The Unforgiven

Tinggalkan komentar

Agustus 18, 2013 oleh nugraheniismyname

0016-1

Tia duduk sambil menatap pemandangan Kota Jakarta lewat jendela apartemen. Setiap kali ia merasa terbebani oleh pekerjaan dari kantor, maka ia selalu melamun dan merenung di dekat jendela untuk mengistirahatkan diri. Di tempat itu, biasanya pikirannya akan melayang-layang kemana-mana. Ia akan teringat kejadian di kantor pagi tadi, ia akan teringat mama dan papa, ia teringat rumah di Semarang dan ia juga teringat kepada masa lalu hidupnya.

Raut muka Tia terlihat berubah-ubah saat pikirannya melayang ke kenangan masa lalu ketika ia baru saja lulus SMA. Kejadian itu berputar-putar seenaknya sendiri di pelupuk mata Tia. Memori buruk itu membuat ia teringat kepada Dian, Bayu dan Ridwan. Tiga orang yang sangat ia sayangi itu bersekongkol mengkhianatinya tanpa perasaan hingga membuat perasaan Tia tercabik-cabik. Sampai saat ini, Tia belum  bisa memaafkan Dian, Bayu dan Ridwan.

8 Tahun yang lalu…

Tiara Ramala menatap layar telepon genggam. Ia menunggu pesan masuk dan telepon dari kekasihnya yang bernama Ridwan Pranada. Namun, sekian lama Tia menunggu, Ridwan tak jua menghubunginya.

“Ridwan kenapa, sih? Nomor HP-nya tidak aktif lagi?” keluh Tia. Gadis muda yang baru saja lulus dari SMA N 45 Semarang itu membanting ponsel ke atas kasur, lalu ia berjalan ke arah meja rias.

“Rambutku mulai kusut, kulit mukaku juga kusam.” gumam Tia, ia mematut wajah cantiknya di depan cermin.

“Aku mau pergi ke salon! Tapi, siapa yang mau mengantar dan menemaniku?” Tia kembali menghampiri tempat tidur. Ia duduk di atas kasur. Wajahnya merengut karena nomor HP milik Ridwan tidak aktif.

Semula, Tia ingin meminta Ridwan untuk mengantarnya pergi ke salon. Akan tetapi, berhubung Tia tidak bisa menghubungi pacarnya itu maka ia menelepon sahabatnya yang bernama Dian Sarasina. Tia meminta kepada Dian untuk ditemani pergi ke salon. Untunglah, Dian mau memenuhi permintaan Tia.

Berhubung Tia akan pergi dengan Dian, maka Tia segera menemui Pak Rustam. Pak Rustam merupakan sopir yang berkewajiban mengantar dan menjemput Tia. Begitu Tia bilang jika ia mau pergi, maka Pak Rustam segera mengeluarkan mobil dari garasi. Setelah mesin mobil dipanasi selama beberapa menit, Pak Rustam dan Tia meninggalkan rumah.

“Pak Rus! Kita jemput Dian dulu, ya?” pinta Tia sambil menyisir rambut panjangnya. “Iya, Non.” Pak Rustam mengangguk pelan.

Mobil melaju pelan dari Perumahan Papandayan menuju ke daerah Sampangan. Perumahan Papandayan merupakan perumahan mewah milik orang-orang kaya. Tia termasuk anak yang beruntung karena ia bisa tinggal di tempat itu.

“Sudah sampai, Non.” kata Pak Rustam ketika mobil berhenti di depan sebuah rumah yang berada di daerah Sampangan.

“Iya! Aku turun dulu ya, Pak!” Tia membuka pintu mobil, lalu ia menghampiri pintu depan rumah milik orangtua Dian itu.

“Di, temani aku ke salon, ya? Kamu ga ada acara, kan?” tanya Tia ketika ia baru saja dipersilahkan masuk oleh Dian.

“Pagi ini, aku ga ada acara. Tapi kalau nanti malam, Aries mau main ke rumah,” jawab Dian sambil menyisir rambut pendeknya.

“Iya. Aku ga lama kok di Salon. Aku cuma mau creambath sama facial doang!” Tia memotong ucapan Dian.

“Enak ya kamu, Di? Semakin hari semakin mesra sama si Aries.” Tia membuka obrolan ketika mobil meninggalkan daerah Sampangan.

“Ya, begitulah kira-kira. Kamu sendiri bagaimana? Ridwan masih susah dihubungi?” tanya Dian, ingin tahu.

“Iya. Kamu kan tahu sendiri, sejak menjelang ujian itu, dia susah dihubungi. Ia tidak pernah main ke rumahku lagi. Ia juga selalu menghindari aku setiap kali aku berusaha menemuinya di sekolah maupun di rumahnya,” Tia menghela napas panjang.

“Aku mengerti, mungkin pada waktu itu, Ridwan menghindariku karena ia ingin konsentrasi belajar agar ia bisa lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. Tapi, setelah ujian sekolah selesai, Ridwan masih susah dihubungi.” Tia menyandarkan punggungnya, wajah cantiknya tampak sedih.

“Kalau Ridwan bertingkah seperti itu tanpa alasan, itu berarti hubungan kalian sudah tidak sehat, Ti. Kamu putusin aja itu si Ridwan! Ngapain cowok kayak gitu dipertahankan!” Dian memberi solusi sambil mengelus-elus poni rambut.

“Kenapa Kamu selalu memberi solusi seperti itu, Di? Kamu selalu menyuruhku putusin Ridwan?” Tia menoleh cepat ke arah Dian. Ia tidak suka dengan solusi dari Dian karena ia masih sayang dengan Ridwan.

Ridwan, nama lengkapnya Ridwan Pranada. Ridwan merupakan pria muda yang menjalin kasih dengan Tia sejak mereka duduk di bangku jelas satu di SMA N 45 Semarang. Selama mereka berhubungan sebagai sepasang kekasih, mereka sangat kompak dan serasi. Akan tetapi, beberapa bulan ini, Ridwan tampak menjauh dari sisi Tia.

“Memangnya, Kamu mau perasaanmu digantung sama Ridwan seperti sekarang ini? Tanpa kepastian. Kamu selalu berusaha mendekati, tapi Ridwan selalu menjauh.” Dian menatap wajah sahabatnya.

“Iya, sih. Tapi, mungkin Ridwan sedang sibuk mempersiapkan diri agar ia bisa masuk ke perguruan tinggi negeri favorit. Sejak dulu, ia ingin kuliah di UI.” Tia berpikiran positif.

“Aku sama Aries juga mempersiapkan diri agar kita bisa diterima di UGM, tapi aku sama Aries masih sering bertemu dan berkomunikasi.” Dian terus memanas-manasi. Tia hanya diam ketika ia mendengar pernyataan Dian.

“Eh, Ti! Aku punya teman, namanya Bayu. Dia seumuran sama kita. Dia berasal dari Magelang, tapi ia sekolah di Semarang. Gimana kalau aku kenalin kamu sama dia? Dia cakep dan keren lho, Ti!”

“Maksud Kamu?” Tia mengernyitkan alisnya. “Maksudku? Ya, aku ingin kenalin temanku itu sama Kamu! Siapa tahu, kamu cocok sama Bayu. Tidak ada salahnya, kan? Jika kita banyak teman dan banyak kenalan?” kata Dian panjang dan lebar.

Tia tidak menanggapi omongan Dian. Ia menatap suasana di luar lewat kaca jendela mobil dengan bola mata yang menerawang.

oOo

Tia memasukkan satu lembar kertas Surat Keterangan Hasil Ujian, foto kopi Kartu Tanda Pengenal, Kartu Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru, alat tulis dan dompet ke dalam tas jinjing warna merah. Gadis cantik itu membawa barang-barang itu karena ia akan mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri di Universitas Diponegoro.

Berhubung Tia enggan berangkat hanya bersama dengan Pak Rustam, maka ia menelepon Dian.

“Di, Kamu ujian di Undip juga, kan? Kita berangkat ke sana bareng, ya? Aku jemput Kamu, Oke!” kata Tia kepada Dian lewat telepon genggam.

“Aduh! Sorry, Ti. Aku berangkat sama Aries.” Suara Dian terdengar menyesal karena ia tidak bisa menemani Tia.

“Eh! Gimana kalau Kamu berangkat sama Bayu saja! Nanti, biar aku telepon si Bayu agar dia menjemputmu!” sambung Dian dengan cepat.

“Ah!  Nggak! Aku berangkat sama Pak Rustam saja!” Tia menolak dengan cepat.

“Nggak apa-apa! Kamu berangkat sama Bayu, ya! Kamu tunggu Bayu! Habis ini, aku telepon Bayu! Jangan berangkat  duluan pokoknya!” Suara Dian terdengar bersemangat.

Sebelum Tia sempat menanggapi omongan Dian, pembicaraan di telepon telah ditutup sepihak oleh Dian.

Tia menarik nafas panjang. Ia memasukkan ponsel ke dalam tas, lalu ia berjalan ke arah cermin. Di depan cermin, Tia terlihat mengaca, akan tetapi pikirannya tertuju kepada Bayu.

Bayu Septano, seorang cowok yang tampan, baik hati dan seumuran dengannya. Satu minggu yang lalu, Dian mengenalkan Bayu kepada Tia. Walau baru kenal selama satu minggu, tapi Tia mulai tertarik dengan Bayu. Hal ini karena Bayu sangat perhatian. Setiap hari, Bayu selalu mengirim SMS dan ia juga selalu menelepon Tia. Bahkan selama  tiga hari berturut-turut, Bayu main ke rumah Tia dan ia membawa cokelat dan es krim kesukaan Tia.

Tia sangat tersanjung dengan perlakuan Bayu, akan tetapi ia harus menjaga sikap karena ia masih memiliki Ridwan. Tia masih ingin setia kepada Ridwan, walaupun sampai saat ini Ridwan masih susah dihubungi dan susah ditemui.

Sepuluh menit berlalu, ponsel milik Tia berdering. Nama ‘Bayu’ tertera di layar ponsel. Tia segera menerima panggilan telepon dari Bayu. Ternyata, Bayu menelepon Tia karena ia telah berada di depan rumah.

Tia segera merapikan penampilan di depan cermin, lalu ia turun ke lantai bawah untuk menemui Bayu. Ketika Tia sampai di depan teras rumah, ia melihat Bayu dan nenek. Dua orang berbeda generasi itu mengobrol sangat akrab.

“Hati-hati, ya! Langsung pulang kalau tes sudah selesai.” pesan nenek ketika Tia dan Bayu berpamitan.

Tia dan Bayu segera meninggalkan rumah setelah mereka pamit kepada nenek. Mereka pergi ke Undip dengan menggunakan sepeda motor besar warna putih. Setengah jam kemudian, Tia dan Bayu sampai di Gedung Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota di Undip. Masih ada waktu setengah jam sebelum tes dimulai. Tia dan Bayu duduk dan mengobrol di taman di depan kampus T. PWK.

Di taman itu, Bayu bercerita jika ia tidak mengikuti tes masuk perguruan tinggi negeri karena ia akan mendaftar di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Ia sangat ingin menjadi akuntan yang handal dan hebat. Obrolan antara Tia dan Bayu sangat menyenangkan, apalagi Bayu selalu menyisipkan humor di sela-sela percakapan. Perbincangan seru terhenti ketika bel tanda ujian dimulai berbunyi. Tia masuk ke dalam ruang ujian, sedangkan Bayu menunggu di luar.

Pukul 11.30 WIB, Tia selesai mengikuti ujian di hari pertama dengan sukses. Ia mengajak Bayu untuk makan siang sebelum mereka pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, Bayu tidak langsung pulang. Ia main di rumah Tia hingga sore hari. Tia sangat senang karena ia memiliki teman baru yang bisa mengisi hatinya kembali.

oOo

Sepuluh hari waktu yang diperlukan untuk mengetahui hasil pengumuman Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru. Selama itu, Tia dan Bayu semakin akrab. Bayu selalu mengajak Tia jalan-jalan setiap hari. Mereka bermain ke mall, ke daerah Kota Lama dan ke tempat-tempat menyenangkan lainnya. Bahkan, Bayu pernah mengajak Tia ke tempat kosnya. Bayu selalu mengajak Tia main playstation jika mereka berada di tempat kos milik Bayu.

Tak terasa, hari penentuan pun tiba, pengumuman calon mahasiswa yang diterima di perguruan tinggi negeri bisa dilihat di internet. Hari itu, Tia sangat bahagia karena ia berhasil lulus tes dan ia diterima di Jurusan Psikologi, Universitas Diponegoro. Tak hanya Tia yang gembira, Dian dan Aries juga bahagia karena mereka juga diterima di UGM. Dian diterima di Jurusan Sastra dan Aries diterima di Jurusan Teknik Mesin.

Untuk merayakan keberhasilan itu, Tia mengajak Dian, Aries dan Bayu makan-makan di restoran Seafood di daerah Ungaran. Tia tidak pelit mentraktir orang-orang yang dikasihinya karena ia memiliki banyak uang. Mama dan papa Tia merupakan orang kaya. Mama kandung Tia bekerja di LIPI, saat ini beliau menetap di Jepang. Jika mama kandung Tia tinggal selama bertahun-tahun di Jepang, maka papa kandung Tia tinggal di Papua. Beliau tinggal di sana karena beliau bekerja di perusahaan tambang terbesar di Indonesia.

oOo

Sore itu, empat hari setelah pengumuman hasil tes masuk perguruan tinggi negeri, Tia duduk melamun di taman di belakang rumah. Beberapa kali, ia tersenyum seorang diri setiap kali ia memikirkan Bayu. Cowok baik hati dan perhatian itu telah berhasil mencuri hati Tia. Sebagai seorang gadis muda, perasaan Tia sangat berbunga-bunga karena ia telah diperlakukan bak seorang putri oleh Bayu.

Sampai saat ini, Bayu masih melakukan berbagai cara untuk menarik perhatian Tia. Semakin lama, usaha Bayu ini berhasil. Tia mulai menaruh hati kepada Bayu. Bayu yang telah datang untuk mengisi kesepian hati karena Ridwan selalu menghindar dan menjauhi Tia tanpa alasan yang jelas.

Tia mengibaskan kepala dengan cepat tatkala perasaan, prasangka, harapan dan hatinya mulai melambung. Ia menyadarkan diri sendiri jika ia masih memiliki Ridwan. Tia segera beralih mengenang kembali saat-saat indah bersama dengan Ridwan untuk mengusir perasaannya terhadap Bayu.

Cara itu cukup berhasil karena tiba-tiba Tia merasa sangat merindukan Ridwan. Ketika Tia dilanda rasa rindu yang membuncah, tiba-tiba muncul Dian di belakang rumah. Anak perempuan berambut pendek itu menyusuri tatanan batu alam agar ia sampai di tempat Tia duduk.

“Ti! Tia! Aku punya berita untukmu!”  Dian duduk di samping Tia secepat kilat. “Ada apa, Di?” tanya Tia sambil menatap raut muka Dian.

“Ini, Ti! Siang tadi, aku dan Aries makan di Food Court, yang ada di jalan Majapahit. Eh! Tanpa sengaja, aku lihat si Ridwan! Dia juga makan di sana, tapi dia sama cewek! Lihat ini! ini video Ridwan sama cewek itu! Aku sempat merekam dua orang itu! Lihat ini!” Dian berkata setengah memekik. Ia mengangsurkan ponsel miliknya ke depan muka Tia.

Tia segera merebut ponsel milik Dian. Ia menekan tombol ‘play’ dengan tombol ponsel. Tia mengamati gambar bergerak yang ada di layar ponsel. Sosok Ridwan dan sosok seorang wanita duduk membelakangi kamera ponsel. Sosok Ridwan tampak lebih jelas saat ia menoleh ke arah wanita di samping kanannya. Cowok berambut cepak itu membelai-belai rambut panjang sang gadis di dekatnya. Tak hanya itu, setelah membelai-belai rambut panjang si gadis, Ridwan berdiri, dan wajah Ridwan semakin jelas terlihat di video.

Ridwan tampak berjalan ke arah sebuah stan makanan. Beberapa menit kemudian, ia kembali menghampiri meja, lalu ia menyerahkan sebuah gelas minuman ke arah si gadis berambut panjang. Setelah itu, Ridwan duduk di samping si gadis misterius. Si gadis misterius menyerat kursi agar ia lebih dekat dengan Ridwan. Si gadis segera meletakkan kepalanya di bahu Ridwan begitu ia berdekatan dengan Ridwan. Setelah itu, video berhenti karena durasi habis.

“Kamu tahu siapa gadis itu?” tanya Tia, tangannya masih memegang ponsel. Muka Tia tampak kalut, tegang dan gelisah serta kecewa.

“Aku ga tahu, Ti. Dia duduk membelakangi kamera dan aku tidak sempat mengambil gambar dari depan.” Muka Dian tampak prihatin.

“Apa Ridwan punya cewek lain selain aku? Makanya dia menghindariku terus?” Tia curiga. Kedua bola matanya langsung berair. Ia sedih, kecewa dan terluka.

“Bisa jadi dia punya cewek baru! Oleh karena itu, Kamu harus bersikap tegas sama Ridwan. Putusin aja si Ridwan! Maunya apa sih dia!” Dian mulai membakar emosi.

“Aku ingin menanyakan hal ini sama Ridwan. Tapi, nomor HP milik Ridwan tidak aktif. Kalau aku datang ke rumahnya, ia selalu tidak ada di rumah. Aku harus bagaimana, Di?” Tia mulai terisak-isak.

“Begini saja, dua minggu lagi, kita kan harus mengurus ijazah. Kita harus cap tiga jari dan tanda tangan di sekolah. Nah! Kamu tungguin si Ridwan di sekolah. Setelah Kamu berhasil menemui Ridwan, Kamu bisa ngomong banyak sama dia.” saran Dian.

“Iya. Tapi, waktu 2 minggu itu terlalu lama. Aku ingin menanyakan semua hal kepada Ridwan sekarang.” Tia menghapus air matanya.

“Tidak usah terburu-buru. Selama dua minggu itu, Kamu jangan terlalu memikirkan Ridwan dan gadis di video itu. Toh, sekarang kamu dah punya Bayu. Dia bisa menghiburmu, kan?” Dian menepuk-nepuk bahu Tia.

Tia langsung terdiam. “Benar juga apa yang dikatakan Dian. Sekarang ada Bayu di sampingku. Kalau Ridwan punya cewek baru, aku juga punya Bayu.” batin Tia, Tia berusaha menghibur hatinya sendiri.

“Kalau memang Ridwan punya cewek baru, aku ga peduli! Toh, selama ini dia selalu menghindariku. Memangnya aku ini apa? Pengemis Cinta Ridwan?” Tia berdiri, lalu ia menyerahkan ponsel ke tangan Dian.

“Nah, begitu dong! Jadi cewek harus kuat! Jangan mau dipermainkan sama Ridwan!” Dian mendukung pernyataan Tia.

“Eh! Bagaimana kalau nanti malam kita main ke Tugu Muda atau ke Jalan Pahlawan? Setelah itu, kita makan di kafe favorit kita?” ajak Dian, ia berusaha menghibur Tia dengan mengajak Tia jalan-jalan. “Ayo!” sahut Tia dengan cepat. Ia mulai terlihat tabah.

oOo

Tia berdiri tegang di depan pintu kelas III IPA 2. Ia menunggu Ridwan. “Rid! Ridwan!” panggil Tia dengan nada tinggi ketika Ridwan keluar dari dalam kelas.

Ridwan menoleh. Ia melihat Tia sejenak, mengalihkan perhatian, lalu ia berdiri kaku tanpa mengucapkan satu patah kata pun.

“Rid! Aku mau bicara. Ayo! Kita ke lapangan basket! Jangan menolak ataupun menghindar lagi. Please!” pinta Tia.

“Rid! Sebenarnya selama ini kamu kemana saja, sih? Kenapa kamu selalu menghindariku? Nomor teleponmu tidak aktif dan kamu juga selalu tidak ada di rumah tiap kali aku datang ke rumahmu?” Tia membuka pembicaraan serius begitu ia dan Ridwan sampai di dekat lapangan basket. Lapangan yang berada di belakang gedung sekolah itu tampak lengang karena anak-anak sekolah sedang libur.

“Aku ga kemana-mana. Aku sibuk mempersiapkan ujian dan tes masuk ke universitas. Nomor teleponku tidak aktif soalnya HP-ku rusak.” jawab Ridwan pelan tanpa melihat raut muka Tia. Ia menjaga jarak dengan gadis berwajah ayu itu.

“Oke! Aku terima alasanmu. Sekarang, aku tanya, siapa gadis berambut panjang yang bersama denganmu waktu kamu makan di Food Court di daerah Majapahit?” suara Tia terdengar pelan dan tenang karena ia berusaha tidak marah.

Ridwan diam. Ia tidak tahu harus mengatakan apa. Kedua bola matanya menghadap ke bawah.

“Cewek itu siapa? Dia pacar barumu?” cecar Tia. Ridwan masih saja membisu. “Tolong jawab, Rid!” suara Tia meninggi.

“Aku menyayangi dia dan aku percaya sama dia.” Ridwan mendongak. Ia memaksakan diri untuk menatap Tia.

“O begitu. Karena kamu menyayangi dan percaya sama gadis itu, kamu tidak menyayangi dan mempercayai aku lagi?” Tia menghakimi Ridwan.

“Maafkan aku,” Ridwan mendekati Tia, ia berusaha menggapai tangan Tia, namun Tia menghindar cepat.

“Oke, Rid! Kalau itu maumu. Mulai sekarang, kita putus! Aku sudah lelah menunggumu dan mengharapkanmu!” Tia tersenyum kaku, ia masih berusaha menahan emosi yang membuncah.

“Mulai sekarang! Kita tidak ada hubungan apa-apa lagi, Rid! Semoga kau bahagia dengan keputusanmu!” Tia berlalu cepat dari hadapan Ridwan. Mukanya terasa panas.

“Ti! Tia! Tunggu!” Tia mendengar Ridwan memanggil namanya. Gadis itu masih berharap, Ridwan akan mengejarnya sambil memohon-mohon agar Tia jangan mengakhiri hubungan yang telah terjalin selama tiga tahun. Akan tetapi, harapan tinggallah harapan. Ridwan tidak berada di belakang Tia hingga Tia sampai di depan pintu gerbang sekolah.

Tia berhenti dan tersenyum. Walau ia merasa patah hati, tapi ia puas setelah ia memutuskan hubungannya dengan Ridwan. Tia tidak menyesali keputusannya karena ia telah memiliki Bayu. Tiga hari yang lalu, Bayu meminta Tia untuk menjadi pacarnya. Akan tetapi, Tia belum memberikan jawaban. Tia berencana akan memberikan kepastian setelah ia menyelesaikan urusannya dengan Ridwan.

Tia segera menghampiri mobil dan Pak Rustam yang telah menunggu di luar pintu gerbang. Pagi itu, Tia sengaja pergi ke sekolah bersama dengan Pak Rustam karena ia tidak minta diantar oleh Bayu. Hal ini Tia lakukan karena Tia akan memberikan kejutan untuk Bayu setelah ia pulang sekolah. Ia akan memberikan jawaban atas permintaan dari Bayu. Ya! Tia bersedia menjadi kekasih Bayu karena sekarang ia sudah putus dari Ridwan.

Tia turun dari taksi. Sepulang dari sekolah tadi, Tia langsung berganti pakaian dan ia pergi ke tempat kos milik Bayu dengan menggunakan taksi saja. Ia sengaja tidak memberitahu akan kedatangannya kepada Bayu karena ia ingin membuat kejutan. Tia datang ke tempat kos Bayu sambil membawa makanan. Tangan kanannya membawa sekotak pizza dan tangan kirinya membawa rantang berisi nasi dan kepiting balado, kesukaan Bayu.

Tia berjalan anggun menuju ke halaman bangunan tempat kos Bayu. Suara sandal hak tinggi terdengar saat Tia menaiki tangga bangunan. Kamar kos milik Bayu berada di lantai dua sehingga Tia harus naik tangga agar ia sampai di tempat Bayu. Langkah Tia berhenti ketika ia sampai di dekat sebuah kamar yang berada di lantai dua. Suara riuh musik keluar dari dalam kamar. Pintu kamar agak sedikit terbuka.

Tia mengurungkan niatnya untuk masuk tatkala ia melihat sepatu wanita di depan pintu. Tia merasa tidak asing dengan sepatu itu karena sepatu warna hitam itu mirip sekali dengan sepatu yang sering dipakai Dian.

“Ha!Ha!Ha! Maaf banget, aku baru bisa bantuin kamu sekarang, soalnya kemarin-kemarin aku sibuk mempersiapkan diri agar aku bisa kuliah di Nantes!” Tia mendengar suara yang sangat ia kenal. Suara itu milik Bayu.

“Nggak apa-apa, Bay! Aku lega sekarang. Akhirnya, Tia mutusin aku!” Jantung Tia berdegup kencang saat ia juga mendengar suara Ridwan.

“Aku heran sama kamu, Rid! Sejak dulu, kamu itu udah ga cocok sama Tia, tapi kamu ga mau mutusin dia. Bisa-bisanya kamu memaksakan diri seperti itu!” Suara keras Bayu terdengar lagi.

“Mau bagaimana lagi, Bay! Ridwan itu ga tega sama Tia. Kamu tahu sendiri, Tia Cuma tinggal sama nenek, pembantu dan sopir. Sebenarnya, Ridwan pengen mutusin Tia, tapi ya itu tadi, dia kasihan sama Tia. Oleh karena itu, Ridwan pengennya Tia yang mutusin supaya Ridwan tidak terlalu merasa bersalah. Bukan begitu, Rid?” Tia ternganga ketika ia juga mendengar suara Dian di tengah-tengah alunan lagu.

“Eh, Di! Tapi, aku salut banget sama acting kamu! Di dalam video yang kita ambil di Food Court itu, kamu nggak terlihat jika gadis berambut panjang itu adalah kamu, lho! Si Tia aja percaya sama video itu. Ia pikir cewek berambut panjang itu pacar baru si Ridwan! Hahahaha!” Tia mendengar suara Bayu yang terkekeh-kekeh.

“Iya! Aku ga kelihatan. Di situ, aku kan pakai wig milik mamaku. Lagian mukaku juga tidak terlihat soalnya gambar diambil dari belakang!” Suara cempreng Dian terdengar nyaring hingga mengalahkan suara alunan musik.

“Benar juga, sih! Tapi, ngomong-ngomong, kamu tega banget sama si Tia, sih? Padahal kamu kan sahabatnya?” Suara Bayu kembali terdengar di telinga Tia.

“Aduh, gimana, ya? Aku tu sebenarnya males aja sama si Tia. Dia itu sok kaya! Terus dia itu juga ga mandiri sama sekali. Mau pergi kemana-mana selalu minta ditemenin! Ah, payah deh pokoknya! Apalagi waktu si Ridwan mulai menjauhi Tia, otomatis kan Tia ga punya teman tuh! Eh, tiap kali dia keluar rumah, dia selalu minta dianterin dan ditemenin. Ah! Capek deh! Hahahaha!” Dian tertawa-tawa.

“O, begitu, ya! Terus rencana kita selanjutnya apa, nih!” Suara Bayu terdengar. Tia menyandarkan badan di dinding karena ia merasa badannya lemas seketika ketika ia mendengar pembicaraan orang-orang di dalam kamar kos milik Bayu.

“Kamu sendiri gimana? Kamu suka ga sama Tia? Kalau kamu suka, ambil aja!” Ridwan berseloroh hingga membuat hati Tia semakin sakit karena Tia mendengar suara Ridwan.

“Aduh gimana, ya? Dalam waktu dekat ini, aku harus terbang ke Nantes. Aku juga merasa bersalah nih, kemarin aku sempat keceplosan menembak Tia supaya dia mau jadi pacarku. Sekarang, tolongin aku dong, gimana caranya supaya aku bisa lepas dari Tia?” kata Bayu lagi.

“Berarti kamu dah jadian dong sama Tia?” tanya Dian. “Belum sih! Dia masih memikirkan jawabannya.” sahut Bayu.

“Kalau itu sih mudah saja! Bilang saja kalau kamu dijodohin. Trus kamu harus pergi ke Nantes karena cewek pilihan orang tuamu tinggal di sana. Gampang, kan?” usul Dian.

“Boleh juga tuh idemu, Di! Aku pikirin dulu, ya! Pokoknya, ntar aku dibantu ya, Di!” kata Bayu. “Oke! Itu mudah saja!” potong Dian dengan cepat.

Tia segera menarik nafas panjang. Ia bergegas menguatkan diri sendiri. Ia akan pergi sebelum ia mendengar perkataan lain yang bisa membuat dirinya pingsan di depan pintu. Tia melepas sandal hak tingginya. Ia mencincing sepatunya itu bersama dengan sekotak pizza. Dengan gerakan cepat, Tia berlari meninggalkan kamar kos milik Bayu dengan air mata yang berderai-derai.

Sesampainya ia di tepi jalan, ia melihat seorang anak jalanan yang membawa gitar kecil. Tia memberikan sekotak pizza dan rantang makanan ke anak kecil itu. Tia memakai sandalnya, lalu ia menyetop angkutan umum. Ia tidak peduli lagi dengan kendaraan apa yang ia tumpangi karena ia ingin segera pergi dari tempat itu. Ia tidak mau berlama-lama di tempat kumpulan orang-orang yang telah mempermainkan dirinya. Tia tidak merasa sedih dan patah hati lagi karena amarah dan kebencian lebih menguasai dirinya. Ia bersumpah, ia tidak akan pernah memaafkan tiga orang itu. Ia juga berjanji terhadap dirinya sendiri, ia tidak sudi bertemu dengan Ridwan, Dian dan Bayu lagi.

oOo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender

Agustus 2013
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Top Rated

HTML hit counter - Quick-counter.net
free counters
free counters

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 15 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 171,062 hits
%d blogger menyukai ini: