PAPAKU BUKA PACARKU

1

Oktober 30, 2012 oleh nugraheniismyname

PAPAKU BUKA PACARKU

 PAPAKU BUKA PACARKU

Jam weker di meja dekat tempat tidurku berdering membangunkanku. Pukul 06.00 pagi, aku bergegas pergi ke kamar mandi. Pagi yang cukup cerah ini, aku harus ke rumah mama sebelum beliau pergi. Langkahku tergesa menuruni tangga rumah. “Ju! Bangun! Antarkan aku ke rumah mama, Cepat!” Aku membangunkan kakak laki-lakiku. Julian tak bergeming. Ia tidur di depan televisi dan pastinya ia semalaman nonton pertandingan sepakbola.  

“Ju!!!” Ku tendang kaki Julian. “ Apaan siy! Ganggu orang tidur! Naik angkot sana!” Julian menutup kepalanya dengan bantal. “Ogah naik angkot! Keburu  ni!” Ku ambil bantal yang menutupi kepala Julian. “Salah sendiri! Ga berani nyetir mobil, ga berani naik motor! Maunya diantar jemput! Kayak anak raja aja!” Sumpah serapah keluar dari mulut julian.

“Pagi-pagi begini, mau pergi kemana? Dan?” Papa berjalan menuruni tangga. “Ke rumah mama, Pa..” Aku menatap papa penuh pengharapan. “Oke. Sekalian sama papa ke kantor aja,” Papa mengambil kunci mobil.

Setengah jam berlalu, mobil berhenti di depan rumah yang terlihat sepi. “Pagi benar kau pergi ke rumah mamamu, ada acara penting apa, Dan?” Papa membenarkan letak kacamata. “Tidak tahu, Pa. Aku diminta datang ke rumah mama pagi ini sebelum jam delapan pagi” Ku lihat arloji di tangan kiriku.

“Tapi, nanti kamu pulang ke rumah, kan?” tanya papa. “Iyalah, Pa!” Aku mengangguk cepat. “Oke. Nanti, Papa jemput sehabis makan siang.” kata papa.

“Tidak usah, Pa. Habis dari rumah mama, aku harus masuk kuliah sampai sore. Ntar aku pulang bareng ma Anne seperti biasa!” kataku. Papa tersenyum. Sebenarnya, Papa tidak terlalu setuju jika aku sering datang ke rumah mama. “ Dani pergi dulu ya, Pa!” Ku buka pintu mobil dengan tangan kiri dan tangan kanan melambai ke arah papa.

oOo

 “Kau tambah berantakan setelah sebulan ini tidak ke rumah mama. Kau masih suka latihan taekwondo dan futsal, Dan?” Seorang wanita separuh baya yang masih terlihat segar dan cantik menyambutku di depan pintu. “Banyak tugas yang harus ku kerjakan, Ma. Jadi, latihan taekwondo dan main futsal terbengkalai.” Ku banting tubuhku di sofa ruang tamu. Suasana terasa hening sejenak.

“Dani…” Mama memecah kesunyian. “Ya…” Ku tatap wajah mama yang menurutku lebih muda dari usiaku. “Mama ingin bilang sama kamu jika dalam waktu dekat ini mama akan menikah.” kata mama dengan hati – hati. Aku berusaha tidak terkejut. “Ow…Bukan masalah. Toh, mama sudah lama cerai dengan papa. Lalu, kapan Mama akan menikah?” Ku geser dudukku. “Ya, dalam waktu dekat ini. Empat atau lima bulan lagi.” kata mama. Ku anguk-anggukkan kepala tanda mengerti mengapa mama menyuruhku datang ke rumah.

“Oiya. Pacarmu sekarang siapa, Dan?” Mama mengusap rambutku. “Ah, Mama. Aku masih ingin sendiri.” Aku tak nyaman dengan pertanyaan mama. “Kamu sudah jadi wanita dewasa sekarang. Ubahlah penampilanmu seperti wanita dewasa, donk! Jangan berpenampilan seperti anak kecil lagi. Coba kalau kau dandan, pakai rok, pakai hak tinggi, berpakaian rapi dan panjangkan rambutmu. Pasti kamu akan terlihat cantik!” Mama mengamati kaos bergambar tengkorak yang ku pakai. Beliau menggelengkan kepala.

“Tingkat kedewasaan seorang wanita tak bisa dilihat dari cara mereka berdandan dan berpenampilan, Ma!” Aku bosan dengan saran mama yang sangat tidak bermutu, itu menurutku. “Aku akan pergi dan tidak akan datang ke rumah mama lagi, jika mama selalu menyuruhku berdandan dan lain sebagainya!” Aku beranjak dari tempat dudukku.

“Tenang, Dan…” Mama memegang tanganku supaya aku tidak pergi. “Mama berniat mengenalkanmu dengan anak sahabat mama. Dia tinggal di luar negeri, anak tunggal dan sebentar lagi akan mewarisi perusahaan besar ayahnya.”

Aku mengernyitkan alis. “Aku tidak tertarik dengan pengusaha.” kataku ketus. “Dia masih muda, berprestasi dan pastinya cakep!”.

“Yang bener, Ma? Siapa namanya?” Aku duduk lagi di dekat mama karena aku mulai tertarik dengan tawaran mama. Mama tersenyum misterius. “Rahasia, donk! Biar kamu penasaran. Dalam waktu dekat ini, dia dan ayahnya akan datang ke pernikahan mama.”.

“Ah, Mama…” Aku lumayan kecewa. Suasana kembali hening. Mama sibuk mengoleskan cat kuku warna merah jambu di ujung jari lentiknya.

“Oiya, Ma. Siapa calon suami mama? Mama belum pernah memperkenalkannya padaku dan Julian, kan?”.

“Dani Sayang… Tentu saja Mama pasti akan memperkenalkan papa barumu supaya kalian bisa dekat secara alami. Tapi, tidak sekarang.” Mama menambahkan cairan bening di kukunya. Ku tatap mama dengan wajah penuh kejengkelan.

“Mama sering membuat orang penasaran dan penuh tanda tanya. Pantas  papa tak pernah bisa mengerti apa mau mama. Mama sok misterius!” komentarku tanpa basa – basi.

Mama menoleh ke arahku dengan senyum yang aneh. “Sebelum mama menikah, mama akan pergi ke Cina untuk menyelesaikan proyek yang tertunda. Mama minta supaya kamu tinggal di rumah mama selama mama pergi.”.

“Mmm…Bagaimana, ya?” Aku teringat sikap papa yang tidak setuju jika aku terlalu lama tinggal di rumah mama. “Mama akan minta pengertian papa supaya kamu boleh tinggal di rumah mama untuk sementara waktu.” Mama sepertinya tahu apa yang sedang aku pikirkan. “ Oke, Ma…” Aku mengangguk tanda setuju.

Seminggu sudah aku tinggal di rumah mama. Hari minggu pagi yang cerah, aku sedang mengerjakan tugas kuliah ketika telepon genggamku bergetar. “Halo, Mama…”. “Halo Sayang! Apa kabarmu?” Dari seberang terdengar suara merdu mama. “Baik, Ma!” jawabku.

“Dan, Entah siang atau sore ini akan datang seseorang ke rumah. Tolong sambutlah dengan baik ya?”. “Siapa yang akan datang, Ma? Laki-laki atau perempuan?” tanyaku penasaran. “Ada deh! Kamu akan tahu setelah kamu berkenalan dengan dengannya. Sudah dulu ya Sayang. Mama sibuk, ni!” Telepon ditutup sepihak oleh mama.

“Lagi-lagi! Mama membuat orang penasaran. Mama yang aneh!” Ku banting hape ke tempat tidur. Aku jenuh dengan tugas kuliah yang menumpuk. Ku nyalakan televisi dan menonton kartun kesayanganku. Sepi dan sunyi terasa di rumah mama. Hanya ada Mbok Supi yang selalu asik di dapur.

“Masih mending di rumah papa, ada Julian walau terkadang dia sangat menyebalkan. Pantaslah mama ingin menikah lagi. Mama kesepian…” batinku. Aku pindah-pindahkan saluran televisi dengan remote di tangan kananku. Aku mulai bosan ketika terdengar langkah Mbok Supi menaiki tangga. “Non! Ada tamu ingin bertemu Non Dani.” kata Mbok Supi. Aku menoleh. “Siapa, Mbok?”. “Tak tahu, Non. Orangnya ganteng lho!” Mbok Supi tersenyum senyum sendiri. “ Siapa ya?” Aku ragu-ragu menemui tamu itu.

oOo

Aku tertegun, ku lihat orang yang berdiri di samping vas bunga kesayangan mama. Seorang laki-laki seumuran Julian, bertampang keren dan sangat tampan. Ia tersenyum tatkala melihatku. Laki-laki tampan itu menghampiriku dan mengangsurkan tangan kanannya ke arahku. Aku gugup, ku jabat tangan laki-laki itu dengan  gemetaran. Kebiasaan burukku adalah aku yang selalu cepat gugup ketika berhadapan dengan pria tampan.

“Daniel…” Pria itu memperkenalkan diri. “Sial! Mengapa tadi pagi aku tidak mandi dan berdandan jika hari ini akan datang pangeran tampan?” keluhku dalam hati. “Mamamu pasti sudah menceritakan semuanya termasuk tentang aku bukan, Dani?” kata laki – laki itu membuka tema pembicaraan.

“I…iya..” Aku mengangguk dan otakku mulai berputar tatkala mama menawarkan perjodohan untukku. Aku tersenyum sendiri. “ Jangan-jangan? Laki-laki ini yang dijodohkan denganku! Oh, Mama! Terimakasih!”.

“Dani…” Pria yang sekarang duduk di depanku itu menyadarkanku dari pikiran dan angan – anganku. “I…iya…” Aku tergagap. “Ehm…Kamu semester berapa sekarang?” Daniel tersenyum menawan. Aku merasa terbang!

“Daniel nama laki-laki tampan itu dan Danisa adalah namaku. Benar-benar perpaduan yang pas! Mama sungguh hebat! Beliau menjodohkanku dengan pria yang namanya hampir sama denganku. Apakah ini yang dinamakan jodoh?”.

“Dani!” panggil Daniel karena ia tidak mendapat tanggapan dariku. Suaranya cukup keras tapi suaranya tetap terdengar merdu di telingaku. “Oh, maaf. Apa tadi yang ditanyakan?” Aku mengerjapkan mataku.

“Kamu kuliah semester berapa, Dani?”. “Oh! Aku? Aku kuliah semester enam.” Aku terlihat bodoh dan seperti kehilangan akalku.

“Anda sendirian saja?” Pertanyaan canggung meluncur begitu saja dari bibirku tanpa ku pikirkan terlebih dulu.

“Aku? Pentingkah aku datang sendirian atau datang dengan orang lain ke sini?” kata si tampan sambil tersenyum menawan.

“Maksudku. Anda ini siapa dan ada perlu apa ke sini?” tanyaku. Pria itu tersenyum dan menatap tajam ke arahku. “Aku datang untuk memperkenalkan diri. Namaku adalah Daniel Keynes Nugraha. Aku adalah…”

“Maaf menganggu. Silahkan ini ada hidangan ala kadarnya, Tuan. Silahkan…” Mbok Supi datang menawarkan makanan dan minuman. “ Terimakasih…” Daniel tersenyum ke arah Mbok Supi dan pastinya Mbok Supi terpesona dengan pria itu karena ia hampir menjatuhkan nampan yang ia bawa. Daniel mengambil gelas mungil berisi limun dingin diatas meja.

“Mari…” Ia menawarkan satu gelas limun padaku sebelum limun itu ia minum. Aku mengangguk. Tiba-tiba terdengar suara alunan lagu The Call yang dinyanyikan oleh Regina Spektor. Daniel mengambil hape dari saku dan ia pergi menghindar. Tak lama kemudian, Daniel kembali duduk di depanku.

Sorry, Dani. Aku harus pergi. Oiya, mulai sekarang. Jika kamu berangkat kuliah atau kamu mau pergi kemanapun, Aku bisa mengantarmu jika Aku tidak sibuk. Okay? Ini kartu namaku.” Daniel mengambil kartu nama dari dompetnya dan memberikannya kepadaku. Aku mengangguk cepat. “Okay, Dani…Bye..bye…” Daniel melambaikan tangan kanannya kearahku yang bersandar di samping pintu.

Aku bergegas menaiki tangga ketika Mbok Supi menyambutku. “Non. Ganteng banget cowok itu. Pacar Non Dani, ya?” tanya Mbok Supi menggoda.

“Belum jadi pacarku, Mbok. Tapi sebentar lagi dia akan jadi pacarku,” gumamku sambil tersenyum-senyum senang. Lalu ku ceritakan semua hal mengenai rencana mama yang berniat menjodohkanku dengan cowok ganteng. Mbok Supi manggut – manggut saat ia mendengar ceritaku. Tak ada jarak antara aku dan Mbok Supi, hal ini karena sejak kecil aku dirawat oleh Mbok Supi. Setelah cerita kesana – kemari dengan Mbok Supi, aku pun masuk ke kamarku. Ku tatap langit-langit kamar dengan perasaan tidak menentu.

“Akhirnya, Tuhan. Kau kirimkan pangeran yang selama ini ku impikan. Terimakasih, Tuhan. Terimakasih, Mama…” Ku ambil hape di meja dan bermaksud menelepon mama tetapi hape mama selalu saja sibuk. Ku banting badanku di kasur empuk.

“Tak ada ruginya aku tinggal di rumah mama selama ini. Aku akan pamerkan ke Julian jika aku bisa mendapatkan pangeran pujaan hatiku. Ia tak akan berani lagi menghinaku. Oh, betapa indahnya dunia ini,” Wajah Daniel terbayang dalam pelupuk mataku.

Senin pagi yang ceria, aku sangat bersemangat karena hari ini aku berangkat kuliah diantar pria tampan pujaan hati. Tawaran Julian untuk mengantarku berangkat kuliah aku tolak dengan tegas. Aku bergegas keluar pintu ketika sebuah mobil mewah masuk ke halaman rumah mama. Daniel keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untukku.

“Dani, pulang kuliah ada acara apa?” Daniel menatapku. “Tidak ada acara. Memangnya ada apa?”. “Okay…Em…Maukah kau, ku ajak jalan-jalan?”.

“Jalan-jalan? Boleh!” Aku bereaksi cepat. Kami terlihat akrab sekarang. “Selesai kuliah kau hubungi aku, ya?” Daniel mengerjapkan mata indahnya ke arahku.

oOo

Selesai kuliah aku menunggu kedatangan Daniel, tak lama kemudian mobil mewah Daniel mendekat ke kampusku. Aku bersorak dalam hati. Ku hampiri mobil itu dan Daniel keluar untuk membukakan pintu mobil. “Kamu pasti belum makan siang, kan? Kita makan siang dulu, ya?” Daniel mengambil kacamata hitam dan memakai benda berkaca itu.

“Oh, Tuhan. Kau Maha Besar menciptakan makhluk sesempurna ini.” batinku dalam hati. “Dani. Kamu suka masakan Jepang?” tanya si tampan Daniel.

“Iya. Aku suka masakan Jepang.” kataku cepat. “Daniel! Walau kau memintaku makan makanan basi pun aku mau.” batinku lagi. “Aku juga sangat suka dengan makanan Jepang.” Daniel memacu mobilnya cepat.

“Okay, Dani. Kita sampai di Restaurant Japan Food…” Aku tertegun menatap restoran itu. “Padahal aku tidak suka makan ikan mentah atau ikan setengah matang, tapi biarlah apapun akan ku lakukan untuk pria tampanku.” Aku tersenyum dalam hati.

Aku dan Daniel duduk berhadapan menunggu makanan datang. “Dani, aku pergi ke kamar mandi sebentar, ya?” Daniel merogoh saku celana dan ia mengeluarkan ponsel serta dompet. “Titip ya, Dani…” Daniel bergegas pergi.

Ku tatap ruangan di sekelilingku, terlihat beberapa pria bule dengan wanita asia lalu lalang masuk ke restoran. Ketika aku sedang asyik mengawasi pria bule yang mirip sekali dengan Channing Tatum, tiba-tiba terdengar suara alunan Lagu Regina Spektor dari ponsel Daniel. Iseng-iseng, ku ambil ponsel Daniel dan ku lihat siapa yang menelepon Daniel. Di layar ponsel milik Daniel muncul sebuah foto dan nama yang membuatku terhenyak. Foto seorang wanita yang sangat ku kenal. Mama! Di bawah foto mama ada tulisan “My Lovely”.

Otakku rusak seketika. Pikiranku kabur kemana-mana. Ku pegang ponsel itu dan ku tatap dengan seksama layar ponsel yang terus memunculkan foto mama. “Telepon dari siapa, Dani?” Suara Daniel mengagetkanku.

“Ini…” Kuangsurkan ponsel Daniel dengan tangan bergetar. Daniel menerima telepon itu. “Hello…Honey…Iya…Aku sedang bersama Dani…Iya, Kami sudah kenal dan akrab…Okay, Honey…Sampai jumpa…Bye…Bye…Love You…” Daniel menutup pembicaraan.

“Mama kamu telepon, Dani. Besok ia pulang dari Cina, kita diminta untuk menjemputnya…bla…bla…bla…”.

Mataku berkunang-kunang, telingaku berdenging-denging dan tubuhku mendadak dingin. “Dani…Dani…Kamu sakit? Wajahmu terlihat pucat?” Daniel menatap mataku yang mungkin telah hilang pupilnya. Aku tergagap.

“Dani…Kamu sakit?” tanya Daniel. “Tidak. Aku tidak sakit kok!” Aku tertunduk. “ Oh syukurlah, jika kamu baik-baik saja. Oiya, Dani. Ada yang ingin Aku bicarakan. Mamamu minta supaya Aku dan kamu bisa dekat dan kenal secara alami. Aku merasa kamu bisa menerimaku dengan baik. Aku adalah calon papamu sekarang. Walau aku bukan papa kandungmu, tapi aku harap kamu menganggapku sebagai papamu sendiri. Aku berjanji pada Susan, mamamu. Aku akan menyayangi Julian dan kamu seperti anak kandungku sendiri. Yah, walau aku, kamu dan Julian mungkin seumuran. Tapi, aku sangat menyayangi Susan melebihi apapun,” kata Daniel menerangkan tujuannya untuk mendekati aku selama ini.

Sekarang bukan hanya mata dan telingaku yang error, lambungku pun terasa diaduk aduk. Aku terpaku menatap sosok di depanku. “Dani. Aku merasa bahagia bisa menjadi bagian hidup susan. Sejak mamamu memaparkan proyek perancangan kawasan permukiman elite di daerah Bukit Permata Hijau, aku sangat terpesona dengan kecerdasan, sikap dan semua perkataan mamamu. Aku tertarik untuk kerjasama dengan mamamu. Walau aku baru lulus kuliah tapi berkat bimbingan mamamu, aku merasa telah mampu memimpin perusahaan milik ayahku.” Daniel curhat bagaikan ia curhat dengan sahabatnya sendiri.

Aku merasa kini tulang-tulangku tak mampu menopang tubuhku dengan baik. Aku hanya bisa diam dan tertegun. Pelayan datang membawakan beranekaragam makanan. “Ayo, Dani. Makan dahulu…” Daniel tersenyum manis seperti biasanya, tapi sekarang, bagiku senyuman itu seakan – akan merobek hatiku. Tanganku terasa dingin. Perutku bergejolak mendadak tatkala ku lihat irisan-irisan daging ikan setengah matang tersaji di depanku.

“Sebentar. Aku pergi ke belakang dulu,” Dengan setengah terhuyung aku bergegas ke kamar mandi. Pintu kamar mandi ku tutup dan semua isi perutku keluar. Kepalaku terasa pening, badanku panas walau kaki dan tanganku terasa dingin.

Selesai dari kamar mandi, aku mendekati Daniel. “Dani. Kau sakit? Wajahmu pucat dan kau terlihat lemah?” Daniel menghampiriku dan ia memegang tanganku. “Oh! Tanganmu dingin sekali?”.

“Iya, badanku tak enak. Tolong antarkan aku pulang, ya? Tapi, kamu selesaikan makanmu dahulu.” Aku terduduk tak berdaya sambil memejamkan mata.

“Ayo, aku antar kamu ke dokter!” Daniel beranjak dari tempat duduknya. “Aku tak mau ke dokter, kamu makan dulu, saja.”

“Aku kenyang, Dani. Pokoknya kamu harus ke dokter, aku tak mau terjadi hal-hal yang tak diinginkan.” Daniel memegang bahuku.

“Tak usah ke dokter. Tolong, antarkan aku pulang ke rumah saja, tapi rumah papaku.” Ku singkirkan tangan yang memegang bahuku.

“Tapi kamu harus…”. “Aku harus pulang ke rumah papa, sekarang!” Aku berdiri terhuyung. “Okey…Okey…” kata Daniel. Akhirnya, aku dan Daniel bergegas pergi dari rumah makan ala Jepang itu.

oOo

“Kamu kenal dia darimana, Ju?” Aku duduk di teras rumah setelah Daniel mengantarku pulang ke rumah papa. Untuk saat ini, aku tidak ingin pulang ke rumah mama walaupun mama belum pulang dari Cina. Padahal. Aku sudah berjanji kepada mama untuk menunggu kepulangan mama di rumah mama.

“Seminggu yang lalu, sebelum mama berangkat ke Cina. Mama mengajakku ketemuan dan memperkenalkan calon suami mama. “Seminggu yang lalu? Kok kamu ga bilang ma aku?” tanyaku.

“Mama minta supaya aku jangan bilang dulu ma kamu, mama yang akan memperkenalkan sendiri padamu nantinya, gitu. Ngapain aja seminggu di rumah mama? Betah juga ya? Ada cowok cakepnya siy…Ha…ha…ha….” Tiba-tiba Julian tertawa terbahak-bahak.

“Kamu ngapain tertawa, Ju!” Ku tatap Julian dengan rasa tidak suka. “Tadi pagi aku ke rumah mama dan berniat mulia untuk mengantarmu berangkat kuliah. Tapi saat aku sampai di rumah mama, Mbok Supi bilang, jika kamu berangkat kuliah diantar pacarmu yang bernama Daniel. Aku geli waktu Mbok Supi bilang Daniel itu pacarmu. Makanya aku kasih tahu siapa itu Daniel yang sebenarnya karena sepertinya Mbok Supi belum tahu Daniel. Terus kamu mau tahu ga reaksi Mbok Supi saat ia mendengar penjelasanku tentang Daniel?” tanya Julian iseng.

“Emang reaksi Mbok supi apa!?” tanyaku. “Mbok Supi awalnya tak percaya terus dia bilang begini, kasihan Non Dani. Non Dani belum tahu siapa Mas Daniel yang sebenarnya. Non Dani pasti kecewa karena ia mengira Mas daniel adalah jodohnya.” Julian tertawa – tawa menjengkelkan.

Ku garuk tanganku yang tidak gatal. “Kamu pasti menyangka Daniel itu calon pacarmu yang dijodohkan mama, kan? Kasihan bener adik perempuanku ini!” Julian mengelus-elus rambutku. “Makanya, jadi orang janganlah cepat GR dan cepat terpesona dengan pria tampan…he..he..he…” Julian terus tertawa-tawa puas.

“Diamlah, Ju! Urusi skripsimu yang belum kelar itu!” kataku pura – pura marah padahal aku merasa malu sekali. Malu dengan mama, malu dengan Daniel, malu dengan Julian, malu dengan Mbok Supi dan tentu saja malu dengan diri sendiri.

“Ga nyambung banget! Aku bicara tentangmu. Jangan mengalihkan pembicaraan, donk…he.he.he!” Julian masih terus menggodaku. Ku copot sepatu kananku dan ku lempar ke arah Julian yang terus tertawa puas mengejekku. Mulai saat ini, aku berjanji tidak akan memalukan diri sendiri dihadapan aku sendiri. Karena malu di hadapan diri sendiri itu 200 persen lebih memalukan di bandingkan malu di hadapan orang lain.

oOo

 

 

One thought on “PAPAKU BUKA PACARKU

  1. Ngegosip.com mengatakan:

    Asli seru banget..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender

Oktober 2012
S S R K J S M
« Sep   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Top Rated

HTML hit counter - Quick-counter.net
free counters
free counters

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 15 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 170,141 hits
%d blogger menyukai ini: