperti itu memang pikiran menjadi buntu, merasa seperti tidak ada jalan keluar. Di mana-mana jalan buntu. Selain itu juga merasa marah, marah kepada ortu, marah kepada siapa saja, bahkan bisa marah kepada yang memberikan kita hidup, juga marah kepada diri sendiri karena tidak bisa mencari jalan keluar.

      Tapi bagaimana ya? Marah, depresi juga tidak bisa menyelesaikan masalah. Sabar, tabah dan mandiri itu salah satu cara unt.menyelamatkan diri.

      Bersabarlah, apalagi kamu sudah hampir lulus sekolah. Jika sudah lulus, bisa cari kerja dan mandiri. Jika kamu mandiri kamu bisa melakukan apa saja yang kamu mau (hal-hal yang positif).

      Tidak usah terlalu marah atau depresi karena tidak hanya kamu yang memiliki ortu seperti itu. Ada banyak anak yang bisa bertahan, mandiri, dan bisa menggapai impian walau mereka memiliki ortu yang keras.

      Suka

  41. Ananda Frisca mengatakan:

    Postingan ini mirip sekali dengan apa yang aku alami, terkadang setelah orang tua membentak bahkan memarahi. aku selalu berfikir negatif, orang tua aku egois. mereka lebih memikirkan uang dari pada keluarga dan anak-anaknya. akibat dari semua itu aku yang merasa bertanggung jawab terhadap mendidik adik-adik ku, terlebih aku adalah anak pertama dari 3 bersaudara. tapi dari situ juga aku merasa kesepian, aku yang selalu mengajarkan adik-adik ku untuk tidak menangis di depan orang tua. untuk tetap kuat bila kelak di marahi dan dibentak sampai menyakiti hati. tapi untuk menjadi kuat dan sabar itu tentu tidak mudah. maka dari itu aku mencari solusi dari internet terutama blog ini karena aku sadar tidak ada lagi yang bisa membantu selain diri sendiri. terimakasih author🙂

    Suka

  42. Raymond mengatakan:

    Saya anak satu2nya dalam keluarga, sejak kecil saya selalu hidup sendirian dirumah krn kedua orang tua saya adalah pekerja, sejak saya kecil saya hidup bersama pembantu rumah tangga & teman2 disekeliling saya..

    entah mengapa saya benci sekali ketika orang tua saya berada di rumah dan saya merasa lebih nyaman ketika mereka tidak ada dirumah, saya muak ketika mereka dirumah kerjanya hanya bisa menyuruh2 saya, dan apabila saya menolak, saya slalu diancam tidak akan diberi ongkos jajan..

    ini selalu terjadi dan saya lama2 muak, ketika saya bekerja nanti, saya ingin sekali pindah ke kontrakan/kos krn saya tidak mau hidup bersama orang tua seperti mereka, krn mereka bisanya hanya memberi saya uang tanpa memberi perhatian & pengertiannya seperti tulisan di atas..

    apa saya salah memilih jalan hidup ini?
    saya sudah tidak tahan lagi dengan kelakuan orang tua saya, mereka ingin saya sukses tapi mereka sendiri yang menjegalnya..

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Usahakan jangan terlalu membenci orangtua karena kalau dipikir2 ortu bekerja juga demi kebutuhan keluarga dan anak.
      Ortu seperti itu mungkin tipe ortu yang membesarkan anak lewat limpahan uang.
      Kamu juga harus bersyukur karena ada juga anak yang durhaka kepada orangtua mereka karena ortu mereka tidak terlalu berlimpah harta. Mereka malu kepada ortu mereka.

      Oleh karena itu jangan terlalu berpikir buruk kepada ortu. Selalu berpikir luas. Setelah bekerja bisa saja beli rumah sendiri karena ortu pasti juga bangga jika anaknya bisa mandiri….

      Usahakan tetap berpikir luas dan selalu berpikir positif. Tetap berusaha sesuai dengan kemampuan dan impian kita sendiri ya…

      Suka

  43. riani mengatakan:

    gampang blng memaafkan mah tapi susah buat maafin orng tua yg cman bsa nya nyalahin dan sllu ksar … skit batin tnggal sma orng tua

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Memaafkan memang tidak mudah… tapi daripada hidup dipenuhi kebencian, lebih baik belajar memaafkan… kebencian hanya akan merusak pikiran, mental, hati, dan jiwa….

      Kalau sakit batin tinggal bersama ortu, ya sebisa mungkin hidup mandiri dan jangan terlalu merepotkan ortu.

      Suka

      • riani mengatakan:

        aku hanya ingin di pedulikan mba .. aku tdak ingin apa² aku hnya ingin merasakan ksih syank seorang ibu di peluk di mnja ibu aku cman mau itu

        Suka

      • nugraheniismyname mengatakan:

        Bagaimana ya mbak… lebih baik kita lanjutkan hidup kita sendiri. Berdoa semoga selalu diberi kekuatan. Kalau pihak lain tidak memedulikan, maka diri sendirilah yang harus peduli. Diri sendirilah pahlawan/ penyelamat bagi kita sendiri. Kita tidak bisa mengharapkan pihak lain atau seseorang untuk menyelamatkan hidup kita. Hanya kita sendiri dan tentu saja atas ijin dari Tuhan.

        Suka

  44. riani mengatakan:

    artikel ini bnar ,aku adalah slah satu nya bhkan ortu ku prnah blng aku ini anak sial,anak tak pnya otak pdhal aku memberikan prestasi untuk mreka tapi mereka malah menghinaku … kdang aku iri pada tman ku dya sdih sllu di pdulikan ortu nya di pluk dan di ksih nasehat tapi aku mrasa asing aku sperti bkN ank nya bhkan mreka tdak mngurusi ku aku tnggal dgn nenek ku saat aku bisa mncri uang sndiri mreka pisahkan aku dri nenek hingga aku jrang bertmu nenek v stlah itu aku tetap di mKi di pukul di hina di skiti makan pun ibu hnya masak ksukaannya dan bpa sdngkan aku hnya bsa prgi mencri wrung makan ..

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Iya benar mbak…

      Anak kadang ingin dipeluk, diperhatikan, dinasehati baik2, diajak ngobrol baik2….

      Tapi mbak, tidak semua anak bisa seperti itu mbak… jika kita memiliki ortu yang bersikap seperti di artikel, perasaan dan keinginan untuk dipeluk dimanja diajak ngobrol baik2 itu hanya akan semakin menyakiti diri sendiri dan semakin menambah kebencian kepada ortu mbak…

      Suka

  45. ael mengatakan:

    S7 banget sm tulisan ini “Jangan sakiti hati anak jika anda tidak ingin disakiti oleh anak. Kelak jika orang tua sudah sangat renta, maka orang tua butuh anak untuk bisa merawat orang tua di hari senjanya. Oleh karena itu perlakukan anak anda dengan sebaik-baiknya.”
    ini artikel TOP bgt, melihat dr sudut pandang ank! Jgn mentang2 nglawan org tua itu mnurut agama dosa, trus org tua jd s’enakx sndiri kpd ank !! igt, smua ada pertanggungjawabanya kelak d hadapan sang Kuasa.
    Sya jg mengalami hal yang sm..ibu Sya egois, Bpk Sy kurg tegas apa2 nurut Ibu Sy.., smpe2 Sya bsa d katakan trjangkit “Bipolar” cz merasa tertekan dlm wktu yg lm.
    Tp, tuk meminimalisirrasa tertekan Sy jd type ank no. 4 dr tulisan d atas “memberontak asalkan msih dlm jalur positif mnurut Sya..”
    Ortu Sy jg lbih nurut org luar drpd ank sndiri,hufft..

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Tertekan hebat bisa menyebabkan gangguan mental pada anak memang. Anak bisa terkena penyakit cemas atau ketakutan tanpa sebab, rendah diri, menyakiti diri sendiri, kesepian, dan gangguan mental lainnya… kalau sudah begini kasihan anak, anak bisa menderita gangguan mental hingga dewasa.

      Tapi mau bagaimana lagi?

      Anak juga tidak bisa memilih orangtua yang akan melahirkan dan membesarkannya kelak kan?

      Jika anak bisa memilih tentu saja anak maunya dilahirkan dan dibesarkan oleh ortu yang kaya, pengertian, baik hati, dan yang baik-baik lainnya.

      Tapi namanya juga takdir dari Tuhan. Oleh karena itu sebaiknya berpikir dulu sebelum memiliki anak… berpikir bagaimana cara mendidik dan membesarkan anak secara tepat agar anak tidak terganggu mentalnya.

      Suka

  46. yodieys mengatakan:

    Assalamu’alaikum

    Sekedar cerita…

    Sakit sekali memang, kalau dibanding dengan caci maki org lain, kata2 pedas yg dilontarkan oleh org tua sendiri jauh lebih terasa & berbekas. Dan hal itulah yg memancing anaknya memiliki sifat dengki. Yang kalau diteruskan akan berkembang menjadi dendam.

    Mungkin ga terlalu masalah jika tipe si anak periang, sering keluar untuk main bersama teman sehingga kejadian buruk yg baru saja dialami bisa di netralisir. ya karena merasa terhibur oleh suasana luar (walaupun tidak sepenuhnya lupa terhadap perkataan kasar org tua)

    Tapi bagaimana jika anak tersebut seorang introvert (menyukai kesendirian, tertutup, dan pendiam), -termasuk saya- ?, ya bisa diperkirakan. Ia akan lebih murung, sedih, depresi dan trauma terhadap apa yg menimpanya, sehingga peluang bertumbuhnya rasa dengki jauh lebih besar. Bahkan yg lebih gawat, dia terpaksa menanamkan dendam walau thd org tuanya sendiri.
    Kalau sudah begitu, semua jasa org tua langsung sirna diingatan lalu diganti dg kenangan buruk.

    Ngeri…, orang tua yg salah mendidik, kita yang harus mendapat akibat karena durhaka…,
    Setidaknya itulah yg saya rasakan beberapa tahun lalu.

    Setelah saya dewasa, banyak belajar dan berkumpul dengan org cerdas lagi sholeh, sudah punya pandangan tentang hukum sebab-akibat, saya pun sadar…

    Ketidakmampuan org tua dalam mendidik anak, bukan sepenuhnya salah mereka. Kenapa ?, karena kalau ditelusur, org tua kita juga adalah hasil dari didikan kakek-nenek kita yang mungkin, mereka juga tidak mendidik anak secara sempurna sehingga anaknya(org tua kita) mendidik kita sama seperti didikan yg yg dicontohkan oleh org tuanya(kakek-nenek kita).
    Silakan kalau mau ditelusur lebih jauh lagi pada level buyut hingga nenek-moyang…🙂

    Jika bersikeras pada prinsip dengki yg telah tertanam pada diri, kita akan menemukan ujung pangkal sebab dari semua masalah, yaitu :
    “Kalau Nabi Adam tidak memakan buah yg dilarang Allah, tentu kita tidak akan susah-susah hidup didunia yang kejam ini !”,

    sebenaranya jawaban utk pertanyaan ini sederhana, yaitu “TAKDIR”, kehendak Allah. Dia sudah menggariskan Nabi Adam akan melanggar peraturan dan diturunkan kebumi(lalu berkembang biak) bahkan 40th sebelum Nabi Adam diciptakan.

    Nah, begitu juga kita memiliki org tua yang “super cerewet”, itu karena takdir. Bukankah jika menyalahi takdir sama dg menyalahi Allah ?, terus kanapa Allah tega memberikan cobaan hebat ini, terlebih kita diuji oleh org tua sendiri ?, jika anda seorang muslim, silakan cek surah Al-Mulk ayat 2, intinya supaya Dia tahu mana org yang pantas dikasih hadiah atas cobaan yg telah dilewatinya.

    Ujian itu memang ga ada yg enteng, selalu ada yg dipertaruhkan saat menjalaninya. Dan anda tahu kalau seorang sudah lulus ujian ?, ya naik kelas🙂

    Pesan saya :
    1. Memaafkan itu jauh lebih berat dari minta maaf, tapi kebahagiaan setelah memaafkan jauuuhh lebih indah dari ga nyamannya memelihara sifat dengki (sekalipun thd org tua), dan bukankan kita pun ingin dimaafkan ?

    2. Seberapapun sakitnya kita, jangan pernah menunjukan kalau kita ingin membalas apa yg pernah dilakukan org tua apalagi membuat mereka menangis. Ini bahaya dan durhaka, tentunya siksa dunia dan akhirat jika kita yg balas. lalu ?, cukup diam saja, Allah ga pernah tidur, berdoa untuk kebahagiaan kita, bukan untuk kesengsaraan mereka…, Setidaknya kita tidak dapat efek buruk dari perbuatan berontak kita thd org tua…

    Wassalam…

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Wassalamualaikum wr.wb….

      Terimakasih atas kunjungan dan masukannya…

      Iya memang semua anak diberi kelebihan dan kekurangan…
      Ada anak yang bisa dengan mudah dan ikhlas memaafkan orangtua. Tapi ada juga anak yang mentalnya terganggu hingga dewasa karena cara mendidik orangtua. Nah ini yang mengerikan.

      Semoga saja, anak-anak yang memiliki takdir istimewa dari Tuhan selalu diberi kekuatan dan ketabahan. Aamiin.

      Suka

  47. shizuka mengatakan:

    aq setuju bgt sama tulisan blog ini,, ini yg q alami, aq skrg mnjadi anak yg cuek, krang peduli, karna aq merasa aq ngak pernah di puji atas apa yg aq kerjakan, semua salah dimata ortuku, sampai kata” kasar pun kluar,, sakit hati ini,, sampai aq jdi benci dgn diriku knp aq bisa sperti ini, disalahkn, dn efeknya aq ngak pernah percaya diri, aq pendiam, aq lebih suka sndiri,, ortuku gk pernah ksh aq motivasi aq sdikit pun, malah meremehkn ap yg aq lakukan… walaupun bgtu aq tetap semngat aq hrus kuat, aq harus cari org yg bisa mnjadi semngatku,,

    Suka

  48. alfindy mengatakan:

    Saya juga sedang merasakan hal yg sama bahkan saya bingung harus bagaimana.saya hidup dalam keluarga yg keras,dan tempramental terutama ayah saya dia adalah orang yg paling sering memarahi saya bahkan dengan fisik pun iya.sampai ketika saya beranjak dewasa saya mulai merasakan jatuh cinta saya mempunyai kekasih kita berhubungan sudah 3thn,tetapi orang tua saya tidak merestui hubungan kami karna kita beda keyakinan.tetapi selama ini dia selalu memperlakukan saya dengan baik,dia sangat menghormati saya,saya merasa sangat berarti jika berada didekat dia, rasanya beda saat saya berada di dekat ortu saya yg selalu membuat saya tidak nyaman.bahkan saya sudah menganggap kekasih saya seperti ortu saya sendiri karna kedewasaan sikap yg ia miliki.bahkan suatu ketika saya memutuskan untuk ngekos bersama teman saya,ketika saya sakit kekasih sayalah yg menanggung kehidupan saya makan+biaya kos+berobat ke rumah sakit.kekasih saya tau jika orang tua saya tidak merestui hubungan kami tapi dia tetap memperlakukan saya secara baik tanpaa berkurang sedikitpun rasa sayang diantara kita.bahkan kekasih saya rela untuk pindah agama sepertu saya,dia juga rela selama ini belajar mengaji,belajar sholat.hal yg sangat membuat saya kecewa adalah kenapa orang tua saya tetap tidak merestui dengan alasan orang tua kekasih saya bukan orang muslim.padahal nanti jika kami berumah tangga kan saya dan kekasih saya yg menjalani.saya bingung apa yg harus saya lakukan??

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Kalau sudah berhubungan dengan keyakinan memang ‘susah’ juga ya?

      Ayahmu (ortu) mu berpikir seperti itu tidak 100% salah juga….

      Soalnya ada kasus seorang wanita berkeyakinan A lalu pacarnya berkeyakinan B…

      Pada awalnya pacarnya beralih keyakinan mengikuti si wanita, lalu mereka menikah. Tapi lama kelamaan, setelah wanita hamil dan benar2 terikat dengan suaminya. Suaminya ini kembali ke keyakinannya dan si wanita ikut diajak pindah ke keyakinan awal si suami. Nah mungkin ini yang ditakutkan oleh ortumu.

      Kalau menurutku bicarakan hal ini baik-baik dengan ortu. Apakah ayah memiliki jalan yang terbaik bagimu? Jadi jangan hanya melarang ini dan itu tapi tidak punya jalan keluar yang terbaik bagimu.

      Tapi kalau misalnya pacarmu benar-benar baik, tulus, dan ikhlas menyayangimu. Kamu bisa bicarakan hal ini pada ayahmu. Jika pacarmu sudah pindah keyakinan sesuai keyakinanmu, jika kamu dan keluargamu bisa membimbing dan mepertahankan serta mengamalkan ajaran sesuai keyakinan itu, bukankah itu juga bisa mendapat pahala.

      Alangkah baiknya kamu juga menemui pemuka agama (ulama, kyai, dll) untuk menyelesaikan masalahmu ini. Hal ini karena masalahmu berhubungan dengan keyakinan. Jadi seseorang yang menasehatimu atau memberi saran padamu haruslah orang yang ahli di bidang tersebut.

      Sekian. Apabila kurang berkenan maka mohon dimaafkan.

      Suka

  49. Hal-hal seperti itulah yang membuat banyak anak merasa frustasi dan menggelapkan masa depan karena merasa tertekan dengan sikap orang tua. thank’s om. jangan lupa kunbalnya ya…?

    Suka

  50. feby mengatakan:

    Cerita ituseperti yg sllu saya alami!apa harus saya menghadapinya dengan sabar?

    Suka

  51. rika chrismayana ginting mengatakan:

    makasih postingannya min.
    ketidakpedulianku dan siakpku yg dingin dengan siapapun ternyata itu karna mereka.

    Suka

  52. Gagah antero mengatakan:

    Saya mau cerita sekaligus cari solusi nih. Mohon solusinya yah??
    Saya masih kuliah n kerja sambilan sbg guru les SMP di kota terbesar di jawa timur.
    Dari kecil saya sering di olok bodoh, gag berguna dan satu saat saya sedikit terlempar dr rangking 3 besar di kelas 4sd. Saya di banding2kan dgn kawan yg selalu jadi rangking 1 dan 2. Namun saya bisa membuktikan kalau saya bisa rangking 1 di akhir kelas 6sd.

    Lain masalah namun masih dalam rentang sekolah SD sampai SMP.
    Bermain video game seperti play station menjadi hal yg haram dirumahku, aku sering tertangkap basah main PS atau di warnet ketika SMP. Sampai dirumah sering saya disiram air dalam keadaan masih berseragam lengkap dan masih membawa tas. Namun akhirnya saya buktikan dgn nilai pelajaran bhs inggris yg g pernah kurang dr angka 80.

    N sekarang yg mau saya tanyakan, baru saja saya dpt masalah. Saya disuruh memasak nasi, saya lakukan dgn seksama. Dan ketika selesai beras dicuci dan beras dikasih air terakhir kali untuk dimasak, saya gunakan air minum galon yg tersedia, krn saya tau sendiri keadaan air PDAM sedang tidak bagus dan bikin nasi cepat basi dan saya sering sakit perut ketika air PDAM yg digunakan.
    Mama saya tau yg saya lakuin, seketika itu saya dikatain org berpikirian terbalik dan papa blg saya “gendeng” atau gila lebih tepatnya.
    Dan lebih parah lagi, diungkitlah krn saya sering tidur malam n bangun sering telat.
    Padahalsaya lakukan tidur malam krn tidak ada waktu slain malam hari tersebut untuk selesaikan skripsi saya yg hampir selesai. Tapi saya dituduh main2 n pemalas krn bangun telat..
    Dan satu lagi, ortu saya tidak suka dg teman perempuan yg sedang dekat dg saya. Dg alasan memiliki adik yg idiot, jadi nanti keturunan saya bakal seperti itu.
    Padahal sama sekali tidak begitu dan ortu saya blum sama sekali bertemu dg keluarga dr perempuan yg sedang dekat dg saya.
    Dg kasus ini, apakah sikap yg paling masuk akal yg harus saya lakukan?

    (Nb: ortu saya tidak pernah terima pendapat apapun dr saya, meskipun saya buktikan dengan ilmu ilmiah yg bisa menjelaskan sekalipun)

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Bertahan dan tetap hidup hingga kamu dewasa sampai saat ini dengan orangtuamu bisa dikatakan kamu orang yang bermental tangguh. Mengingat sikap ortumu yang seperti itu…

      Jadi sedikit bersabar saja. Selesaikan skripsi kemudian cari kerja yang bagus dan hidup mandiri.

      Diperlakukan seperti itu memang marah dan sakit hati. Tapi terkadang memang ada ortu yang merasa paling benar, jadi kita omong apa saja walau kita benar tetap saja salah di mata beliau-beliau.

      Kalau masalah teman perempuan…tanyakan saja sebenarnya teman perempuan apa yang sesuai dengan kriteria ortu? Kalau memang teman perempuanmu itu berbudi baik, adiknya tidak idiot, seiman, dari keturunan yang baik-baik, dan tulus apa adanya… kamu bisa saja mempertahankannya, sambil berjalannya waktu semoga ortu melunak dan mau menerima…karena wanita yang berbudi baik dan tulus menyayangimu dan bisa menyayangi ortumu kelak itu lebih baik.

      Hanya itu pendapatku. Kalau kurang berkenan, mohon dimaafkan….

      Suka

  53. noraya mengatakan:

    Jujur aq termasuk dalam kategori anak yg tipe ke-2. Aq bersikap masa bodoh dg ap yg terjadi karna q pikir itu sm skali bkn urusanq. Aq gk peduli dan gk akan pernah! Ini th baru tp apa yg q rasakan.. Aq malah mengurung diri di kamar dan menangis. Banyak org yg bilang aq sdh berubah dan gk kayak dulu lg. Bahkan aq sampek jengah karna hampir semua org membicarakan aq! Aq berubah karna ad alasan! Aq pengen.. Pengen bngt bentak mereka semua, pengen q tampar, dll tp aq gak bisa dan gk memiliki keberanian.. Karna aq masih mikir resikox.. Mungkin aq tambah di kucilkan, gk dikasik uang saku, parahx lg mungkin gk dikasik makan (hahaha sempet”x bercanda -_-)
    Ketika aq marah aq selalu ngurung diri di kamar.. Gk makan+minum, dll. Dan kadang mamaq atau papa tiriq (papa kandungq sdh meninggal) masuk nyuruh aq makan.. Aq bersyukur karna setidakx papa tiriq baik.. Tp mama selalu menggedor pintu dg keras sambil bentak aq.. Klo aq ngelakuin sesuatu yg dy gak suka aj mesti ancamanx aq bakal di pondokkan. Aq sempet mikir buat ap aq lahir klo cuma dimarahi gini.. Dulu wkt sd aq sering mikir untuk bunuh diri.. Tp aq takut.. Nntk aq masuk neraka /plakk\ aq benci kakak perempuanq dan aq benci sm mama. Mama terlihat lebih memihak kakakq drpd aq.. Aq tau kok semua org benci aq.. Aq tw.. Karna kalian memperlihatkan itu semua sangat jelas. Maaf klo kata” q ini kekanakan.. Karna aq masik smp kls 1..

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Gangguan mental dan jiwa bisa diderita siapa saja, baik anak smp, anak sma, anak kuliahan, orang dewasa, bahkan ada orang yang dari kecil hingga tua.

      Bisa jadi mental dan jiwamu terganggu karena sikap dan perilaku orangtua yang kurang tepat. Anak-anak yang terganggu jiwanya bisa berada dalam kondisi depresi, takut, kalut, bingung, tidak stabil emosinya, marah, gusar, menyakiti diri sendiri, merasa terabaikan, sendiri atau kesepian, hampa, menderita, ingin mati atau menghilang, lelah, kecewa, menyesal, tidak bisa mengendalikan diri, dan sensitif terhadap perlakuan dan perkataan orang lain.

      Apabila ada faktor pemicu maka kondisi-kondisi itu akan menyerang dengan cepat. Bahkan kondisi/perasaan/pikiran itu bisa berganti-ganti dengan cepat. Saat ini sangat marah, lalu tiba2 berganti dg sedih, setelah itu berganti dg kebencian, lalu berganti dg kekosongan, dsb. Hal ini bisa dikatakan kondisi tidak stabil.

      Anak atau orang yang terganggu jiwanya kadang merasa hidup di lingkaran. Dia atau mereka ingin berlari atau melarikan diri dari kondisi/pikiran/perasaan buruk yang selalu menyiksanya. Tapi mereka hanya berlari berputar-putar dengan perasaan dan pikiran serta kondisi buruk yang siap menyergap dari belakang. Apabila anak atau orang lelah berlari maka pikiran/perasaan buruk akan menyergap dan mereka akan tersungkur, terpuruk, dan menderita berkepanjangan. Begitu seterusnya selama anak atau orang yang terganggu jiwanya belum mendapat terapi atau pengobatan. Terapi dan pengobatan bisa dari diri sendiri dan ahli kejiwaan.

      Itu pendapatku kalau menurut pengalaman. Saya juga bukan ahli kejiwaan.

      Apabila membaca tulisanmu di komentar, maka bisa jadi kamu menderita depresi. Depresi bisa ditandai dengan kesedihan yang panjang dan berulang bila ada faktor pemicu. Kamu akan mengisolasi diri, hilang harapan, merasa tidak ada orang yang mengerti, merasa tidak ada pertolongan, kehilangan diri sendiri, kehilangan minat, kehilangan rasa antusias, merasa tidak berguna untuk hidup, ingin mati atau menghilang, hampa, sedih tapi tidak bisa menangis dll.

      Tapi sebisa mungkin, lawan perasaan dan pikiran itu tadi. Karena bila berkepanjangan maka hal itu bisa membuatmu berputus asa dari rahmat dan karunia Tuhan.

      Apabila kamu beragama, cobalah lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Berpikir baik kepada Tuhan dan pasrah kepada Tuhan. Terus berdoa dan yakin Tuhan akan menolongmu dan akan memberikan kehidupan yang lebih baik. Atau minimal kita berdoa supaya Tuhan memberikan kekuatan untuk bertahan menghadapi ortu, saudara, dan makhluk kurang baik lainnya.

      Apabila kondisi benar-benar parah, maka kamu bisa meminta bantuan kepada orang yang dipercaya untuk menemaninu pergi ke ahli kejiwaan. Namun tetap diri sendiri dan ijin dari Tuhanlah yang bisa membuatmu kuat dan bertahan hidup.

      Selain itu kamu bisa menghibur diri sendiri dengan kegiatan positif seperti belajar yang tekun, melakukan kegiatan yang disenangi, menuliskan semua perasaanmu dan diterbitkan di blog, mengikuti ekstrakulikuler, mewujudkan impianmu, dll.

      Tetap semangat dan bertahan ya. Seseorang yang terganggu mental dan jiwanya apabila dia bisa bertahan dan terus melanjutkan hidup dan bisa mewujudkan impiannya adalah seseorang yang luar biasa.

      Suka

  54. ami mengatakan:

    kata kata di atas aku banget postingan nya keren (y)

    Suka

  55. ami mengatakan:

    saya mempunyai 1 orang adik. Dan orang tua saya mempunyai 2 orang anak. Saya adalah anak pertama.
    saya selalu di perlakukan tidak adil.
    apa apa adik saya apa apa adik saya. Pada saat adik saya salah,dia dibela. Dan saya yang benar malah saya yang disalahkan. Dari dulu,adik saya selalu dimanja,di beri kasih sayang penuh. Tapi saya sebaliknya. Saya selalu di sebut anak tidak berguna oleh ortu saya. Padahal,saya berusaha keras untuk menjadi anak yang berguna bagi mereka. Saya selalu di banding bandingkan dengan orang lain. Saya ingin sekali seperti temen2 saya yang selalu di sayang,di manja. Saya ingin merasakan pelukan,kasih sayang dari orang tua saya. Selama ini saya selalu di salahkan,di bentak,di caci maki. Tapi saya berusaha sabar,sabar dan sabar. Tapi lama kelamaan sulit rasanya terus bersabar. Saya selalu berdoa agar sikap,sifat mereka berubah. Ortu saya tak peduli kepada saya. Peduli nya hanya pada adik saya aja. Saya bingung harus gimana lagi menyikapi ortu yang seperti itu?

    Suka

  56. ami mengatakan:

    orang tua saya
    mempunyai 2 orang anak.
    Saya adalah anak pertama.
    saya selalu di perlakukan
    tidak adil.
    apa2 adik saya apa2
    adik saya. Pada saat adik
    saya salah,dia dibela. Dan
    saya yang benar malah
    saya yang disalahkan. Dari
    dulu,adik saya selalu
    dimanja,di beri kasih
    sayang penuh. Tapi saya
    sebaliknya. Saya selalu di
    sebut anak tidak berguna
    oleh ortu saya.
    Padahal,saya berusaha
    keras untuk menjadi anak
    yang berguna bagi mereka.
    Saya selalu di banding
    bandingkan dengan orang
    lain. Saya ingin sekali
    seperti temen2 saya yang
    selalu di sayang,di manja.
    Saya ingin merasakan
    pelukan,kasih sayang dari
    orang tua saya. Selama ini
    saya selalu di salahkan,di
    bentak,di caci maki. Tapi
    saya berusaha sabar,sabar
    dan sabar. Tapi lama
    kelamaan sulit rasanya
    terus bersabar. Saya selalu
    berdoa agar sikap,sifat
    mereka berubah. Ortu saya
    tak peduli kepada saya. Yang ia pedulikan hanya adik saya. Saya sempet berfikir untuk apa saya di lahirkan?
    saya bingung harus bersikap gimana lagi pada mereka?

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Sedih juga memang jika dibeda-bedakan seperti itu. Di dalam keluarga memang pasti ada-lah anak yang selalu diistimewakan, tapi sebagai anak yang merasa diperlakukan berbeda mau bagaimana lagi?
      Mungkin kamu bisa tanya kepada ortu kenapa km diperlakukan berbeda dg adikmu. Lalu katakan klu dibeda-bedakan itu sakit, toh kamu kan juga lahir dari mereka (ortumu)…
      Kalau masih tetap diperlakukan beda maka apa daya? Berjuanglah untuk bertahan dan hidup di jalanmu sendiri… asal tidak menyimpang dari ajaran agama dan norma sosial.
      Kalau masih pelajar, belajar yang rajin supaya berprestasi. Kalau kuliah ya kuliah yang benar, bisa juga sambil kerja. Nanti kalau sudah kerja bisa hidup mandiri tidak usah merepotkan ortu… hiduplah dimana kamu bisa membahagiakan dirimu sendiri. Jangan terlalu mengharapkan berlebih dr ortu krn nanti malah sakit hati sendiri. Ya memang tidak salah jika sebagai anak mengharap kasih sayang yang berlebih, namun bila ortu kurang bisa diharapkan maka kita dan Tuhanlah harapan itu.

      Suka

  57. Bayu Ryan mengatakan:

    yg no.7 dan no.4 aku banget. terima kasih postingannya

    Suka

  58. Bayu Ryan mengatakan:

    yang no.7 dan no.4 itulah yang sdang aku alami..

    Disukai oleh 1 orang

  59. milliani mengatakan:

    tetap sabar dan tabah ya kalau kamu digituin lagi soalnya aku juga digituin sama orang tuaku

    Suka

  60. milliani mengatakan:

    akupun sama setiap adik aku ang salah pasti aku yang dimarahin kita sama sama senasip

    Suka

  61. ihsanmajied mengatakan:

    gw ngalamin hal yang serupa sama yang diatas.
    btw salam kenal, nama ane ihsan majid. ane sekarang udah kuliah semester 2

    jadi ini kejadian emang udah gw alamin sejak 7 tahun yang lalu, ane juga bingung kenapa ane bisa jalanin keterpurukan ini.

    seperti biasa, ane selalu mendapat tekanan batin dari ayah ane, ane merupakan anak tunggal dan nyokap udah kaga punya.

    kalo dirumah ayah ane selalu nyuruh ane buat bersih bersih bantu ayah, tapi suruhannya itu dengan cara ngebentak gan, ane ga tau kenapa dan setelah nyuruh ane mao ,tapi ayah ane malah ngegubris ” ah elu mah bisa apa, nyuci aja kaga becus” , ” lu mah apa apa ga becus, ga bakal berguna luh” dari perkataan itu ane sakit beneran gan, dan misal ane mau bersihin kamar, ane udah berusaha sampe bersih tapi ayah ane malah bersihin lagi tuh kamar dan bilang kalo kamar belum bersih (ok kalo ini gw yang salah, tapi kenapa setiap gw bersihin kamar kelakuan ayah ane kaya gitu). ane bingung gan ayah ane ga pernah ngajarin caranya nyuci, ngepel, bersihin ini lah itu lah, ayah ane cuma bisa nyempetin kerjaan nya itu, ketika minta diajarin dia malah bilang “Ga sempet”

    btw minta sarannya yah min. makasih

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Sabar saja ya?
      Kan membaca ceritamu tentang hal ibu (nyokap udah kaga punya), itu berarti cuma berdua ya?

      Kalau cuma berdua, sabar dan maafkan ayah. Soalnya kan kalau bersih-bersih itu biasanya dikerjakan oleh ibu.

      Jadi tetap berusahalah menjadi anak baik dan membantu ayah. Kalau sebelum ayah membentak, coba bergerak dahulu sebelum ayah meminta bantuan. Misalnya kalau ada lantai kotor maka segera disapu sebelum diperintah, kalau ruangan berantakan coba dirapikan sebelum diperintah, dll. Kamu mungkin juga meningkatkan kemampuan bersih-bersihmu.

      Kalau ayah masih tidak terima dan tetap membentak maka katakan dengan baik-baik kalau kamu sudah berusaha lebih ‘peka’ dan kamu sudah berusaha membantu sebaik yang kamu bisa. Dan tentu harus sabar dan tabah.

      Sekian sarannya kalau kurang berkenan, mohon dimaklumi.

      Suka

  62. alifiah marenti mengatakan:

    ibu saya termasuk golongan ibu yg no. 1 4 dan5 bahkan terkadang, 2 juga masuk. ibu saya gk pernah peduliin saya. bahkan saat saya mendapatkan sesuatu hal yg menurut saya dpt membanggakan ibu saya, tetapi ibu saya hanya bersikap datar kepada sya. dan menurut saya, saya termasuk anak yg cuek. tetapi terkadang saya capek dgn sikap ibu saya. krna saya cuek ibu saya jadi semena2 sama saya. dan saat sya menasihati ibu saya ketika ibu sya berbuat slah, ibu saya akan marah. dan menyumpahin saya. menurut kalian saya harus apa? saya takut akan doa ortu sya. tetapi ini sudah kdua kalinya ibu saya menyumpahin saya. jadi saya harus apa?? tolong jwb saya?

    Suka

  63. alifiah marenti mengatakan:

    saya ingin seperti ini, tpi sya takut, dan tidak yakin klo cara ini berhasil. saya adalah seorang ank yg sudah di sumpahin ibunya untuk mempunyai masa depan yg suram. dan saya punya keyakinan, apapun yg ku lakukan untuk msa dpn ku semua itu percuma karena do’a ibu saya yg seperti itu. dan saya juga yakin klo doa ibu saya jga sudah di kabulkan sma allah swt. jadi sya nggak tau lgi hrus berbuat apa demi masa dpn sya.

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Jangan takut dan jangan putus asa ya…

      Mungkin kamu bisa meminta maaf pada ibu dan juga kamu memaafkan ibu. Mungkin berat tapi manusia kadang bisa bersalah tanpa ia sadari.

      Kalau kamu sudah meminta maaf tapi ibu tidak memaafkan dan tetap menyumpahi, maka mau bagaimana lagi?

      Kamu bisa tetap mendoakan ibu dan ortu dan mohon maaf kepada Tuhan.

      Selain itu, Tuhan pasti tahu niat baik dan buruk. Oleh karena itu, tetap berniat baik pada apa yang kamu lakukan dan kamu pikirkan. Tetap berusaha dengan baik untuk hidupmu.

      Sebagai pandangan, kamu bisa membaca kembali komentar dan kisah salah satu sahabat di kolom komentar di artikel ini.

      Ada sahabat yang bercerita jika ia selalu disumpahi ibu setiap kali ibu marah. Tapi sahabat ini tetap berniat baik pada ibunya, dan dia selalu berusaha sebaik mungkin untuk membahagiakan ibunya.

      Sahabat ini bisa selesai kuliah, bisa mendapat pekerjaan bagus, dan berusaha hal-hal baik lainnya untuk hidup. Dia berusaha melakukan apa yang baik bagi ibunya dan dirinya walau ibu sering marah dan menyumpahi buruk.

      Oleh karena itu, tetap berniat dan berusaha baik. Jangan takut, jangan putus asa, jangan menyerah, tetap berpikir positif, tetap tabah dan sabar, dan tetap berdoa untuk hidupmu. Semoga Tuhan selalu memberi karunia dan kekuatan. Aamiin.

      Suka

      • alifia marenti mengatakan:

        Aamiin,, terima kasih atas kometar dan sarannya min..🙂
        tpi min,,, jika soal minta maaf.. bolehkah minta maafnya hanya di dalam hati???

        Suka

      • nugraheniismyname mengatakan:

        Ya memang pertamanya niat dalam hati, tapi sebisa mungkin diucapkan agar ibu juga tahu. Atau coba cari artikel keagamaan atau tanya ke pemuka agama tentang tata cara bermaafan supaya kamu lebih yakin jika kamu dan ibu bisa saling memaafkan.

        Suka

      • Alifiah Marenti mengatakan:

        terima kasih admin,,, terima kasih bayak

        Suka

  64. zzz mengatakan:

    no. 6
    gimana ya cara ngasi tau orang tua kalo saya mau keluar kuliah, soalnya saya udah ga betah lagian itu bukan keinginan saya cuma orang tua memaksa, karena dulu saya terdesak saya secara random milih jurusan, akhirnya masuk jurusan yg ga saya suka, dari awalnya IPK 3.x sampe sekarang jadi 1.x karena saya udah jarang masuk nilai E semua dan saya sekarang semester 6, mohon bantuannya

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Saya juga punya pengalaman pernah tidak cocok kuliah.

      Dulu, saya dilarang kuliah di jurusan ini dan itu. Akhirnya, saya malah pilih jurusan teknik.
      Saya kuliah, lalu langsung merasa tidak cocok. Tidak hanya saya yang merasa seperti itu. Saya juga punya teman yang tidak cocok kuliah di jur.teknik tersebut.

      Akhirnya, pada tahun berikutnya, saya dan teman ikut sbmptn lagi. Saya ngomong saja langsung sama ortu klu saya mau ikut sbmptn.

      Saya ikut sbmptn memilih jurusan yang benar-benar saya inginkan waktu itu, yaitu jur.psikologi dan sastra. Waktu itu teman saya memilih jur.komunikasi.

      Setelah pengumuman sbmptn, teman saya lolos sbmptn, dan dia keluar dari jurusan teknik. Teman saya itu masuk dan kuliah ke jur.komunikas (jurusan yg benar2 dia inginkan).

      Tapi, saya tidak lolos sbmptn. Akhirnya saya mau tidak mau ya kuliah di jurusan teknik tersebut hingga selesai, karena saya pikir, kalau menunggu sbmptn tahun berikutnya, itu terlalu lama dan saya keburu tua. Klu mau keluar dari jur.teknik, itu sayang juga karena saya kuliah di universitas favorit.

      Kalau menurutku, klu tidak betah ya coba bilang baik-baik sama ortu. Klu tidak boleh ada 2 kemungkinan: tetap melanjutkan kuliah atau keluar dan cari jurusan yg diinginkan.

      Namun klu biaya masih ikut ortu maka keluar dan cari jurusan yg diinginkan cukup rumit juga. Apa km bisa coba membiayai kuliahmu sendiri dg kerja sambil kuliah.

      Namun bila memutuskan tetap berada di jurusan yang sekarang juga tidak apa2 klu menurutku, soalnya nanti klu kerja paling ya masuk yang s1 segala jurusan.

      Tapi terkadang nanti klu kita lulus kuliah itu, kita memutuskan kerja atau mengejar mimpi terkadang bisa saja tidak sama dg jurusan kuliah yang kita tekuni.

      Ya itu saja yang bisa saya sampaikan.

      Suka

  65. Dheka mengatakan:

    bagus artikelnya dan saya setuju. Saya pernah dengar juga ada kajian islam “Jangan durhaka terhadap anak”. Menjadi orang tua memang tidak mudah dan anak itu dimana2 produknya orang tua. Semoga kita semua bisa menjadi orang tua yang baik kelak

    Suka

  66. Erik Raynaldo mengatakan:

    misalnya kaya tmn saya namanya rino durhaka ama bapak, bpknya ko ama anaknya…

    Suka

  67. Widy mengatakan:

    Terima kasih sudah menulis hal itu karena selama ini bila saya cerita, mereka tidak percaya bahwa orang tua bisa seperti itu. Saya pun sekarang tidak peduli apakah mereka percaya atau tidak, tetapi dengan tulisanmu itu membuat saya lega karena akhirnya ada yang percaya. Saya melepaskan diri saya dari penghinaan dan pembunuhan karakter saya dengan sekolah serius dan mencari kerja hingga akhirnya saya bisa membeli rumah sendiri. Untuk mereka yang juga mengalami hal yang sama, jangan cengeng dengan melakukan hal-hal negatif. Saya membenci orang bodoh dan manja yang seperti itu. Kalau mau keluar dari itu semua…segera mandiri. Namun luka bathin selama puluhan tahun masih nyata sampai sekarang. Dada ini gemetar bila ingat semuanya. Semoga Tuhan yang menghapuskan sakit ini

    Suka

  68. Alfarizi mengatakan:

    Saya juga mengalami ini, sudah berlangsung bertahun-tahun. Bahkan saat bulan puasa saya pernah di tonjok ayah saya pada rahang sampai hampir patah, dan butuh waktu berbulan-bulan untuk sembuh.

    Tetapi ayah saya tetap tidak berubah sampai sekarang, saya merasa MKKB karena ortu😦😥 sangat sedih rasanya tak bisa merasakan masa kecil yang bahagia.

    Suka

  69. eka mengatakan:

    Assalamualaikum..
    Saya tumbuh di keluarga yg keras,usia sy 23th,sudah menikah 2 tahun dan sudah punya anak usia 8 bulan.. Dari kecil sy hidup dengan perilaku keras orang tua.. Sejak balita,sy sdh rasakan hantaman batang sapu bertubi-tubi.. hmpir setiap hari sy mendapat perlakuan kasar ibu,suatu hari sy sedang asyik bermain sore,ibu memanggil untuk mandi dan sy meminta waktu untuk bermain sedikit lagi..tapi ibu langsung menghantamku dengan batang sapu ke punggung,kaki,betis,hingga luka memar..dan ibu membuka pakaianku,lalu mengikatku di bawah kolom meja dlm kondisi telanjang.. Ibu selalu menyekapku setelah menghantamku,jika dia marah..pdhl wktu itu sy hanyalah seorang anak kecil yang belum tau apa2.. Bahkan sy pernah disekap di bawah tempat tidur,dari sore hingga malam..sy diikat dengan kabel,sy mengeluh kelaparan sy tdk digubris..ibu hanya asyik menonton.. Tdk sampai disitu.. Hingga sy remaja,kekerasan fisik dan psikis tetap sy daptkan dari ayah dan ibu.. Sy muak,dengan hal-hal kecil selalu membuat mereka mudah mencaci maki kami anak2nya.. Saya 3 bersaudara..sy anak sulung.. Dan disaat sy tamat SMA,ayah ngotot memasukkan sy ke jurusan PTN yg bukan minat dan bakatku.. Hingga akhirnya,aku trpaksa menuruti kemauan ayah.. Ketika saya selesai KKN,saya dilamar oleh kekasih saya..kitapun meniikah, setelah menikah saya masih tinggal bersama orangtua..krna suami belum mempunyai tempat tinggal untukku.. Ayah memaksaku menyelesaikan kuliahku,akupun mengikutinya meskipun aku lelah karena aku tdk mempunyai minat bakat di jurusan yg dipilih ayahku.. Hingga saat ini sy beranak,skripsiku belum juga tuntas..krna fokusku terbagi antara mengurus anak dan suami.. Belum lagi sy jd tulang punggung,krna suamiku kehilangan pekerjaan sementara ini.. Ayah dan ibuku selalu menyinggung perasaan suami saya,merendahkan suami sy yg hanya berpendidikan sma.. Sayapun ditekan oleh ayah,untuk selesaikan studi,pdhl sy minta pengertiannya krna tugasku sebagai istri,ibu,dan tulang punggung.. Karena tdk tahan tekanan ortu,suami mengajak sy kontrak sebuah rumah..dan saat kami bermaksud menyampaikan maksud kami,ortu saya malah marah2.. Mengatakan,bahwa kami pindah karena ingin menjauhi orangtua.. Dan,ibu sayapun mengatakan jika saya meninggalkan rumah..maka,sy bukan lagi anaknya..dan tidak usah mencari mereka lagi.. Saya sedih,karena ibu dan ayah saya,setiap hari selalu mencaci maki kami..bahkan adik2ku.. Kata kata kotor selalu menjadi hiasan bibirnya setiap hari.. Bahkan, ibu saya sering merendahkan suami saya.. Ibu sy tdk pernah mau cuci piring,sejak kecil sy dan yg adik perempuan yg selalu melakukannya.. Dan,jika terlambat cuci piring maka kita disuruh makan pake kertas yg dia sajikan di atas meja..itu yg membuat suamiku tdk tahan,dan memilih mandiri bersamaku dan anak kami.. Skrg,kami sudah keluar dari rumah ayah dan ibu,tapi dlm kondisi hato mereka marah.. Disaat kami hendak pamit,ibu dan ayah menyumpahiku..dan sy diharamkan menyentuh jasadnya jika kelak ia meninggal.. Astaghfirullah,sungguh apa yg ada dihatiku..jauh berbeda dengan apa yg menjadi pandangannya.. Pertanyaan sy,dosakah sy meninggalka ortu dlm kondisi marah demi mengikuti suami dan membangun rumah tangga kami dengan baik?

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Wa’alaikumussalam wr.wb. Kalau setahu saya, perempuan yang menikah maka ia telah menjadi tanggung jawab suaminya. Oleh karena itu perempuan yang sudah menikah harus lebih berbakti kepada suaminya. Walaupun begitu, kamu juga bisa tetap berbuat baik kepada orangtua, saling memaafkan agar hidup diridhoi oleh Allah SWT. InsyaAllah.
      Semisal kamu belum selesai kuliah kan? Sebisa mungkin selesaikan kuliah supaya nanti kalau dapat ijazah bisa digunakan untuk mencari kerja yang lebih baik. Jurusan tidak disukai ataupun disukai toh nanti kalau cari kerja bisa mendaftar yang s1 Segala jurusan… Tapi kalau mau membuka usaha juga lebih baik, tapi sebisa mungkin segala sesuatu harus dipikir matang dan kamu harus mau bertanggungjawab terhadap segala keputusan yang telah kamu tetapkan untuk dirimu, okey!
      Tetap semangat dan berusaha yang terbaik untuk hidupmu, ya….

      Suka

  70. alunk mengatakan:

    IS GOOD. SEBAGAI ILMU SAYA, MENDIDIK ANAK SAYA!

    Suka

  71. kalin jordan mengatakan:

    saking dendamny sama bapak, saya smpai sempat berkelahi sma bapak gua 2 kali saat dia marah

    Suka

  72. gyoza mengatakan:

    Wah.. Itu aku banget. Aku sering dipukul, dimaki2, dihina didepan umum. Apalagi kalo orangtuaku dah kesel, gak kenal tempat deh pasti langsung nama aku diganti jadi gini, “eh,anjing! Sini u jing!!”, “eh,anak bangsat!”, “eh, babi!sini u!”. Disalahkan ini itu,padahal bukan aku yg salah. Dan kedua orangtuaku mengumbar2 kalo aku yg salah aku yg gak mau diatur. Kalo sekolah pulangnya telat walaupun karena macet ato ada tugas sekolah, pas sampe rumah pasti langsung digamparin. Udah 10 taun kerja di toko nggak pernah digaji sepeserpun. Digajinya cuma lewat omelan kalo toko sepi, dicurigain kalo dapet duit sedikit, padahal kalo aku nyolong2 tuh duit omset, aku udah bisa beli ini itu. Pake hp bagus, bli baju bagus, mau kemana aja bisa. Tapi kenyataannya aku bli baju aja dalam setahun blom tentu ada beli, paling dibeliin sama kakak. Hp aja dibeliin. Percaya ato nggak, tapi apa yang aku alami udah dari aku SD. banyak yg bilang aku hebat nggak bunuh diri. Ya, aku nggak bunuh diri. Hebatnya aku ini tipe orang campuran no 2 dan 3! Hahahahaha… Hebatkan?? Yg percaya silahkan nggak percaya juga silahkan. Tapi aku tebak pasti banyak yang bilang nggak percaya.

    Suka

  73. Mencoba kuat mengatakan:

    Alhamdulillah bisa nemuin tulisan seperti ini. Kalau boleh saya mau curhat juga. Posisi saya sudah terlalu parah. Mungkin kalau bisa di bilang, akibat tipe orang tua yg anda telah jelaskan berakibat saya trauma parah dengan apa yg sdh ibu saya lakukan ke saya. Kami seumur hidup hanya berdua, ayah saya sudah mencraikan ibu saya semenjak saya masih bayi. Belasan tahun saya hidup dari tidak punya apa2 sampai ibu saya kaya raya, saya selalu diberikan apapun yg anak2 lain punya, tapi siksaan bertubi2 selalu ia lakukan terhadap saya. Baru siang ini saya ketakutan di rumah sebesar ini sendirian krn mendapat telefon iseng, ketika saya cari siapapun di rumah kosong, saya tambah takut krn dari salah satu sisi rumah ada suara laki2 yg tidak saya kenal. Saya langsung lari kembali ke kamar memegang piala beling sbg senjata. Saya telfon ibu saya krn saya ketakutan, tapi anda tau apa yg ia katakan ke saya? “Kamu gila ya? Kalau saya bilang gak ada apa2 ya gak ada apa2! Keluar saja dari kamar sudah! Kamu cuma bisa mengganggu saya kerja!”. Sampai skrg saya tipe anak yg melampiaskan dgn cara positif. Namun terkesan palsu krn di luar saya mahasiswi yang cukup aktif terkesan kuat, namun detik ini yg saya pikirkan adalah, masa kecil saya yang hilang, masa bahagia yg harusnya saya rasakan di SMA. Semua hilang krn ibu saya selalu mencoba menjauhkan semua org dr hidup saya. Sampai kuliahpun untuk organisasi dan lomba sangat dipersulit segalanya dilarang, sampai saya tidak punya teman satupun padahal profesi saya nanti butuh banyak link dan dia tau itu. Tapi saya bisa liat muka puasnya tiap kali dia bilang “tidak boleh” setiap saya ada urusan di kampus. Sampai skrg, hanya rasa takut saya terhadap Tuhan yg menjaga saya dari bunuh diri.

    Suka

  74. Muhammad Dhaffa Mahendra mengatakan:

    Sy anak SMP kelas 2.
    Saya sering mendapat perlakuan kasar dari ibu saya. Terkadang saya hanya melakukan kesalahan kecil tiba tiba masalahnya jd besar. sampe saya dilemparin HP saya sendiri. Dan parahnya lagi saya sering dibilang “otakmu iku isine taek” (otakmu itu isinya tai) hanya gara gara nilai ulangan saya jelek. Saya sering dibentak hingga sy harus melawan dengan penjelasan yg jelas. tp yg terjadi sy malah dianggap sebagai anak durhaka dan kayak yg udh kepinteren aja. pdhl sy udh bilang “maaf ma tp saya kan udh jelasin blablabla” pernah suatu hari ibu sy udh kepak kepak barang saya & sy disuruh minggat gara gara sy mecahin gelas isinya kopi. untung ad ibu rt yg nyelametin sy. tp sy dilihat temen temen juga kan sy malu juga. beberapa kali sy mendapat hantaman di kepala hingga sy harus dipisahkan terlebih dahulu. sekarang pun ibu sy spt tidk menganggap sy sbg anak karena kakak sy yg pandai yg katanya selalu manut ke orang tua. sy dianggapp spt anak kos. sampe pernah 1 hari gk dikasih makan. cm ntt baikan dikit. sy lakukan kesalahan gk disengaja ujung”nya kayabgini lg. sampai td sy disumpahin “semoga mama cpt mati biar km dapet ibu tiri trs disiksa habis habisan”

    sy harus gimana? sy harus pindah rumah ke rmh nenek sy ap sy harus bersabar dn menetap di rmh itu. abis sy gk kuat lg hati sy disakitin. Pedih bgt rasanya.

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Kalau memiliki ortu yang temperamental, kasar, galak, tidak sabar, dll; sebagai anak memang harus banyak sabar, tabah, dan kuat…. sedih itu pasti, sedih sekali pasti, tapi jangan meratapi diri dan hidup.

      Ortu seperti itu, wlupun memperlakukan anak kurang wajar, namun kadang juga bisa baik juga sama anak. Terkadang anak bingung sekaligus was-was dan waspada untuk mempersiapkan diri untuk menghadapi apa yang akan dilakukan atau apa yang akan diucapkan ortu kepada anak.

      Ya kalau menurutku, kamu coba bertahan dulu, soalnya daripada kabur, nanti malah bertambah runyam masalahnya. Kamu harus kuat! Kamu pasti kuat! Pada saat bertahan dan berusaha kuat, kamu bisa berusaha sebaik dan semampu kamu sebagai anak. Misalnya, kamu belajar sebaik-baiknya, membantu ortu sebaik dan semampu kamu, dan berperilaku sebaik dan semampu kamu kepada ortu.

      Kalau kamu sudah berusaha sebaik dan semampu kamu, kamu masih tetap disiksa terus menerus hingga kamu terluka fisik dan mental, kamu bisa minta pertolongan ke pihak lain yang bisa dipercaya seperti misal nenek, kakek, saudara, dll. Hal ini dilakukan untuk menyelamatkan hidupmu.

      Oke. Hanya itu yang bisa kukatakan. Tetap kuat, tabah, dan berstrategi ya…kamu harus kuat dan bertahan karena ada banyak orang dan anak yang bercerita di artikel ini, yang juga bisa kuat dan bertahan. Kamu punya bnyk teman.

      Suka

  75. Ollin mengatakan:

    sy ingin menceritakan kisah hdp sy.. terlalu pahit dan panjang kalau diceritakan semuanya. singkatnya… sy anak ke 2 dari 3 bersaudara. sjk kcl sy sllu dperlakukan berbeda/ tdk adil, sllu saja sy dianggap salah dimata orgtua bahkan sy selalu menjadi tempat pelampiasan amarah orgtua dalam hal apapun.

    hati sy merasa sgt sakit dan trauma meskipun saya tdk pernah mendapatkan kekerasan fisik, akan tetapi rasa sakit dan trauma sy diakibatkan oleh hinaan/makian, perlakuan yg berbeda hampir setiap harinya sejak SD sampai kuliah sehingga sy merasa manusia spt anak hina, anak yg menyusahkan dan anak durhaka. kakak sy dan adik sy selalu mendapatkan perlakuan istimewa walaupun mrka srg berbuat slh tp tetap dimaafkan dan tidak diperlakukan pahit spt sy. bbrp kali pernah sy tanyakan kpd orgtua sy mengapa sy diperlakukan berbeda, tapi mrka berkata selalu menjawab “tdk pernah membedakan siapapun!!”, dg nada ketus.

    Lalu sy memutuskan menikah muda saat masih kuliah semester 2 krn sy sudah tdk kuat hidup bersama kel sy yg membuat sy depresi. kebetulan usia suami 8th diatas sy. orangtua sy dg senang hati melepaskan sy untuk menikah. arti kata melepaskan disini orgtua sy bnr2 tdk mau lg membiayai kuliah sy jg hidup sy. bahkan sampai skr sy memiliki 1 anak.. ketidak adilan dan kata-kata menyakitkan pun masih sy dapatkan dari orgtua sy meskipun sejak menikah sy sdh keluar dari rumah orgtua. permasalahan baru pun timbul, kali ini sy dianggap sbg ibu yg tdk becus mengurus anak.

    kalau sy tdk becus, knp sy bisa begitu dkt dg anak sy, bisa merawat dan mendidik anak sy mnjadi pintar, sehat hingga anak sy berusia 5th saat ini tanpa bantuan siapapun trmsk baby sitter, jg tanpa bantuan orgtua dan minim pengalaman sbg new mom.

    bagaimana cara memaafkan orgtua sy.. hal itu tdk bisa sy lupakan, bahkan membuat sy ketakutan utk memiliki anak ke 2 krn khawatir sy akan berbuat tdk adil kpd anak2 sy kelak spt yg orgtua sy lakukan thd sy

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Bersyukurlah mbak bisa berkeluarga dan lebih bersyukur lagi bila punya suami yang bertanggungjawab dan memperlakukanmu dengan baik.
      Hal ini karena ada anak atau orang yang takut menikah dan takut berkeluarga karena trauma masa lalu karena perlakuan ortu yang kurang wajar di masa lalu.

      Kalau sudah berkeluarga tentu harus lebih memperhatikan keluarga sendiri dan jangan terlalu memikirkan perkataan pihak lain. Kalai sampai stress dan depresi kan juga kasihan keluargamu sendiri. Yang penting sebagai anak dulu kamu sudah tau bagaimana sikap-sikap ortu yang bisa menyakiti anak, setelah punya anak ya sebisa mungkin jangan mewariskan sikap dan sifat yang kurang tepat tersebut.

      Suka

  76. sabila mengatakan:

    kalo aku kategori nomer 4 yaitu berontak dalam artian yang positif tentunya.Makasih udah ngeposting ini,artikel ini membuat saya sadar bahwa bukan cuma saya yang di pukulin,dan dihina pake kata kata yang ngga pantas diucapkan sama orang tua ke anaknya

    Suka

  77. Yaniar mengatakan:

    Ijinkan saya share kisah hidup saya.
    Begini, orangtua saya ringan tangan dan suka menghukum dengan cara mengurangi fasilitas yang telah diberikan. Sejak kecil saya sudah sering dipukul, dimaki, dan dikunci paksa dalam kamar, padahal masalahnya sepele. Sekarang pun saya sudah berusia 18tahun, saya masih suka dipukulin sampai tangan saya memar & lebam. Saya sampai malu pada saat berangkat kesekolah. Saya tidak tahan dengan perlakuan mereka. Saya sempat berniat untuk mengakhiri hidup saya sewaktu saya benar-benar dipuncak frustasi. Tapi saat itu juga saya sadar bahwa kematian bukanlah cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah. Saya tidak tahu harus melakukan apa? Dan saya harus berbuat apa? Tolong bantu saya. Terimakasih yang sebesar besarnya..

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Kalau masih ikut ortu ya sebisa mungkin jangan membuat kesalahan di mata orangtua. Kalau sekiranya ortu menampakkan tanda2 murka maka segera minta maaf.
      Tapi kalau kamu merasa tidak melakukan apa-apa, namun ortu tetap memperlakukanmu dengan tidak wajar maka kamu patut menyelamatkan diri, segera pergi sebelum dipukul, atau segera mencari perlindungan…minta tolong ke pihak yang dipercaya seperti paman, bibi, nenek, kakek, saudara, polisi, dll.

      Tapi ya sebisa mungkin bertahan seperti dengan jangan melawan atau jangan membuat kesalahan dan segera minta maaf kalau membuat ortu murka. Bertahan hingga mandiri, jika sudah mandiri, maka kamu bisa hidup sesuai yang kamu mau.

      Sekian, bila kurang berkenan, harap maklum.

      Suka

  78. Ahady mengatakan:

    Ini saya banget, setiap hari saya diperlakukan seperti Itu, saya bingung, apakah harus dipertahankan atau minggat Dari rumah, saya udh gak than lagi…

    Suka

  79. Ahady mengatakan:

    Saya juga diperlakukan seperti Itu, saya binging, apakah saya harus tetap bersama orangtua atau minggat Dari rumah, saya audah gak tahan diperlakukan seperti ini…

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Minggat terkadang tidak menyelesaikan masalah… tapi kalau benar2 ingin hidup mandiri ya tidak apa2… tapi hidup mandiri diperlukan mental yang tangguh. Bertahan hidup dengan orangtua dg tipe yang berbeda dengan yang lain juga diperlukan mental yang tangguh.
      Jadi dipikirkan dan direnungkan dulu kalau mau minggat atau mau bertahan, dipikirkan dan direnungkannya jika pikiran dan emosi sudah tenang. Jangan mengambil keputusan jika sedang emosi. Dipikirkan dan direnungkan semua dampak, dampak baik maupun dampak buruk dari segala keputusanmu.

      Suka

  80. sova mengatakan:

    Saya diperlakukan demikian oleh ibu saya. Waktu kecil aku katanya bandel dan cengeng. Ibuku sering kesal dibuatnya, sehingga beliau sering mencaci maki, Memarahi, berkata yg menyakitkan, pokoknya yg saya ingat masa kecil saya menyedihkan sekali. Aku tidak tau siapa yg salah. Mungkin semua itu berawal dari sifatku waktu kecil yg selalu bikin kesal ortu, dan ibu saya orangnya tidak sabaran, dan memang sifatnya pemarah sampai sekarang. Dan semua perlakuan ibuku menjadikanku jauh dari ibuku. Aq merasa tidak bisa dekat dengan beliau, sampai sekarang (27 th) aku sering ketakutan, trauma dgn sikap ibuku. Sampai sekarang pun ibuku masih suka memarahiku seperti anak kecil. Aq merasa tidak berguna. Aq merasa hidupku tak berarti. Dan itu membuatku tak bersemangat hidup. Aku merasa sangaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaat tidak berarti. Sekarangpun hidupku tak karuan, sering melamun tidak pernah konsentrasi……

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Mungkin mentalmu menjadi terganggu karena hal itu. Jika sampai terkena depresi & anxiety disorder (gangguan kecemasan), dan itu mengganggu hidupmu, maka ada baiknya konsultasi ke psikolog atau psikiater.

      Suka

  81. ibun mengatakan:

    saya benci sama bapa saya , saya membencinya juga ada alasan yg menyakiti hati saya, dia sering membeda2kan saya dengan kk saya, setiap saya mau coba lebih baik lagi,dia sering memukuli saya dibagian kepala,tangan,kaki,seluruh tubuh, saya mencoba turutim perintah dia tapi apa yg saya lakukan pasti salah,sedangkan kk saya meskipun melakukan hal salah terbesar pun dia ttp dianggap baik depan bapa saya, setiap saya bicara dgn bapa saya dia bicara dengan nada kasar,sdgkan trhdp kk saya dia bicara dengan lembuttt, itu ortu macam apa?

    Suka

  82. Yusep mengatakan:

    Rupanya di sini banyak yang bernasib seperti saya” saya anak kedua dari 3 bersaudara 1 lagi adik tiri saya dari ibu saya” semnjak umur saya mencapai 15 tahun sya mulai berpikir untunk hidup sendiri tampa bergantung sma siapa pun lagi” saya dari kecil sampai tamat smp tinggal sma nenek saya” ayah saya adalah seorang pengusaha kapal barang dan kapal very” ayah saya mulai naik ” saat dia menikah sama istri baru nya dan memiliki 2 orang anak” sejak tamat smp saya berhenti sekolah karena nenek saya meninggal dunia ” orang tua saya tidak benar2 mau untuk menyekolahkan saya karena saya nakal bandel dan suka berkelahi di sekolah ” saya memutuskan untuk berkerja di kapal ayah saya dan apa yang saya dapatkan hanyalah cacian saya tidak pernah di pedulikan sma ayah saya apalagi di lirik kadang saya malu sma pekerja Abk dan kEb anak buah ayah saya kadang merka bertanya kok ayah kmu begitu sma kmu saya hanya bisa diam” Pernah ada kejadia saya Bisnis rokok di kapal dan saya bwa rokok itu 10 Tim” dan saya kethauan bawa rokkok itu langsung ayah ayah saya mencaci dengan nada yang sangat kasar hey yusep jagan kmu menatang2 anak bos kmu se enak nya saja di kapal itu setatus kmu hanyalah anak buah kapal Abk di situ” saya kecewa padahal kapten saya bawa rokok itu lebih 20 tim tpi tidak apa apa” padahal sya bisnis itu untuk tambah2 uang saya karena saya tinggal sendiri dan sewa rumah sendiri” saya juga butuh makan” karena saya tidak di boleh kan tinggal sma keluarga baru ayah saya ” dan Semenjak saat itu Saya bersumpah saya harus sukses saya harus buktikan sama ayah saya jagan terlalu sombong di atas angin roda kehidupan berputar” saya berhenti di kapal itu saya mulai tinggal sama ibu saya” ibu saya sangat stress marah ga jelas sampai saya malu sma tetanga ibu saya selalu menutut menyumpah saya anak durhaka ayah tiri saya pengangur tidak mau berkerja” sampai pernah saya ajak berkelahi di lapangan ” dan saya
    memutuskan untuk berkerja di malasia karena teman saya” dan sekarang umur saya 20 tahun” sya masih heran kenapa kedua orang tua saya sanggat membenci saya

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Ortu yang marah dan melampiaskan kemarahan pada anak walau anak tidak nakal dan bandel memang susah dimengerti. Apakah sebenarnya mereka marah kepada diri sendiri? Mereka marah kepada takdir? Mereka marah kepada Tuhan? Hingga akhirnya ortu melampiaskan kemarahan-kemarahan kepada anak.

      Suka

      • nugraheniismyname mengatakan:

        Kalau kamu semisal sudah mencoba menjadi anak yang baik dan tidak pecicilan atau neko-neko…kalau tiba-tiba ortu marah-marah, jangan diambil pusing karena bisa jadi mereka sebenarnya sedang marah kepada diri sendiri, marah kepada keadaan, atau marah kepada kenyataan.

        Suka

  83. Yusep mengatakan:

    Saya tumbuh menjadi sosok penyendiri dan sussah untuk bergaul sma orang lain akibat hati saya tarauma karena orang tua takut bebbuat salah kadang saya stres” seperti disorder kadang hari ini semangat besok sedih pagi bahagia sore sedih modd saya berubah -ubah

    Suka

  84. Yusep mengatakan:

    Sekarang saya hidup sendiri di malasia ini tidak ada lagi keluarga yang besedia membantu saya” saya berkerja mengumpulkan uang modal dan saya akan pulang ke indonesia untuk bedagang” dan saya tidak mau lagi tinggal sma otang tua saya” saya mau sendiri tampa ada lagi konflik di keluarga saya tidak mau menjadi anak durhaka ketika hati saya sakit fisik saya sakit di buat orang tua” saya sangat kecewa sama ayah saya secuil perhatian pun tidak pernah di berikan ke saya saat kdua org tu saya bercerai” padahal merka tau klw saya saggat susah mencari uang untuk hidup” ayah saya berfoya sma keluarga baru nya” tpi di balik semua ini sya dapat banyak pengajaran” jika saya sudah berkeluarga saya akan ciptakan kelurga yang penuh dengan kasih sayang mengerti peduli tampa ada lagi kekrasan yang sok benar sendiri tampa melihat sudut padang lagi

    Suka

  85. No Name mengatakan:

    Aku anak pertama dari 2 bersaudara.dari dulu memang ibuku lebih sayang dengan adik laki2ku drpada aku.dia selalu memuji2 adikku tentang apa saja yang dilakukannya.padahal dibanding dia,seharusnya akulah yg lebih pantas dibangga2kan.bagaimana tidak,aku termasuk anak berprestasi dari SD sampai SMA.aku slalu mendapat ranking dan berhasil masuk ke SMA favorit.tetapi adikku termasuk anak yang tidak pintar bahkan ketika lulus SMA pun,dia blm jg mndpt pekerjaan.sedangkan aku yg sejak lulus sampai sekarang selalu kerja banting tulang untuk membantu kluarga.apalagi ayahku tidak bekerja,alhasil hampir 90% gajiku yg kecil ini harus aku berikan untuk memenuhi kebutuhan kluarga.untuk kuliah saja aku harus mencari kampus yg paling murah agar tidak membebaniku.setiap bln aku hanya bisa gigit jari untuk bisa membeli barang2 yg aku inginkan karena uangku tdk akan pernah cukup.utk membeli baju kerjapun aku hrs tunggu sampai uang thr tiba.tiap pagi aku diantar adikku utk bekerja dgn alasan agar uangku cukup sampai akhir bln.namun ibuku slalu mengungkit bahwa adikku itu sdh rela2 antar aku tiap pagi seharusnya aku bisa kasih uang ke dia sbg ucapan trima kasih.padahal maksud aku tdk memberikan uang utk adikku karna uangku sama sekali tdk cukup.hatiku sakit karena sepertinya ibuku tdk pernah bersyukur tentang apa yg aku berikan slama ini.dia tdk pernah sadar bahwa sebagian besar uangku sdh aku berikan kedia dan kluarga.belum lg ucapan2 ibuku yg sepertinya tidak menganggapku.dia slalu memuji2 adikku yg slalu rajin membantu dirumah dibandingkan aku padahal aku perempuan.ya tentu saja adikku mampu membantu ibuku dirumah ya karna dia tidak bekerja dan seharian dirumah setiap hari sedangkan aku harus bekerja dan kuliah dgn biaya sendiri.setiap hari aku selalu disindir tdk bisa melakukan apa2.padahal hampir 90% hidupku ada diluar rumah.aku hanya libur sehari dlm seminggu dan seperti org lain kebanyakan,aku ingin dlm waktuku yg sehari itu untuk istirahat dirumah sebelum memulai aktifitas keesokan harinya.namun sepertinya ibuku tdk pernah menyukainya.aku sempat berpikir sepertinya aku tdk diharapkan ada drmh ini.mungkin ibuku hanya menginginkan uang dr ku tanpa membutuhkan aku ada disitu.setiap merasa sakit hati,aku slalu berpikir untuk pindah mengekos sendiri.namun bagaimana kehidupan kluargaku kalau aku pergi.bagaimana mreka bisa memenuhi kebutuhan hdp mreka kalau aku tdk memberi uang mreka lg tiap bln.tp aku slalu sakit hati.byk skali kjadian2 lain yg membuatku jengkel dan sebal.aku hrs bagaimana?

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Bagaimana kalau untuk sementara kamu ngekos dan kamu juga sisakan gaji untuk keperluanmu sendiri. Jika kamu mandiri dan pergi untuk sementara, bagaimana reaksi keluargamu. Apakah mereka akan kehilangan dirimu dan memintamu kembali. Dan setelah kamu kembali, apakah mereka tetap membeda-bedakanmu?
      Tapi tetap berpikiran luas dan jangan bersedih.
      Sebagai anak yang dilahirkan awal memang harus lebih sabar. Hal ini karena biasanya (ya tidak semua), anak paling akhir memang lebih disayang dan dimanja serta dikhawatirkan. Jadi sebagai kakak memang harus lebih sabar dan tabah.
      Lalu kalau keberatan tentang gaji dan penghasilan, sebaiknya kamu bicara dengan baik-baik jika kamu ada keperluan yang juga ingin dibeli.
      Minta maaf belum bisa mencukupi semua kebutuhan dan minta pengertian dari orangtua jika kamu sudah melakukan dan memberikan yang terbaik bagi keluarga. Dan selalu ikhlas, sabar, dan tabah. Semoga Tuhan bisa memberikan rejeki dan kehidupan yang terbaik untukmu dan keluargamu. Aamiin.

      Hanya itu saran yang bisa diberikan. Jika kurang berkenan harap maklum.

      Suka

  86. No Name mengatakan:

    Aamiin.makasi banyak ya mba atas pencerahannya.

    Suka

  87. Arief mengatakan:

    min aku juga sama ni kayak bg taufiq, bahkan mungkin aku lebih parah, karna bukan cuma ibu yang suka mnyalahi aku juga udah 2 bulan gk bicara sama ayahku karena kesalahan kakakku, aku menentang dia saat dia menyamakan kami dengan binatang bahkan kotoran manusia, dia berani mukul kepalaku bertubi2, aku sekarang udah tamat sekolah, sempat mikir untuk pergi dari rumah, trus ngekost,nyari kerjaan dan kuliah, karena ortu yang gk mau membiayai kuliah

    Suka

  88. hany mengatakan:

    sya sgat stju.. orang tua saya hanya memikirkan harta duniawi sja dri dulu hngga sya punya suami … sampai suami sya slalu mengeluh dan menjelek2an orang tua sya di hadapan saya😦

    Suka

  89. poi mengatakan:

    terimakasih atas postingannya sangat membantu

    Suka

  90. dewi mengatakan:

    Itu yg saya rasakan,dampak kekerasan psikologis terbawa sampai saat ini. Dan tidak terlupakan. Setiap salah satu kejadian yg menyakitkan terulang,otomatis saya langsung teringat semua kejadian2 buruk lainnya. Saya tidak bisa membenci orang tua tapi sekaligus walaupun 50% tidak bisa menyayangi mereka. Karena sampai sekarang mereka tidak bisa berubah.

    Suka

  91. addi putra mengatakan:

    sedikit curhat😀 butuh saran.
    mungkin agak panjang tp tolong kesediannya membaca dan berpendapat. gw lagi gak karuan sekarang, serba bingung. karena gw sayang bgt sama keluarga gw.
    gw umur 25. dari kecil gw ikutin mau orang tua. sedikit biografi gw lulus sd gw di sekolahkan jauh dari orang tua, wktu itu umur gw masih 9,5 tahun blm genap 10. gw ditraro dipesantren yang gw sendiri tadinya gak mau tp orang tua maksa gw harus kesana. alhasil gw yg masih kecil terbawa teman2 yg kurang baik dan mungkin sama ky gw. gw gagal gak jadi apa yg mereka harapkan. dari situ ayah seperti benci bgt sama gw. gak perduli salah dikit dimaki2 malah pernah di tampar karen kesalahan kecil. gw naek motor agak ngebut dan berpapasan sama ayah yg juga naek motor. selama gw sma 3 tahun jarang bgt gw bicara sama ayah. setelah gw lulus sma. kedua orang tua pun nyuruh gw masuk perguruan tinggi yang mereka inginkan. mereka pengen gw jadi guru seperti mereka. dan itu gak sesuai sama minat gw, udah coba ngasih pangadangan tentang jurusan yg gw mau tp ttp aja. akhirnya gw nurutin mau mereka. dan gw berhasil buat mereka bangga. gw lulus dengan hasil yg lumayan baik dan waktu yg gak lama. dan gw mau gak mau jalani semuanya dengan sedikit terpaksa tp gw berusaha lakuin yang terbaik yg bisa gw lakuin sampai saat ini.
    tapi semua itu gak ngerubah apapun. gw pernah dimaki2, dibilang gw tolol, gak punya otak, gak guna, dan byk lagi.. dan mungkin itu akan gw inget sampe gw mati. sakit bgt rasanya. orang tua sendiri yang maki2 gw. tp gw masih terus berusaha ngerti karena mau gak mau mereka orang tua gw, tp sekarang ada masalah baru. dan masalah kali ini gw gak bisa nurutin.

    orang tua gw mau gw nikah sama anak dari temennya. ya memamng anaknya cantik, pinter, punya pekerjaan bagus. tapi gw bukan orang yang menilai semua dari yang enak2nya. gw lebih lihat orang dari cara dia bersikap, terutama terhadap diri gw. intinya gw dijodohin. dan gw punya pacar yang gw udah cinta dan nyaman bgt, begitupun pacar gw. meski gak secantik dan seseseeeee seperti yg dipilihin orang tua. disini gw coba bicara baik2 sama orang tua, tapi yg gw dapet amarah mereka, makian mereka terlebih lagi gw dianggap anak yg gak berbakti sama orang tua. dan berbagai masalah mereka mmunculkan di kehidupan gw dgn buat gosip sampe jelek2in pacar gw.

    apa gw salah kl gw tetap dengan prinsip gw? karena gw percaya suksesnya kita dalam kehidupan ini bergantung pada seberapa besar usaha kita.

    bagaimana gw harus nyikapin semua ini? haruskah gw bersabar dengan berhenti bicara (tidak lagi kasih penjelasan dan pengertian kepada ortu supaya berpandangan lain dan mendukung gw) atau gw acuh dan tetap berusaha lakuin semua yang terbaik untuk kehidupan gw sama pasangan gw.

    atau gw harus tetap bicara dengan keadaan yang pasti akan sangat panas. karena orang tua gw gak akan mau denger dan terus anggap gw salah.

    dan sekarang gw drumah seperti gak dianggap, seperti gak ada. mereka gak pernah negor, gak pernah ngasih perhatian, bahkan gw cb gak makan 3 hari mereka gak perduli, tanyapun gak.

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Orangtua yang seperti itu tetap saja nanti ke depannya selalu ingin agar anak menuruti keinginan ortu. Walau saat ini kamu setuju untuk dijodohkan dan beliau bersikap baik kembali, suatu saat nanti mereka tetap bisa jadi meminta anak untuk terus menuruti pemikiran mereka. Dan bila kamu bertentangan maka mereka bersikap ‘bermusuhan lagi’. Terus begitu seumur hidup, ortu ingin agar anak sesuai dengan pemikiran ortu.

      Ortu bersikap seperti itu terkadang juga tidak buruk, hal ini karena ortu terkadang bisa ‘mengerti’ apa yang terbaik bagi anak menurut mereka sendiri, walaupun hal itu sangat bertentangan dan tidak disukai anak.

      Namun menolak untuk dijodohkan, setahu saya juga diperbolehkan soalnya kan menikah itu juga harus ridho terhadap diri sendiri. Namun kalau menuruti apa kata hati, tentu ada banyak konsekuensi yang harus dihadapi. Dan kamu harus siap mental untuk menghadapi konsekuensi2 yang harus dihadapi.

      Jadi kalau bingung terhadap jodoh karena ada banyak pilihan, coba mendekatkan diri kepada Tuhan. Supaya Tuhan bisa memberikan petunjuk yang terbaik bagi hidupmu.

      Sekian, kalau kurang berkenan mohon dimaklumi.

      Suka

  92. hyun mengatakan:

    Saya aadalah anak perempuan di keluarga saya orang tua saya adalah orang yang sulit untuk di ajak bicara, setiap kali saya bicara pasti mereka menentang apa yg saya ingin bicarakan mereka pasti memahrahi saya dan mereka lebih peduli dengan kakak saya, semua kemauan kakak saya selalu dituruti, mereka lebih memanjakan kakak saya karena kakak saya lakilaki, karena di keluarga saya jarang sekali ada anak laki2. .. Dan keluarga saya memiliki masalah, ayah saya, dia memiliki 2 istri itu sangat membuat saya skt hati, ,

    Suka

  93. Zainal Affandi mengatakan:

    postinganya bagus,,,

    Suka

  94. Goeunbyul mengatakan:

    No 5:'(😭

    Suka

  95. svrsaint mengatakan:

    asalamualaikum.. saya punya seorang pacar,pacar saya sering dipukuli oleh ibu dan kakak2nya,pertama saya sebagai pacar diam saja,karna sudah tidak tahan lagi saya datangin keluarganya,mreka menjawab mw ngapain kesini,saya jawab saja,ada apa kok dia dianiaya kayak gtu,malah dijwab kamu siapa dia,padahal sudah tw klo saya pacarnya,,saya tw saya cman pacar,tapi saya sudah tidak tahan ngeliat dia dianiaya lahir n bathin,kadang udah seperti anak tiri,dari smua saudaranya dialah yg pling beda,wajah bahkan prilakunya,bahkan pada saat ibunya memfitnah orang lain dialah yg berani minta maaf ke orang yg difitnah ibunya,dan dia sangat disukai keluarga saya,sdgkan anak2nya yg lain cman ketawa dan cman pngen tw bahwa meski kaya apapun ibunya lah yg benar.. dia dilakukan seperti nomer 1-5.. dia sudah minta saya untuk nikahi dia,tapi msalahnya saya juga blum ada kerja tetap ,meskipun ada,n saya kaya raya ortunya pasti gak bakalan setujuin karna saya sudah bela dia,n yg jelas kami dah tw diotak mereka hanya ada uang.. apakah sebagai pacar saya memang tak berhak membela…apa yang harus kami berdua lakukan… mohon jawabannya.. trimakasih..

    Suka

  96. Ridho's Svr Saint mengatakan:

    assalammualaikum.. saya punya seorang pacar,pacar saya sering dipukuli oleh ibu dan kakak2nya,pertama saya sebagai pacar diam saja,karna sudah tidak tahan lagi saya datangin keluarganya,mreka menjawab mw ngapain kesini,saya jawab saja,ada apa kok dia dianiaya kayak gtu,malah dijwab kamu siapa dia,padahal sudah tw klo saya pacarnya,,saya tw saya cman pacar,tapi saya sudah tidak tahan ngeliat dia dianiaya lahir n bathin,kadang udah seperti anak tiri,dari smua saudaranya dialah yg pling beda,wajah bahkan prilakunya,bahkan pada saat ibunya memfitnah orang lain dialah yg berani minta maaf ke orang yg difitnah ibunya,dan dia sangat disukai keluarga saya,sdgkan anak2nya yg lain cman ketawa dan cman pngen tw bahwa meski kaya apapun ibunya lah yg benar.. dia dilakukan seperti nomer 1-5.. dia sudah minta saya untuk nikahi dia,tapi msalahnya saya juga blum ada kerja tetap ,meskipun ada,n saya kaya raya ortunya pasti gak bakalan setujuin karna saya sudah bela dia,n yg jelas kami dah tw diotak mereka hanya ada uang.. apakah sebagai pacar saya memang tak berhak membela…apa yang harus kami berdua lakukan… mohon jawabannya.. trimakasih..

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Wassalamu’alaikum wr.wb.

      Membela dan melindungi seseorang yang ‘dianiaya’ karena orang tersebut tidak salah, sebagai manusia yang berperasaan tentu hal itu bisa dilakukan, apalagi kamu adalah pacarnya. Sebagai pacar tentu tidak ingin orang yang dikasihi mendapat perlakuan tidak wajar.

      Kalau ingin menikah, ya menikah saja karena menikah salah satu sunah rasul… kerja tetap dan rejeki kan bisa diusahakan terus… toh ada orang-orang ketika awal menikah kondisi ekonomi masih labil, seiring berjalannya waktu dan bila terus berusaha dan berhemat maka InsyaAllah, kondisi keuangan bisa stabil.

      Kalau masalah disetujui dan tidak disetujui karena kamu pernah membela pacarmu di depan ortunya, maka ada baiknya kamu membangun hubungan yang baik dg ortu pacar seperti sering silaturohmi, bersikap santun, dan selalu menunjukkan niat baik, kalau perlu minta maaf klu ada perilaku yg kurang berkenan, terus berusaha karena ‘bisa jadi’ itu ‘cobaan’ dan’tantangan’ yang harus dihadapi ketika kamu ingin menikahi gadis pujaan hati.

      Ya hanya itu yang bisa saya sampaikan…bila kurang berkenan, mohon maklum.

      Suka

      • Ridho's Svr Saint mengatakan:

        terimakasih balasannya🙂
        saya sudah mncoba untuk mendekati kluarganya,tapi malah saya yg dibilang menghasut,dan saya yg dicaci maki n difitnah,bahkan ibu saya pun udah nyerah,ibu saya cman bilang,udah kalian berdua jika bisa pergi n mnikah aja diluar,ibu nyerah lawan org yang cman betul sendiri,sekarang malahan ibu yg difitnah.. maaf jika saya mengatakan aib sdikit ttg ibunya,anak kedua dari ibunya udah menikah,dan punya satu orang anak,lantaran malu punya menantu bertato trus gk orang kaya malah diaturlah suapaya cucunya dibwak krumah krna alsan kangen ma cucu,taunya malah disembunyiin n dikasih ke orang,n di lingkungannya diceritain bahwa anaknya kuliah n blum nikah.. yang pasti suaminya marahlah sama istrinya,tapi yg suami jg takut ktmpat ibunya karna alasan kakaknya yg pertama blum tw adiknya nikah n ntar malah dibunuh suaminya,,suaminya aja yg gk brmntal n takut.. seandainya suaminya tw klo itu direkayasa,bhkan kakaknya waktu bilang mw bunuh saya,saya ajak berantem.. toh kakaknya malah nanya ,emg siapa yg bilang,gk ada aku ngmong kek gt… klo saya kesitu baik2 kliatannya saya dicaci maki lagi,ujung2nya nambah bkin emosi.. apakah jalan yg dikatakan ibu saya bagus bwt kami??

        Suka

      • nugraheniismyname mengatakan:

        Setahu saya, menikah itu ada hukumnya di dalam agama dan juga ada undang-undangnya…

        Bagaimana kalau kamu konsultasi ke penghulu atau pemuka agama mengenai bagaimana hukum agama dan hukum negara mengenai cara menikah seperti yang ibumu katakan? Hal ini dilakukan agar pernikahan bisa diberkahi semua pihak.

        Suka

      • Ridho's Svr Saint mengatakan:

        pemuka agama bilang sbenernya bisa aja nikah,soalnya bisa disidang jika salah satu pihak keluarga tidak setuju.. disidang alasan yg bisa diterima jika saya jauh dari jalan agama,barulah tidak bisa dinikahkan.. trima kasih y atas balasannya..

        Suka

      • nugraheniismyname mengatakan:

        Ya sama2… semoga selalu diberi petunjuk oleh Allah ya, dan bisa hidup di dunia & akherat. Aamiin.

        Suka

      • ameliaputrihilmy mengatakan:

        asslamualaikum wr.wb
        kasian juga ya dapat perlakuan seperti nomer 1 ampe 5.. menurut aku sih kamu sebagai pacar sudah ngelakuin sesuatu yang semestinya,saya juga sangat mengenal tipe ortu yg seperti itu.. sebagai orang yg dicintai mana mungkin kita diam saja melihat dia diperlakuin seperti itu,apalagi kita serius dengan pasangan kita.. jangan takut juga untuk menikah karna menikah sunnah rasul.. dulu saya sebelum menikah suami juga tidak punya pekerjaan tetap, saya masih 17 tahun,alhamduliilah sekarang keuangan kami stabil.. asal pandai mengatur,berhemat n bekerja keras.. apalagi setelah menikah jadi nyaman,bebas,dan tidak memikirkan masalah sifat ortu yg diktator itu.. jadi bekerja pun jg jd lebih semangat..🙂

        Suka

      • nugraheniismyname mengatakan:

        Wa’alaikumussalam wr.wb…
        Terimakasih atas kunjungan dan masukannya sdr. Amelia🙂

        Suka

    • Ridho's Svr Saint mengatakan:

      iya amelia.. trmikasih masukannya🙂
      oh ya amelia,apakah anda dulu juga diperlakukan seperti itu? apa yg dilakukan suami anda sbelum menikah dengan anda?

      Suka

      • ameliaputrihilmy mengatakan:

        dulu aku juga seperti itu,bahkan pernah juga ditonjok.. aku cman bisa ngadu sama sahabat dan pacar ku… mama perlakuin amel beda dari saudara2 amel,amel cuman bisa nangis,setiap amel nangis mas andy yang selalu nemani amel.. mas andy waktu itu masih berumur 20 tahun.. mas andy cman punya usaha jual-beli motor bekas,mungkin dipikiran amel waktu itu mas andy gak bisa hidupin amel,soalnya kan jual beli motor gak selalu ada motor yg mau dijual… klo dikira-kira mas andy cman bisa dapetin uang 700rb-500rb per bulan… amel dipukulin cuma karena telat bangunin mama,amel dibilang kalo malam kerja mel cuma nelfon bajingan (mas andy).. mel bilang,amel ngerjain tugas mama,mama jangan nuduh mel gitu.. mas andy juga bukan bajingan.. mama jawab,sejak kapan kamu ngelawan orang tua,mama marah2,,amel diam saja… aneh kan?
        dulu juga pernah amel ditonjok sama kakak,dimarahin sama om,tetangga gak ada yang berani ngelerai atau nolong mel.. mel cma bisa nangis dikamar,mas andy yg selalu berusaha ngabarin mel.. mas andy selalu nghawatirin makan mel.. sebelum sama mas andy pun mel juga sering di anak tiri-in.. sekarang karena dekat sama mas andy,mas andylah yang dijadiin kambing hitam sama mama mel… kadang amel udah nyuruh mas andy ninggalin mel,apa yang mas andy cari dari mel? stiap hari cuma dirumah,gak bisa amel temenin seperti cewe lain,mas andy juga difitnah sama mama mel… tapi mas andy selalu tabah dan kasih mel perhatian… keluarga mas andy juga gitu,mel bahkan jauh lebih bahagia dket keluarga mas andy… tapi dalam hati mel pengen mas andy ninggalin mel,buat apa pertahanin mel,cewek yg cman bisa ngerepotin,cari masalah buat mas andy dan keluarganya… tapi mungkin karena cintanya yg tidak memandang apapun dari amel mas andy bisa bertahan.. pernah juga mas andy berantem sama kakak mel,mungkin karna gak tahan liat wajah mel bonyok,siap kejadian itu mas andy tambah dijadiin kambing hitam.. gara-gara belain mel,mel cuman bisa cariin masalah buat mas andy..😦 mel juga pernah bilang mel keluar kota aja mas,gak tahan disini.. mas andy bilang berkorbanlah mel buat yang terakhir,kalau mel keluar kota mas juga gak semangat buat kerja mel,pasti pikiran mas sama mel terus… pertama amel ngototot pengen keluar kota,amel dah gak tahan lagi,amel pengen ke padang,tapi mel liat mas andy juga sedih trus,mel tanya ,mas maunya kita berkorban kayak gmana?
        setelah itu mas andy ngajak mel nikah.. setelah mel lihat di tv,waktu itu acaranya mamah dedeh,pernikahan akan menjauhkan dari fitnah dan masalah bathin,waktu itu episode ortu diktator gitu,itu juga akan menjauhkan dari orang-orang yang nyakitin si calon istri, pernikahan juga sunnah rasul,dan allah akan membukakan pintu rezeki jika orang takut menikah gara-gara mikirin uang,mel kuatin hati mel,mel yakin cinta mas andy bakal ngehidupin mel..
        mel mau,tapi gimana mama gak bakalan setuju,mel suruh mas andy bwt kawin lari sama mel,mas andy malah berat gitu hatinya.. mas andy cman bilang mel harus berani dan siapin mental,dalam hati mel takut banget.. tapi yang seperti rido bilang bisa aja selagi kita make otak kita… mungkin dengan ini smua msalah bisa selesai..
        setelah menikah mel gak pernah ngerasain kebahagiaan sperti ini,meski waktu mel banyak uang,juara kelas,menang lomba,dll, mel sangat bahagia.. mas andy,mungkin dengan ini kubalas kesetiaan mu dengan kita menjalan kan perintah rasul dan allah.. dan setelah itu mas andy punya usaha yang dia kembangkan dari penggadaian surat-surat yang dipercayakan ibunya.. dari uang yg jumlah nya cuma 15jt.. alhamdullilah berkembang,sekarang di tahun 2015 ini kami sudah punya 3 cv,dan 2 PT,salah satunya di jambi.. orang tua saya pernah berkata : carilah yang banyak uang,pasti kita akan bahagia.. cinta tak akan memberimu apa-apa, sedangkan tuhan : percayalah kepadaku,sesungguhnya segala sesuatu ada ditanganku.. dan kami yakin cinta adalah anugrah yang diberikan allah.. buat ridho dan pacarnya,percayalah cinta memiliki kekuatan yang sangat besar.. wassalam🙂

        Suka

      • Ridho's Svr Saint mengatakan:

        wow,luar biasa.. :O diambi pt atau cv? ada pin bb?

        Suka

  97. w mengatakan:

    Papa saya sangat egoisss… kadang saya suka berdebat sama papa saya.. saya kdng menentang dan berusaha untuk tidak mau mengikutin sifat egois papa saya.. banyak hal yg harusny membuat papa saya sadar tp tetap saja papa saya tidak sadar.. setiap kali papa saya melakukan kesalahan selalu saya yg disalahkan… dan papa saya bnyk menuntut saya harus mengikuti kemauanny dia… kalo tdk saya bisa kena omelan dan makiaan… papa saya suka cuek jika saya mendapat nilai bagus disekolah dan selalu menuntut prestasi. Papa saya jg suka membanding bandingkan saya dgn anak tetangga. Bahkan saya sakit pun papa saya sering marah marah karena saya sakit, dan malah saat saya sakit malah papa saya gk peduli malah sibuk sama hobbyny. Papa saya suka menuntut saya harus mengikuti cara belajar papa saya yg gk sesuai dgn cara belajar say, padahal saya lebih cocok dgn cara belajar otak kanan, Tapi papa saya tetap menuntut saya harus mengikuti cara belajar papa saya yg menggunakan otak kanan. Dan jika saya mengikuti cara beljar papa saya maka nilai saya akan rendah… nah klo begini bgaimana?

    Suka

    • w mengatakan:

      Maaf pak ada yg sy slh ketik dibagian akhir…
      Papa saya selalu memaksakan harus mengikut cara belajar papa saya yg menggunakan otak kiri sementara saya gk cocok sm cara belajar otak kiri dan saya cocokny cara belajar otak kanan… nah klo saya ikut cara belajar papa saya yg menggunakan otak kiri nilai saya pasti rendah…
      Maaf td sy slh ketik

      Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Usahakan jangan terlalu sakit hati. Kalau kamu berprestasi nanti hasilnya juga untuk kamu sendiri. Jadi usahakan tidak sakit hati jika misal ortu kurang menghargai.

      Kalau masalah belajar otak kanan dan otak kiri, maka bicara baik2 kepada ortu mengenai cara belajar yang sesuai dengan kemampuanmu. Cobalah membangun komunikasi yang baik dg ortu, siapa tahu ortu bisa mengerti dan tidak egois lagi.

      Suka

  98. erna wuland mengatakan:

    selamat siang, setelah membaca tulisan ini entah kenapa saya jadi teringat dengan kasus angeline yang dianiaya orang tua angkatnya dan telah terbukti secara medis bahwa orangtua tsb memiliki gangguan mental. Mungkin sedikit menambahkan untuk tulisan nugra bahwa orang tua yang menyakiti anak bisa juga terjadi karena faktor internal dalam diri orang tua seperti gangguan jiwa, pengalaman pahit masa kecil orang tua. Mohon maaf bukan berarti saya mengatakan bahwa orang tua yang menyakiti anak termasuk orang yang memili gangguan jiwa tetapi kita juga perlu melihat secara psikologis dan sejarah kenapa orang tua melakukan ketidak pedulian terhadap anak. Bisa jadi karna memang benar2 tidak perduli atau karna gangguan psikologisnya… mohon ditambahkan atau di koreksi ya… trimakasih

    Suka

  99. arseptaks mengatakan:

    teteh ijin reblog ya🙂

    Suka

  100. […] Speak Your Mind!!! Sikap Orang Tua yang Bisa Menyakiti Jiwa Anak. […]

    Suka

  101. Siska mengatakan:

    Semua sifat orangtua diatas ada pada ibu saya, dan saya cenderung mengambil sikap no.2…masa bodo, bahkan saya tidak iba sedikitpun melihat ibu sakit. Saya tidak tahu kenapa ini terjadi. Yang penting adalah jangan sampai anak saya mengalami hal serupa, ini cukup untuk menjadi pelajaran berharga buat saya dalam membesarkan dan mengayomi putri saya tersayang.

    Suka

  102. exoxoxoxo mengatakan:

    Gilaa…ini mah mamaku banget…
    Bnrn deh…
    tapi aku bisa apalah…
    Aku memang mengalah,tapi bukan karna hatiku mulia(engga) tapi karna aku males aj…
    kalo ga dituruti apa maunya..

    ntar aku lagi yang dikucilkan..
    apalagi adek” ku semua pada patuh banget kan sama mama (lantaran cuman aku yang pernah dipukul kayak an**** waktu kecil *emang sekarang uda engga sih , tapi taulah trumanya*

    bingung banget cara lepasin diri dari mama,tnpa nyakitin hati mama…

    Suka

  103. reginaa mengatakan:

    Gilaa…ini mah mamaku banget…
    Bnrn deh…
    tapi aku bisa apalah…
    Aku memang mengalah,tapi bukan karna hatiku mulia(engga) tapi karna aku males aj…
    kalo ga dituruti apa maunya..

    ntar aku lagi yang dikucilkan..
    apalagi adek” ku semua pada patuh banget kan sama mama (lantaran cuman aku yang pernah dipukul kayak an**** waktu kecil *emang sekarang uda engga sih , tapi taulah trumanya*)

    bingung banget cara lepasin diri dari mama,tnpa nyakitin hati mama…

    Suka

  104. Devj mengatakan:

    Tulisannya cukup menjadi penyemangat bahwa saya tidak sendiri, yang terpenting kita tidak meniru perbuatan yang tidak semestinya dilakukan oleh orang tua.

    Suka

  105. Evhy elviani mengatakan:

    makasih banyak atas pencerahannya yah mbak…
    saya ingin sekali membuat keluargaku selalu hidup dalam ketenangan, ingin membuat orangtuaku selalu bersikap lembut kepada anaknya.. ingin membuat adik2ku bersikap baik dan sopan kepada kedua orangtua..

    Suka

  106. Azhar mengatakan:

    Aku ingin sekali curhat kpd orang yg bsa membantuku mengatasi masalah keluargaku ini, aku sering diperlakukan tidak baik oleh orang tuaku setiap aku mau bicara sesuatu mereka tidak spendapat dgn ku lalu mreka memaki ku dan jga memukuli diriku aku mohon siapapun tolong dengarkan aku, aku butuh orang yg bisa diajak curhat

    Suka

  107. Azhar mengatakan:

    Ya allah😥 nasib kami anak2 yg kurang beruntung dapat perlakuan baik dari orang tua hanya bisa berpasrah diri mengalami semua ini. kami ingin curhat kp orang yg bisa membantu kami tapi kami tidak tahu kemana kami harus mengadu nasib😥 lindungilah kami ya allah lindungilah pula anak2 yg bernasib sperti kami diluar sana

    Suka

  108. hasnavalisna mengatakan:

    Tulisannya ngena banget sama aku ..

    Dan sikapku menghadapi mereka adalah memberontak secara positif

    Suka

  109. Agung mengatakan:

    usia saya sekarng 31th, anak pertama dari 5, saya adalah tipe anak untuk point 4.

    1. saya peringkat satu di SMA.
    2. saya berpinsip hidup positif selama tidak mengganggu orang lain.
    3. saya tidak pernah dibesarkan dari kecil hingga dewasa.
    5. saat ini saya gabung dengan orang tua saya beserta istri dan anak saya yang baru lahir (sekitar maret 2015- akhir juli nanti ketika anak saya genap 35 hari-lahir juni akhir-).
    6. saya pun sempat memimpin sebuah organisasi Mapala waktu kuliah dikampus saya.
    7 saya lulus kuliah dg predikat sangat memuaskan.

    tapi tidak satupun ucapan keluar dari mulut ibu saya…

    begini…

    hari ini 10 Juli 2015 saat puasa Ramadhan tadi pagi sebelum Jum’at an, sekitar jam 9.00 WIB, saya bertengkar hebat dengan orng tua saya karena maslah yang menurut saya “ketidak pecusan mreka mendidik anak-adik2 saya 2 orang-) yang dibiarkan hidup bebas di usia dini.

    saya menganggap hal itu salah kaprah, tapi jujur saja saya mengingatkan ortu saya dengan nada tinggi, tadinya pelan….akhirnya kami ribut dan tadi saya sempat “noyor” mulut ibu saya karen nyrocos mulu.

    saya sempat berfikir bahwa saya ini bukan anak dari ibu saya, karena kami tidka pernah cocok sejak usia saya masih di kelas 4 sd. (ortu saya cerai, dan saya ikut ibu).

    jujur saya menyesal telah noyor mulut ibu saya, saya pun sudah memeluknya dan sudah minta maaf, meski saya tau mungkin ibu saya belum memaafkan saya.

    karena sya tidak lagi mau bertengkar dengan ibu saya, maka sya memutuskan untuk pindah setelah usia anak saya genap 35 hari.

    sejak kecil saya diasuh oleh kakek, nenek, pak de, pak lik saya dikampung dengan pendidikan militer (bibir saya pernah pecah karena digampar pak de saya, dan sya pun hampir mati karena di rendam di sungai-sempat ke dokter, saya pernah di seret sepanjang jalan sekitar 1.5km oleh pak de saya).disaat itu orng tua saya tidak ada disamping saya..semua masih saya ingat dengan baik. tapi…sedikitpun sya tidak pernah menyesal atas pendidikan yang saya terima diwaktu kecil. saya sangat sayang dengan mereka yang ada diwaktu saya kecil.

    ketika sudah dewasa saya dipertemukan dg ibu saya…saya sering cekcok mulut karena tidak pernah sama dalam hal prinsip hidup. sayapun melawan habis2an….

    dengan segala kasus itu…saya menyesal telah kasar ke ibu saya…didepan adik2 saya..saya peluk ibu saya dan saya cium tangannya lalu minta maaf,

    apakah saya berdosa karena telah melawan ibu saya, yang tidka pernah mendidik saya, yang tidak pernah membesarkan saya…?

    apakah saya salah…? jika iya…apa yang harus saya lakukan…?

    jujur skali lagi saya sangat menyesal….saya kasihan dengan adik saya yang tidka diurus oleh ibu saya….adik saya yang ke 3 tidak mau sekolah, yang terakhir pun udah males2 an sekolah..dan mereka melawan smua ke ibu saya tapi tidak skeras saya….saya kasihan ke mereka berdua….adik saya yang nomer 1 dan 2 sudha menikah dna ikut suaminya….

    apa yang harus aya lakukan untuk menyelamatkan adik2 saya..karena ortu saya selalu bertengkar didepan mereka..?

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Mungkin mas Agung bisa memberi pandangan dan saran yang baik untuk adik-adik…
      Tapi sebelumnya maaf ini…
      Kalau bisa adik-adik dikonsultasikan ke psikolog atau psikiater, siapa tahu mental ada yang terguncang (adik2 sudah males2 gitu bisa jadi adik2 sudah tidak peduli dengan apa saja dan apapun)

      Hanya itu yang bisa saya katakan, maaf kalau kurang berkenan.

      Suka

  110. Unknown person mengatakan:

    this is absolutely right! my mum never appreciate everything i did anything to her. selalu sja cari kesalahan diri. walaupun diri ini hanya membuat kesalahan kecil. confirm marah besar and kadang2 marahnya buat diri ini look like orang bodoh. aku terasa terpencil, kenapa semua kakakku di layan terlalu baik. aku di layan seperti pembantu rumah. baru tanya sikit, marahnya seperti aku buat kesalahan yang teruk. selalu judge aku. jika aku baru mau makan, confirm my mum akan cakap yg bukan2 sehingga selera makan ku berubah. jika aku sakit, tidak ada seorang pun layan aku baik. malah d marah2. Kalu makan duduk sebelah my mum, terlalu nampak diri ini seperti gadis comot and jijik. my mum nampak bnget benci gue. dia slalu bilang gue ini hodoh, gemuk, hidung bulet. Kalau nggak mau hue, knapa d lahirin? baik aja d gugur kan kandungannya.. Sakit bnget gue.. Aduhh Ya Allah! Kenapa hidup ku begini? Selama 20 tahun aku hidup, tidak pernah merasakan kebahagiaan. give me at least 1 to be the most happiness person in this world😦

    Suka

  111. nova mengatakan:

    Orang tua sering menuntut u/dihormati dan dihargai sementara mereka kadang tidak memandang kita sbg manusia yg juga punya perasaan,mereka hanya tahu kita adalah ”anak”yg harus ikut tunduk patuh pd mereka,mana bisa kita bersikap ikhlas dlm berbakti jika perlakuan mereka kadng diluar batas kewajaran..hal tsb kadng membuat sy frustrasi dan ingin berontak,tp kembali lg sy sadari bhw hidup akan sll sial jika tanpa doa restu ortu,jd sy harus sll sabar menghadapi sikap ortu yg kadang menurut sy kekanak-kanakan dan intoleran

    Suka

  112. kevin riady mengatakan:

    Kenalkan nama saya kevin saya punya bokap yang emosian orangnya sekali bikin salah seperti berbohong karna takut di pukul pasti di marahi padahal itu kan sifat keturunan dia sendiri kadang klo dimarahi saya kesal rasanya seperti ada dendam kesel pokoknya

    Suka

  113. meichin95 mengatakan:

    Ada yg mengatakan ‘what will you do will come back to you’ makanya sampe skrg kadang kala saya msih bersifat mulia , hal ini dikrnkan saya tidak ingin suatu hari anak saya tdk pedulian …. saya harus belajar parenting ketika sudah berkeluarga dan menempatkan posisi anak bukan sebagai anak tp lebih ke partner yg akan diskusi byk hal yg mungkin dia ketahui tp saya tdk tau . Terima kasih atas tulisannya ….. hahaha ternyata kita semua punya masalah yg sama🙂 wkwkwk

    Suka

  114. Alie Mughiz mengatakan:

    aduh makasih banget bagi yg sudah meluangkan waktunya buat nulis ini,rasanya lega banget sesudah baca postingan ini walaupun air mata saya terurai

    Suka

  115. Palagan mengatakan:

    terimakasih artikelnya .. Menambah wawasan ilmu parenting

    Suka

  116. Anonymous mengatakan:

    saya udah ga kuat.tadinya,sikap saya masih berada di nomor 3,berkunjung ke no4,hingga menuju ke 2,dan kini sedang memasuki no.1.saya selalu memikirkan bagaimana saya bisa bebas dari perlakuan ini.orang tua saya,setiap hari,saya harus bertengkar dengan mereka.setiap saya bertengkar,saya hanya memikirkan bunuh diri,dan bunuh diri.saya capek.orang tua saya seperti mengganggap dirinya itu tuhan.dia mengatur dan mensumpah sumpahkan dan membandingkan saya dengan adik saya.saya ini tadinya anak yang baik,tergolong penyayang terhadap adik.saya pikir kebaikan saya pada orang tua dan adik akan menjadikan orang tua saya sayang kepada saya.nyatanya?tidak.saya udah ga kuat.apa boleh saya bunuh diri?setiap perlakuan saya di anggap salah.tapi,di depan orang lain,mereka seperti melupakan semua itu.namun,jika sudah di rumah,mereka mengulang lagi,dan terus mengulang.saya merasa seperti mainan.saya mau bunuh diri,tpi takut dengan tuhan.apa boleh bunuh diri karena kondisi seperti ini?

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Jangan bunuh diri karena bunuh diri tidak menyelesaikan masalah. Kamu tidak sendiri. Ada banyak anak yang memiliki nasib yang hampir mirip denganmu, dan mereka bisa bertahan. Tetaplah berjuang dan survive. Kalau depresi berat, konsultasilah ke psikiater dan nanti dikasih obat atau terapi supaya kamu bisa mengendalikan depresimu (atas ijin Tuhan). Tetap bertahan, berjuang, dan survive!

      Suka

  117. aldi mengatakan:

    Memang sakit mempunyai orang tua yg egois.mereka pikir dengan harta saja cukup,tapi kita juga butuh kasih sayang,perhatian juga dukungan.

    Mungkin kita bisa memberontak,acuh tak acuh atau bahkan melupakan mereka tapi itu tidak akan mengubah fakta bahwa mereka adalah orang tua kandung kita.

    Yang bisa kita lakukan hanya bersabar,tabah dan berjanji kita tidak akan melakukan hal yang sama terhadap anak kita di masa yg akan datang.

    Suka

  118. Rinni Dwiantari mengatakan:

    Ikut berbagi ya🙂
    Saya memiliki papa yang sering bersikap kasar baik dalam bertutur kata, ataupun saat bertindak.
    Dari kecil saya sudah sering melihat drama di rumah yang sangat buruk yang membuat saya tumbuh menjadi pribadi yang tidak peduli dan juga kasar terhadap setiap orang di sekitar saya. Dari kecil saya sudah diperlihatkan bagaimana papa memukul mama ataupun menyiksa mama di rumah. Dan itu terjadi hampir setiap saat, saat saya masih kecil. Dulu saya dan kakak saya hanya bisa menangis saja. Lama-lama, saya jengan sendiri melihat hal seperti itu di depan mata saya. Miris memang. Mereka bertengkar seakan akan dunia ini hanya milik mereka. Makin hari, saya makin suka ngomong kasar, gak peduli sama orang lain, susah bergaul, dan saya lebih sering bertengkar dengan teman lelaki saya. Jujur, sejak saya sering melihat papa yang mukul mama, saya jadi benci sama setiap orang yang memiliki sifat sama seperti papa.
    Akhirnya, aku tau satu rahasia yang bikin hatiku hancur. Jujur, ini lebih sakit daripada saat melihat papa mukul mama.
    Papa ternyata punya anak dari wanita lain!
    Hati anak mana yang gak sakit? Umurku sekarang 14 tahun dan selama itu jugalah papa dan mama merahasiakan hal kayak gitu. Papa punya 2 anak dari wanita tersebut. Cewek dan cowok.
    Aku langsung lemes pas ngeliat fakta itu.
    Jujur, aku lebih suka tahu secara langsung dari orangtuaku daripada tahu secara pribadi. Aku selalu mikir, gimana kalo nanti aku dapet suami kayak papa? Dikatain kasar (tolol, bego, goblok, jalang, binal) dll.
    Dan sekarang, aku selalu menutup diriku dari semua orang termasuk keluargaku. Mereka yangengenalku selalu bilang kalp aku itu orangnya ceplas ceplos. Tapi kenyataanya, aku gak kayak gitu. Aku selalu menyimpan segala sesuatu di hatiku. Bila perlu sampai seumur hidupku.
    Aku selalu berpikir, Aku bukan akan broken home. Tapi suasana di dalam keluargaku itu melebihi keluarga seorang broken home. Setiap perlakuan papa ke mama ataupun ke aku itu selalu membekas di hatiku. Aku sama aja menjalani kehidupan kosong. Aku gak tai harus gimana.
    Bahkan sampai sekarang papa dan mama belum ngasih tau tentang anak papa dari wanita itu. Padahal sejak tahu hal itu, aku bersikap lebih dewasa agar papa dan mama tau aku udah siap nerima itu. Tapi nyatanya?
    Kalo papa emang niat ngasih tau, seharusnya udah dari dulu. Tapi ternyata papah gak berniat ngasih tau.
    Yah, aku sebagai anak bisa apa? Aku selalu menyibukkan diri dengan tugas sekolah untuk meminimalisir kemungkinan aku untuk bercakap-cakap sama papa atau mama.

    Suka

  119. andri mengatakan:

    min setelah saya baca artikel dan komennya, saya ingat semua apa yang dilakukan orangtua pada saya,contohnya memaki dan menghina saya,,. saya pernah berpikir untuk apa hidup jika ortu saja tidak menganggap kebaikan kita.:'(

    Suka

  120. rini mengatakan:

    Tpi bagaimana jika orang tua melakukan kesalahan kita ingatkan dengan cara apapun tidak dipedulikan padahal apa yang dilakukannya selalu menyakiti hati orang lain, saya harus bagaimana, apa yang harus saya lakukan, mohon sarannya,terima kasih!

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Apabila untuk kebaikan maka jangan bosan memberi masukan kepada ortu dg cara yang sopan dan baik…tapi yang menjadi masalah tentu apa yang baik bagi kita belum tentu baik menurut ortu, begitu pula sebaliknya.
      Bila ortu telah melanggar ajaran agama, norma sosial, dll; maka jangan bosan mengingatkan. Bila beragama, bisa diusahakan mengingatkan dengan ayat2 di kitab suci, dll…
      Ortu diberi pengertian, bersyukur ada anak yang mengingatkan. Bagaimana bila malah orang lain yang mengingatkan dan bahkan Tuhan sendiri yang mengingatkan.

      Namun tetap bersabar bila ortu tetap pada pendirian dan jangan memaksakan pendapat agar tidak merenggangkan hubungan ortu dan anak.

      Sekian, bila ada kekurangan, mohon dimaklumi.

      Suka

  121. amienah firdaus mengatakan:

    se7sama komen no 5

    Suka

  122. gaprut mengatakan:

    bagus bnget ni yang posting🙂 smoga apa yg kita rasakan di bayar dengan kesuksesan. aminnn

    Suka

  123. bima mengatakan:

    Sikap dan omongan kk perempuan sering membuat saya tersinggung, memang dirumah cuma saya yg belum kerja karna masih kuliah. skng yg biayai kuliah saya ortu dibantu saudara kandung saya yg lain nya trmasuk kk perempuan ssya. Saya kadang berpikir apa karna masih jadi tanggungan keluarga penyebab mereka memberika perilaku yg membuat saya sering tersinggung. Entahlah yg jelas bloger ini menjadi tempat curhat saya karna di media sosial lain takut dibaca nya, saya berharap masukan dari teman semua agar hubungan kami kedepan nya baik kembali, selayaknya saudara kandung. Terimakasih sebelumnya

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Untuk sementara kamu bisa bersabar dan tabah sambil berusaha terus mandiri. Di dalam keluarga, pasti ada oknum saudara kandung yang kadang sering bertindak dan berbicara menyakitkan hati. Dimaafkan saja dan tetap sabar.

      Suka

  124. dea amalia putri mengatakan:

    Assalamu’alaikum…
    Maaf saya mau tanya..
    Jika orang tua (ayah ) sibuk kerja dan ibu saya slalu mementingkan hpnya daripada saya , saya harus bersikap bagaimana?

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Wa’alaikumussalam wr wb.
      Ayah atau ortu sibuk kerja karena untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Kadang kalau ortu sibuk, anak mjd terabaikan dan kurang diperhatikan. Jadi sebagai anak kadang merasa kesepian. Tapi sebagai anak juga coba berpikir luas, karena ortu kerja juga demi keluarga. Kalau ingin mengalihkan kesepian ya bisa ajak ortu ngobrol, berekreasi (klu bisa dg perkataan yg lembut)…klu ortu masih sibuk ya bilang klu km kesepian dan butuh ortu. Selain itu, melakukan apa yg disukai seperti melakukan hobi positif juga bisa digunakan unt.mengalihkan rasa sepi. Syukur2 hobi ditekuni dan bisa menghasilkan sesuatu yang menguntungkan diri sendiri. Oke.

      Suka

  125. ima mengatakan:

    Ketika saya baca postingan ini , saya menangis , teringat ibu saya yg sering memaki saya dengan kalimat kasar n tak sedikitpun memberi sya ksmptan untuk mengungkapkan apa yang saya rasakan , saya bingung , saya ingin skli ibu saya paham tntang smua yg rasakan , sy jg ingin ibu sya sadar bahwa apa yg dia katakan itu sangat melukai saya , n membuat saya semakin buruk

    Suka

  126. bianca mengatakan:

    mlm min, terimakasih atas tulisannya, sangat berguna sekali dan mmg sesuai dgn apa yg saya alami. sbnrnya saya malu share cerita saya disini, tp mau gmn lg drpd dipendam mlh saya jd frustasi. singkat cerita saya berasal dr keluarga broken home, ayah saya sgt tempramental dan ibu saya sgt egois. berangkat dr keadaan itulah hidup saya jd tdk karuan sampai2 saya ditipu pria dan saya punya anak lalu ditinggal begitu saja. saya kehilangan pekerjaan dan bnyk hal dlm hidup saya, tiap saya bertemu ayah saya, saya sll dikata2in dgn kata2 kasar bahkan d dpn umum jg prnh spt itu. skrg saya membesarkan anak saya sndiri, saya tdk punya pekerjaan dan numpang di rmh keluarga ibu saya, tp ibu saya akhir2 ini sering bersikap tdk adil spt membeda bedakan saya dgn adik saya, pdhl adik saya itu sgt nakal dan kurang ajar, tp ttp saja saya yg sll salah walaupun kenyataannya saya tdk bersalah. ibu saya sering membentak saya, tp kl dgn adik saya, dia sgt halus dlm bertutur kata. saya sudah skt hati thdp sikap ibu saya, saya akui saya salah dan sudah minta maaf, saya sering membantu ibu saya dlm hal apapun, tp usaha saya tdk prnh dihargai. saya kasihan thd anak saya yg msh bayi, dia jd sedih melihat saya yg sering menangis, dan saya tkt itu berpengaruh thd psikologisnya nanti. ibu saya punya pacar yg menurut saya bukan org yg baik, tp kl saya menentang nnt saya psti di maki2, jd saya biarkan saja dia mau spt apa. saya sudah buntu, tdk tau hrs bagaimana lg, sudah sgt tdk nyaman tinggal disini, tp saya hrs tinggal dmn kl tdk disini, kl ke rumah ayah psti tmbh tdk betah lagi, kasihan anak saya..mohon pencerahannya min..ohya saya jg pernah kehilangan beberapa pekerjaan yg bagus karna ibu saya tdk mau dititipin anak saya, saya merawat anak saya seorang diri tnpa bantuan siapapun…saya tdk bs terus terusan spt ini.,

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Maaf klu kurang berkenan, saya coba kasih pendapat.
      Ya coba kamu cari pekerjaan lagi. Apalagi kamu katanya dulu pernah punya pekerjaan bagus kan?
      Kalau orangtua tidak mau dititipi anak ya anak dititipkan orang lain saja tidak apa2. Orang yang dipercaya tentunya.

      Sekedar cerita, orangtua saya juga kerja semua sibuk semua. Pada waktu kecil, saya dititipkan ke orang. Dan, orang tersebut sangat baik mau ikut membantu mengasuh saya hingga saya SD.

      Jadi coba cari pekerjaan lagi saja. Kalau masalah dibeda2kan dan tidak dianggap sama ortu ya tetap kuat dan bertahan hingga bisa mandiri.

      Suka

  127. edo mengatakan:

    Makasih, masih ada orang yang ngerti

    Suka

  128. Rifqi mengatakan:

    yg no 4 pas sekali dengan saya, saya sering dimarahi sama ortu saya, di caci maki, dan Saya sekarang sudah kuliah jurusan ilmu komputer, masih tetap begitu, saya mempunyai keinginan membuat sesuat (project) , dan otomatis saya minta ke ortu saya, tapi di tolak, alasannya gx punya uang, tapi toh dia (ibu) malah mempunyai hp baru, apapun yg saya butuhkan buat pembelajaran selalu ditolak itu gimana ?

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Minta dan jelaskan dengan baik-baik kalau kamu butuh uang untuk biaya praktek. Kalau ditolak, bisa dicoba pada waktu minta uang SPP itu minta uang lebih untuk biaya praktek. Nanti uang lebihnya bisa ditabung dan sewaktu2 butuh uang maka uang bisa digunakan.
      Atau bisa juga usaha sendiri/mandiri, kuliah sambil kerja (kerja jaga warnet, jaga rental, atau jadi pekerja paruh waktu di restoran cepat saji, jadi guru les privat anak SD/SMP, dll). Lalu uang hasil kerja dikumpulkan untuk biaya praktek/projek.
      Sekian. Bila tidak berkenan, mohon maklum.

      Suka

  129. maya mengatakan:

    ass…nama saya maya, usia saya 20 th, saya baru saja menikah dengan suami pilihan orangtua saya, saya terpaksa menikah dengan laki laki itu selama berjalan beberapa bulan saya prustasi karena orangtua saya terus memaksa dan menekan saya, dari kecil orangtua saya memank mendidik saya dengan keras, kata kata kasar pun sering terlontar bahkan saya juga sempat di kasari ,dipukul dlll, bahkan orangtua saya juga suka marah marah di depan teman saya menceritakan kejelekan saya kepada siappun ,terkadang saya merasa kecewa,marah,sedih kenapa orangtua saya melakukan itu kepada saya?,saya menyayangi mereka appun yang mereka lakukan kepada saya ,saya tetap sayang dan selalu mendoakan mereka semoga kelak mereka bisa menyadari sikap nya terhadap saya,lanjut masalah pernikahan paksaan pun terjadi,saat menjalani pernikahan saya sadar saya sudah menjadi seorang istri saya pun berusaha melakukan apa yg mejadi tgjwb istri ,mencintai ,melayani suami,waktu pun terus berjalan aku merasa sakit,batin ku tertekan,tersiksa,hati aku tidak bisa menerima kalo aku adalah seorang istri,lambat laun aku berpikir untuk pergi meninggalkan semuanya, aku pun pergi mencari kebebasan aku ,aku adalah wanita mandiri penuh ambisi aku selalu ingin berusaha meraih apa yg menjadi cita cita aku,aku tidak mau menjadi beban orang tua itu misi aku hidupp,sehingga sampai sekarang aku masijh menjalani kebebsan aku sendiri.dan aku tidak tau apa orang tua aku menyadarinya sekarang, atau bahkan mereka akan lebih marah kepada aku.aku takut ?

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Ya memang hal seperti itu bisa membuat hidup gelisah.
      1. Hidup menuruti keinginan orangtua, tidak merasa bersalah karena merasa patuh kepada ortu,namun hidup penuh dengan tekanan. Begitu terus selama ortu dan anak masih hidup.

      2. Hidup mandiri sesuai dengan kata pikiran dan kata hati sendiri, tidak tertekan, namun merasa bersalah krn tidak patuh pada keinginan orangtua.

      Sebagai anak, tidak semua perkataan dan keinginan orangtua harus dituruti, apalagi keinginan itu bisa berdampak buruk dan bisa membuat tertekan diri sendiri.
      Sebagai orang yang sudah dewasa, kita tentu bisa berpikir dan memilah-milah mana yang baik bagi hidup kita dan mana yang bisa berdampak tidak baik bagi kita.

      Hidup bebas dan mandiri tidak apa-apa, apalagi prinsip hidupmu kan tidak mau merepotkan orangtua. Bila kami sudah mandiri tentu apa-apa bisa diusahakan sendiri. Untuk menghilangkan rasa bersalah, kamu bisa mendoakan ortu dan memohon ampun kepada Tuhan (karena manusia pasti memiliki banyak salah). Atau bisa juga saling bermaafan antara anak dan ortu dan berbuat baik serta bersikap baik kepada ortu.

      Sekian, bila kurang berkenan harap maklum.

      Suka

  130. nama saya maya, usia sya 20 tahun ,saya memilih meninggalkan rumah karena sikap orangtua saya yg terus memaksa ,menekan semua keinginan mereka, mereka tidak pernah mendengarkan apa yg menjadi keinginan saya, mereka selalu marah,kasar bahkan mejelekan saya didepan siapun yg datang ke rumah, sikap itu yg membuat saya kecewa,dan saya memilih pergi sampai saat ini, disinii saya berdoa agar orangtua saya bisa berubah menyadari sikapnya, tapi saya tidak tahu apa mereka masih seperti itu ,saya takut,mohon bimbinganya.trmksh

    Suka

  131. bangsat mengatakan:

    Semua orang bangsat persetan dengan orang tua merekaa bangsat manusia emang lahir dengan hati biadab orang tua teman dan semua nya hanya perlu kepentingan mereka pribadi termasuk saya! hahaha bulshit dengn hidup enak seperti orang lain lebih baik aku hidup dan mati dengan pikiran ku sendri , biarlah bangsat tetap menjadi bangsat dan bukankah dunia ini memang tempat orang2 bangsat haha

    Suka

  132. adi mengatakan:

    Mungkn saya dan adik2 saya termasuk di dalamnya, sya amat benci dengan orang tua, bahkan kalo liat wajah saja benci langsung timbul, tapi tak di ungkapkan, psling kalo pulang cuma diam du rumah, alasan rasa benci yg saya dan adik2 saya punya, dari Kecil ampe sma slalu dapat kata2 kasar paling jelek, saya orangnya pendiam , kalo di marai cuma diam, diajak bicara juga diam, sya ksian sma adik sya, udah sjak klas 5 sd ndak mau sekolah, mungkin dulu waktu kecil suka di maki, akirnya jdi mles sekolah, sekarang udah 19 tahun, adik saya jadi minder, mengurung diri dikamar, ndak mau bersosialisasi dg tetangga, miris meliatnya, jadi orang minder serba salah menyalahkan diri sendiri kmu pasti tau rasanya, ndak tau jalan, dg kehidupan keluarga sperti itu, ampe sekarang saya msih benci orang tua, kalo bicara secukupnya saja, sya mencoba cari post2 yg isinya cinta orang tua, tapi tak ada hasil, perasaan benci karna sering di maki, hidup minder di lingkungan msih tertanam kuat, bahkan saya kalo pulang kampung 1 tahun 2 kali, begitu liat adik saya, hidup di rumah serasa gx betah, isinya bertengkar , makian semua, saya tak membenarkan dan menyalahkan tindakan saya ama orang tua, yg pasti saya bingung cara menghilangkan perasaan benci dan dendam ama orang tua,,,

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Ya memang itu bisa jadi trauma, bahkan mendengar suara orangtua saja bisa langsung marah, benci, terganggu dan bahkan bisa disertai ketakutan apabila anak hidup dan dibesarkan di lingkungan dengan orangtua yang keras.

      Suka

  133. fitri mengatakan:

    assalamualaikum
    saya mau tanya apakah salah, seorang anak mengkomplain ataw ngasih pendapat / menegur ke orang tuanya tentang sikap mereka terhadap anakny ?
    contonya, saya pernah menegur ayah saya karna ayah saya males kerja, beliau sering diem drmh terus tanpa memikirkan biaya sekolah adik adik saya, tanpa memikirkn makan sehari hari,.
    saat d tegur beliau malah balik marah di sebut anak durhaka lah di bilang uda nyakitin hati beliau lah, padahlkan saya mau kasih masukan mau negur dengan cara baik baik tapi malah brdampak seolah olah saya tuh anak durhaka sudah menyakiti beliau. padahal saya tidak bermaksud seperti itu , saya hanya ingin beliau sadar bahwa sikap beliau itu salah.

    apa tindakan saya salah sudah menegur beliau?
    mohon masukannya .

    terima kasih
    salamualaikum

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Wa’alaikumussalam. Ya terkadang memang ada orangtua yang seperti itu, misalnya anak berniat baik memberi masukan atau saran yang baik, namun malah dibilang sebagai anak durhaka yang berani sama orangtua. Sebagai anak terkadang merasa sedih bilang dibilang begitu, niat baik disalahartikan karena beda pemikiran.

      Jika ortu sudah berwatak seperti itu, mau anak kasih saran apapun pasti nanti dibilang sebagai anak durhaka.
      Menurutku, jangan terlalu mengandalkan ortu. Jika ortu seperti itu maka berusahalah untuk mandiri sendiri.

      Sebagai anak kadang protes kenapa ortu bersikap tidak seperti ortu pada umumnya, namun sebaiknya sebagai anak bisa mencoba mandiri dan berjuang sendiri.

      Suka

  134. fitri mengatakan:

    asalamualaikum
    saya mau tanya apakah saya anak durhaka?
    saya pernah menegur ayah saya karena males kerja, ga pernah memikirkan adik adik saya sudah bayar sekolah ataw belum, ga pernah memikirkan apakah kluarga sudah makan apa belum.
    beliau males kerja kalu ada sedikit uang lebih,diem drmah ga kerja .
    saya pernah menegur beliau dengan cara baik baik tapi beliau malah balik marah dan katanya saya udah nyakitin perasaan beliau dan beliau berkata yang tidak seharusnya orang tua ucapkan kepada anaknya yaitu mnyumpahinya. tapi saya tidak bermaksud melawan hanya menyampaikan bahwa saya tidak suka dengan sikap beliau itu saja.
    apa cara saya salah atau saya anak durhaka ?

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Wa’alaikumussalam selama kita berniat baik maka saya kira itu bukan tindakan yang salah dan bukan anak durhaka.
      Namun sebisa mungkin sebagai anak kita harus menghindari segala hal yang bisa menyakiti hati ortu dan selalu doakan ortu yang baik2 karena pintu surga akan terbuka bagi anak-anak yang selalu mendoakan ortu.

      Coba direnungkan dan dibaca salah satu teman yang berkomentar di kolom komentar… teman kita ini selalu berselisih paham dengan ortu dan disumpah2i oleh ortu, namun teman kita ini tetap berniat baik pada ortu dan bahkan bisa meningkatkan derajat hidup ortunya.

      Suka

  135. A mengatakan:

    Makasih uda share ini. Bingung mesti gmn mikirin solusinya awalnya.. Stlh Baca tulisan ini seenggaknya sy jd tau hrs gmn..”byk2 berdoa utk kebaikan mrk saja. Mksih ya🙂

    Disukai oleh 1 orang

  136. Anggi mengatakan:

    Kadang ketika mereka capek, yang kena marah ya anak. Semacam bahan pelampiasan. Kadang juga mereka nggak bisa nahan emosi, sampe harus memarahi anaknya di depan banyak orang dan jelas itu membuat si anak malu dan sakit hati.

    Suka

  137. dian mengatakan:

    Dalam post diatas, my parents, esp my mom did all those things to me, except #8 bcause she’s a ftm. Saya tumbuh jd anak yg tidak peduli thdp sekitar. My dad once complained that saya harus lbh peduli, ramah tamah dsb. Ha, dia ga sadar kali ya ngebesarin saya spt apa. Saya memang tidak pernah dipukul oleh papa, tp komunikasi saja jarang. Tidak tanya sekolah gimana, temen2 gimana, seneng ga. Mama jg ga pernah tny2 ttg itu. Mereka tidak pernah berusaha diri mendekatkan kpd anak. Hasilnya, di rumah ini semuanya individualis.

    Mama saya melakukan kekerasan secara verbal sejak saya kecil hingga sekarang dan fisik ketika saya kecil. Selalu menyalahkan saya setiap saat, ketika balik melawan (saya sudah tidak tahan dgn omelan lagi dan lagi), saya selalu disumpahin mati, anak durhaka, tai, gatau diuntung, mengungkit apapun yg udh dilakukan, uang lah, siapa yg ngebesarin, yg ngelahirin. Saya sakit hati, sangat. Dia jg tidak spt ibu dan istri lainnya. Disaat ayah saya tidak pny uang terus minta ibu saya buat byr keperluan, hal itu dia anggap sbg utang walau misalnya utk keperluan anak dan makan. Uang2 itu dia tagihkan kpd ayah saya dan selalu diungkit setiap saat, pdhl uang yg dia dpt jg dari siapa lg kalau bukan ayah, kan dia ga kerja apa2. Saya lelah. Saya pernah berpikir utk mati, tp hidup cm sekali, kalau saya mati skrg blm tentu saya bisa hidup lg sbg manusia di khidupan yg akan dtg.

    Krn hal ini jg, emosi saya tidak stabil. Saya sepertinya butuh psikolog utk menangani hal ini.

    Suka

  138. iy1980 mengatakan:

    sabar ya semuanya.walaupun orangtua tidak seperti yang kita harapkan.yang sebaiknya dilakukan sekarang,tetap doakan mereka selalu.insya Allah pahala akan kita dapatkan.yang namanya watak.sulit untuk dirubah.percuma juga kalau kita berdebat.malah akan menambah masalah.membuat hati orangtua terluka,malah akan menambah dosa kita.

    kewajiban kita sebagai anak untuk selalu hormat sama orangtua.sejelek-jeleknya sifat mereka,mereka tetap orangtua kita.tetap semangat ,tetap sabar ya teman-teman.salam

    Suka

  139. fikri mengatakan:

    menurut saya masih ada satu lagi hal yang menyakitkan,saya lebih suka jika orang tua saya marah dengan kata kata daripada saya di diamin…..orang tua saya dari awal november kemarin sikap marah kepada saya mulai beda,sebelum nya kalo marah ibu ku lebih to the point ke inti masalah nya.kalo sekarang malah diem aja atau cuek saya ajak bicara didiami saya duduk disampingnya malah menghindari.paling paling kalo ngomong cuma bilang dik ambilin air minum,terus aku tawarin mama udah makan belum tapi diem aja pokok nya aneh saya udah intropeksi diri tapi saya hanya melakukan kesalahan kecil misalnya saya pulang dari sekolah saya kan capek jadi saya tunda dulu untuk cuci piring nya.habis cuci piring saya tidur biasanya sih bangun jam 5 soalnya pulang jam 2sampai rumah jam 2.30 kalo gak capek saya ganti baju terus cuci piring dan jam 3 tidur.nanti jam 5 bangun terus bersih bersih rumah tapi kalo saya sangat capek saya tidur jam 3 dan bangun saat terdengar azan magrib.. lalu saya bangun dan mama bilang kamu tidur kok kaya kebo terus saya bilang la soal nya capek banget ma.saya bilang gitu terus mama saya bilang alah alasan aja kamu habis itu langsung bersih 2 ya.saya hanya bisa mengiyakan saja.dan cuman itu doang yang diomongi mulai awal november kemarin.sekarang jarang bangat omong 2 an mungkin sehari nggak sampai 10kalimat. rasa nya hati ini sudah tak kuat menahan perilaku seperti itu,rasanya aku pengen tinggal bersama nenek ku lagi.kadang kalo nenek itu kalo saya berbuatsalah dinasehati dimarahi.dan sekarang saya tinggal bersama ibu dan ayah tiri saya.sekian curhat an saya ini tempat untuk mengungkapkan isi hati walaupun masih secuil……

    Suka

  140. fikri mengatakan:

    semoga yang mengalami ini semua tetap sabar, terus tetap dekat kepada tuhan dan tidak melakukan hal negatif…..kalau saya biasanya dikamar nangis sambil membuat tulisan tulisan di kertas dan berharap kalo orang tua ku buang kertas ku itu sebelum nya dibaca terlebih dahulu supaya mengerti isi hatiku. …tapi sampai saat ini kayaknya mama ku belum pernah membaca kertas ku sebelum dibuang……..

    Suka

  141. sari mengatakan:

    Ia sama. Aku juga di giniin sama mama. Justru waktu aku udah gede ini. Saat aku ud mulai sibuk dgn urusanku, dan puny kehidupan kedua sprti kegiatan kmpus dan temn2 yg lbih mmiliki prioritas kdpan. tp dulu wktu kecil dicuekin jg sih walau g dimarah2in. Mama itu sibuk sendiri. Alhamdulillah aku trmasuk ank yg membngkng dgn cara positif, dimana aku mnyibukkn diri dgn seni, organisasi, ngumpul sm tmn2 yg baik, sring baca buku yg brbau agama islam, cba g tinggalin solat, cba rajin baca alquran. Alhamdulillah bgt deh. Tetep kuat smpe hal besar sangat2 baik nnti datang🙂

    Suka

  142. rastie mengatakan:

    assalamualaikum wr wb , saya rastie 32 thn, saya bingung sm orang tua saya, kk sy dh berkecukupan tapi tidak pernah memperhatikan orang tua, semua biaya di rmh saya dan suami yg menanggung,karena ibu saya sakit jadi saya harus tinggal sm orang tua,tapi setiap kk saya butuh uang orang tua saya selalu memberi, padahal kk saya tidak pernah perhatian dan peduli pd orang tua, sampai sampai rumah tempat tinggal orang tua disuruh digadai oleh kk saya buat kebutuhan dia,berkali kali disakiti tapi tetap saja kk saya dibela, sedangkan saya selalu saja dimarahi, dengan alasan karena sy belum punya keturunan jadi saya tidak mengerti menjadi orang tua, yang saya tanyakan kenapa kk saya yg selalu menyakiti hati orang tua tetap dibela, sedangkan saya terus saja dipersalahkan padahal saya sdh berusaha mencukupi semua kebutuhan orang tua saya, sampai orang tua saya sakit aja kk saya tidak peduli, jangan kan mengeluarkan biaya , menjenguk pun tidak,tapi selalu saja ibu membela kk saya.

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Wa’alaikumussalam wr wb… ya terkadang ortu memang tdk tega jika dikeluhkesahi dan dimintai bantuan anak. Oleh karena itu yang tahu diri seharusnya anak itu sendiri.
      Ya sebagai anak terkadang merasa diperlakukan tidak adil jika ortu bersikap seperti itu.

      Yang penting kita sebagai anak tetap berbakti kepada ortu dg ikhlas…siapa tahu dg ikhlas berbakti kepada ortu spt yang mbak Rastie lakukan, mbak Rastie bisa bertambah rejeki dan pahala dari Allah. Kalau kakak tidak berbakti ya itu urusan kakak dengan Allah.

      Namun bila ada yang mengganjal usahakan bicarakan dengan baik2 dg keluarga. Tapi bila ortu tetap pada pendirian ya berdoa saja semoga Allah sendiri yang memberi tambahan rejeki yang berlipat kepada mbak Rastie sehingga mbak Rastie tetap bisa berbakti kpd ortu.

      Sekian bila ada kata yang kurang berkenan harap dimaklumi.

      Suka

  143. makruf ws mengatakan:

    Saya setuju bro, mereka hanya berpikir segala yang di perbuatnya udah paling bener buat anak nya dan selalu memaksakan itu , contoh memutuskan sekolah anaknya karena bandel dan tidak nurut dan dibiarkan di rumah supaya gampang di didik , sementara anak ketika sudah dewasa dan bisa berpikir maka akan muncul pemberontakan dan cenderung dendam karena mereka telah menghancurkan masa depanya, padahal anak sewaktu sekolah kan masih masa labil dan butuh pengertian dan dorongan agar tetap sekolah, tiba anaknya susah cari kerja ya di salahkan kenapa dulu sekolah nggak bener, aku pikir itu pertanyaan tolol karena mereka sendiri seharusnya tau jawabanya.
    Orang tua itu hanya ingin di mengerti sementara mereka sama sekali tidak mau mencoba mengerti dan berpikir.

    Suka

    • Need Help mengatakan:

      Setujuh Makruf WS, coba kalau mereka itu buka ortu kita atau cuma teman biasa, sudah saya tendang jauh-jauh dari dulu kali, wong nge-rongrong, mana ada kisahnya ortu ngerongrong anak di kisah MalinKundang coba….di buat Kisah MalinOrtu biar supaya adil

      Suka

  144. makruf ws mengatakan:

    Saya setuju kalau orang tua selalu mementingkan perasaan mereka tanpa memukirkan perasaan anak, mereka hanya melakukan kekangan pengharusan mengikuti apa yang dianggap terbaik, justru dari situlah anak akan muncul dendam dan memberontak ketika sudah besar, fakta saya.

    Suka

  145. EliZa Yan'ha mengatakan:

    kalau yg saya alami seperti no 6 … bingung harus berkata apa kecuali diam dan didengarkan…

    Suka

    • EliZa Yan'ha mengatakan:

      assalamualaikum wr.wb ,Perkenalkan nama saya lisa,..saya mau mengeluarkan isi hati sya terhadap perilaku dan sifat ibu saya…. Semenjak bapak meninggal th 2010 ibu ku seperti anak abg lgi.. belum sampai 1 thn,, sdah dekat sma laki2 lain masalah y laki2 itu masih punya istri dan 3 anak ,,, waktu itu perasaan ku sedih,marah campur2 gak karuan,, setelah itu saya pergi dri rmh untuk mencari kerja.. selang beberapa bln saya di kasih kbr kalau mau nikah,, saya cuma bisa diam aza,, dalam pikiran ku bpk meninggl belum ada 1 thn tpi knp ibu ku buru2 cpat nkah… saya cuma bisa ikhlas semoga ini yg terkhir untuk seumur hdupnya… tahun berganti tahun bulan november kmarin ibu ku mnelepon ku.. ibu ku bertnya ,, “kalau seandainya ibu menolong teman ibu dulu yg pernah di tolong y untuk tdur d rumah karna ada pekerjaan bagaimana ..? ” jelas saja saya gak setuju ,, saya kasih penjalasan y kenapa saya gak setuju ,, tapi saya sangat terkejut sekali dgan jawabn ibu ku lagi… katanya” iya hidupmu sudah enak gak kaya aku ” sontak hati ku kaget sekali dan diam…. kemudian tlp ditutupnya… saya hnya bisa nangis dan nangis , saya,, sdar belum bisa ngasih uang buat ibu saya dan belum bisa ngasih kebahagiaan,, kebahagiaan,, Setelah itu kemarin saya dpt kbar dri teman sya kata y suami ibu sya pergi dri rumah karna temen laki2 ibu saya jdi nginap di rmah tnpa sepengetahuanya,, apa yg harus saya lakukan menghadapi sifat ibu ku seperti ini..

      Suka

      • nugraheniismyname mengatakan:

        Wa’alaikumussalam wr wb…
        Halo Eliza… sepeninggal ayah, mungkin atau bisa jadi ibu menjadi limbung, depresi dan kesepian. Oleh krn itu ibu mencari tambatan hidup. Ya coba lebih mengerti dan berusaha lebih memperhatikan dan perhatian pada ibu agar ibu tidak kesepian dan memiliki seseorang untuk dijadikan sandaran. Namun bila semua usaha untuk mengerti dan memperhatikan ibu sudah dilakukan semaksimal mungkin, namun ibu tetap bersikap labil atau jiwanya masih terguncang, bisa coba ibu dibawa konsultasi ke psikolog. Sekian. Klu tdk berkenan, mohon maklum.

        Suka

  146. nandafadhillahstmikpringsewu mengatakan:

    Saya juga mengalami masalah yang sama soal sikap orangtua terhadap saya tetapi saya yakin mereka seperti itu juga hasil didikan orang tua mereka dulu dan saya juga yakin bagaimanapun kasar dan egoisnya sikap mereka tapi mereka seperti itu karena ingin anaknya menjadi yang terbaik ,mendapatkan yang terbaik ,tidak salah langkah. meski cara mereka salah mendidik dengan kata kasar dan menyiksa secara fisik dan mental ,maafkan saja, mereka juga manusia yang penuh kekurangan.
    Sayangilah mereka dan selalu mendoakan yang terbaik untuk orang tua kita , mintalah kepada allah agar melunakkan hati dan pikiran orangtua kita hanya allah lah yang bisa membolak balikan hati manusia. Dan yakinlah allah tidak mungkin memberiakan ujian yang kita tidak sanggup untuk melaluinya . La tahzan, jangan bersedih🙂

    Suka

  147. Need Help mengatakan:

    Nih , aye tambahin pengalaman sendiri, sampai sekarang masih berlangsung,….tiap bulan kudu setor sebagian besar dari gaji ke ortu buat nutupin utang2 mereka , terus setiap hari masih harus dengerin mereka ribut besar2an antar ortu, tiap weekend kudu nemenin mereka pergi, sehingga ngak punya waktu buat diri sendiri, sempet di kawin paksa sama pilihan mereka.., nolak , mereka ngamuk2 dengan ancaman bisa sakit mereka, akhirnya berantakan juga putus, aye sebagai anak musti gimana coba dengan orang tua seperti ini, kalau bisa hidup sendiri jauh dari orang tua mungkin nasib aye dah lebih baik dan ngak menderita sampai sekarang,….dan hal ini masih berlangsung terus, …setor gaji , dengerin mereka ngamuk2 tiap hari kudu misahin bahkan kalau di nasehatin malah galak-an mereka…….aduh nge-batin banget …tobat tobat…..,mana usia aye dah tuwir…bisa mampus duluan kalau gini terus aye…., mohon comment-nya…….surga di kaki ibu…..TAEKKKKKKK…LAH

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Coba usahakan hidup sendiri dan menata hidup. Biar ortu memikirkan perasaan anak dan berpikir akibat hidup tanpa anak. Namun klu dilarang/diprotes maka ajukan syarat supaya ortu merubah sikap. Bilang klu kamu stress dg sikap ortu. Sekian klu kurang berkenan harap maklum ya…

      Suka

      • Need Help mengatakan:

        Makasih Replynya masbro/mbak admin, pengen-nya sich gituh, pisah yg jauh, tiap malam bisa tidur nyenyak ngak denger suara orang berantem, taip weekend bisa punya waktu buat diri sendiri, walau masih trauma utk cari pasangan baru, tetep masih bisa contact2an, tapi ntar kalau mereka lagi ribut besar, ngak ada yang bantu misahin, Gaji tetep kudu setor…susah kalo sudah shophaholic… hadehhhhhh stressss iki

        Suka

      • nugraheniismyname mengatakan:

        Ya klu bgt mau tak mau ya beradaptasi…klu lagi stress cari hiburan seperti jalan2, curhat ke sahabat, dll

        Suka

  148. Ikeu H. Haibara mengatakan:

    Point-point sikap orang tua yang menyakiti anak pd tulisan ini terjadi pada saya kecuali point ke-7.

    Sikap saya sebagai anak ada pada point ke-1 (dulu), dan ke-2 (saat ini). Semakin beranjak dewasa, saya sudah tdk mencari perlampiasan dlm bentuk negatif (menyakiti diri sendiri, berbuat kejahatan, dll). Namun saat ini orang tua malah menjadi ketakutan terbesar saya, apalagi jika sdh bersikap tdk konsisten yg membuat hidup saya serba salah dn tertekan. So, Pak Nugra, tolong buat tulisan juga bagaimana menyikapi orang tua yg tdk konsisten berdasarkan pengalaman dr anak-anak yg mendapatkan perlakuan yg sama (namun ia bisa mengatasinya). Terima kasih. Hehe

    Suka

  149. rahma mengatakan:

    Assalamu’alaikum. Admin
    Sy Fulanah, mau tny. Yg ditulis di atas point 4 terkait yg biasanya dilakukan anak yang hidupnya tersakiti oleh orang tua adlh Ada sebagian anak juga bersikap memberontak. Tapi, dalam hal ini, mereka memberontak secara positif.
    ………….
    Apa yg sy temui, anak (dewasa) yang memberontak secara tidak positif. katanya bisa mandiri sendiri, tp mandirinya usaha dengan pinjmn. dan pinjam yg sering menanggung ortunya. sebnrnya ortunya perhatian (kerasnya ortu utk kebaikan…. tp si anak merasa tersakiti).

    sy pernah sarankan ortunya utk komunikasi dgn pikiran dingin, tp ketika dicoba berulang kali si anak memajukan dulu emosi/nada tingginya. akhirnya ortunya jg kepancing marah.

    Ditunggu sarannya
    Wassalamu’alaikum.wr.wb

    Suka

  150. rahma mengatakan:

    assalamu’alaikum, admin.
    terima kasih berbagi tulisannya.
    mau tny ortu bekerja keras untuk kebaikan anak2nya meski mngkin ada arahan/tindakan yg anak tak terima. Di atas tertulis …” apa yang biasanya dilakukan anak yang hidupnya tersakiti oleh orang tua?” jwban point 4 Ada sebagian anak juga bersikap memberontak. Tapi, dalam hal ini, mereka memberontak secara positif.
    Yang terjadi sptnya sebaliknya sebagian anak bersikap memberontak. Tapi, dalam hal ini, mereka memberontak secara negatif . Membuat kejutan2 yang membuat org jd kepikiran terus (ex mau mandiri sendiri tp crnya ambil resiko yg krg diperhitungkan dgn matang. pinjam modal tp yg tngg jwb akhir2nya ortu).

    ada saran
    Wassalamu’alaikum.wr.wb

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Wa’alaikumussalam wr wb. Maksud memberontak sec positif di sini maksudnya anak hidup dg pemikirannya sendiri namun ia mandiri dan tdk merugikan siapapun. Di komentar2 ini ada anak yang berkata sendiri jika mereka memberontak sec positif.

      Kalau ada anak spt itu, ia ingin mandiri namun modalnya dg menipu atau pinjam modal tp ujung2nya sodara atau ortu yang menanggung pinjaman tsb itu juga pernah saya temui oknum anak yang seperti itu.

      Klu dinasehati keras kepala, oknum anak dg tipe spt itu selalu “ngeyel” & “ndableg”… Ya coba diarahkan klu bisa, namun klu tdk bisa, coba klu dia pinjam untuk mandiri, dilihat dulu usahanya.
      Kalau dia benar2 berusaha untuk mandiri, maka didukung. Karena membuka usaha untuk mandiri itu tidak mudah. Ada banyak halangan dan rintangan serta kegagalan. Sebagai orang yang lebih tua sebisa mungkin memberi arahan dan dukungan yang positif.

      Namun klu akhirnya yang menanggung semua biaya adalah ortu terus mungkin anak bisa diajak bicara baik2, maunya apa? Dikasih saran dan perkataan yang baik jika kalau mau usaha pikiran tetap fokus dan bisa membuat strategi agar tidak bangkrut dan bisa mendapat keuntungan. Tadi juga tertulis kalau anak tidak merencanakan dengan “matang”, coba bisa diarahkan agar ia merencanakan dan memikirkan segala sesuatu dengan matang itu bagaimana caranya? Mungkin anak juga dlm kondisi bingung. Ia tdk mau bergantung pd ortu namun ia tdk pny modal.

      Tapi ya perlu diingat kalau sekian lama akhirnya apa2 yang nanggung ortu, mungkin ortu bisa “stop” sementara untuk menanggung pinjaman. Biarkan anak berpikir kalau pinjam modal brarti harus dikembalikan. Pada saat seperti ini ajaklah anak untuk bekerjasama mengembalikan pinjaman2 tsb.
      Sekian jika kurang berkenan harap maklum

      Suka

  151. elsha mengatakan:

    Saya saat ini terlalu dikekang oleh org tua dan apa” harus sama dengan kemauannnya saya menjadi tak betah dirumah! Rasanya ingin pergi jauh😈

    Suka

  152. Chan En She mengatakan:

    Aku capek dengan sikap ibuku …, beliau sudah umur 55 thn tapi masih suka selingkuh..
    Aku butuh kasih sayang beliau.,tapi beliau memilih pacarnya dari pd anaknya..
    Aku ingin sekali beliau menjadi ibu yg melindungi anaknya ..dan mengajarkan suatu hal yg baik kpd saya , tpi ap…?
    setiap hari ibu selalu pergi dgn pcrnya…layaknya seprti anak abg.
    Aku slalu marah marah dan marah …karna yg ku inginkan dari ibuku adalh sadar….? Sampai sampai aku hidup serba mandiri…, aku malu karna ulah ibuku di kmpung…aku slalu mengatak kasar pd belia tapi belia cuma di anggp angin saja..
    Tolong bagi siap saja yg bc tex ku in ….gimna solusinya agar beliau sadar

    Suka

  153. dwinandarynt mengatakan:

    Saya searching dan nemu ini di google, saya searching karena saya habis kesal dan sedih karena orangtua gak adil, dari kecil aku selalu di perlakukan beda, aku anak ke dua dr 3 bersaudara, aku mirip ayah ku, mama uda cerai sm papa, mama sering kali marahin aku, apa karena aku mirip papa? Apa ga wajar anak sedih karena di marahi org tua? aku pernah kelas 3 sd karena aku gamau makan di paksa mama aku di tampar sampai hidung berdarah, aku sedih sekarang mama juga mentingin hidup sendiri, pengen dipuji, aku di paksa masuk smk farmasi , kuliah farmasi juga, padahal aku ga suka. Dan akj anak yg cerdas , aku cumlaude dapatbbeasiswa, beda dengan kakak ku yg skrg pengangguran dan berhenti kuliah. Tp ttp sj mamaku lebih sayang dengan kakaku. aku hp beli sendiri, hasil usahaku jualan online, aku minta tambahan uang dikit pun ga di kasih, skrg kakaku dibelikan hp yg sama dengan ku, adik aku pun juga. Bagaimana aku ga sedih😥

    Suka

  154. NHAY mengatakan:

    kalau Ibu selalu salah paham dan mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi untuk masa depan anak. apakah doa buruk itu akan di kabulkan padahal Ibu hanya salah paham dngn apa sj yang anakx perbuat?

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Hanya Tuhan yang tahu apakah perkataan ibu akan terkabul atau tidak. Sebagai anak yang penting sudah berniat dan berusaha baik kepada orangtua. Sebisa mungkin maafkan sikap ortu yang bisa jadi melukai perasaan dan tetap doakan ortu dan selalu mohon maaf karena kita bisa saja melakukan kesalahan tanpa disadari. Hanya Tuhan yang tahu niat dan maksud baik, jadi tetap berniat dan berusaha baik kepada siapa sja terutama kpd ortu wlu kadang penerimaannya bertepuk sebelah tangan.

      Suka

  155. kuro mengatakan:

    ternyata bukan hanya aku saja yang mempunyai nasib seperti itu.
    Jiwa raga ku terancam jika orang tua (bapak) mengucap kata kasar, apalagi jika dia marah, aku merasa pingin mati, aku merasa pingin kembali ke asalku sebelum aku dilahirkan.
    Walau marah hanya lewat sms / tlfon pun hati fikiran jiwa raga ku sangat terancam.
    Menjadi orang tua seperti itu seperti tidak punya otak dan perasaan kepada yang lebih lemah, tidak niat baik atas kelahiranku, tidak bertanggung jawab atas kebaikan anaknya. Ternyata bukan hanya anak yang bisa durhaka tapi orang tua juga bisa durhaka terhadap anak2nya. Semoga Allah SWT memberi kita jalan keluar, dan kita terhindar dari dosa. Amin.

    Suka

  156. kuro mengatakan:

    tapi kita juga harus tau bahwa menurut agama saya (Islam) itu gak boleh durhaka kepada orang tua.

    Dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Dosa-dosa besar ialah mensekutukan Allah dengan sesuatu, durhaka kepada kedua orang tua, membunuh orang, dan sumpah palsu”.
    [HR. Bukhari, di dalam Targhib wa Tarhib, juz 3, hal. 326]

    Jadi kita fikirkan keduanya.

    Suka

  157. Lutfiyah anwar mengatakan:

    Sakit bnget yaa T.T
    Kaya tertekan batin gua dah..

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Tetap berusaha kuat dan tabah ya…

      Suka

      • puspita mengatakan:

        Assalaualikum.wr.wb
        umur saya 15 tahun dan saya merasa orang tua saya terlalu egois dgn saya, apalagi mama saya jika saya punya salah dia selalu mengungkit2 semua yg telah ia berikan pada saya terutama dengan masalah uang..
        apalah artinya uang bagi saya, diusia saya yg masih remaja ini saya hanya butuh kasih sayang dari orang tua saya.
        kadang saya merasa iri liat anak2 lain bisa happy2 dengan orang tuanya, sementara saya tidak pernah seperti itu..
        kadang saya suka nangis kalau mengingat perlakuan orang tua saya terhadap saya..saya sudah berusah untuk melupakan masalah ini tapi semakin saya melupaknnya semakin tertutup pintu maaf saya untuk orangtua saya..
        akibatnya saya merasa batin saya tersiksa,
        apakah diusia sedini ini saya harus merasakan tekanan batin?
        kadang saya suka berfikir sendiri,
        jika saya besar nanti dan jika saya sudah sukses saya akan membalas perbuatan kedua orang tua saya terhadap saya..
        nah, yg saya tanyakan adalah
        jika saya benar2 sudah tertekan sekali dan membalas semua penderitaan yg saya alami kpd orangtua saya , apakah saya termasuk golongan anak yg durhaka kepada orang tua??

        mohon dimaklumi.
        wassalmualikum.wr.wb

        Suka

      • nugraheniismyname mengatakan:

        Wa’alaikumussalam.

        Saya pikir tidak salah juga jika kamu berpikir seperti itu dikarenakan tekanan batin. Tapi sebisa mungkin maafkan ortu dan maafkan diri sendiri. Dendam dan kebencian hanya akan menggerus jiwamu yang masih murni (mengingat umurmu yang masih sangat muda). Alihkan rasa marah, benci dan dendammu dengan kegiatan positif semisal ikut ekstrakulikuler dan kegiatan bermanfaat lainnya.
        Kalau masalah sikap dan perilaku ortu biarlah itu diserahkan kepada Tuhan saja.
        Masalah durhaka atau tidak, saya tidak berani menge-judge itu…
        Tetap bertahan dan berjuang ya. Kamu masih sangat muda. Alihkan pikiran2 buruk dan perasaan2 buruk dengan berpikir dan berkegiatan positif ya…

        Suka

  158. Haha mengatakan:

    saya mengalami itu.. kedua orng tua saya sangat menyayangi saya.. ttp ada bbrp sifat dari salah satu orng tua saya yang sering membuat saya menangis…
    seperti selalu memarahi saya setiap hari walwpun itu disebabkan karna hal yang sepele tetp beliau memarahi saya seakan2 sy membuat kesalahan yang sangat besar… dan terkadang berbicara yang menyakitkan menurut saya hanya karna sy tidak dapat memenuhi keinginannya.. dan dihadap beliau seakan2 untuk pekerjaan rumah saya selalu salah… terkadang kesalahn datang diri beliau meletak barang nth dimana tetapi saya yang terus dimarahin kemana barang itu pergi.. padahal saya tidak melihat barang tersebut… dan jika ia mengambil barang saya dan saya nanya dimana brng sya di letak.. dengan santai ia menjawab.. “ga tau”.. ..

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Sabar ya…
      Klu misal ada sikap ortu yg membuatmu sakit hati maka segera ingat2 kebaikan dan kasih sayang yang pernah diberikan oleh ortu ke kamu. Ortu juga manusia yang punya sifat baik dan buruk. Jadi ya dimaklumi saja.

      Suka

  159. rezabukan347 mengatakan:

    dulu gw sangat berusaha berbakti pada ke dua org tua.
    apa yg mereka minta selalu gw lakukan semuanya gw korbankan untuk mereka
    karena pantang buat gw melawannya dosa besar menurut agama
    tapi ada hal yg terlewat gw tidak pernah bisa/ tidak tahu sifat mereka selama ini. gw seperti anak yg polos. pokoknya hal buruk sedikit saja mereka tidak suka hingga gw menjauhi semua teman gw karena lingkungan yg kurang baik dan itu gw menerimanya. tapi begitu gw mulai dewasa semua hal baik dan buruk di depan mata gw saat gw bisa menghargai orang lain.
    tidak melihat keburukan dari satu sudut pandang saja.
    dan gw mulai merasa org tua gw ,mereka seperti menguasai diri gw ini
    dan gw mulai menyadari semua itu
    dan puncaknya gw merasa sedih sekali karena gw merasa di tusuk dari belakang
    karena gw melihat saat gw mencapai kemapanan mereka menjadi sombong
    dan akhirnya gw buang semua pencapaian itu dan gw ingin sekali melupankan mereka
    gw bisa memaafkannya tapi luka itu sangat menyakitkan,
    dan akhirnya gw berusaha untuk jauh dari mereka tapi tetap mengawasinya
    intinya semoga allah mengampuni mereka.

    Suka

  160. saya juga mengalami hal itu dari mulai di lempar barang apapun yang ada di didekat mereka. selalu berkata kasar dan bahkan suka merendahkan saya. sesekali saya mempunyai pememikiran akhiri saja kehidupan ini tetaapi saya pikir dua kali dan sya lebih menguatkan iman saya pda akhirnya pikiran itu hilang di diri saya. saya ini anak terakhir dan sebnernya plaan orang tua saya ingin memiliki anak tiga tetapi saya lahir jdi ortu saya memiliki empat anak yang sbnrnya saya ingin di gugurkan oleh orang tua saya. tpi mereka mikir2 kembali akhirnya mereka tidak jadi mengugurkan saya di dlm kndungan mereka. saya ini anak ke empat terakhir tetapi jauh dari kata manja.ketiga kakak saya diberi kebebasan berbicara mengeluarkan pendapat, bahkan mereka bermain waktunya juga agak bebas. nah kalo saya? berbeda dengan mereka. saya perempuan jarang main ke luar rumah karna sering tidak mendapat izin dari oarng tua. dalam sebulan saya bisa main dengn teman saya hanya 1 hari itupun maghrib sudah harus pulang. sedangkan ketiga kakak saya boleh main kapan saja bahkan sampe keluar kota. sewaktu saya KKN di kampus saya, sering pulang larut malam jam 12 malam dikarena jark rumah saya dengn tempat KKN lumanyan jauh dan kegiatan KKN itu mengikuti jdwal di desa tempat KKN jdi saya tidak bisa seenkny sendiri pulang dan berngkt harus sesuai dengan jadwal tetapi orang tua saya tidak mendukung. mereka malah menyalahkan saya ktanya saya sok sibuk sok sok an, krna saya dalam keadaan capek letih saya menjawab KKN di desa harus mengikuti jadwal di desa eh malah mereka marah, dan berbicara sembarangan. saya selalu mengikuti semua yang mereka inginkan tpi mereka selalu bertindak seenaknya. saya orangnya tidak pernah mengeluh dan menangis di depn orng tua saya, tetpi ketika saya sendiri seolah2 tumpah semua kesedihn saya marah saya. sekrng saya tidak pernah curht apapun ke orang tua saya dari itu yng kuliah atupun hal percintaan atau perasan yg ku rasakan, krna dulu ketika saya curht ke orang tua saya malah jawaban mereka hal yang pertama kali keluar selalu menyalahkan saya “bego,tolol,bodoh,dll yang kurang enak di dengar.” maaf ya kok jadi sya curhat ya?

    Suka

  161. Neng Mella Alfarizi mengatakan:

    ibu saya ketika marah selalu mengukit apa yang dya sudah berikan kepada saya dari kecil, sampai ibu saya berucap apa yang saya beri masih tidak ada apa apa nya dibandingkan dia mngrus saya dr kecil, bagi saya itu memang bnar . akan tetapi itu sudah mnjd kewajiban seorng ibu bukan ??

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Iya benar. Kenapa ortu mengungkit kewajibannya sebagai ortu? Toh anak dilahirkan juga dari ibu yang memang menginginkan punya anak. Kalau tdk mau membesarkan anak dan selalu mengungkit, jangan punya anak atau kenapa punya anak segala?

      Tapi jangan bersedih mungkin ibu sedang emosi jadi dimaklumi saja. Tetap berjuang mandiri sesuai kemampuan maksimal dan tetap melaksanakan kewajiban sebagai anak ya…

      Suka

  162. manusia mengatakan:

    aku berumur 16 tahun, aku waktu kelas 10 masuk sma ambil jurusan ipa, sampai akhirnya aku selalu di bully di kelas, aku selalu dihina dan di omongin, aku merasa tertekan kalau sekolah, hingga akhirnya aku pindah ke ips. aku punya teman yang baik dan memotivasiku, tapi apa yang terjadi? ayah ku selalu menyinggung ku padahal aku sudah berusaha mencari prestasi dengan ekstra volly,tapi apa?dia masih menganggap ku bodoh! karena aku ngk di IPA . padahal aku berusaha mencari prestasi dan bangkit dari tekanan di kelas lamaku dulu.coba bayangkan kalau aku msih di ipa bersama kawan2 yang brengsek itu! mungkin aku gak akan termotivasi ngegym, volly, belajar b.ingrs dll. tapi apa, orang tua hanya menyinggungku karena bukan di ipa, padahal mereka gak tau apa yang ku alami

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Jangan bersedih hati. IPS atau IPA sama saja. Mereka sama ilmu yang bagus untuk dipelajari. Saya amati selama ini, banyak orang2 yang pada waktu SMA itu masuk ke kelas IPA, tapi pada waktu kuliah, mereka malah kuliah di jurusan ilmu sosial. Seperti misalnya ada anak IPA tapi waktu kuliah dia ambil Akuntansi, Manajemen, dll.

      Lalu nanti jika kamu sudah lulus kuliah dan cari pekerjaan, tesnya rata2 soalnya bukan IPA atau IPS. Rata2 soalnya pengetahuan umum (dan biasanya lebih banyak pengetahuan sosialnya).

      Yang paling penting adalah bukan ips atau ipa-nya, namun jadilah orang yang kreatif, tekun, bersosialisasi dengan baik, memiliki kecerdasan emosional, tahu “passion”-mu, dan banyak berprestasi sesuai kemampuanmu.
      Hargailah dirimu sendiri. Biar saja pihak lain termasuk ortu atau teman merendahkanmu. Tapi bila kamu bisa menghargai diri sendiri dan berprestasi sesuai kemampuanmu, itu sudah cukup menurut saya.
      Sekian. Maklum bila kurang berkenan. Tetap semangat dan berpikiran positif ya…

      Suka

  163. dhiieny mengatakan:

    Bagus bgt ini tulisan
    Sama bgt apa yg seperti di alami ama suamiku , untung aja suamiku ada di tipe no.4 memberontak secara fositif suamuku terus melakukan yg terbaik dan menunjukkan kalau dia mampu dalam segala hal..

    Suka

  164. Yunias Natalia Klaar mengatakan:

    Itu kenapa, menikahlah ketika punya kapasitas sebagai suami/istri bagi pasangan, dan orangtua bagi anak2.
    Lebih baik terlambat menikah tapi punya kesiapan yg matang,,

    Suka

  165. Muhammad Ripat mengatakan:

    Saya juga senasib,tapi saya juga slalu ingin membahagiakan kedua orang tua saya,tapi saya selalu berdoa dan tabah,ya allah ampunilah sikap kedua orang tua ku , aminn , yang senasib tetep semangat ya

    Suka

  166. adelia mengatakan:

    Kak aku suka banget sama postingan kamu. Rasanya sesuai aja kayak realita. Contoh aku ini hidup dengan 2 saudara aku anak sulung cewek sendiri. Dulu pas kecil rasanya ortuku sayang sama aku tapi entah kenapa sekarang berubah. Usiaku udah 18 tahun aku satu satunya perawan di keluarga. Aku ngrasa sikap ortuku berubah terutama ibuku. Dia emang orangnya suka pemarah. Apalagi kalo urusan pekerjaan dia kan suka banget nyuruh nyuruh aku ini itu bantuin pekerjaan rumah mungkin karena aku anak cewek kali tapi aku juga selalu nurut kok sama apa yang ibuku suruh tapi yang namanya manusia kan suka khilaf gitu ya misal kelupaan atau apalah kalau ibuku pulang kerja trus liat aku dirumah dan piring di wastafel masih kotor suka ngomel trus ngedumel suka bilang “kamu di rumah ngapain aja sih?” serasa aku itu dijadiin pembantu di rumah. Padahal adikku cowok dia juga udah besar tapi gak pernah disuruh tiap aku jawab kenapa aku yang disalahin adik nggak ngapa ngapain ibu gak ngomel pasti dijawab “kamu itu kalo kerja gak pernah niat apa apa iri bawa bawa adik kamu itu kan perawan harus tau kerjaan” lah disitu kadang aku mikir kenapa harus ada perbedaan gender padahal harusnya pekerjaan berat kan dilakuin laki laki dan yang aku masih gak ngerti adik aku itu kalo disuruh susahnya minta ampun tapi ortuku gak pernah marah giliran aku nolak trus nunjuk adikku pasti ibuku langsung ngedumel. Dulu pernah punya pembantu tapi sakit trus dipulangin abis itu mutusin gak pake lagi karena ibuku mikir aku udah gede jadi biar aku bantu bantu. Aku itu sebenernya mau kak bantuin ortu aku ikhlas tapi gimana rasanya kalo ada adik yang juga bisa bantu tapi dia diem sementara kita kerja sendirian dan ortu kita gak peduli pasti kita ngiri kan. Belum lagi kalo ortuku ngungkit ngungkit uang mereka seakan nilai semua dari materi misal kamu itu tuntutannya banyak beda sama adikmu gak pernah nuntut. Kadang dalam hati aku ’emang salah kalo aku nuntut orang aku selalu dipekerjakan di rumah sedang dia nggak’ jadi seakan selalu aja ada bahan buat ortuku ngebela adik. Ya emang sih aku belum bisa banggain ortuku makanya selama ini setiap ortuku suruh aku berusaha nurut tapi entah kenapa semua usahaku kayak gak pernah dapat apresiasi berkali kali adikju dipuji didepanku tapi gak pernah sekalipun aku denger mereka muji aku didepan adik. Padahal aku punya adik kecil tiap ada apa ibuku selalu nyuruh aku bahkan aku kayak baby sitter dia ibuku nyuruh aku urus ini itu mandiin makein baju padahal dianya main hp akunya cuma diem tapi semakin aku diem rasa itu malah numpuk numpuk bahkan ketika aku berusaha ngeluarin unek unek ibuku malah marah dia nggak suka disalahin pokoknya bener aja mereka ngrasa kayak selama ini mereka udah ngluarin banyak buat aku tapi kan aku juga butuh kasih sayang keadilan yang bahkan gak pernah aku dapet sekarang. Misal lagi nih aku gak jemur baju trus ibuku ngomel kamu kalo misal gak mau jemur gak usah nyuci baju di mesin nyuci sendiri aja masak ibunya suruh jemurin bajunya kayak gitu. Trua misal aku lagi males banget setrika kadang dipaksa karena udah numpuk padahal banyakan baju adikku terkecil gitu langsung ngomel bajumu banyak itu blablabla padahal pas aku setrika bajuku cuma ada 3 stel doang semua baju adikku ya selama ini kan yang nyetrika baju si bungsu selalu aku. Kesannya itu apa apa di dikte dikendaliin kapan aku bisa mutusin sendiri. Ayah aku juga dia itu emang jarang ngomel tapi kalo ada yabg gak pas sama dia walaupun hal kecil pasti diungkit sampe melebar kemana mana dibilang ceroboh lah gampangin lah padahal bukannya gitu juga namanya orang kalo lupa kan manusiawi ya ayahku juga termasuk orang yang keras kepala selalu merasa benar sendiri. Suka capek kalo ribut terus makanya aku lebih pilih diem ketimbang ngomong percuma mereka tetep aja ngebela diri. Lagian aku diem juga biar aku nggak menyesali kata kataku kareba kalo orang marah kan suka gak kontrol gitu aja masih salah dimata mereka intinya aku gak boleh ngebantah dan ngelawan apalagi sampe marah. Ya Tuhan kenapa yang aku lakuin itu selalu salah dimata mereka kenapa mereka egoia banget aku ini anak atau patung sih. Aku juga manusia biasa bukan malaikat yang bisa selalu sabar ketika disakitin yang gak bisa marah bahkan aku cuma anak yang selalu dinistakan dirumah ini. Sering wakty aku diem dikamar aku nangis sambil terus mikirin ini aku suka nyalahin diri sendiri aku suka maki diri aku coba aku bahkan sering berpikir hal hal buruk semisal takut berinteraksi sama orang gak mau kenal siapapun bakal nglupain mereka setelah dewasa pergi dari rumah mikir aku anak orang lain bahkan yang paling parah aku pernah berpikir mati aku pernah nyakitin diri sendiri pake silet aku lukain tangan aku aaking depresinya. Aku juga sering pusing mual karena saking stressnya mikir bahkan sering ngayalin aneh aneh sampe aku sendiri nanya apa aku udah ngalamin mental demanding ya.. Karena aku tau betul apa yang aku alami ini pasti punya pengaruh ke mental aku juga. Tapi semua perasaan buruk selalu aku tepis ketika aku inget Tuhan iya kak Tuhan cuma Dia tumpuan aku sekarang cuma dia yang aku andalin bahkan aku bisa bangkit dan tegar karena aku yakin semua ujian ini aku terima karena Dia sayang sama aku. Mungkin Dia pengen nguji seberapa sanggupnya aku ngadepin ini dan tiap kali aku nangis aku selalu dzikir aku berusaha berpikir positif pada-Nya. Jujur kak aku tuh pengen punya keluarga yang harmonis gak kayak gini sering bertengkar sama adik sendiri debat sama ortu aku pengen rumah itu bisa jadi tempat ternyaman aku untuk pulang untuk merelaksasikan pikiran tapi justru sebaliknya rumah aku malah seakan neraka buat aku. Sedih kan kak. Aku juga pengen banget kalo besar itu sayang sama ortu tapi kalo inget ketidakadilan yang aku dapet suka berbalik gitu. Karena aku itu orangnya main perasaan sering aja nyesalin kenapa aku itu mudah banget masukin hati apa apa. Trus aku harus gimana kak? Emang semua ini salah aku ya? Emang sebagai anak kita gak boleh gitu marah dan berpegang pada prinsip. Bahkan ketika sekarang aku punya pelarian ke kpop ortu aku juga gak setuju malah ngejelekin kesukaan aku. Mereka gak tahu ini aku lakuin karena aku ngrasa sesak dirumah dan kpop adalah jalan keluar buat aku bisa ngrasain hidup lagi tapi mereka. Seandainya mereka sayang dan gak ngebedain aku mungkin aku gak bakal kayak gini. Mereka bahkan ga mikir kalo apa yang aku lakuin itu semata cuma buat nyenengin mereka aku tuh sayang sama mereka apapun yang mereka suruh aku turutin bahkan aku rela gak ngabisin waktu sama temen karena mereka nglarang aku gak boleh pergi ke karaoke katanya itu tempat negatif padahal itu karaoke keluarga dan aku tahu apa yang aku lakuin cuma bertujuan refreshinf bareng temen tapi apa yang aku perjuangin gak ada nilainya buat mereka. Yang ada mereka cuma dukung pilihan aku kuliah fk pokoknya yang mereka suka baru didukung. Padahal gimanapun juga anak itu bukan punya mereka anak itu milih Tuhan yang dititipin ke mereka untuk dijaga dirawat dan disayang dibimbing buat bisa jadi orang baik jadi gak seharusnya mereka keras ke anak apalagi sampe ngebikin anak itu sesuai kayak yang mereka mau karena anak itu orang lain anak juga punya hak untuk memutuskan hidupnya sendiri memilih jalannya sendiri selama itu baik. Sekarang doa aku cuma satu aku pengen bisa sukses masuk fk trus kuliah bener dan aku pengen buktiin ke mereka aku bisa dibanggain dan bikin mereka sadar kalo mereka udah salah karena gak adil ke aku. Makasih kak udah ngasih aku tempat untuk curhat sekarang aku lega udah bisa luapin isi hati semoga kakak mau denger cerita aku. Kalo bisa ngasih saran dan reply:)

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Yang tabah ya…ditakdirkan jadi anak pertama memang harus lebih kuat dan bisa jadi contoh adik2, syukur2 bisa ikut membimbing dan mendidik adik2.
      Saya anak kedua, waktu saya dan adik saya kecil2, kakak pertama saya yang ikut bantuin bersih2 rumah. Bahkan waktu saya masih kecil dan adik saya masih bayi, kakak saya juga ikut ngurusin.

      Kalau masalah adik yg tdk mau bantuin, kamu bisa ikut mendidik adik2mu dg sabar. Misal: “Dik, bantuin kakak cuci piring. Kakak capek, dll.”

      Adik saya kan cowok, saya kadang minta bantuin cuci piring. Tapi karena anak cowok, jadi memang kurang tertarik dg pekerjaan rumah tangga. Tapi kalau diminta bantuin mengantar pergi ke mana gitu pasti dia mau.

      Ya kalau tertekan hebat memang bisa melakukan “self harm” atau menyakiti diri sendiri. Tapi sebisa mungkin jangan lakukan itu ya. Belajar menyayangi diri sendiri. Kalau diri sendiri tdk disayangi, kasihan kan? Ada jiwa yang nantinya merasa sangat kesepian dan ia merasa sendiri di dunia ini.

      Dari tulisanmu yang akhir2, itu sudah menandakan jika kamu punya pandangan untuk hidupmu. Bila berdampak positif bagi dirimu sendiri, maka lanjutkan saja. Tetap kuat dan bertahan serta semangat ya…

      Suka

  167. Cak mengatakan:

    Gw bgt ini bang gw dpt kekerasan waktu kecil dr bokap skrg gw uda gedhe rasanya gw pengen banget nge habisin bokap gw tp mamah gw masih nahan2 gw utk tdk melakukan itu . tp kl gw lg emosi bgt pengen sekali gw bacok bapak ane bang

    Suka

  168. haleema mengatakan:

    Saya merasakan menjadi anak seperti dalam tulisan ini…

    Suka

  169. Tiara putri mengatakan:

    Aku juga sama kadang sedih lihat perlakuan orang tua sendiri.

    Suka

  170. widi mengatakan:

    saya ngalamin seperti ini, saya harus membiayai kehidupan orang tua saya, saya dipaksa untuk menghadapi apa yg mereka mau, karna saya tidak tahan , setiap mereka marah mereka mengumpat dan mengusir saya dari rumah dan kejadian itu berulang saya tidak tahan dan akhirnya saya pergi dari rumah, karna kondisi saya yang semakin kurus terus memikirkan hal seperti itu, mungkin perbuatan saya salah, tapi saya merasa jika saya tidak ditengah tengah mereka akan lebih baik. karna apa yang saya berika tidak pernah ternilai dan tidak ada rasa harganya.

    Suka

  171. Fita Dwi Amiria mengatakan:

    Ternyata banyak sekali ya, yang mengalami kondisi orang tua seperti itu.
    Saya juga ngalamin, kebetulan yang seperti itu ayah saya, persis seperti yang di jelaskan di artikel.
    sekarang kondisnya saya sudah tidak komunikasi lagi dengan ayah saya, kalau dibilang trauma iya, karena saya pernah dipukuli dan dilempar benda tajam saat saya mau menikah dan beliau tidak setuju dengan calon suami saya, tapi sekarang saya sudah menikah dan setelah menikah saya masih melihat ibu saya disiasiakan sampai ia meninggal.
    saya jadi malas berkomunikasi dengan beliau, karena hal itu beliau jadi sering sms saya dengan kalimat kasar dan kutukan, meski saat saya hamil dan menyusui, tetapi saya tidak pernah membalas, sampai beliau sms suami saya untuk memceraikan saya. Saya jadi sedih. Kira2 apa yang sebaiknya saya lakukan, saya tidak mau jadi anak durhaka tetapi sulit sekali bagi saya untuk bisa berbaik2 terhadap ayah saya.

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Setelah membaca tulisan dr kamu, yang ayah sms berkali2 tp kasar dan kutukan, bisa jadi ayah sebenarnya kesepian dan mungkin tertekan juga. Wlu bisa jadi di alam bawah sadar mungkin menyimpan trauma benci dan dendam kpd ayah, usahakan tetap berbuat baik kpd ayah. Atau konsultasikan kondisi ayah dan keluarga ke psikiater atau psikolog karena mungkin ada sesuatu yg mendasari ayah berkepribadian sprti itu. Sekian. Bila tdk berkenan, harap maklum.

      Suka

  172. karmen mengatakan:

    persis dg kehidupanku.
    perilaki orangtua sangat berpengaruh dlm hidupku sekarang.
    Ibu. Kenapa dia makhluk yg sangat kejam yg ada dihidupku. Banyak hal yg membuat hidupku tidak normal karena sikapnya yg buruk. Trauma. Sakit hati. Aku sulit berkomunikasi karena sifatnya sejak aku kecil yg tidak memperlakukan aku dg baik. Iyaa seandainya aku bisa memilih dg siapa aku dibesarkan, setidaknya dg kasih sayang orangtua yg benar” seperti mereka” yg tumbuh dg baik dan normal dr orangtua mereka. Aku herraannn tdk habis pikir apa salahku terlahir didunia dg didikan ibu seperti itu. Sungguh aku mengakami depresi yg sangat hebat.

    Suka

  173. Nia mengatakan:

    Kedua orang tua saya persis seperti semua kriteria yang dijabarkan. Dan saya masuk pada kriteria anak 2,3,4 karena saya tau kriteria 1 salah. Begitulah saya jadi serba salah, bingung harus bagaimana karena orang tua saya bukan hanya seperti semua kriteria, tapi mereka juga masuk kategori protektif. Alangkah baiknya agar anak tidak stress dgn ortu seperti itu, mereka melepaskan diri. Atau hidup sendiri.
    Kondisi saya disini, saya hidup dgn kebencian tetapi tidak bisa lepas dari kedua orang tua saya. Dan mereka terus melakukan hal demikian seolah harus selalu saya yang mengalah. Saya bingung karena semakin mengalah saya akan semakin stress. Dan saya takut jika terlalu stress. Saya sudah melakukan semua yg saya bisa dan secara positif tapi saya merasa sangat lelah dan ingin melepaskan diri tetapi selalu tidak diijinkan. Akhirnya saya berharap hal ini semua akan berujung positif meski kelihatannya tidak karena yang sudah sudah, saya menjadi anak yg pendiam dan tidak bisa melakukan apa apa karena sifat ortu saya itu.

    Suka

  174. Randy mengatakan:

    Assalamualaikum saya randy masih kelas 2 sma entah kenapa orang tua saya selalu memaksakan saya untuk bekerja padahal ekonomi keluarga kitu cukup terbilang mapan , bukan bermaksud untuk sombong saya hanya ingin menjelaskan keadaan saya , saya selalu dipaksa untuk kerja padahal diumur saya 16 tahun ini saya masih suka main tetapi sayapun cukup berprestasi di sekolah , saya sering curhat ke teman teman saya tapi hanya saya dari tmn tmn saya yg sudah disuruh bekerja, Saya sudah cape dimaki maki oleh orangtua saya terus , mereka seperti tidak menyukai apapun yg saya lakukan selalu salah , mereka memaksakan saya untuk bekerja , apakah baik untuk anak seumur saya yang masih sekolah harus sudah bekerja ? Saya pun ingin sekali bekerja tapi kan saya masih sekolah , bukannya saya harus mementingkan pendidikan dulu supaya mendapatkan pekerjaan yg baik ? Bagaimana cara menghadapai ortu seperti ini , mohon pencerahannya makasih

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Wa’alaikumussalam.
      Mungkin ortu menyuruh bekerja supaya kamu mandiri. Kalau kamu bisa membagi waktu antara bekerja dg belajar ya tidak apa2 sekolah sambil bekerja atau besok kalau kamu mau kuliah, kuliah bisa juga sambil bekerja.
      Supaya tidak terus dimaki2 ortu, maka berusaha mandiri. Nah dengan belajar mandiri sejak masih sekolah maka itu bisa menjadi modal untuk berdiri di kaki ortu dan modal untuk tidak merepotkan ortu di segi finansial. Apalagi kamu tadi bilang jika kamu berprestasi. Usahakan gunakan prestasimu itu untuk mencari beasiswa dll.

      Namun kalau benar2 tertekan, maka bisa bicara baik2 kepada ortu kalau kamu tdk nyaman diperlakukan seperti itu terus. Kalau ortu tdk mau mendengar maka tetap kuat hingga kelas 3. Nanti kalau sudah kelas 3, kamu bisa memutuskan mau kuliah, kuliah sambil kerja, kuliah dengan beasiswa, atau langsung kerja. Supaya tidak jenuh, di akhir pekan kamu bisa refresing atau piknik atau melakukan kegiatan positif yang kamu suka.

      Sekian. Kalau tidak berkenan harap maklum ya…

      Suka

  175. vanyFO mengatakan:

    Aku selalu dibantah, dan selalu salah di mata mereka.aku hanya tidak tahu apa apa dan bisa menangis

    Suka

  176. september mengatakan:

    gmn cara ngatasinnya? mama saya selalu menuduh sa yg tdk tdk, setiap kali saya jelaskan dibilng ngelawan. lalu saya harus gimana? Tolong jawab, saya sangat butuh

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Kalau tidak seperti yang dituduhkan bilang saja apa adanya sertakan bukti supaya mamamu tidak asal nuduh. Kebenaran harus ditegakkan, asalkan bilang dengan sopan santun pada mama supaya mama juga tidak tersinggung…

      Suka

  177. kk mengatakan:

    seperti yang saya alami pada saat ini di nomor ke 4 saya memberontak tetapi dalam hati kecil saya. saya sngat menyayangi org tua saya dan tidak ada sedikit rasa kecewa dan dendam karna saya sdar betul orang tua itu harus dihormati meskipun saya selalu salah dimata orang tua saya. saya selalu dibilang anak durhaka di karna kan saya selalu beda pendapat saya memberontak dan pendapat saya tidak pernah dihargai.sampai saya berfikir akan membuktikan kepada orang tua saya bahwa saya bisa membuat mereka bahagia. terimakasih atas tulisannya yang membuat saya semakin yakin dan termotivasi untuk menjadi lebih baik lagi.

    Suka

  178. intan mengatakan:

    Senang mngetahui trnyta saya tidak sendiri mengalami seperti yang artikel sebutkan diatas.Tuk berbagi pengalaman saya anak tunggal dan menikah.saya selalu disiksa secara psikologis oleh kedua orang tua saya.dari kecil hingga saya berumah tangga.bahkan akhir2 ini lebih parah…saya memakluminya di usia mereka yang senja mudah sekali tersinggung.namun yg saya sesalkan mereka tidak pernah memahami perasaan saya.padahal saya selalu berusaha memberikan yg terbaik.saya selalu dianggap kurang oleh mereka dan menjelekkansaya didepan teman2 mereka dan tetangga.saya malu sekali…sejujurnya saya sangat mencintai mereka.namun kadang saya berpikir kalau saya ini anak angkat dan berniat mencari orang tua kandung saya..saya menjadi pribadi tertutup dan ini masalah dgn ortu bahkan menjadi bumerang bagi rumah tangga kami.alhmdullah saya dikaruniakanoleh Allah suami yg mengerti keadaan saya.kdg saya pikir untuk mngglkan org tua saya pergi merantau..tapi saya tidak tega meninggalkannya..sekarg sdh 2 thun prnkhn sya blum kunjung hamil…yg menyakitkan hati ortu saya prnh mnyumpahi saya tidk pnya anak…smoga Allah membuka hati ortu saya dan memberikn hidyhnya juga kpd saya….saya rindu untuk dipeluk mereka dgn ikhlas yg tdk prnh saya dapatkn sejak kecil.satu pelajaran penting untuk saya jika Allah menakdirkan saya menjadi ibu saya ingin anak2 saya tidak merasakan apa yg yg saya rasakan.saya ingin mereka dididik dan merasakan kehangatan keluarga.

    Suka

  179. Yazid mengatakan:

    Susah klo lawan ortu, dilawan durhaka, gk dilawan makan ati, klo bisa milih, mending saya gk usah ada aja di dunia ini

    Suka

  180. No Name mengatakan:

    Halo admin, terima kasih atas artikelnya. Saya hanya bisa nangis saja selagi membaca artikel dan comment2 semua orang karena sudah tidak tau harus berkata apa2 lagi. Saya hanya ingin hidup bahagia tanpa ada orang tua saya yang sangat temperamental. Apa2 saya selalu dimarahi. Sekarang saya sedang kuliah S1, ayah dan ibu saya selalu mengharapkan lebih dari saya, mereka selalu berkata saya anak yang tidak berguna, tidak bisa diandalkan nantinya. Saya akui memang kepintaran saya pas2an, IPK saya hanya 3 dan mereka selalu menganggap itu kurang, saya memiliki pertemanan normal seperti anak2 lainnya. Setelah kuliah lalu pulang membantu menjaga toko dll. Tapi saya tetap dibilang malas, lalu saya dibilang tidak peka dan tidak peduli. Padahal tiap akhir minggu saya tidak pernah pergi dengan teman2 saya, saya selalu membantu menjaga toko. Saya tidak pernah minta uang ini itu, tidak pernah minta beli hp baru, baju, sepatu, dll. Tapi mengapa mereka selalu marah2? Saya hanya ingin mereka menerima saya apa adanya. Saya selalu dibandingkan dengan mereka, ibu selalu bilang “dulu tuh waktu umur kayak kamu ya ibu bisa bantu ini itu, kamu mah bisa apa?” Ya memang latar belakang keluarga saya tidak baik. Ibu dan ayah sering bertengkar dpan saya waktu saya masih kecil sampai sekarang, bahkan sampai lempar2 barang dan pukul2an. Ayah saya juga pernah selingkuh, namun mereka akhirnya kembali lagi. Padahal keluarga saya taat beragama. Tapi sepertinya taat beragama saja tidak cukup, semuanya hanya kemunafikan semata..
    Maaf saya hanya sharing saja karena sudah tidak tau mau cerita ke siapa lagi..
    Thanks

    Suka

  181. Somebody mengatakan:

    Kenapa isi artikel ini kena banget yaaa
    Aku jadi sedih
    Sifat kedua org tua ku kayak gitu
    Sekarang aku jadi orang yg pemberontak😦
    Dulu aku diam saja kalau setiap orang tua selalu ungkit2 pemberian mereka, kata2 kutukan dari mereka juga sering mereka ucapkan gelar “anak durhaka” sering mereka tujukkan ke aku….
    Tapi sekarang aku ngerasa bener2 jadi anak durhaka,, diumur aku yg udah 25 tahun ini aku jd lebih suka menentang pikiran org tua yg tidak sejalan dengan aku, aku jadi tidak suka di dikte oleh org lain. Sebnernya sedih, aku takut sifat aku menurun kalo aku udah punya anak nanti…. Mudah2an saja tidak,, aku mau belajar dari kesalahan orang tua mendidik aku dulu!

    Suka

  182. zahra mengatakan:

    Gua setuju banget sama tulisan lu seharusnya sebagai orangtua itu pemikiran harus lebih terbuka bisa jadi temen tapi apa nyatanya boro boro orang tua yang kita anggep bisa jadi tempat kita yang paling amat malah jadi tempat yang paling terburuk malah buat anaknya down

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Trims sudah berbagi & berkunjung ya🙂

      Suka

      • Adi Saputra mengatakan:

        Dear all.
        sebelumnya saya pernah bercerita disini tentang sedikit kehidupan saya dengan permasalahannya, saya menyalahkan orang tua dengan sikap mereka atau muncul pertanyaan di benak teman2 ” siapa yang salah?” “apa yang salah?”

        Tentu saja saat pendapat/pola pikir kita bertentangan dengan orang tua, apa lagi bagian paling sensitif yang ita miliki soal Cinta,kita sampai berfikir “orang tua yang kita anggep bisa jadi tempat kita yang paling amat malah jadi tempat yang paling terburuk malah buat anaknya down” itu sesuatu yang sangat salah kita menyimpulkan. bahkan mungkin ada beberapa dari kita sebagai anak sampai membentak atau bersikap kasar kepada orang tua yang seharusnya itu benar2 tidak perlu dan salah. meski memang tak jarang ada orang tua yang tidak bersikap /berfikir selayaknya orang tua. tetapi ada yang perlu kita ingat. arti dari kata ORANG TUA mereka adalah orang yang lebih tua tentunya yang memiliki pengalaman hidup yang lebih dari kita tau dan mereka lebih mengenal kita dari pada diri kita sendiri. seegois apapun mereka, hanya 1 tujuan mereka ingin anaknya hidup bahagia.

        kali ini saya hanya ingin berbagi pengalaman yang mungkin bisa menjadi bahan pemikiran dan pertimbangan teman2 yang lain yang memiliki masalah serupa.

        setelah berbagai kesalahpahaman yang ada yang pernah saya ceritakan disiini,berbagai peristiwa buruk terjadi sampai saya benar2 jatuh, saya berfikir dan memiliki pertanyaan “mengapa ini semua terjadi?” dan ” apa penyebabnya semua ini terjadi?”.

        Dulu saya berpandangan apa yang saya perbuat ini benar dan yang orang tua sangkal itu salah. tetapi setelah berbagai peristiwa buruk yg saya alami saya rangkai saya pelajari apa sebabnya. dan kini saya menemukan segala sumber dan penyebab ini semua terjadi. penyebabnya adalah KEEGOISAN SAYA kurangnya pemahaman saya tentang apa yang dimau orang tua. dan saya mulai perbaiki 1 /1 satu, sampai saya bersujud dikaki orang tua saya untuk meminta maaf atas semua kesalahan dan sikap saya dan sekarang semua secara perlahan menjadi normal keluarga saya kembali kasih sayang yang ada begitu terasa dan saat mengingat segala kelakuan saya dulu saya hanya bisa tertawa menertawakan diri saya sendiri alangkah bodohnya saya berbuat sperti itu. orang tua ya orang tua oegisnya mereka selalu punya alasan terbaik untuk anaknya.

        yang perlu kita ingat adalah “Orang tua selalu ingin yang terbaik untuk anaknya meskipun tak jarang cara mereka salah” kita sebagai anak sudah selayaknya mencoba memahami mereka. saya rasa itu bukan hal sulit dibandingkan dengan perjuangan orang tua kita melahirkan, mendidik dan berjuang untuk kehidupan kita. kita akan mengerti itu semua saat kita sendiri menjadi yang namanya ORANG TUA.

        untuk teman2 yang sedang dalam keadaan sulit. Nasehat dari orang lain tak akan berguna untuk kalian yang kalian perlukan untuk keluar dari maslaah seperti ini adalah diri kalian sendiri. cuma kalian sendiri yang bisa. cobalah menengkan diri dan hati kalian coba perfikir dan perpandangan luas melihat segalanya dari berbagai sisi, dan minta petunjuk dari tuhan apa jalan yang terbaik. jangan sampai menjadi anak yang durhaka.

        Saya ucapkan Terima Kasih Kepada Pemilik BLog ini dan semua teman2 yang sudah banyak cerita disini dari sini pun saya mempelajari berbagai pola pikir untuk menemukan jawaban atas apa yang terjadi dan bagaimana solusinya.

        “Jalan cerita dalam hidup ini adalah scenario Tuhan untuk kita, agar kita dapat menjadi manusia yang lebih baik jika kita dapat melaluinya dengan bijaksana”

        Suka

      • nugraheniismyname mengatakan:

        Trims sudah berbagi dan berkunjung kembali… tapi memang tidak bisa dipukul rata karena masing-masing memiliki problem yang berbeda2. Ada memang karena sikap dan sifat ortu yang keras dan kasar dan pemarah sementara anak sudah selalu menurut pada ortu.

        Untuk melalui masalah termasuk masalah hubungan anak dg ortu itu mendengarkan saran positif orang lain, membaca artikel ttg problem ortu dan anak, membaca komentar anak yang agak senasib itu juga perlu untuk dijadikan referensi dan pandangan. Namun yang menentukan langkah dan keputusan adalah diri sendiri.

        Semoga anak-anak yang mengalami masalah dg ortu masing-masing bisa mendapat jalan yang terbaik dari Tuhan.

        Suka

  183. dikaganteng mengatakan:

    saya tinggal dan bekerja dengan perusahaan yang didirikan oleh ayahanda saya,saya anak ke lima dari 6 bersaudara.saya telah menikah dan punya anak 2,yang satu kls 5 sd,yang satunya lagi 2 tahun.saya tinggal di rumah dengan ibu saya, rumah tersebut bersebelahan dengan kantor kami.kakak saya juga ikut bekerja di kantor ayah saya . setelah ayah saya meninggal,banyak kesedihan dan tidak adilan yang saya rasakan. ada kakak yang tidak bekerja tetapi tetap mendapatkan gaji, sementara saya sudah bekerja dengan sepenuh hati, tetapi masih juga dimarahi ,sama ibu saya….saya sedih, kadang mesti kepada siapa harus mengadu.saya tidak ingin menjelekan ibu saya /curhat pada siapapun ttg ibu saya karena ibu adalah segalanya bagi saya. saya sedih mengapa ibu saya terkadang tidak bisa memahami kesibukan saya di kantor,sementara harus mengurus anak dirumah.saya ingin mencari orang lain untuk mengurus anak saya, tetapi tidak boleh oleh ibu saya.terkadang terpaksa bekerja malam hari karena tidak ada yang mengurus anak saya .saya seperti dilema berada dirumah ini.sementara kakak yang lain sudah punya rumah,adek saya pun setelah menikah satu bulan kemudian sudah pindah kerumahnya.saya disini sudah hampir 14 tahun…sakit sekali rasanya.

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Terimakasih sudah berbagi. Berusaha sabar dan ikhlas saja sambil terus berdoa dan berusaha semoga rejeki dan pahala dilimpahkan kepada Saudara. Tapi kalau kondisinya sudah parah, ada baiknya didiskusikan atau musyawarah keluarga.

      Suka

  184. Puja mengatakan:

    Asaalamualaikum..terima kasih atas postingannya.postingan tersebut sama dengan yang saya alami sekarang.usia saya 36 tahun dan sudah beristri.saya sengaja mengajak istri saya tinggal bersama orang tua saya karena merasa iba disaat mereka menua tidak ada yang menemani.orang tua saya cukup berada,tapi dengan keberadaannya ibu saya menjadi sangat otoriter.saya dan adik” pun merasa kalau dari kecil kami selalu dipaksa mngikuti kemauan ibu.trkadang kami ingin berontak tapi selalu dibayangi kata” DURHAKA.
    Singkat kata saya sering betengkar dengan istri karena ibu selalu memaksakan kehendaknya,adik” pun lebih mimilih menjauh.saya berencan untuk pindah lagi dengan maksud untuk menjaga jarak dengan ibu.apakah ti dakan saya ini benar ?
    Mohon jawabannya terimakasih.
    Asaalamualaikum …

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Wa’alaikumussalam wr wb…

      Kalau orang sudah berkeluarga memang ada baiknya tinggal di rumah sendiri. Hal ini supaya urusan rumah tangga bisa dibina sendiri tanpa dicampuri pihak lain termasuk pihak ortu.
      Kalau untuk berbakti kepada ortu bisa dengan menjenguk ortu minimal 1 sekali, telepon, atau kalau ortu ada kesulitan bisa dibantu.
      Sekian. Maaf klu kurang berkenan.

      Suka

  185. poetry amalia mengatakan:

    usia saya 19thn
    bayi, saya diasuh nenek
    beranjak dewasa saya diasuh ayah, mulai dari sekolah sampai hal” kecil
    saya sering berantem sama ibu saya
    tpi saya ada rasa jengkel karena tiap berantem dengan ibu saya dy selalu mengucap kata yg kasar, bahkan ngatai saya yg nykitin hati ,, saya punya kakak dy lebih dekt dgn ibu saya soalny bayi sampek besar diasuh ibu saya, tdk pernah dy mengumpat bila jengkel sma kakak saya kdg saya mersa apa sya ini anak kandungnya
    bahkan sya bisa sakit hati klo ibu saya memarahi ayah saya
    tiap saya bilang sakit pasti ada kalany dy marahin saya tdk pernah sekalipun memints saya buat prriksa ke dokter selalu ayah saya yg perhatiin saya , suruh periksa walopun ke puskesmas
    hidup saya sederhana tpi ayah saya tanganny sakit kesetrum listrik tdk bisa bekerja berat. , dy guru ngaji ngurus masjid, jaga rumah tetangga, cuci mobil tetangga dll.
    minggu” ini saya kerja pula g malam , badan sakit smua tpi saya tkut ngeluh ke ibu saya takut dimarahin jdi sya pijetin sendiri kaki saya dengan minyak urut, pundak saya juga sakit malah digerakin sakit dikerjaan saya sdh tdak kuat kepala jga psing sampek saya minta teman saya kerokin masih sakit tapi sya tdk bisa mjnta bantu ibu buat kerokin krna saya sudah trauma minta pijet tpi akhirnya harus nrima makian
    ibu saya kerja di pabrik kecil perumahan. gajiny lumayan 1minggu skali. ibu saya ibdahny rajin
    saya tiap bulan bri ibu saya uang tpi ada rasa jengkel krna tiap tdk punya uang saya slalu jdi sasarn dy marah sampek berantem
    hari ini saya berantem lagi sama ibu saya, mengingat kembli tiap ingin membeli kebutuhan rumah slalu dimarahin malah sya ingin beli mesin cuci buat ibu saya biar tdk kecapean dimarahin
    dy bahkan bilanh ke saya “klo anak kerja smua tiap gaji diberi uang pasti tercukupi” waktu saya mengelu pasta gigi,sabun habis
    saya merasa tdk dihargai, pdhal tiap gaji sya slalu ngash uang walopun kdng kerja saya pas libur panjang gajinya sdkit jd tdk bisa kasih
    kakak saya tdk pernah memberi uang gajinya sedikitpun ke ibu saya tdk pernah dy mengeluhkan itu,, malah makian sata slalu ditujukan ke saya, tiap mengeluh tdk punya uanng kesaya terus harusny kakak saya yg menanggung beban rumah tangga karena dy laki” umur 27 tpi kenapa sya umur 19 hrus menanggung smua ini kdang say merasa ingin bunuh diri tidk kuat menghadapi ini smua tpi saya memikrkan gmna nasib ayah saya nanti, ingin. pergi de gan ayah saya agar hidp tenang
    saya butuh perhatian butuh kasih sayng ibu saya sayang ibu
    saya harus gimana ya Allah 😭😭😭

    Suka

  186. arrumretnosari mengatakan:

    Bapak saya melakukan kesalahan dengan menikahi wanita lain dibawah tangan tanpa sepengetahuan Ibu saya. Singkat cerita, Ibu marah besar dan mulai memaki dan menghina Bapak didepan anak-anaknya. Berbulan-bulan Bapak pergi karna diusir Ibu, sampai akhirnya Bapak kembali kerumah karna tdk punya biaya hidup dan diperas istri mudanya. Ibu terpaksa menerimanya dirumah tapi Ibu sdh tidak lagi memperlakukan Bapak seperti suami. Mereka pisah kamar tapi tidak bercerai. Bapak mulai memperbaiki diri tapi Ibu tidak pernah mau terima Bapak dan terus memaki dan menghinaBapak didepan anak-anaknya tiap ada kesempatan. Saya sakit hatidengan sikap Ibu, bukan hanya Ibu yg dikhianati Bapak tapi kami anak-anaknya juga dikhinati tapi kami tidak bisa memilih antara Ibu atau Bapak karna keduanya adalah orangtua kami. Ibu tidak terima ketika saya mengingatkan, katanya saya membela Bapak tapi ketika saya diam, Ibu semakin merajalela dan saya makin sakit hati. Terpikir untuk pisah rumah dengan Ibu dan membawa Bapak keluar tinggal dengan saya dan membebaskan mereka dari neraka ini tapi Ibu saya bukan tipikal yang akan puas begitu saja, Ibu tidak rela saya mengeluarkan uang sepeser pun untuk Bapak padahal saya sebagai anak punya kewajiban memelihara orangtua seburuk apapun dia dulunya. Saya sakit hati dengan Ibu karna Beliau pikir cuma Beliau yang tersakiti.

    Suka

  187. ilmi nursaskia jp mengatakan:

    Ilmi hanya in gin, abi lebih focus ke pada anak anaknya
    Tidak mementingkan orang lain. Hanya itu.
    Salah kah ilmi?

    Suka

  188. Mawar mengatakan:

    aku merasa rumahku tentram bgt kalau papa ga lagi dirumah.. kalau dirumah aku seperti kena teror kalau dia dirumah,.segala hal harus di perhatikan agar dia ga marah2.. kalau udah marah kata2nya n perbuatannya bkin sakit hati, n sebagai anak rasanya sedih bgt liatnya.. emang ga main tangan, tapi kata2 n perbuatanya itu bnran bkin aku secara psikologis hancur bgt, smpe ngrasa takut untuk berdekatan.. dia egois mentingin diri sendiri.. ga mikirin orang lain.. aku berharap bgt hal ini bisa berubah..

    Suka

  189. Ajeng Dwi Lestari mengatakan:

    Aku selalu jadi pelampiasan mereka .
    Mereka cmn mementingkan diri sendiri .

    Suka

  190. ㅤnung (@Nurhyth) mengatakan:

    saya dari sd sudah dididik keras sama mama, mama orang yang keras suka mencaci dan bercarut. saya selalu diam saja menangis jika di caci padahal hanya hal sepele menurut saya. mama peduli namun seperti tidak peduli (seperti gengsi). bertanya apapun selalu lewat adik saya. sebegitu jijikkah ia berbicara dengan saya? saya capek hidup dengan seperti ketidakpeduliaan. masuk smk saya benar benar jadi orang yang keras, tidak peduli dan galak. namun saya juga dipandang “pembuat kelucuan” oleh guru dan teman2 saya. dirumah saya pulang langsung ke kamar. saya melakukan semuanya dikamar (kecuali mandi dan sejenisnya), karna saya tidak tau harus melakukan apa. saya tidak pernah berbincang bincang dengan mama saya. mama juga tidak pernah menanyakan bagaimana saya,sekolah, dan hidup saya. saya merasakan dampak perlakuan mama saya terhadap saya sekarang. saya sekarang melawan jika mama saya mencaci saya. saya tau saya seperti anak durhaka, saya juga tidak tau kenapa saya melakukannya. saya hanya sudah jenuh memendam emosi bertahun tahun. saya hidup namun tidak seperti hidup.

    Suka

  191. novasagita mengatakan:

    saya seorang remaja lelaki yang berumur 18 tahun dan saya adalah anak yang sudah terlanjur cuek dan tidak peduli kepada apapun tindakan orang tua saya orang tua saya entah tindakan yang berhubungan dengan sya atau tdk sy cuek saja. itu karena dari kecil mereka selalu memaksakan kehendaknya terhadap saya ,dan tidak pernah menghargai saya sedikitpun,tentang apapun itu, dan samasekali tidak mengerti saya, jika saya bertanya kepada mereka selalu di jawab dengan nada yang cetus.padahal sya bukan termasuk anak yang bandel ,sya tdak merokok ,tdak minuman keras, tdak ngegank,dan lain lain, mereka selalu mau menang dan memojokan saya meski kadang dengan alasan yang krang logis, dan akhirnya dengan semua itu dari beberapa tahun lalu saya memilih untuk diam,dan tidak peduli dengan apapun yang meeka lakukan,dan jika mereka memarahi saya saya cuek dan sangat diam ,dan saya memang mendengarkan amarahnya tapi sy tidak bisa mengingat satu katapun yang mereka ucapkan,dan saya sudah menjauhkan diri saya dari mereka sy tidak pernah memulai percakapan ataupun bertanya kepada mereka, dan jika mereka bertanya saya hanya menjawab seperlunya, 1-2 kata saja ,kadang tidak menjawab,karena semua dari perkataan dan tindakan saya hanyalah awal dari masalah bagi mereka,

    tolong bantu saya apakah sifat sy yang cuek itu akan berdampak baik atau buruk bagi saya tolongggg!!!!

    terimakasi!!!

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Cuek untuk menanggapi hal-hal yang negatif tentu baik agar kita tidak tertekan. Namun bila untuk menghadapi segala hal yang berdampak positif sebisa mungkin jangan cuek.

      Cuek di sini yang kamu maksud itu “let it go” atau cuek lalu diam dan dipendam di dalam hati dan pikiran. Bila cuek di sini adalah “let it go” dan membiarkan hal2 negatif berlalu agar tidak tertekan ya tidak apa2. Tapi kalau cuek di sini kamu menjadi anti-sosial, atau seperti tidak ada masalah tapi aslinya memendam masalah dan lama lama tumbuh menjadi dendam itu sebaiknya dihindari karena bisa jadi menjadi salah satu gangguan kepribadian, gangguan mental, gangguan jiwa.

      Jadi ada baiknya cuek bila menghadapi hal2 yang berdampak buruk bagimu, namun jangan biarkan dirimu menjadi anti-sosial.
      Tetap berbuat baik kepada ortu karena Tuhan lebih tahu segalanya. Jangan dendam atau benci. Yang buruk kita buang dan yang baik kita pertahankan.

      Sekian. Bila tidak berkenan harap maklum.

      Suka

  192. Melinda Wong mengatakan:

    Saya anak pertama dari 4 bersaudara, adik saya semuanya laki2, hanya saya kakak perempuan tertua.
    Kenapa ya, sejak TK usia 5 tahun, sy sudah selalu di pukuli, di tampar dimarahi dll.
    Sedangkan adik laki2 sy tidak pernah sm skli di pukul bahkan di tampar oleh ortu saya.
    Ortu saya adalah pasangan sutri yg berbeda keyakinan. Sampai sekarang detik ini, saya anak perempuan sendiri yg harus menanggung semuanya, saya bahkan awalnya Buddha pindah Kristen dan terakhir ini sy Muallaf. Mami sy selalu plin plan ketika dulu sy di suruh Muallaf, dgn senang hati sy mempelajari Islam. Sekarang sy sdh Muallaf dan belajar Islam, apalagi skrg sy sdh kuliah mami sy sllu marah2 hampir tiap hari kepada saya. Terlebih lagi masalah yg terakhir adalah kemarin, sy habis Opname Tifus+Dbd habis 13juta, kemudia sy di belikan motor barhampir 20jt, beli Hp 3jt dan sy hbs jalan2 ke Mks 5jt Semua itu total -/+ 40 juta selalu di ungkit mami dihadapanku. Tetapi kenapa??? Adik sy laki2 beda setahun umurnya dgn saya, dia hbs beli motor bekas 7jt dan kemudian skrg di gantikan motor baru motor laki (merk terkenal) 35juta, HP lebih bagus dr sy seharga 4jt, uang jajan di kasih tiap bulan, sdg sy sudah 4 bulan libur setelah lulus SMA sy tidak di kasih. Tapi adik sy kalau melawan atau berbuat salah sdkit tdk pernah di marahi. Kenapaaaaaaaa

    Suka

  193. Anak Punk mengatakan:

    1,2,3,5 itu saya😦
    bapak saya orang jawa timur terkesan keras, salah sedikit(sepele) marah mencaci,membandingkan.

    saya merasa ingin membunuhnya akan tetapi saya masih punya masa depan dan ingat dengan tuhan… dan saya hanya bisa berdoa

    Suka

  194. Boom mengatakan:

    ayah saya dari kecil selalu merasa dirinya anak tunggal, padahal punya 2 adik angkat. dia egois dan tdk memikirkan perasaan orang lain, akubatnya dikantor ia kehilangan wibawa dan dibully oleh byk orang. sesampainya dirumah ia jd sering melampiaskannya ke anak2nya. ia tdk peduli dgn istri dan anaknya, justru sering memicu keributan. saya merasa tertekan…. apa ada saran utk saya? saya sudah berupaya menasehati dan memberi saran sbg seorg anak tp dia tdk mau mendengarkan.

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Maaf sebelumnya kalau tidak berkenan, bisa jadi ayahmu mengalami gangguan kepribadian atau personality disorder. Saya menggunakan kata ‘bisa jadi’ karena itu hanya opini saya sendiri, dan juga saya bukan psikolog, dan bukan juga psikiater.

      O.k.i. berkonsultasi dengan ahli yang tepat seperti psikolog atau juga psikiater mungkin bisa memberi jalan keluar. Sekian jika tidak berkenan, maaf…

      Suka

  195. Septina mengatakan:

    Apa yg dikatakan sdr nugra sgt cocok dg kondisi sy saat ini. ‘Perlakuan2’ ortu thd anaknya lbh cenderung scr psikis drpd scr fisik.

    Kalo boleh blak2an, sy berbicara mengenai ibu sy. Beliau adl figur yg dikenal baik bg byk org. Namun yg membuat sy tdk s7an dg beliau adl ketika ia sudah mengungkit-ungkit kesalahan sy dimasa lalu, sll mengatakan klo sy adl anak yg ‘ sll mengabaikan ortunya’ (sakiitt rasanya :”( pdhl sy tdk separah itu) dan membanding-bandingkan sy dg org lain .. ya mskipun 7annya dmi kebaikan, namun sy g suka dg caranya.
    Dan kondisi sy skrg ini,,,sy mjd pribadi yg tertutup pd ortu, sll mengalah apa yg ortu inginkan wlpn tak sejalan dg sy (drpd jd anak durhaka, lbh baik ikuti saja), cenderung ‘masa bodo’ dg keadaan (mis. Ketika ada konflik sy akan cuek dan menjauh dr mereka utk smntara).
    Disisi lain, kdg sy suka ngebatin, “yaa ini memang smua salah sy yg membuat ortu mjd spt ini”. Dan yg bs sy lakuin adl ttp trs mencoba utk menyenangkan hati mereka dan berdoa spy diberi kesabaran dan kekuatan hati dlm mghadapi permasalahan sy thd ortu.

    Suka

  196. Ayu mengatakan:

    Mas Saya Kasihan Lihat Suami Saya yang harus melayani orangtuanya sampai2 tidak tidur hanya untuk keinginan orangtuanya. Bagaimana caranya hati ini ikhlas melihat suami di kekang oleh orangtuanya sendiri? dan apa yang harus saya lakukan ketika saya di batas ambang kesabaran melihat suami lebih mementingkan orgtuanya daripada dirinya sendiri dan anak istrinya? 😦
    dan Mas jujur suami belum bisa memenuhi kebituhan saya sebagai istrinya. meskipun suami mampu untuk memenuhinya dengan bekerja tp saat ini untuk bekerja pun waktunya tersita karen melayani orangtuanya.
    saya sebagai istri harus bagaimana?😦

    Suka

  197. jenik mengatakan:

    Assalamualaikum, mungkin memang banyak orang tua yang salah dalam mendidik anak karna memang mereka berfikir apapun sudah mereka berikan yaitu materi yg tak lain adalah harta. Mereka tidak berfikir kasih sayang adalah yg paling dibutuhkan anak. Sama seperti saya yg dulu pernah berfikir bahwa saya memang bukan anak kandung mereka, karna wajar apa yg saya lihat dulu di televisi banyak menayangkan cerita tentang anak tiri. Dulu saya lebih dekat dengan ayah dan abng lebih dekat dengan ibu, ketika kami tumbuh besar tentu ayah yang seorang kepala rumah tangga jarang berada dirumah bahkan hari libur pun iya sibuk bekerja berbeda dengan ibu yang selalu dirumah, akibatnya saya merasa kurang kasih sayang dan tidak merasa dekat dengan ibu. Saya tumbuh menjadi orang yang mandiri dan pendiam berbeda dengan abang yang pandai dalam pergaulan dan cenderung ramah, itu menyebabkan ibu merasa saya orang yang berjiwa keras. Ketika kami menonton sesuatu yg sedih ia akan menangis berbeda dengan saya yang hanya akan tertawa dan kemudian berkata” yaaah ibu nangis padahal gak sedih gitu”, padahal saya merasa cerita itu benar benar sedih bahkan saya juga ingin menangis dan mata saya sudah berkaca kaca tetapi saya tidak mau ibu bersedih karna itu saya membuat candaan. Berbanding tebalik dengan ibu yang merasa saya memang orang yang keras hatinya. Ada alasan yg lain juga, karna ibu yang tidak terlalu dekat dengan saya membuat saya enggan membuka titik terlemah dalam diri saya bahwa melihat ibu menangis juga mengiris hati saya, saya juga ingin saya menjadi orang yang bisa membuatnya tertawa. Ketika kami mulai remaja saya sudah mulai merasa ada yang berbeda bahwa kasih syang ibu kepada sya dan abng terasa berbeda, ketika kami berbelanja ibu akan menggandeng abang bukan pada saya sebagai anak perempuannya, ktika dirumah ibu bahkan pernah tidur dikamar abang setelah asik bercerita yang bahkan iya tidak pernah melakukannya dengan saya, ketika bepergian iya akan membawa banyak oleh oleh untuk abang dan berkata pada saya ” ibu gatau ukuran bajumu jadi gak bisa ibu belikan” bahkan iya bisa membeli benda lain seperti jilbab dan tas yang tidak memerlukan ukuran, ketika saya tidak memdapat juara satu saya akan dikatakan bodoh berbeda dengan abang yang hanya dikatakan nilainya naik sih walaupun gak dapet juara, ketika saya mengatakan suatu informasi ia tidak langsung percaya dan menanyakannya dulu pada abang baru ia percaya. Bahkan suatu ketika ibu dan ayah bertengkar tentang pembangunan rumah kami, ibu merasa abang harus mendapatkan yang terbaik dibandingkan dengan saya, saat itu ayah pun berkata ” saya tahu kamu lebih menyayangi si abang dari pada si adik, tapi tidak boleh seperti itu. Kita sebagai orang tua harus adil, kamu ga tau seberapa sakit hati saya karna orang tua membedakan saya karna itu jangan pernah membeda beda kan anak saya. Apalagi dia itu perempuan seharusnya kamu harus lebih dekat dengannya dibanding saya”, saat itulah saya merasa tidak apa jika memang ibu merasa senang memperlakukan saya seperti itu tetapi jangan buat saya menjadi alasan ibu dan ayah bertengkar itu terasa lebih menyakitkan.

    Menurut saya terkadang orang tua memang begitu tetapi mereka juga berfikir apa yang terbaik untuk kita walau dalam cara yang salah, tidak ada orang tua yang berniat jahat pada anaknya kecuali memang dia tidak beriman. Kita sebagai anak seharusnya mengingatkannya jika salah, dan jika tidak bisa selama itu tidak masuk dalam tindak kejahatan biarkan saja, toh hidup ini sudah ditakdirkan Allah kita hanya perlu menjalaninya dengan ikhlas dan tabah. Allah yakin kita pasti bisa menjalaninya walau itu terasa sangat menyakitkan. Tetap berusaha dan berdoa bersujudlah kepada-Nya dan jangan lupa kepada-Nya sesungguhnya Allah adalah tempat yang paling tepat untuk mengadu. Sekian cerita saya assalamualaikum….

    Suka

  198. novie mengatakan:

    umurku 22 tahun aku 3 bersaudara aku perempuan,kakaku dan adiku laki2 , namun kakak ku beda ayah, hal2 yg paling saya ingat sejak kecil barang2 yg dibelikan ayah saya untuk saya seperti dot balita , mainan anak2 kecil semua kepunyaanku di berikan kepada kakak ku, aku masih ingat pada saat itu aku ingin sekali minum susu namun aku di kasih digelas yg besar seukuran cangkir beling oleh ibuku dan aku di suruh menghabiskanya padahal waktu itu aku masih sangat kecil, dan aku melihat kakak ku duduk di sofa menggunakan dot kepunyaanku, lalu setiap aku menangis aku selalu di kurung di kamar mandi dan disiram dengan air botol es dari kulkas, masih teringat jelas saat berulangkali aku dikurung pada masa kecil ku. ya itu sebagian kecil yg paling aku ingat. semakin besar semakin aku semakin sadar bahwa ibuku tidak menganggapku sebagai anaknya, suatu ketika aku sesak napas dan benar sakit di bagian dada, aku bilang ke ibuku bahwa aku sesak napas dan ingin ke rumah sakit, namun dia berkata “alah lebay, makanya jadi anak tau diri, kalo udah mau mati mah mati aja ga usah nyusahin” saat itu aku tidak bisa menahan air mataku, adiku hanya diam melihat semua itu, lalu aku menangis dikamar sambil menahan sakit dan sesak, dan saat itu aku hanya berpikir seandainya memang aku akan mati, aku terima dari pada aku harus merasakan sakit atas perkataan ibuku. akhirnya ayahku melihatku menangis lalu mengantarkan ku ke dokter.
    kejadian lainya disaat ayahku memarahi kakak ku, ibuku tidak terima dan menyalahkanku seakan2 itu karena aku,karena aku dianggap lebih dibanggakan dibanding kakaku padahal semua diperlakukan sama oleh ayahku, akupun jg sering dimarahi ayahku dulu tapi ketika aku menyelsaikan kuliahku lebih cepat dari kakaku ayahku berubah dan menjadi lebih baik. namun ibuku semakin membenciku padahal aku adalah anak kandungnya, aku selalu di sumpah2in kecelakaan, disumpahin ga akan berhasil, disumpahin mati, dll. setiap ibu ku memasak makanan pasti ngumpetin masakanya sampai kakaku memakanya duluan, dan bahkan sering kali aku hanya dikasih sisa masakanya, setiap dia pergi berbelanja dia hanya memikirkan kakaku dan membelikan barang2, padahal kakakku itu telah membuat aib dalam keluarga, dia menghamili anak orang, dan lagi2 motor kepunyaanku yg dibelikan oleh ayahku dijual untuk tambahan biaya pernikahan kakaku, tidak hanya itu masih banyak barang lain kepunyaanku yg dijual oleh ibuku. aku ikhlas, aku tidak pernah marah setiap kepunyaanku yg dijual. namun lagi2 aku dikata2i oleh ibuku karna aku tidak seperti kakaku yg mempunyai pacar(sudah menjadi istri) orang kaya, ibuku malah bangga walaupun kakaku menghamili anak org setidaknya itu anak orgkaya, dan aku hanya diam, padahal aku anak perempuan satu2nya tapi kenapa ibuku mengajarkan aku untuk memandang seseorang dari harta?nyatanya kakaku itu adalah anak diluar nikah dari org kaya yg tidak bertanggung jawab yg pada akhirnya ayahku yg bersedia untuk menikahi dan membesarkan kakaku. pada saat wisuda d3, ibuku bilang tidak mau datang, lagi2 aku menangis.
    aku sudah membantu pekerjaan rumah sebisaku, tapi tidak dihargai, bahkan ketika aku sakit ibuku tetap menyuruh2ku. padahal aku cukup rutin membelikan hadiah ulangtahun dan kue ulangtahun serta hadiah di hari ibu, entah mengapa itu semua seperti tidak ada harganya dibanding kakaku.
    sampai pada saat aku mengetahui ibuku berselingkuh , dari sms yg ku baca di hpnya, lalu aku disuruh diam dan tidak memberitahukan kepada ayahku, aku tidak tau harus berbuat apa, dan pada saat ayahku mengetahui perselingkuhan ibuku, aku melindungi ibuku, aku terpaksa berbohong, dan pada akhirnya ayahku memukul dan menendangku karna ayahku tau aku bohong demi membela ibuku yg sudah berselingkuh. namun apa yg kudapat? ibuku tetap tidak mempedulikanku, dia tetap berselingkuh dibelakang ayahku, dan aku ayahku sudah lelah untuk bertengkar, ayahku sering cerita kepadaku bahwa ayahku ingin cerai , bahkan dari dlu sejak aku masih sekolah, namun dia memikirkan anak2. pada akhirnya aku sadar aku tidak akan lagi menutupi perselingkuhan ibuku, dan ayahku tau semuanya, namun ayahku tetap bertahan dalam diam seolah tidak ada apa2.
    ayahku selalu bilang “kalo mama lagi marahin kamu apapun itu,mau kamu salah ataupun benar, diemin aja jangan kamu jawab, apalagi jangan sampe kamu disumpahin, nanti kamu yg kenapa2″ . aku sebenernya ingin nangis kenapa ayahku tidak membelaku dan menyuruhku diam. tapi ya aku hanya bisa mengikuti perkataaan ayahku.
    aku sebenernya ingin membenci ibuku, namun aku tau dia tetap ibuku yg melahirkanku, dan aku memutuskan untuk tidak tinggal dirumah lagi mulai bulan depan karna aku sudah lulus s1, dan sudah menyelesaikan semua urusan kuliahku, dan kakaku dia masih belum lulus sampai saat ini namun dia masih selalu dibanggakan oleh ibuku. aku tau dalam hidup ada beberapa hal yg tidak bisa kita pilih, yaitu dengan siapa kita dilahirkan , dan jenis kelamin apa. namun seandainya aku bisa memilih itu semua, aku ingin memilih orgtuaku sendiri, aku hanya ingin sosok ibu yg sangat sayang denganku, yg bisa aku jadikan tempat sandaran. dan juga seandainya ibuku lebih menyukai anak laki2 dan aku bisa memilih aku ingin menjadi anak laki2.

    Suka

  199. tyooo mengatakan:

    sebenernya kalo menurut agama islam(agama saya) tidak dibenerkan juga orang tua bersifat semena2 pada anak kita dapat melihat itu di kisah sahabat nabi yang di muliakan umar bin khtab sebagai berikut ketika sepasang orang tua datang pada dia mengadukan anaknya :

    Seseorang pernah datang kepada ‘Umar ibn Khaththab radhiallahu ‘anhu dan mengadukan anaknya, “Anakku ini benar-benar telah durhaka kepadaku.”

    “Apakah engkau,” kata ‘Umar ibn Khaththab kepada sang anak, “tidak takut kepada Allah dengan durhaka kepada ayahmu, Nak? Karena itu adalah hak orang tua,”

    “Wahai Amirul Mukminin,” balas sang anak membela diri, “Bukankah anak juga punya hak atas orang tuanya?”

    “Benar, haknya adalah memilihkan ibu yang baik, memberi nama yang bagus, dan mengajarkan Al-Kitab (Al-Quran).”

    “Demi Allah, ayahku tidak memilihkan ibu yang baik. Ibuku adalah hamba sahaya jelek berkulit hitam yang dibelinya dari pasar seharga 400 dirham. Ia tidak memberi nama yang baik untukku. Ia menamaiku Ju’al. Dan dia juga tidak mengajarkan Al-Quran kepadaku kecuali satu ayat saja.” Ju’al adalah sejenis kumbang yang selalu bergumul pada kotoran hewan. Bisa juga diartikan seorang yang berkulit hitam dan berparas jelek atau orang yang emosional. ( Al-Qamus Al-Muhith, hal. 977).

    ‘Umar menoleh ke sang ayah dan berkata, “Engkau mengatakan anakmu telah durhaka kepadamu tetapi engkau telah durhaka kepadanya sebelum ia mendurhakaimu. Enyahlah dari hadapanku!” ( As-Samarqandi, Tahbihul Ghafilin, 130) .

    ini dari kitab hadits dimana amirul mukminin umar bin khatab sahabat nabi yang paling bijaksana yang diberi gelar al-faruq (pembeda yang benar dan bathil) tidak membenarkan orang tua itu berbuat semena2 malah dia marah pada orang tua yang bersifat semena2 dan tidak mendidik.

    Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Siapa yang mengabaikan edukasi yang bermanfaat untuk anaknya dan membiarkannya begitu saja, maka ia telah melakukan `tindakan terburuk terhadap anaknya itu. Kerusakan anak-anak itu kebanyakan bersumber dari orang tua yang membiarkan mereka dan tidak mengajarkan kewajiban-kewajiban dan sunnah din ini kepada mereka. Mereka tidak memperhatikan masalah-masalah agama tersebut saat masih kecil, sehingga saat sudah besar mereka sulit meraih manfaat dari pelajaran agama dan tidak bisa memberikan manfaat bagi orang tua mereka.” (Tuhfatul Maudud, I: 229)

    Dan mereka juga nanti orang tua yang semena2 akan diminta pertanggung jawaban terhadap anak2 nya juga kelak di akhirat.

    Rasulullah saw bersabda:

    وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ
    “Seorang suami dalam keluarganya adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungan jawab atas mereka. Seorang istri adalah pemimpin di dalam rumah tangga suaminya dan terhadap anak-anaknya dan dia akan diminta pertanggungan jawab atas mereka.” (HR Bukhari dll.)

    Ibnul Qayyim berkata, “Siapa yang mengabaikan edukasi yang bermanfaat untuk anaknya dan membiarkannya begitu saja, maka ia telah melakukan `tindakan terburuk terhadap anaknya itu. Kerusakan anak-anak itu kebanyakan bersumber dari orang tua yang membiarkan mereka dan tidak mengajarkan kewajiban-kewajiban dan sunnah din ini kepada mereka. Mereka tidak memperhatikan masalah-masalah agama tersebut saat masih kecil, sehingga saat sudah besar mereka sulit meraih manfaat dari pelajaran agama dan tidak bisa memberikan manfaat bagi orang tua mereka.” (Tuhfatul Maudud, I: 229)

    coba perhatikan hadits2 dri rasullulah mereka orang tua yang menggap bahwa anak itu benda atau budaknya mau benar mau salah mau bejat harus ikut kata mereka itu tidak benar.dan apabila mereka menyebabkan kerusakan pada si anak tersebut niscaya saat pengadilan di padang mashar mereka akan terseret ke neraka karna lalai akan tanggung jawab mereka.

    Suka

  200. Anonime mengatakan:

    Yg jelas, yg gw rasain org tua selalu meremehkan anaknya meskipun anaknya sudah bekerja keras, selalu menertawakan anaknya, pokonya gw nyesek kalo org tua gw suka merehkan dan ga menghargai gua.

    Suka

  201. vero mengatakan:

    haloo…maaf sebelumnya, saya punya ide bagaimana yang punya blog ini bisa membuat sebuah komunitas yang berkaitan dengan sikap buruk orang tua terhdap anaknya. sehingga kita bisa sama sama sharing dan mencari solusi dari permasalahan yang terjadi dan emosi dari kekesalan terhadap orang tua bisa diredam dari sharing bersama tadi

    terima kasih

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Terimakasih Vero atas idenya…bagaimana kalau buat grup di fesbuk saja? Bagi yang setuju silahkan bagikan alamat facebook di komentar ini. Jangan khawatir, alamat facebook kalian tidak akan di-publish di sini. Jika ada lebih dari 50, maka akan dibuat grup facebook. Trims.

      Suka

  202. few mengatakan:

    Semuanya memang benar

    Suka

  203. Akanami mengatakan:

    Kalau semisal saya udah berusaha semaksimal mungkin ketika saya melakukan suatu kesalahan orang tua saya mengungkit kesalahan saya dan mengatai saya anak yang tidak beguna,bahkan saya sudah mengajak keluarga berkumpul untuk sharing apa yang saling dibutuhkan tapi tak lama setelah itu masih tetap sama malahan mengatai saya sok agar dikasihani ngajak kumpul keluarga

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Kalau memang melakukan kesalahan dan benar2 salah (bukan karena disalah-salahkan) maka dengan kerendahan hati minta maaf, berjanji tidak akan mengulangi dan menunjukkan sikap menyesal. Dan bilang minta pengertian ke ortu jangan ungkit2 kesalahan karena kamu sudah menyesal dan berusaha memperbaiki diri.

      Sekian jika tdk berkenan harap maklum.

      Suka

  204. anon mengatakan:

    halo. aku mau tanya. gimana cara ngadepin orangtua yang semaumaunya. kalo aku salah aku dicubit, dijambak, dipukul, dikuring di kamar mandi gadikasih makan. gaboleh makan banyakbanyak cuman sehari sekali. aku masih 14 dan aku bingung . mereka baik kalo ada maunya doang. selalu push aku terus buat jadi yang paling pinter di sekolah padahal aku mau ngelakuin hal lain selain belajar teruterussn. tolong bantu ya

    Suka

    • juliperkasa mengatakan:

      Wow. Baru baca.
      Susah yah.
      Sama persis sama saya
      Kepahitan sama bapak
      Susah yah memaafkan.
      Semua kata katanya. Kutukan. Dibandingkan dengan orang lain. Pokoknya saya msh inget banget semua kata katanya yg nyakitin.
      Kesiksa sampe sekarang. Saya kesel jadi semua orang kena. Ngga bisa kontrol emosi.
      Pikiran bawaanya selalu negatif ke semua orang. Saya lbh milih sendiri drpd kenal org lain dan jd sakit hati. Tp malah nyiksa.

      Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Ya sebisa mungkin jangan membuat kesalahan. Berusaha jadi anak baik dan berbakti supaya tidak dimarahi ortu. Melakukan hal lain bisa dilakukan seperti ikut ekstrakulikuler atau kegiatan positif lainnya. Pada dasarnya kita hidup ini memang diharuskan belajar, seperti: belajar menghadapi ortu yang keras, belajar bertahan terhadap didikan ortu yang disiplin, dll.

      Selamat belajar ya…harap maklum jika kurang berkenan

      Suka

  205. kairul mengatakan:

    Nama saya kairul.saya mau curhat.
    Kenapa si mami aku suka banget marahin aku salahkan aku,dan mami ku gax suka kalau aku makan banyak ,ibu aku pilikasi dia cuman sayang ama ade dan kk aku,tapi aku tidak,sampai sampai aku di usir dari rumah,lalu ibu aku selalu gosip ama orang kalau aku selalu ngelawan dia,tapi semuah itu tidak benar,kalau ade aku lawan bicara ibu ku,ibu hanya dia,tapi kalau aku gax pernah ngelawan dia,aku sakit hati sekali,dan akhir nya aku pergi dari rumah dan sampai sekarang aku hanya punya teman.

    Suka

  206. fatkhur rizal mengatakan:

    Seperti yang terjadi kepada saya…
    walaupun saya nurut aja kalo diperintah . saya serasa g dihargain dia tetap
    marah.ngomel.bahkan sampai meninju. kemarin melempar kunci motor ukuran 12 ke kepala saya malah . berdarah tapi pura pura gak apa apa
    Makin g betah makin g nurut lama lama sama ayah sendiri . gimana ya solusinya ?

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Ya memang kalau punya ortu yang dasarnya pemarah, diktaktor, dan pny karakter yang kurang baik; sebagai anak kadang sedih, depresi, ingin marah juga, dll…
      Untuk bertahan dan beradaptasi dg ortu yg seperti itu ada beberapa hal yg bisa dilakukan selama belum bisa mandiri:
      1. Sebisa mungkin jangan melakukan kesalahan yang bisa berakibat fatal hingga ortu marah,
      2. Jadi anak baik,
      3. Jangan terlalu dimasukkan ke hati dan pikiran;
      4. Banyak melakukan kegiatan yang bermanfaat seperti ekstrakulikuler;
      5. Bila ortu marah dan ada tanda2 penyerangan, segera menghindar agar kita tidak celaka atau terluka;
      6. Bila hati ortu sedang lega maka utarakan jika kamu sedih bila diperlakukan kasar, bilang bila selama ini kamu sudah berusaha jadi yang terbaik sebagai anak;
      7. Bila perlakuan ortu bisa mengancam nyawamu maka kamu bisa bilang perilaku ayah tsb kepada sodara atau pihak yang bisa dipercaya untuk menyelamatkan nyawamu,
      8. Tetap berpikir positif untuk bertahan hingga kamu mandiri,
      9. Bila sudah mandiri kamu bisa memutuskan apa yang baik bagi dirimu sendiri dan tidak bergantung kepada ortu dan otomatis kamu tidak membebani ortu lagi.

      Sekian. Bila kurang berkenan harap maklum.

      Suka

  207. kairul mengatakan:

    Kita hanya mampu bersabar

    Suka

  208. rico mengatakan:

    saya juga mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari orang tua. saya setuju dengan artikel ini. orang tua jangan hanya mau, mendengar dan menerima yang manis2 saja mengenai apa yang mereka perbuat. kadang mereka tidak sadar, bahwa perbuatan mereka yg tidak baik itu membuat sakit dan luka kepada anak2.

    saya sebagai contoh;
    ketika saya bercerai, dengan segala kelamahan saya pulang ke rumah. rumah adalah tempat berlindung, dan rumah orang tua adalah termpat perlindungan terakhir. dimana saya berharapa mendapatakan kesejukan atas masalah yang saya hadapi. tetapi, saya malah mendapatkan perkataan kasar. bahwa saya adalah anak yang gagal.
    mereka menutup mata bahwa apa yang saya lakukan juga untuk orang tua. bagaima sika anda bila seorang pasangan anda menghina terus orang tua anda? bahkan tidak tahu kenapa. saya pikir menyakitkan. tetapi orang tua saya mengatakan saya adalah anak gagal.
    parahnya, ketika saya memulai bangkit sendiri dan memulai usaha sendiri. ada hal berkata lain, saya gagal dalam usaha. saya merasakan dukungan moril kurang sekali dari orang tua. dan ketika usaha saya gagal, malah mereka mengeluarkan kata2,” saya sudah tau kamu pasti gagal”

    apakah pantas kata-kata tersebut keluar dari orang tua? untuk anak yang berusaha maju?

    saya ambil hikmah, saya mencoba bangkit. meskipun belum terbukti 100%, naun saya mandiri sekarang, percayalah. adil tetap adil.

    Suka

  209. tama mengatakan:

    sifat orang tua aku ada disitu semua,,
    jujur mbak aku sangat stres bgt menghadapi kya gini dri kecil smpe skrg,,
    yg lebih menyakitkan stlah sya mau nikah org tua sya malah bilang” urus saja persiapan pernikhan mu sndri gue sih ogah”
    sya rasa nya pngn menjerit knp dri kecil aku di perlakukan bgtu,padhal apa yg mereka mau sya slalu kerjakan
    kadang hinaan, kekerasan slalu sya rasakan,,
    setiap hari hati sya menangis,,

    Suka

  210. Chan.chan_01 mengatakan:

    Ini pas sekali dengan keadaan yang saya alami sekarang. Saya juga memberontak tapi ketika saya memberontak mama selalu memaki saya bahkan tak tanggung2 memakai kekerasan fisik. Hal itu membuat saya tidak percaya lagi dengan mama. Saya hanya ingin diperhatikan, pernah suatu saat saya ingin mencoba bunuh diri tapi saya mencoba berpikir bahwa saya masih punya banyak mimpi yang harus diraih.

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Ya terus berpikir besar unt meraih mimpi, menghargai diri sendiri dan selalu menyemangati diri sendiri; walau memang tidak mudah apalagi bila pernah depresi. Tapi tidak boleh kalah dengan depresi, harus selalu berjuang ya

      Suka

  211. ayuningtyas mengatakan:

    betul semua, kupunya keluarga brokenhouse -_- ngga pedulilah yang penting masih bisa makan tidur sekolah

    Suka

  212. Riyo mengatakan:

    Saya tipe anak pemberontak, hal ini terjadi karena ayah saya egois, kadang ayah saya kalo memaki dengan omongan kasar dan bahasa2 isi toilet. Kadang saya itu sedihnya kalo ayah saya itu saat marah nada suaranya tinggi dan menggunakan kata2 kasar yang tidak pantas di depan anaknya. Apa yang harus saya lakukan akan kondisi ini?
    *Saya sebagai anak jadi tidak percaya lagi dengan sikap ayah saya bahkan sebaik apa ucapannya saya tetap tidak percaya, saya tidak mau mengikuti prinsip keegoisannya, karena nyatanya dia sering menggunakan kata2 kotor di depan saya… !!!! saya benci ayah saya.

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Walau berat, usahakan jngn terlalu membenci ayah karena kebencian bisa merusak dan hanya membuat jiwamu berkarat.

      Untuk mengatasi perkataan yang kasar dan kotor memang tidak mudah bagi anak. Bila ortu berkata kasar, anak akan merasa sedih sekali, ingin marah juga, anak menjdi merasa tidak berguna, serba salah, dan bisa rendah diri.

      Ketika mendengar kata kasar bila ingin menangis maka menangislah, bila tidak ingin menangis maka keluar rumah (jalan2 ke tempat yang indah, bertemu dengan teman2 yang menyenangkan, bermain bola, bermain alat musik, dan berkegiatan positif lainnya).

      Selain itu (ini perumpamaan yang paling kasar) untuk menghibur diri…bila ayah berkata kasar sementara kamu merasa tidak melakukan hal2 yang negatif maka kamu bisa anggap itu anjing yang menggonggong. Kamu tidak usah pikirkan dan masukkan ke hati perkataan kasar dan kotor ortumu karena itu seperti kamu memikirkan gonggongan anjing. Ketika kamu lewat di depan anjing dan anjing itu menggonggong maka kamu hanya perlu lewat saja untuk menghindari gonggongan anjing.

      Sekali lagi maaf, bukan bermaksud menyamakan ortu dengan anjing atau binatang…namun ini hanya perumpamaan bahwa kata kotor dan kata kasar kurang pantas diucapkan kepada sesama manusia. Dan kata kotor dan kasar bisa diumpamakan seperti gonggogan.
      Mungkin bila ada perumpamaan yang lebih tepat maka silahkan memberi masukan….

      Namun walau begitu kamu tidak boleh memukul rata semua perkataan ayahmu itu buruk sehingga kamu tidak percaya pada ayahmu. Sebagai manusia pasti ada sisi baik dan sisi buruk. Perkataan ayah yang kasar dan kotor jangan dimasukkan ke pikiran dan hati. Kamu harus berpikiran luas. Sementara itu perkataan ayah yang mengandung kebaikan maka bisa direnungkan untuk kebaikanmu karena kamu harus berkeyakinan sejahat2nya ortu dan sekasar2nya ortu, beliau pasti ingin segala sesuatu yang terbaik bagi anak2nya. Mungkin hanya saja cara mendidik dan membesarkannya yang kurang tepat atau kurang berkenan bagi anak.

      Sekian bila tidak berkenan mohon dimaklumi ya…

      Suka

  213. elaevinda mengatakan:

    saya baru berumur 17 th tpi perlakua seperti it sdh biasa dari yg d marahi sampai g d sekolahkan .ya saya akui saya salah sbg perempuan saya trlalu bnyak brgaul dgn laki’’ .tapi itupun hanya d rumah. Jrg sekali pergi”an .kalau pergi akhrnya akan d marai hbs” an . Saya sudah lelah .saya trmasuk tipe pandai .tapi apa daya .sekolah hrs berhenti d tengah jalan .semua karena kehendak org tua saya. Saya iklas. Kelak saya akan jd org brguna .bisa membntu kedua org tua saya .amin

    Suka

  214. ProudMotherWife mengatakan:

    saya tidak menyangka menemukan pembahasan ini, dan tdk menyangka sangat banyak yang senasib dengan saya. saya juga dibesarkan oleh seorang ibu yang (menurut saya) egois. ayah saya seorang yang baik dan sabar, namun saking sabar nya, beliau tidak mempunyai “gigi” dalam memimpin keluarga. malah beliau termasuk suami yang berdampingan dengan istri yang egois.alhasil, ibu saya lah yang menjadi komandan tertinggi di rumah (padahal ayah saya seorang tentara, can’t you believe it?). Nauzubillahi min dzalik. saya sangat malu dan sedih mengingat kenyataan ini. bahwa tangis dan kesedihan saya selama ini, hampir 99% adalah disebabkan oleh perlakuan ibu saya. miris…..

    Kurang lebih apa yang saya alami serupa dengan rekan-rekan. waktu kecil, verbal, mental dan physical abuse (sejak saya duduk di sekolah menengah, sudah tidak pernah, mungkin karena ukuran tubuh saya yang juga sdh seukuran ibu saya mungkin y? hehehe).

    sekarang saya seorang ibu. alih2 saya dendam terhadap ibunda (saat ini masih hidup, Alhamdulillah, dan masih di bully ^^), saya berusaha mengalihkan rasa sakit saya kepada hal2 yang positif. walaupun tidak saya pungkiri, beberapa kali saya berfikir untuk bunuh diri (bahkan sampai dengan saat saya sdh mempunyai anak. Namun, saya selalu berusaha bersyukur, seperti mengutip kata2 adik saya, bahwa kami mungkin dititipi Allah kekuatan yang besar untuk menghadapi semua ini seumur hidup kami, Maha Besar Allah SWT. Alhamdulillah, saya diberikan seorang suami yang sangattttttttttttttt luar biasa baik (saya ingat, saya ingin punya sosok suami seperti ayah, yang baik dan bagus ibadahnya. supaya bisa membimbing mental saya yang sudah terlanjur hancur). kenapa saya sok2an berusaha tetap keep moving forward dan menyingkir masalah “menye2” itu. “hanya” karena saya ingin memutus lingkaran setan ini. saya tidak ingin ini berlanjut kemudian saya menjadi ibu yang egois thd anak saya, dan istri yang durhaka terhdap suami saya.

    Please don’t, teman2.

    marahlah, jika ingin marah. karena itu perasaan normal (saya pun masih belajar me-manage rasa tertekan, marah dan sedih ini) masing2 kita tau bagaimana baik nya memberi batas untuk rasa marah itu terluapkan. setelah nya banyak2 ber istigfar (bagi yang beragama Islam), dan mengingat bahwa Allah punya rencana. (Ge ernya), anggaplah kita terpilih untuk mengemban beban ini karena Allah titipkan sesuatu yang baik ke depan nya. entah kita bisa mnejadi orang yang lebih berempati dan sensitif thd penderitaan org2 di sekitar, menjadi orang tua yng lbh baik demi masa depan generasi yg lbh baik pula, bisa menjadi istri atau suami yang baik. hal itu bisa kita lakukan, karena kita telah merasakan bagaimana sakit nya “dikhinati” oleh sosok terdekat dalam kehidupan kita. what doesn’t kill you, makes you stronger, isn’t it. Dan tentunya, tetap selalu berdoa, agar orang tua kita bisa diberika hidayah olehNya, sehingga bisa bersama2 nanti di Jannah.

    Sekian….terimakasih rekan penulis, telah menyediakan wadah ini untuk kami berbagi rasa, dan semangat untuk kita semua.

    Ps;
    *silahkan googling keyword “narcissist parents/mother/father”. sebuah validitas dari segi psikologi untuk apa yang dilakukan oleh orang tua.

    **apakah ada milis untuk bisa berbagi? jika ada, mohon info. terimakasih.

    Suka

  215. Niq Oktaria mengatakan:

    saya tidak menyangka menemukan pembahasan ini, dan tdk menyangka sangat banyak yang senasib dengan saya. saya juga dibesarkan oleh seorang ibu yang (menurut saya) egois. ayah saya seorang yang baik dan sabar, namun saking sabar nya, beliau tidak mempunyai “gigi” dalam memimpin keluarga. malah beliau termasuk suami yang berdampingan dengan istri yang egois.alhasil, ibu saya lah yang menjadi komandan tertinggi di rumah (padahal ayah saya seorang tentara, can’t you believe it?). Nauzubillahi min dzalik. saya sangat malu dan sedih mengingat kenyataan ini. bahwa tangis dan kesedihan saya selama ini, hampir 99% adalah disebabkan oleh perlakuan ibu saya. miris…..

    Kurang lebih apa yang saya alami serupa dengan rekan-rekan. waktu kecil, verbal, mental dan physical abuse (sejak saya duduk di sekolah menengah, sudah tidak pernah, mungkin karena ukuran tubuh saya yang juga sdh seukuran ibu saya mungkin y? hehehe).

    sekarang saya seorang ibu. alih2 saya dendam terhadap ibunda (saat ini masih hidup, Alhamdulillah, dan masih di bully ^^), saya berusaha mengalihkan rasa sakit saya kepada hal2 yang positif. walaupun tidak saya pungkiri, beberapa kali saya berfikir untuk bunuh diri (bahkan sampai dengan saat saya sdh mempunyai anak. Namun, saya selalu berusaha bersyukur, seperti mengutip kata2 adik saya, bahwa kami mungkin dititipi Allah kekuatan yang besar untuk menghadapi semua ini seumur hidup kami, Maha Besar Allah SWT. Alhamdulillah, saya diberikan seorang suami yang sangattttttttttttttt luar biasa baik (saya ingat, saya ingin punya sosok suami seperti ayah, yang baik dan bagus ibadahnya. supaya bisa membimbing mental saya yang sudah terlanjur hancur). kenapa saya sok2an berusaha tetap keep moving forward dan menyingkir masalah “menye2” itu. “hanya” karena saya ingin memutus lingkaran setan ini. saya tidak ingin ini berlanjut kemudian saya menjadi ibu yang egois thd anak saya, dan istri yang durhaka terhdap suami saya.

    Please don’t, teman2.

    marahlah, jika ingin marah. karena itu perasaan normal (saya pun masih belajar me-manage rasa tertekan, marah dan sedih ini) masing2 kita tau bagaimana baik nya memberi batas untuk rasa marah itu terluapkan. setelah nya banyak2 ber istigfar (bagi yang beragama Islam), dan mengingat bahwa Allah punya rencana. (Ge ernya), anggaplah kita terpilih untuk mengemban beban ini karena Allah titipkan sesuatu yang baik ke depan nya. entah kita bisa mnejadi orang yang lebih berempati dan sensitif thd penderitaan org2 di sekitar, menjadi orang tua yng lbh baik demi masa depan generasi yg lbh baik pula, bisa menjadi istri atau suami yang baik. hal itu bisa kita lakukan, karena kita telah merasakan bagaimana sakit nya “dikhinati” oleh sosok terdekat dalam kehidupan kita. what doesn’t kill you, makes you stronger, isn’t it. Dan tentunya, tetap selalu berdoa, agar orang tua kita bisa diberika hidayah olehNya, sehingga bisa bersama2 nanti di Jannah.

    Sekian….terimakasih rekan penulis, telah menyediakan wadah ini untuk kami berbagi rasa, dan semangat untuk kita semua.

    Ps;
    *silahkan googling keyword “narcissist parents/mother/father”. sebuah validitas dari segi psikologi untuk apa yang dilakukan oleh orang tua.

    **apakah ada milis untuk bisa berbagi? jika ada, mohon info. terimakasih.

    Suka

  216. nuii mengatakan:

    saya suka sakit hati sama mama saya dia suka bilang bahwa anak”nya ga peduli sma dia ..bagai mna anak”nya ga peduli sma mmah toh mmh nya jga ga peduli sma prasaan kami,mamah lebih memilih mempertahankan bpa tri yg udah menghina dan melecehkan anak” nya ketimbang memilih anak nya sendiri
    meskipun kami yerlihat tidak peduli tapi do’a” kami sllu ada untuk nya
    apa salah kami bersikap sprti itu pda mmah kami

    Suka

  217. Dea mengatakan:

    Kak saya juga mengalami hal tersebut seperti diartikel diatas, saya menerima bentuk perlakuan fisik maupun batin. Namun saya takut, murka ibu sama saja murka allah saya tidak bisa melawan, dan sebagian kecil saya berpikir adalah kesalahan saya sendiri

    Suka

  218. arudi mengatakan:

    saya mengalami hal serupa, sebagai anak saya bingung, apakah saya harus mengejar cita cita saya atau mengikuti keinginan orang tua saya yg cenderung memaksa, padahal saya mengejar cita cita ini untuk mereka juga.

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Ya sebaiknya kamu renungkan dulu dampak positif dan negatifnya bila kamu mengejar cita-cita. Kalau mengikuti arahan orangtua juga dipertimbangkan dampak positif dan negatifnya.

      Kalau kamu mengikuti cita2mu, secara otomatis kamu harus bertanggungjawab terhadap semua dampak yang diambil dari keputusanmu, karena mengejar cita2 tanpa dukungan itu penuh tantangan.

      Namun kalau kamu mengikuti ortu maka kamu menentang dirimu sendiri. Tapi segi positifnya kamu ada dukungan.

      Tapi sebaiknya dipikir2 yang matang sebelum menentukan keputusanmu.

      Suka

  219. Sella mengatakan:

    Maaf saya ingin bertanya. Saya mempunyai orangtua yang sangat bertolak belakang. Mama saya mempunyai sifat yang tempramen, dan kasar terhadap anak-anaknya. Berbeda dengan ayah saya, yang penyabar. Dulu saat saya masih kecil mama sering marah bila saya melalukan kesalahan sampai melakukan kekerasan. Dan skrg saya sudah dewasa, sudah bisa berfikir mana yang pantas dan tidak. Mana yang baik dsn tidak. Tapi setelah saya dewasa ini jika ada kesalahan mama sudah tidak pernah melakukan kekerasan secara fisik, hanya mulut saja. Tidak jarang saya adu argumen dengan mama bila ada suatu kesalahan. Bukan niat saya ingin melawan. Tapi apa saya salah membela diri saya sendiri? Mama yang cara bicaranya kasar, dan slalu memusuhi saya sampe berhari-hari. Sampai kadang mama bicara berdoa yang buruk untuk saya (mengutuk). Jujur kadang saya berfikir apa mama saya saja yang seperti itu? Saya sering merasa saya adalah anak yang paling menderita, saking sudah sakitnya batin saya. Apa saya salah melawan omongan mama yang kasar dan bicara buruk? Mohon pencerahannya:D

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Kalau membaca dari tulisanmu, (bisa jadi) mama memang wataknya keras&kasar, jadi kalau dikasari orang yang berwatak spt itu biasanya malah tambah kasar dan.keras….

      Sebisa mungkin karena kamu bilang sendiri kamu sudah dewasa, tidak ada salahnya mengalah, menghindari segala percakapan yang bisa memancing keluarnya kekasaran mamamu.
      Biasanya orang kasar dan keras itu ada penyebabnya, seperti misalnya masa laku yang juga diperlakukan keras dan kasar, gangguan kepribadian, gangguan mental juga bisa menyebabkan seseorang mudah bertingkah dan berkata kasar (mudah marah, sensitif, mudah tersinggung, dkk).

      Kalau mama sudah mulai berkata kasar, maka hindari saja atau seperti kata saya tadi yaitu hindari pembicaraan atau sikap yang bisa memicu munculnya kata dan perilaku kasar mama.

      Memang tidak mudah hidup dengan ortu yg kasar dan keras, tapi kalau kita sama2 kasar dan keras maka akan bikin stress sendiri. Apalagi terkadang orang yang berwatak keras dan kasar juga tidak mau dikritik. Tapi jangan putus asa, bila kondisi hati mama sedang baik dan santai, tidak ada salahnya berkata pada mama jika kamu kurang suka dengan kata kasar dan perilaku kasar mama, tapi dengan perilaku dan kata2 yang lemah lembut.
      Bisa juga mencontoh papamu yang penyabar.

      Sekian. Maklum klu tdk berkenan.

      Suka

  220. No name mengatakan:

    Assalamualaikum saya mau bertanya
    Saya anak ke dua dari 2 bersaudara anak perempuan satu” nya.saya selalu dimarahi tanpa alasan yang jelas.saya anak yang penurut sama ortu saya.
    Saya melakukan hal ini salah jika tidak melakukan juga tetap salah. Dari kecil saya selalu di marahi sampai dewasa. Bener sih kata orang” jika ortu marah pasti ada sebab nya atau buat yg terbaik
    Tapi saya suka stres jika orang tua membentak, memukul, dan memarahi saya. Saya anak nya jarang melawan ortu kalo dimarahin suka diem aja. Saya minta tips buat membahagiakan ortu saya dong mas/mba biar saya nggak kena omelan dan bentakan lagi. Makasih

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Wa’alaikumussalam wr wb.
      Sebagai anak apabila kamu masih bergantung pada ortu, yang penting sudah berbakti kepada ortu, membantu ortu, tidak pecicilan, tidak boros pakai uang ortu, bersikap baik, mendoakan ortu, dan melakukan hal2 positif lainnya. Dan sebisa mungkin berusaha mandiri. Bila kamu sudah mandiri, maka itu bisa dijadikan cara agar tidak merepotkan ortu dan kamu bisa memutuskan hidupmu sendiri. Sekian.

      Suka

    • VAF mengatakan:

      sama seperti say.la.saya hanya diam tak membalas sama sekali.tapi saya sedih kenapa cuma saya saja.di keluarga saya.saya punya seorang adik laki-laki yang dilimpahi ksih sayang dari orang tua.bahkan keinginannya selalu di penuhi.saya sedih bila cuma saya yang mendapatkan kekerasan fisik ataupun psikis dari ortu.
      tapi saya bisa apa.
      saya cuma seorang anak yang bila diperlakukan keras tak pernah membalas.
      pernah suatu ketika saya memberontak karana sudah capek.saya dibilang anak durhaka, anak tidak tau diri.hidupmu hanya menyusahkan orang tua.
      rasanya sakit.mendengar itu

      Suka

  221. Ana mengatakan:

    Postnya sesuai sekali dengan apa yg aku alami. Dari kecil kami (aku dan 3 org kaka) ku selalu dpt verbal abuse, kami selalu dibanding2kan, bahkan bukan anak saja ibu ku juga sering dikatai bodoh / goblok oleh ayah ku yang seorang professor (beliau selalu membawa atributnya itu bahkan dirumah).

    Sejak kecil semua hal adalah pilihan ayah saya dari mulai sekolah sampai kuliah (walaupun sekolah saya jauh, dia tidak peduli yang penting saya masuk sekolah favorit tersebut). Keluarga saya berkecukupan, tapi setiap materi yang dikeluarkan selalu diungkit2, akhirnya satu persatu kaka saya yg sudah menikah memilih tidak tinggal dan malas untuk ke rmh org tua saya.

    Dulu waktu kecil kami anak yang paling penurut, pas besar menyadari bahwa apa yang dilakukan orang tua kami itu membuat kami jengah sekarang kami sering cekcok dengan ayah kami. Tapi setiap kami cerita apa yang kami tidak suka pasti beliau selalu mengeluarkan argumen:
    1. Dia prof di luar rumah dan di kampus dia selalu di hormati krn apa yg dia katakan selalu benar. (Padahal kami hanya butuh sosok seorang ayah)
    2. “Yang bayarin kamu dari kecil tuh saya”
    saat ini saya terkena sakit kanker, dan tak pernah sekali pun ayah saya menemani konsul alasannya karena sibuk kerja, bahkan yang menemani saya kakak / pacar / saya sendirian. Saya bayar rumah sakit jg menggunakan BPJS yang sebelumnya dibayar kantor ayah, dan saya putuskan untuk membayar sendiri karena saya sakit hati dan saya tidak mau ayah saya terlibat dalam penyembuhan saya.

    Meskipun saya sakit begini ayah saya masih saja suka mengeluarkan kata2 yang menyakitkan hati saya, seperti “kamu udh sakit gitu tandanya di tegur tuhan” perkataan yg tak pernah terpikir keluar dari mulut ayah saya. Oiya ayah saya orang yang sangat rajin ibadah tapi rajin juga mengumbarnya (kalo solat tahajjud, zakat dll. ga pernah absen cerita ke orang2) membuat saya males kalo denger ayah saya ngomong karena yg diomongin cuma kesombongan sama kampus. Kalo kami ngomong dari kecil ga pernah di dengar.

    Dengan sakit begini saya makin tidak tahan di rumah saya rasanya makin tidak semakin tidak semangat untuk hidup.

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Ya itu pasti membuat depresi sekali. Tapi usahakan tetap kuat dan jangan putus asa. Semoga Tuhan memberikan kesembuhan, petunjuk, dan kebahagiaan bagi Mbak. Aamiin.

      Suka

      • Ana mengatakan:

        Amiin terima kasih mas atas doanya. Untungnya dari rumah sakit menyediakan psikolog untuk memantau kondisi mental saya, keluarga jg beberapa ada yang dilibatkan tapi hanya kakak dan mama. Menurut mas apa perlu ayah saya dilibatkan juga dengan psikolog tsb.

        Tapi saya khawatir kalo psikolog nya tidak bergelar sepantaran ayah saya, ayah saya pasti ga mau dengar. Karena pengalaman dia cuma percaya omongan orang yang tingkat gelarnya sama kaya dia aja.

        Suka

      • nugraheniismyname mengatakan:

        Ya bisa juga ayah dilibatkan, maaf sebelumnya bisa jadi ayah juga terganggu kepribadian beliau karena kalau dilihat dari tulisan kamu, ayahmu sangat mengangung-agungkan diri sendiri dan gelar serta derajat.

        Suka

    • noname2 mengatakan:

      ayah dan ibu ku selalu berlaku kasar kepada aku dan kedua adikku, sumpah serapah dan caci-maki makanan sehari2 kami. entah apa penyebabnya hingga kedua orang tua kami melakukan itu pada kami. hingga suatu ketika adiku sakit keras dan meninggal dunia, aku pikir dengan kejadian itu orang tuaku mau berubah, tanpa disangka2 “walau dalam mimpi pun aku tak akan mau” orangtuaku menuduh akulah pembunuh adiku itu.

      orang2 yg mengetahui kelakuan buruk orangtuaku pada kami hanya bisa mengatakan “sabar sabar aja ya”. Apalah artinya bersabar jika orangtuaku tidak juga berubah. saking hampir putus asa nya saya sempat terfikirkan “mungkin orangtuaku bisa berubah jika mendapat musibah dari tuhan”.

      Suka

  222. noname2 mengatakan:

    ayah dan ibu ku selalu berlaku kasar kepada aku dan kedua adikku, sumpah serapah dan caci-maki makanan sehari2 kami. entah apa penyebabnya hingga kedua orang tua kami melakukan itu pada kami. hingga suatu ketika adiku sakit keras dan meninggal dunia, aku pikir dengan kejadian itu orang tuaku mau berubah, tanpa disangka2 “walau dalam mimpi pun aku tak akan mau” orangtuaku menuduh akulah pembunuh adiku itu.

    orang2 yg mengetahui kelakuan buruk orangtuaku pada kami hanya bisa mengatakan “sabar sabar aja ya”. Apalah artinya bersabar jika orangtuaku tidak juga berubah. saking hampir putus asa nya saya sempat terfikirkan “mungkin orangtuaku bisa berubah jika mendapat musibah dari tuhan”.

    Suka

  223. agneshia christa mengatakan:

    nomer 1-5 , 7 dan 9 saya alami😦

    Suka

  224. reni mengatakan:

    aku adalah seorang anak yg selalu di salahkan dan di hina dan aku selalu di bedabedakan .. aku selalu di bentak begitu pun anakku …. ingin rasanya aku mati dan meminta mati kepada alloh dan anakku . ingin rasanya aku lari dr rmh untuk menyusul suamiku !

    Suka

    • VAF mengatakan:

      sama.apapun yg dikerjakan selalu salah.tpi dia(adek saya) tidak pernah disalahkan.bila saya berkelahi dengan adek saya.mesti adek saya yg dibelain.
      pernah juga saya harus membuang cita-cita saya demi keinginan orang tua.giliran saya menuruti orang tua dan saya gagal.saya di bentak, dimarahi dan dimaki.
      rasanya ingin menyerah(bunuh diri)saja.saya gag kuat.orang tua bahkan tidak peduli perassan saya.saya sangat sedih dan terpukul

      Suka

  225. Sutri mengatakan:

    Semuanya bnar sampai” aq meneteskan air mata pas bacanya krna semuanya sama seperti yg aq rasakan
    ortu q tdk pernah mendegarkan kata hatiku
    mereka selalu memaksakan kehendak mereka sendiri
    terkadang dalam hatiku berkata
    dengarkan aku ma pa sekali aja

    Suka

  226. Fani mengatakan:

    Tolong bantu saya. Saya ceritanya membuat status di media sosial utk teman saya. Tetapi di baca mertua saya dan merasa itu untuk dia. Sudah saya jelaskan kalau itu bukan untuk dia. Tapi tetap dia merasa itu untuk dia. Lalu dia marah juga dengan suami saya anaknya. Sampai suami saya jadi stres tidak bisa tidur krn hny kesalahpahaman. Bagaimana ya caranya agar dia bisa mengerti? Krn dia tipe orang tua egois. Bisa memusuhi anaknya. Terimakasih

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Orangtua memang semakin menua semakin sensitif jadi sebagai anak harus hati2 dalam bertindak dan berkata2. Tapi sebagai anak juga harus memaklumi dan bersikap lapang dada. Kalau sudah dijelaskan bahwa status bukan untuk mertua dan mertua tidak mau mengerti maka delete saja statusnya, dan sebaiknya usahakan jangan menulis masalah pribadi atau masalah keluarga di media sosial lagi. Kalau sudah menjelaskan tidak percaya maka bersikap lebih baik saja pada ortu, bersikap seperti biasa, tetap mengajak ortu bicara atau ngobrol, membelikan makanan yang disukai, menyapa dg lemah lembut, dan perbuatan baik lainnya. Kalau ortu tetap marah, jangan diambil hati; tetaplah berbuat baik. Orang sekeras apapun pasti akan luluh dengan perbuatan dan niat yang baik dan tulus.

      Suka

  227. nugraheniismyname mengatakan:

    Saya buat novel yang menceritakan kisah anak yang hidup dengan orangtua yang keras. Silahkan bagi yang suka membaca bisa kunjungi wattpad ini: https://www.wattpad.com/318440315-suki-bab-i-monster-di-dalam-kepala

    Suka

  228. nugraheniismyname mengatakan:

    Bagi yang suka baca novel, ini ada kisah anak yang dibesarkan oleh ortu yang keras. Link dari kelanjutan bab 1: https://www.wattpad.com/319124796-suki-bab-ii-melarikan-diri?utm_source=web&utm_medium=facebook&utm_content=share_info

    Suka

  229. Imel Hipnoterapis mengatakan:

    “Saya stress dan bosan menghadapi kondisi anak saya. Saya merasa terbebani oleh anak, saya memiliki emosi berlebih terhadap anak dan saya takut menyakiti anak-anak saya.” Saya Harus Bagaimana? selengkapnya ada di https://goo.gl/Rq90x1
    ⁠⁠⁠

    Suka

  230. ica mengatakan:

    kak, gmna ya posisi aku dirumah serba salah. ayah aku sakit sudah 3thn ini. aku udah lulus kuliah sempat bekerja tp aku resign karna ketidknyamanan dan kondisi ayah aku yg semakin memburuk.
    ibu dan kakaku bekerja, sedangkan adikku msh sekolah. jd yg dirumah mengurus ayahku cm aku dr pagi hingga sore. sedangkan waktu tidurku jg kurang krna dimalam hari aku hrus membuat makanan untuk aku jual, jd smenjak resign aku membuka usaha kecil2an dgn berjualn makanan dirumah. aku mengurus smua kerjaan rumah juga.
    ayahku adalah seorang yg tenpramental, dlm kondisi sakit ia slalu marah2, semua yg aku lakukan slalu salah dimata beliau. ibuku jg seorang yg selalu menjudge sblm bertanya, apapun yg aku lakukan jg selalu salah. sedangkan aku sudah berusaha semaksimal mungkn utk mengurus ayahku dn melakukan kerjaan rumah, menyapu, masak, mencuci, dll.
    aku jg memiliki pacar yg sudah 3thn ini bersamaku, aku ingin menikah tp tdk boleh sblm kakaku menikah, pdhal cm dia satu2nya yg mengerti keadaanku, dia slalu membantu aku ketika aku sedang kerepotan dirumah wlaupun tdk bisa stiap hari krna dia kerja.
    saat ini dlm kondisi aku yg sedang jrnuh sejenuh jenuhnya, lelah selelah lelahnya. gmna ya menurut kakak cara aku menghadapi smua ini?

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Yang perlu km coba tentu saja mencari suasana baru dan berikan waktu untuk diri sendiri. Terkadang orang2 di sekitar kita tdk menganggap dan menghargai keberadaan kita. Tapi bila kita pergi, apalagi selama ini kita yg membantu & mengurus mereka, terkadang mereka baru menyadari betapa mereka membutuhkan kita.

      Oleh karena itu carilah suasana baru. Entah itu berlibur, menikah, dll.
      Kalau menikah merupakan salah satu cara unt menyelamatkan hidupmu maka bisa dicoba bicara baik2 dg kakak dan ortu. Setahu saya adik menikah dulu tidap apa-apa, kan ada adat dan upacara sendiri bila adik ingin “melangkahi” kakak. Atau coba jelaskan kepada ortu sesuai dengan kepercayaan dan agamamu bagaimana hukum dan tatacara adik yang ingin melangkahi menikah pada saudara yang lebih tua.

      Dan tentu saja merawat ortu memang tidak mudah karena diperlukan mental yang kuat, mengingat pikiran ortu yang semakin bertambah usia memang terkadang susah dimengerti.

      Sekian. Klu kurang berkenan. Harap maklum ya..

      Suka

  231. Ahamad Solihin mengatakan:

    saya setuju kepada doni saputro andaikan oleh alloh swt saya bisa memilih orang tua saya pasti bakal milih orang tua yang baik yang sayang dan sayang nya itu tidak di kekang andaiiiiiii saja ya alloh saya menginginkan nya😦

    Suka

  232. agus wahyudi mengatakan:

    Banyak yang sama ternyata nasib kita kawan… Saya juga sama sedih sekali… Sampai kapan yah orang tua kita yg buruk sifatnya akan berubah… Hehehe sedih banget pokoknya

    Suka

  233. Gina mengatakan:

    Itu semua benar kalo uang saja 30 ribu habis dlm seminggu aq dimarahi padahal banyak kebutuhan q di sekolah dan buat ekstra di sekolah

    Suka

  234. agaisme licious mengatakan:

    Entah kenapa kelelahan saya menjalani hidup memuncak belakangan ini, terkadang saya ingin berhenti hidup namun saya sadar itu tidak baik. Jurusan kuliah dan pekerjaan yang saya jalani sekarang, semuanya adalah pilihan orang tua. Sekarang saya sudah semester 5 dibidang keguruan. Entah kenapa kedua orang tua saya sangat menginginkan saya agar nantinya menjadi guru. Saya anak kedua dari 3 bersaudara. Memang kakak saya yang pertama (perempuan) sekarang sudah S2 dibidang keguruan juga, dan dia memang menyukainya, namun tidak bagiku. Aku sangat suka dengan dunia pariwisata, tapi semenjak lulus SMK aku tidak diperbolehkan lagi melanjutkan apa yang aku sukai. Awalnya aku hanya bisa pasrah karena tidak ingin durhaka pada orang tua, namun belakangan ini aku merasakan kelelahan yang sangat luar biasa, terkadang menangis sendiri meratapinya. Aku merasa tidak ada hal yang aku sukai dari seluruh aktivitasku sehari-hari. Terkadang aku menyempatkan diri untuk jalan-jalan bersama teman2 SMK ku dulu sekaligus untuk melepas kerinduan dan kejenuhanku. Namun tetap saja, perasaan jenuh itu datang lagi dan aku baru wisuda tahun 2018 nanti. Aku sudah sangat ingin agar cepat2 wisuda dan ingin melanjutkan S2 sesuai dengan keinginanku. Jujur aku lelah dengan semua hidupku yang selalu diatur oleh orang tua, berbeda dengan kakak perempuanku, karena dia ya memang menyukainya dan dia lebih dimanja dibanding aku. Aku jarang sharing dengan kedua orang tua, karena ya mau bagaimana, aku tidak ingin mengeluh pada mereka. Aku hanya selalu berpasrah pada Tuhan semoga aku bisa selalu kuat menjalani kuliah ini yang lagi 3 semester menuju semester 8

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s