Suki dan Gadis Kecil

Tinggalkan komentar

Januari 23, 2015 oleh nugraheniismyname

inner child

Suki tak bergerak di atas tempat tidur. Ia menatap kosong ke dinding di depannya. Kedua kakinya menekuk hampir menempel di dada, dan dua tangannya menyilang memeluk bahu-bahunya. Dua bahu yang kecil dan kurus karena memang ia jarang makan untuk menghukum dirinya sendiri. Ia lama berada di tempat tidur. Ia ingin tidur,  tapi matanya tidak mau terpejam. Ia yang semula merasa kosong, tiba-tiba dilanda ketakutan. Kedua matanya melebar dan waspada, jantungnya berdenyut kencang, tangan dan kakinya terasa dingin.

“Kamu hanya merepotkan!”
“Kamu akan menjadi manusia yang gagal seumur hidupmu!”
“Kamu akan hidup sendirian seumur hidupmu!”
“Kamu tidak akan dianggap dan diperhatikan! Kamu itu siapa?”
“Kamu akan dihina oleh orang-orang disekelilingmu!”
“Tuhan tidak menyayangimu. Dia menghukummu!”
“Pecundang!”
“Manusia yang dikutuk!”
“Kamu tidak akan dan tidak pantas bahagia!”
“Kamu akan selalu menderita!”
“Hal yang buruk akan selalu menimpamu!”
“Kamu akan ketakutan seumur hidupmu!”

Tiba-tiba suara-suara menyerbu, berdengung, dan berulang-ulang memenuhi kepala Suki. Pikiran-pikiran yang menghancurkan terus menyerang Suki yang malang.

“Cukup. Aku mohon diamlah dan jangan ganggu aku dengan suara-suaramu itu.” Suki tidak punya kekuatan. Ia menangis dan berteriak ketakutan dalam diam.

“Aku tidak akan berhenti dan aku akan datang kapan saja sebelum kamu mengobatiku dan mendengarkan kata-kataku!” Suara-suara menakutkan itu membalas ucapan Suki. Suara itu berasal dari mulut anak kecil yang selalu berbisik-bisik di kepala Suki.

“Kamu tahu sendiri, aku tidak tahu bagaimana mengobatimu. Lagipula aku selalu mengikuti kata-katamu. Tapi setiap kali aku menuruti kata-katamu, hasilnya apa? Kekacauan, tindakan tanpa perhitungan, dan kamu selalu membisiki semua kata yang buruk hingga aku selalu ketakutan terhadap apa saja! Pergilah atau diamlah, dan biarkan aku tumbuh normal seperti manusia pada umumnya!” Suki berusaha mengendalikan dirinya. Ia menarik nafas panjang dan memejamkan matanya.

“Buka matamu. Jangan bertingkah baik-baik saja jika keadaannya tidak begitu.” Serta-merta muncullah anak kecil yang selalu berceloteh di kepala Suki. Anak itu tepat berada di depan Suki. Ia duduk bersila. Suki menatap anak berdahi lebar itu. Badannya yang kurus dan rambutnya yang kusut memang tampak menimbulkan rasa kasihan. Gadis kecil di depan Suki menatap muka Suki dengan matanya yang sayu dan kesepian.

“Apa kamu berniat berkhianat? Kalau kamu tumbuh seperti manusia normal lainnya. Lalu bagaimana dengan aku?” Gadis kecil berusaha meraih pergelangan tangan Suki.

“Kamu akan meninggalkanku, sementara aku tak punya teman. Aku kesepian. Lagipula aku takut, aku takut sendirian. Kalau kamu pergi, aku sendirian. Padahal aku sakit. Kakiku sakit, telingaku sakit, mataku juga sakit karena aku tidak mau menangis padahal sebagai anak kecil menangis meraung-raung itu hal biasa.”

“Diamlah. Kakimu sudah sembuh sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. Kalau kakimu sakit, kamu tidak bisa sekolah, tidak bisa pergi kemana-mana. Kedua mata dan telingamu juga sehat-sehat saja. Berhentilah merengek dan menakutiku!” bentak Suki pada anak kecil di depannya. Entah mengapa, Suki terkadang merasa sayang sekaligus kasihan, walau anak kecil itu selalu menghalanginya untuk hidup seperti manusia pada umumnya.

“Aku tidak merengek. Apa kamu begitu bodoh? Memang kaki, mata, dan telingaku tidak sakit lagi. Tapi kamu tahu sendiri, bagian manakah dari diriku yang sakit, kan? Dan, aku tidak menakutimu karena memang kamu selalu sendiri dan ketakutan tanpa sebab.” Gadis kecil itu berkata dengan tenang. Ia tidak tampak sebagai gadis kecil yang lugu.

“Lalu apa yang harus aku lakukan?” Suki menatap pasrah.

“Kamu harus mengobati dan menyembuhkanku. Bila kamu tidak bergerak maka aku akan selalu bahkan seumur hidup akan mengikutimu. Dan, kita akan hidup selamanya bersama. Hi! Hi! Hi!” Gadis kecil itu tertawa dan menyeringai hingga tampaklah gigi gingsulnya yang menyembul di balik bibirnya.

“Lalu, bagaimana aku mengobatimu dan menyembuhkanmu?” Suki tidak tahu apa yang harus ia lakukan.

“Aku tidak tahu karena aku masih kecil.” Gadis kecil itu membuang mukanya. Gadis kecil itu memang aneh, terkadang ia bisa menimbulkan rasa kasihan yang dalam, namun terkadang ia bisa menjadi monster kecil yang menakutkan.

“Ya aku tahu, kamu sakit. Dan, hanya Tuhan yang bisa menyembuhkanmu.” Suki menggumam.

“Oh, oleh karena itu, kamu hanya diam saja seperti itu?” sahut gadis kecil.

“Aku tidak diam saja. Aku sudah berusaha bergerak dan berlari, tapi aku akan kembali ke tempat semula. Aku hanya bergerak perputar-putar dan itu membuatku lelah.” Suki benar-benar tidak punya kekuatan.

“Yah, itu juga membuatku lelah. Sebaiknya aku pergi saja sekarang.” Gadis kecil berlahan-lahan memudar.

“Mau ke mana kamu? Mau bersembunyi dan berbisik-bisik menakutiku?” Suki berusaha meraih tangan gadis kecil, namun apa daya gadis kecil itu telah lenyap.

Sedetik setelah gadis kecil menghilang, bisikan-bisikan kembali memenuhi kepala Suki.

“Kamu pecundang.”
“Tuhan tidak menyayangimu.”
“Tuhan menghukummu.”
“Kamu akan gagal selamanya.”
“Kamu akan menderita.”
“kamu akan sendirian dan tidak ada orang yang peduli padamu.”
“Kamu tidak berharga dan tidak berguna.”
“Kamu tidak akan dianggap.”
“Kamu akan ditinggalkan dan diabaikan.”
“Kamu mati saja. Untuk apa hidup?”
“Kamu akan menyesal.”
“Kamu…Kamu…Kamu…”

Suara-suara itu terus memenuhi kepala Suki. Suki tidak tahan lagi, ia memukul-mukul kepalanya hingga ia kesakitan dan kelelahan. Hingga setelah ia benar-benar lelah melawan suara dan bisikan di kepalanya, terdengarlah bisikan halus namun berhasil menenggelamkan Suki dan menggelapkan hidup Suki.

“Kamu tidak akan pernah bisa melarikan diri dariku. Kita akan menderita, terluka, sakit, bahkan jika bisa bahagia, maka kita akan selalu bersama selamanya.”

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender

Januari 2015
S S R K J S M
« Des   Mar »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Top Rated

HTML hit counter - Quick-counter.net
free counters
free counters

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 15 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 171,062 hits
%d blogger menyukai ini: