Radang Sendi

Tinggalkan komentar

Mei 22, 2015 oleh nugraheniismyname

Radang sendi merupakan keadaan di mana sendi mengalami peradangan atau inflamasi. Mungkin sebagian orang berpikir jika gangguan itu sering dialami oleh orang yang telah lanjut usia (nenek-nenek atau kakek-kakek). Anggapan itu memang tidak salah karena biasanya orang dengan usia tua bisa terkena radang sendi. Walaupun begitu, radang sendi bisa dialami anak muda. Contohnya adalah saya. Pertama kali saya terkena radang sendi yaitu pada saat saya masih SMA atau sekitar umur 15-16 tahun.

Saya tahu jika saya terkena radang sendi pada waktu pertama kali saya memeriksakan kaki yang sakit tersebut. Dokter umum bilang jika saya kena radang sendi. Seiring berjalannya waktu, radang sendi kerap kambuh. Di daerah pergelangan kaki milik saya, di atas tumit sering terkena radang sendi. Dan anehnya, setiap kali sendi kaki kanan di daerah itu meradang, maka sendi kaki kiri juga ikut-ikutan meradang.
sendi kanan

Ciri-ciri saya kalau sendi meradang yaitu daerah sendi yang meradang terasa kaku, sendi sakit, sendi membengkak, sendi berwarna kemerahan, sendi terasa hangat, tubuh merasa lelah atau mudah capek, malas makan, badan agak demam, dan pergerakan menjadi terbatas karena sendi sakit jika digunakan berjalan.
sendi kiri

Biasanya sendi di daerah pergelangan kaki di atas tumit akan meradang bila ada hal-hal tertentu. Dan anehnya, hal-hal tertentunya itu kadang susah dimengerti atau radang sendi bisa kambuh semau-maunya sendiri, seperti misalnya sehabis lari-lari atau jogging, maka kadang bisa kena radang sendi. Walaupun begitu kadang sehabis lari-lari atau jogging juga tidak terkena radang sendi. Kalau salah posisi tidur juga bisa kambuh radang sendinya. Walaupun begitu, biasanya tidur dengan posisi semaunya sendiri juga tidak kena radang sendi. Berdiri terlalu lama kadang bisa kambuh radang sendinya. Makan makanan tertentu kadang bisa kambuh radang sendinya. Banyak pikiran kadang bisa kambuh radang sendinya.

Setiap radang sendi kambuh, saya pergi ke dokter. Ada banyak dokter umum yang pernah saya datangi. Dari sekian dokter umum yang pernah saya datangi, ada yang bilang jika saya harus ikut akupunktur. Berhubung saya takut, maka saya tidak menuruti kata dokter tersebut.

Waktu terus berjalan dan baru-baru ini, radang sendi kambuh lagi. Seperti biasanya, daerah di atas tumit meradang tanpa tahu sebabnya, saya minum obat antiradang dan antinyeri. Cukup berhasil karena radang sembuh. Tapi, seminggu kemudian radang kambuh. Daripada kebanyakan minum obat, saya banyak minum jus buah dan makan sayur. Cukup lumayan berhasil karena radang di daerah di atas tumit bisa sembuh tanpa minum obat. Walau selama sakit, jalan pincang dan menahan rasa sakit. Kira-kira 3-4 hari radang sembuh sendiri.

Saya cukup senang dan merasa bersyukur karena radang bisa sembuh sendiri tanpa pergi ke dokter. Namun rasa senang saya tidak berlangsung lama karena beberapa hari kemudian, kedua lutut saya terasa tidak enak. Dan semakin lama, sendi di kedua lutut terasa sakit, bengkak, hangat, dan kemerahan. Untuk meredakan rasa sakit dan hangat di sendi, saya kompres kedua sendi dengan air es. Ya cukup mengurangi rasa sakit dan hangat, sih.

Keesokan paginya, lutut terasa kaku dan saya tidak bisa jalan sama sekali. Selain itu, saya tidak bisa jongkok dan menekuk lutut. Bila lutut terlanjur menekuk, maka lutut sakit dan kaku sekali bila diluruskan. Bila kaki terlanjur lurus, maka lutut sakit sekali bila ditekuk. Selain itu, tulang juga berbunyi jika saya jalan.

?????????????

?????????????

Akhirnya, saya di bawa ke rumah sakit untuk diperiksakan ke dokter ortopedi. Saya pergi ke sana dengan bapak dan ibu. Karena saya tidak bisa jalan dengan mudah, maka saya harus dibantu berjalan oleh dua orang. Namun, sampai di rumah sakit, petugas pendaftaran bilang kalau poliklinik ortopedi tutup. Berhubung tidak bisa ke dokter ortopedi, maka saya disarankan ke dokter saraf. Kata petugasnya, “Dokter yang berhubungan dengan dokter tulang ya Dokter saraf.”

Sampai di depan poli saraf, saya ikut antri. Orang-orang yang antri ada banyak, seperti ada embah-embah yang sarafnya terjepit, ada ibu-ibu yang kepalanya sakit karena baru jatuh dari motor, ada embah-embah sehabis kena stroke, ada anak remaja putri yang hiperaktif, ada remaja putri yang selalu bengong dengan wajah kosong dan sedih, dan masih banyak lagi.

Setelah menunggu selama 3 jam, akhirnya saya masuk ke ruang dokter saraf. Sampai di sana banyak dokter muda. Pada saat diperiksa dokter muda, saya mendengar suara. “Padahal masih muda,lho.” komentar perawat setengah baya. “Iya, ini dari dulu waktu SMA kok, Bu.” saya menyahut. “Berarti sudah ada bibit.” komentar perawat lagi. Sayapun malas membalas komentar ibu perawat tersebut karena saya sibuk menahan rasa sakit.

Setelah diperiksa sana-sini sama dokter muda, saya dapat giliran ke dokter sarafnya langsung. Dokter saraf periksa sana-sini, dan bicara, “Dulu sering minum obatnya apa?”. Saya mengucapkan beberapa merek obat. Setelah itu, dokter mulai menulis-nulis sesuatu, dan pemeriksaan selesai. Sebelum saya pergi, dokter bilang kalau obat habis maka saya harus periksa lagi.

Selesai pemeriksaan, ditanyain sama bapak, “Dokternya bilang kamu sakit apa?”. Waktu itu bapak ada di luar, dan saya masuk ke ruang pemeriksaan sama ibu. “Aku nggak tanya sama dokter, Pak.” jawab saya. “lho gimana to, kok nggak tanya!” kata bapak dengan muka penuh penghakiman. Sayapun berkata, “Besok saja tanya kalau pas kontrol lagi.”

Akhirnya, dengan langkah yang terseok-seok. Saya dan ortu antri obat. Astaga, antri obatnya juga lama sekali. Setelah sekitar satu jam lebih antri obat, kami pulang. Sampai di rumah, saya minum obat sebelum makan karena saya juga punya penyakit maag. Satu jam kemudian, makan nasi, lalu minum obat lagi.

Selesai minum, saya cari informasi obat yang sudah saya minum. Di beberapa situs menjelaskan jika obat tersebut adalah obat anti inflamasi non-steroid dari golongan asam enolat. Selain obat tersebut, ada obat lain yang juga harus saya minum. Saya cari informasi lagi di internet mengenai obat tersebut. Obat yang ini yaitu glucosamine.

Setelah minum obat-obat tersebut, radang sendi di lutut mulai tidak sakit dan bisa digerakkan lagi. Walaupun kedua lutut masih nggak enak buat jalan, dan kadang kalau jalan, masih terdengar suara tulang dengan bunyi, “kletuk-kletuk” atau “cethek-cethek”. Pada saat menulis ini, saya masih proses minum obat.

Lalu, saya cerita kondisi saya sama teman saya yang ahli kesehatan dan pasangannya yang juga dokter. Teman saya menyarankan supaya saya periksa ke dokter penyakit dalam sub reumatologi untuk periksa rheumatoid factor dan periksa ACA. Apa itu ya? Coba nanti saya cari informasinya di internet.

Ya, sudah dulu ya ceritanya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender

Mei 2015
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Top Rated

HTML hit counter - Quick-counter.net
free counters
free counters

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 15 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 171,062 hits
%d blogger menyukai ini: