MATINYA JIWA DI DALAM HIDUPNYA RAGA

Tinggalkan komentar

Oktober 29, 2012 oleh nugraheniismyname

MATINYA JIWA DI DALAM HIDUPNYA  RAGA

Ramira terdiam di antara teman-teman  yang saling bercerita tentang pacar mereka, tentang belanja dan perawatan kecantikan.  Ramira hanya bisa membisu jika mereka bercerita tentang tiga pasal penting dalam hidup mereka itu. 

“Mel, kemarin aku pergi ma Aan. Kita makan di restoran.Trus, habis itu kita jalan ke mall dan aku dibeliin sepatu ini…” Sonia menyodorkan kaki kanannya di depan Mella.

“Aduh enak banget ya? Aku ni ya, lagi marahan ma Mas Dodi. Dia nyebelin banget siy! Dia tidak pernah mengajak aku keluar. Padahal aku ingin jalan-jalan, ditraktir dan dibeliin sesuatu ma Mas Dodi. Dia pelit, siy…” Mella memonyongkan bibirnya.

“Aduh,aduh…Cowok seperti itu kok dipertahankan. Cari yang lain aja, Jeng!” Sonia mengibaskan rambutnya yang hitam, panjang dan indah.

“Iya siy pengennya. Oiya, kamu sudah mencoba facial di Emerald Beauty belum? Di sana lebih murah lho daripada di Laura Skincare!” Mella mengambil kaca kecil, jimat yang selalu ia bawa kemudian dia mematut wajahnya di depan kaca.

“Eh, Ra! Coba deh sekali-kali kamu panjangin rambutmu.  Aku perhatikan kulit tanganmu tu bersih tapi wajahmu kusam dan lebih gelap daripada kulit tangan ma kulit kakimu. Kamu pakai cream pemutih biar wajahmu lebih cerah terus pakai pakaian yang agak cewek gitu deh. Pasti kamu tampak imut dan cantik so banyak cowok yang akan terheran-heran ma perubahan kamu dan antri buat jadi pacarmu!” Tiba-tiba Sonia menoleh dan menepuk pundak Ramira.

“Iya…Biar kelihatan dewasa!” Mella menimpali pernyataan Sonia. Ramira hanya tersenyum  untuk menanggapi ucapan Mella. Ia tidak berkata satu patah kata pun.

“Percuma kasih saran si Ramira…” Sonia memelintir rambutnya. “Iya…” Mella mengangguk, ia setuju dengan perkataan Sonia.

oOo

Mata Ramira terpejam, Ramira teringat perkataan Sonia dan Mella. Mereka selalu saja memberi saran yang tak penting. Ramira menatap langit-langit kamar kos dan pikirannya kembali ke masa tiga tahun yang lalu.  Seorang cewek berdiri di depan sebuah salon, rambut panjang yang indah serta kulit yang terawat dibalut baju yang sedikit terbuka di bagian bahu menambah imut dan cantik cewek yang terlihat gusar itu. Dia mengambil ponsel dari tas kecil yang ia bawa.

“Han! Kamu dimana? Sudah lima menit aku menunggumu, kamu belum datang juga!”. “Sayang! Aku menjemputmu agak telat ya? Mobilku agak rewel, niy!” Suara lembut terdengar dari seberang telepon.

“Aku nggak mau tahu, ya! Aku kasih waktu sepuluh menit, kamu harus datang menjemputku! Kalau mobilmu rusak, kamu bisa pinjam mobil papamu, kan? Tadi saja kamu mengantarku pakai mobil papamu, kan?” Cewek di depan salon itu terlihat marah dan tak sabar.

“Iya, tadi aku antar kamu pakai mobil papa karena mobilku agak rewel tapi sekarang papa mengantar mama pergi ke dokter. Jadi, ga ada mobil lagi di rumah, aku jemput pakai motor ya?”.

“Apa!!! Jemput pakai motor? Aku  ga mau! Percuma aku ke salon, donk! Rambut dan dandananku bisa rusak kalau  naik motor, tauk!!!”.

“Oke! Oke! Aku  jemput pakai taksi, ya?” Suara dari seberang telepon terdengar menenangkan. “Ga mau! Kamu nyebelin banget, siy! Tadi, kamu ga mau menungguku di salon, sekarang kamu ga mau menjemputku! Aku ga mau tahu, ya! Jemput aku pakai mobil! Aku ga peduli itu mobil rusak sekalipun!” Cewek itu merajuk.

“Sayang… Aku ga bisa menunggumu di salon soalnya mobil mau dipakai papa mengantar mama ke dokter. Oke! Oke! Ntar aku jemput kamu, deh. Tunggu aku, ya…” terdengar suara dari ujung telepon. Cewek bermuka cemberut  itu  mematikan ponselnya sebelum ia menjawab perkataan cowok di ujung telepon.

Cewek manis dan  imut itu duduk di depan salon sambil memencet tombol ponsel untuk mengusir kebosanan. Satu detik, satu menit, lima menit, sepuluh menit… Cewek itu tampak berusaha menelepon seseorang. Lima belas menit, dua puluh menit, tiga puluh menit… Ia tampak marah dan kesal. Cewek berambut  panjang  sepinggang  itu menghampiri taksi dan pergi dari salon dengan muka penuh kekecewaan.

“Awas saja kamu, Han!  Aku mau putus sama kamu!  Kamu menyebalkan!” Cewek itu mengusap air mata di pipinya. “Aku benci kamu, Han!” teriaknya dalam hati. Cewek imut, manis dan cantik itu bernama Ramira. Ia memiliki kekasih bernama  Hanang. Hanang adalah seorang cowok yang sejak kelas satu SMA selalu menemaninya sejak kedua orang tua Ramira bercerai.

Ketika Ramira sampai di rumah, seorang wanita tua tergopoh-gopoh menyambut kedatangan cewek yang bermuka kusut itu. “Sendirian saja, Non Ramira?” Wanita tua yang bernama Mbok Temon itu menyapa Ramira. Ramira yang marah karena tidak dijemput Hanang tidak menggubris sapaan Mbok Temon. Cewek manis itu masuk ke dalam kamar lalu ia membanting badannya di atas kasur empuk. Ia masih sibuk menghapus air mata kekesalannya.

“Han! Aku benci kamu!” Ramira menutup telinga dengan bantal. Tak lama kemudian pintu kamar diketuk. “Non! Non Ramira ada telepon!!!” Suara Mbok Temon mengiringi ketukan pintu.

“Bilang saja aku tidak ada di rumah!” Ramira berteriak dari dalam kamar. Ramira mengira, seseorang yang berusaha menghubunginya adalah Hanang. “Tapi, Non! Penting katanya!” Mbok Temon berusaha memberi tahu Ramira. “Kalau aku bilang nggak mau! Ya, nggak mau!!!” Ramira berteriak histeris.

“Non! Ini telepon dari Mas Rinto, dia bilang katanya Mas Hanang kecelakaan! Mas Rinto minta supaya Non Ramira datang ke rumah sakit  Husada sekarang!” Mbok Temon masih berusaha memberitahu Ramira sambil terus menggedor pintu kamar.

“Ah! Hanya akal-akalan Hanang biar aku ga marah ma dia! Trik lama dan basi!” Ramira mengubah posisi tidurnya menghadap ke dinding. “Non! Non Ramira!!!” Mbok Temon masih mengetuk  pintu  kamar.

“Berisik!!!!” teriak Ramira. Mbok Temon berhenti mengetuk  pintu dan langkah Mbok Temon terdengar menuruni tangga. Setelah Mbok Temon pergi, Ramira menutup kepala dengan bantal kemudian ia tertidur.

Pagi yang cerah, Ramira terbangun oleh suara ketukan pintu kamar. “Apa-apaan siy ini?! Ganggu orang tidur aja!” Ramira bergegas menuju pintu kamar dan membuka pintu.

“Ada apa siy, Mbok! Ganggu tidurku tauk!” Ramira mengomel di depan Mbok Temon. “Non, ada telepon…” Mbok Temon memelankan suaranya.

“Bilang saja, aku tidur atau apalah!!!” Ramira membentak Mbok Temon. “Tapi ini penting, Non. Sejak tadi malam, Mas Rinto selalu menelepon untuk menanyakan Non Ramira…” Mbok Temon berusaha meyakinkan Ramira.

“Sepenting apa siy!!!!” Ramira menuruni tangga dengan kemarahan yang memuncak. Ia berhenti di depan meja telepon dan mengangkat gagang telepon. “Ada apa siy!!! Ganggu orang tidur aja!!!” Tanpa basa basi Ramira mengomel tak karuan.

“Ramira! Kamu tidur!?  Sedangkan Hanang terbujur kesakitan  meregang nyawa di rumah sakit?” Suara dari seberang telepon terdengar kesal. “Apa? Trik lama dan basi supaya aku ga marah ma dia!” Ramira mencibir.

“Teganya kamu bicara seperti itu! Sekarang dia terbaring di rumah sakit dan baru saja dia menyebut namamu! Cepat ke rumah sakit, sekarang!!!!” Rinto menutup telepon sepihak.

Ramira berdiri ragu di dekat meja telepon kemudian ia bergegas naik ke lantai atas. Ramira membuka tas dan mengambil ponsel. Ia menyalakan ponsel yang semula ia matikan. Ada 200 pesan masuk ke dalam ponselnya. Pesan itu memberitahukan, jika Hanang masuk ke rumah sakit karena ia mengalami kecelakaan.

Ramira berusaha menghubungi Rinto lewat ponselnya untuk memperoleh kebenaran, tapi tak ada tanggapan dari Rinto. Ia juga menghubungi nomor ponsel Hanang tapi ponsel Hanang tidak aktif.

“Oke! Jika ini cuma trik supaya aku ga marah ma Hanang, aku tak akan memaafkan dia!!!” Ramira bergegas mandi. Setelah itu, Ramira berdandan lalu ia menghampiri Pak Tarjo yang sedang terkantuk-kantuk di halaman rumah.

“Pak Tarjo, antarkan aku ke Rumah Sakit Husada, sekarang!” Ramira menepuk pundak pak Tarjo. “Siap, Non! Siapa yang sakit, Non?” Pak Tarjo mengambil kunci mobil di dalam saku. “Sudahlah!!!Jangan banyak tanya!!!” Ramira berjalan malas menuju ke arah mobil yang diparkir di depan garasi.

Pak Tarjo mengemudi mobil dengan kecepatan tinggi, menyusuri jalan yang panas kemudian sampai di depan rumah sakit terbesar di kota  Kedu Utara. Ramira masuk ke dalam rumah sakit. Ia menghampiri beberapa perawat  yang membawa infus tak terpakai.

“Mbak! Ada pasien yang bernama Hanang Nugraha di rawat disini?” Perawat itu saling memandang. “Pasien kecelakaan ya, Mbak? Ada mbak! Hanang Nugraha di ruang  ICU.”

“ Ruang ICU dimana ya, Mbak?” Ramira merasa panik dan khawatir mendadak. “ Oh…Mari saya antar…” Perawat itu pergi diikuti oleh perawat lain. Ramira berjalan tergesa mengimbangi kecepatan berjalan perawat itu.

“Ini ruangannya, Mbak…” Perawat itu masuk ke ruangan khusus dan terlihat Rinto sahabat Hanang sejak kecil, papa serta adik laki-laki Hanang berdiri di samping pembaringan. Mama Hanang memeluk tubuh yang terbaring tak berdaya. Beberapa perawat yang masuk bersama Ramira melepas selang oksigen yang menempel di hidung Hanang. Seorang perawat laki-laki melepas jarum  infus yang menempel di tangan kanan Hanang dan perawat perempuan melepas jarum yang berfungsi mengalirkan tranfusi darah ke nadi Hanang.

Ramira berdiri terpaku melihat pemandangan di ruang ICU. Rinto bergegas menghampiri Ramira dan menarik Ramira keluar dari ruang ICU itu. “ Rin…” suara Ramira tercekat. Rinto menggeleng pelan.

“Kemarin dia bilang mobilnya rewel dan akan dibawa ke bengkel…” Rinto mengusap mukanya dengan kedua tangan. Ramira bergegas masuk ke dalam ruangan. Ia menghampiri Hanang yang seluruh tubuhnya tertutup dengan kain hijau. Ramira menjerit. “ Hanang!!!” Ramira membuka kain hijau yang menutup tubuh Hanang. Ramira limbung, ia tidak bisa berpikir apa-apa.

“Kemarin, dia pamit sama Tante mau benerin mobil ke bengkel tapi ternyata dia pamit untuk pergi selamanya. Dia kecelakaan dalam perjalanan menuju bengkel mobil untuk memperbaiki mobilnya yang beberapa hari ini rewel. Kamu harus ikhlas dan sabar ya, Ra? Tante juga akan berusaha ikhlas menerima kepergian Hanang.” Tante Ayu, Mama Hanang memeluk Ramira erat. Ramira terpuruk di dalam pelukan mama Hanang.

“Tante…Hanang meninggal karena aku. Aku memaksa dia menjemputku padahal mobilnya rusak!!!” Jerit Ramira dalam hati.

oOo

Mata Ramira menerawang dari balik jendela kamar kos. Ia berjalan pelan menghampiri laptop yang teronggok di atas karpet. Cewek itu menyalakan laptop dan membuka folder demi folder. Ramira tertegun menatap foto seorang cowok yang tersenyum manis, seakan-akan menatapnya. Matanya yang hitam dan tajam, rambut lurus dengan poni yang menutup dahi, bibir tipis yang kemerah-merahan serta hidung mancungnya yang semakin menambah rupawan wajah pria muda itu. Ramira tersenyum pahit. Ia telah lelah menangis, ia telah lelah bersedih dan ia sangat membenci dirinya sendiri.

“Kau yang selalu menemaniku, kau yang selalu menghiburku saat aku kesepian dan merasa sedih sejak orang tuaku bercerai…Han, lihatlah aku…Sekarang aku sepi, aku sendiri…” Ramira menarik nafas panjang. “Andai aku  tak memaksamu untuk menjemputku, kau masih hidup dan selalu akan berada di sampingku. Maafkan aku…” tenggorokan Ramira tercekat.

Ramira beranjak dari depan  laptopnya. Ia berjalan ke arah kaca yang menempel di dinding kamar kos. Ramira tersenyum  puas. Seorang cewek dengan rambut pendek dan tidak beraturan, kulit wajah yang kecoklatan serta berjerawat dan penampilan yang cenderung seperti cowok tampak di kaca.

“Jika penampilanku ini bisa membuat supaya aku selalu setia padamu, maka aku akan memperparah penampilanku. Aku akan membalas kesetiaanmu padaku, Han. Walau teman-temanku menyangka aku ini tidak punya kekasih karena penampilanku yang buruk, tapi mereka tidak tahu jika aku mempunyai kekasih dan aku memiliki kesetiaan yang abadi darimu,” Ramira tersenyum seperti orang yang kehilangan akal.

Ramira menghampiri laptopnya. Ia tatap foto Hanang yang masih saja tersenyum. “Aku benci salon, aku benci dandan dan aku benci belanja sejak kau meninggalkanku.” Cewek malang itu mengelus-elus layar laptopnya.  Selesai mengelus layar lapotopnya, Ramira berjalan menuju ke rak kecil di pojok kamarnya. Ia mengambil kotak kecil berwarna emas. Kotak itu ia buka pelan-pelan, bunga kering tampak dari dalam kotak itu. Ia mengambil parfum dan menyemprotkannya ke arah bunga kering itu. Ia cium bunga kering itu dan ia tersenyum memilukan. Bunga itu adalah bunga terakhir yang diberikan oleh Hanang untuk Ramira sebelum Hanang pergi untuk selamanya.

oOo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender

Oktober 2012
S S R K J S M
« Sep   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Top Rated

HTML hit counter - Quick-counter.net
free counters
free counters

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 15 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 171,062 hits
%d blogger menyukai ini: