Pada Saat Radang Sendi Kambuh

Tinggalkan komentar

Juni 4, 2015 oleh nugraheniismyname

Tanggal 3 Juni 2015, saya kontrol ke dokter saraf dengan diantar bapak. Saya harus kontrol lagi karena sendi di lutut kanan dan lutut kiri masih sering nyeri apalagi kalau banyak kegiatan, naik turun tangga, dan terlalu banyak berdiri. Selain dua lutut yang masih sering nyeri, kini bahkan sendi-sendi di ruas-ruas jari juga sering nyeri. Semua ruas sendi jari nyeri, baik di tangan kanan maupun tangan kiri. Kadang sendi di siku kanan dan siku kiri juga nyeri. Semua sendi bisa ikut-ikutan nyeri. Oleh karena hal itu, saya berobat lagi ke dokter saraf.

Sampai di depan poli saraf, saya harus menunggu selama berjam-jam lagi. Saya kasihan sama bapak yang juga ikut menunggu. Saya juga kasihan kenapa bapak punya anak yang sakit-sakitan seperti saya ini. Tapi tidak apa-apalah, mungkin sudah menjadi takdir.

Sambil menunggu poli saraf dibuka, saya ngobrol sama pasien di samping kanan dan kiri. Rata-rata memang pasien adalah para manusia lanjut usia. Ada yang sakit stroke, saraf kejepit, ada juga yang menderita radang sendi, dll. Di samping kanan saya duduk, ada pasien yang saya kenal. Beliau adalah teman kerja bapak dan ibu. Beliau sudah pensiun karena sakit. Teman bapak dan ibu ini menderita sakit di kedua lutut. Itu pasien di samping kanan saya.

Pasien di samping kiri saya yaitu seorang wanita yang berumur 40 tahun. Saya tahu umur ibu-ibu itu karena saya melihat angka umur yang tertera di amplop rontgen. Saya ngobrol sama ibu-ibu itu. Dia cerita sana-sini, dan ternyata ibu-ibu itu juga sakit sendi. Ibu-ibu itu menderita sakit sendi yang simetris di atas tumit, di dua lutut, dan di dua pundak. Bahkan bagian sendi di atas tumit pernah dioperasi karena ada bagian tulang yang menonjol. Selain sakit sendi, ibu-ibu itu juga punya ekstra paru dan gangguan di telinga. Beliau pernah operasi juga untuk penyakitnya itu.

Tentang sendi-sendi yang sering nyeri itu, ternyata ibu-ibu di samping kiri saya cerita kalau sendi juga sering bengkak, merah, kaku, dan nyeri jika digunakan untuk sholat, jalan menanjak, banyak aktivitas, dll. Kalau kambuh parah, maka tidak bisa jalan dan tidak bisa digerakkan sama sekali. Ibu-ibu itu juga cerita kalau beliau sering tidak bisa tidur dan cepat lelah. Yah, tanda-tanda yang beliau ceritakan sama dengan tanda-tanda yang saya alami. Beliau juga cerita kalau beliau sering malu kalau harus periksa, soalnya dia merasa masih muda, padahal umumnya penyakit sendi dialami oleh manusia yang lanjut usia. Ibu itu bisa berpikir seperti itu apalagi saya? Saya kena radang sendi sejak saya sekolah di SMA. Tapi mau bagaimana lagi? Kadang, suatu penyakit bisa menyerang manusia semua umur, baik manusia tua, muda, dan anak-anak.

Akhirnya, poli saraf dibuka. Satu demi satu, pasien masuk. Giliran sayapun tiba. Saya masuk dan berjalan sendiri karena kaki sudah bisa digunakan berjalan walau masih terasa nyeri. Kali ini ruang dokter sepi karena tidak ada dokter muda yang banyak sekali. Awalnya, saya diperiksa tekanan darah oleh perawat. Setelah itu, saya masuk ke ruang dokter. Sampai di depan dokter, dokter tanya sana-sini. Saya cerita kalau sendi masih nyeri, bahkan sendi di semua jari-jari tangan dan siku ikut nyeri. Cerita juga kalau lambung sering melilit sejak minum obat. Setelah saya cerita, dokter memeriksa jari-jari tangan dan lutut-lutut kaki.

Selesai memeriksa, dokter bilang jika saya tidak boleh makan jeroan. Ya tentu saja saya tidak makan jeroan karena saya memang kurang suka jeroan. Apalagi jeroan sapi. Jeroan sapi kan baunya agak khas ya? Tapi kalau jeroan ayam? Kalau jeroan ayam lumayan enak kalau diolah dengan banyak variasi. Tapi saya jarang makan jeroan. Akhir-akhir ini malah saya sering minum jus buah dan makan sayur mayur. Tapi kalau radang mau kambuh ya kambuh saja seperti biasanya.

Di sela-sela dokter menulis sesuatu, saya tanya lagi tentang sakit saya ini. Dokter bilang jika saya sakit radang sendi. Jawabannya sama seperti dokter-dokter sebelumnya yang pernah memeriksa saya. Saya sebenarnya penasaran dengan jenis radang sendi yang kambuh-kambuhan dari SMA itu. Tapi saya tetap menyimpan rasa penasaran karena saya tidak tanya lebih lanjut sama dokter saraf mengenai jenis radang sendi yang kambuh-kambuhan.

Selesai periksa ke dokter, saya menuju ke apotek umum sambil bawa resep obat dari dokter. Di sana antri lagi lama sekali. Setelah menunggu, saya dapat obat juga. Kalau dulu dapat 3 macam obat yaitu obat antiinflamasi non-steroid, glucosamine, dan obat maag. Kali ini, saya dapat obat antiinflamasi non-steroid, glucosamine, obat maag, dan ada tambahan obat yaitu methylprednisolone. Semua obat ini harus digunakan sesuai dengan resep dari dokter.
20150604_042650

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender

Juni 2015
S S R K J S M
« Mei   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Top Rated

HTML hit counter - Quick-counter.net
free counters
free counters

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 15 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 171,062 hits
%d blogger menyukai ini: