Kisah Rati

Tinggalkan komentar

September 18, 2012 oleh nugraheniismyname

KISAH RATI

Rati adalah seorang perempuan berumur lima puluh tahun. Saat ini, ia sedang menahan sakit yang menderanya. Kedua mata cekung Rati selalu menatap langit – langit kamar. Tubuh kurus keringnya menempel di atas kasur kapuk yang menipis. Sesekali, ia mengaduh. Penyakit gula dan penyakit darah tinggi telah melemahkan raga Rati. Ia cepat sekali merasa lelah walau ia hanya berjalan satu langkah. Satu minggu yang lalu, gula darah Rati naik.  Begitu pula dengan tekanan darah Rati. Penyakit itu benar – benar telah merenggut kebebasan hidup Rati.

Rati menggerakkan kepalanya yang terasa berat. Ia menatap butiran obat yang tergeletak di atas meja kecil. Dokter berkata jika ia harus rajin minum obat dan rajin kontrol supaya kesehatan Rati bisa dipantau oleh dokter. Rati mendesah, berat sekali nafas yang keluar dari dada Rati. Suara rengekan, suara tangisan, suara teriakan cucu – cucu Rati membuat Rati semakin merasa sakit. Bukannya, ia tidak suka dengan suara cucu – cucunya. Rati hanya ingin beristirahat sejenak tanpa suara – suara bising. Ia hanya  ingin menenangkan diri di dalam kamarnya yang sempit dan berdebu. Tapi, tak ada seorangpun mengerti keinginan sederhana Rati itu. Termasuk ketiga anaknya, cucu – cucunya dan suami Rati sendiri.

Rati memejamkan kelopak matanya yang terasa berat. Entah mengapa, pikirannya terpusat kepada tiga anaknya. Anak pertama Rati, Eko, adalah seorang laki – laki. Ia sudah bekerja menjadi guru di sebuah sekolah swasta di kampung. Anak laki – laki Rati ini cukup baik dan berbakti kepada orang tua. Tapi, yang menjadi pikiran Rati adalah istri Eko ini. Rati selalu memikirkan istri Eko ini. Istri Eko selalu menuntut apa saja kepada Eko. Dia selalu minta baju baru tiap satu minggu sekali kepada Eko. Dia juga selalu minta gonta – ganti perhiasan emas. Ia juga selalu minta dibelikan ini dan itu.

Istri Eko tida pernah berpikir jika penghasilan Eko hanya cukup untuk makan dan untuk membiayai kebutuhan anak mereka yang baru saja lahir. Walhasil, Rati sering merasa kasihan dengan kesulitan yang dialami anak pertamanya ini. Rati sering kali menyisihkan gajinya sebagai guru PNS untuk Eko. Jika ia mendapat sertifikasi, maka ia juga akan memberikan beberapa bagian sertifikasi itu untuk Eko.

Rati membuka kelopak matanya. Punggung Rati terasa panas. Ia duduk dengan susah payah dengan bersandar bantal keras. Pikiran Rati beralih kepada anak kedua Rati. Anak kedua Rati ini berjenis kelamin perempuan. Anak kedua Rati yaitu Dwi, menjadi ibu rumah tangga. Suaminya bekerja di bengkel. Dwi, suami Dwi dan seorang anak laki – laki Dwi tinggal menumpang di rumah Rati. Kehidupan Dwi sama beratnya dengan kehidupan Eko. Gaji suami Dwi yang bekerja di bengkel tidak cukup untuk membiayai kehidupan keluarganya. Dwi sering mengeluh tentang kondisinya ini kepada Rati sehingga Rati tidak tega dengan nasib anaknya. Rati pun selalu menyisihkan gaji dan tunjangan sertifikasinya untuk Dwi.
Rati terus merenung.

Bayangan anak ketiga Rati berkelebat di pelupuk mata Rati. Anak ketiga Rati bernama Tri. Tri berjenis kelamin perempuan. Sama dengan kedua kakaknya, Tri sudah bersuami dan ia telah memiliki seorang anak perempuan. Suami Tri bekerja di bengkel, sama dengan pekerjaan suami Dwi. Tri, suami dan seorang anak perempuan Tri juga tinggal satu rumah dengan Rati. Jadi, rumah Rati dihuni empat keluarga. Keluarga Rati, Keluarga Eko, Keluarga Dwi dan keluarga Tri. Sama seperti kedua kakaknya, kehidupan Tri juga masih tergantung pada Rati. Apalagi, untuk membiayai hidup Tri ini sangat menguras pikiran, materi dan hati.

Bayangkan saja, Tri ini masih kuliah. Rati selalu menggantungkan asanya kepada Tri ini. Ia berharap, Tri bisa lulus kuliah dengan baik dan ia bisa mendapat pekerjaan yang bisa mencukupi kebutuhan hidupnya. Akan tetapi, harapan Rati tinggallah harapan. Pada saat Tri naik ke semester dua, Tri hamil sebelum ia menikah. Rati sangat terpukul dengan kelakuan anaknya itu. Mau tak mau, Rati harus menerima ulah anak ketiganya itu. Rati pun menikahkah anak ketiganya itu dengan pacarnya. Beban hidup Rati sangat berat, ia harus membiayai kuliah Tri sekaligus ia harus membiayai menantu dan cucu – cucunya. Belum lagi, gaya hidup Tri sama dengan gaya hidup istri Eko.Tri gemar sekali berganti – ganti model pakaian, berganti – ganti model sepatu dan juga perhiasan. Ia tidak pernah memikirkan kesulitan Rati.

Rati menarik nafas panjang. Ia meraba – raba meja kecil untuk menggapai gelas berisi air putih. Kerongkongan Rati terasa kering. Ia ingin minum. Gelas berhasil ia gapai. Rati meminum seperempat air putih di dalam gelas kemudian ia meletakkan kembali gelas itu di atas meja. Satu minggu yang lalu, gula darah dan tekanan darah Rati naik drastis. Entah apa penyebabnya, selama ia divonis menginap dua penyakit itu, ia selalu hati – hati dalam memilih makanan. Ia juga berusaha menjaga kesehatannya.

Ia teringat, satu minggu yang lalu, Tri dan Eko minta dibangunkan rumah sendiri. Mereka menuntut dibangunkan rumah oleh Rati. Suami Rati langsung menyetujui permintaan kedua anaknya itu. Bahkan, suami Rati akan membangunkan rumah bagi ketiga anaknya. Niat mulia suami Rati ini cukup bagus tapi yang menjadi pikiran Rati adalah semua biaya pembangunan rumah ini dibebankan kepada Rati. Hal ini karena, Rati merupakan satu – satunya tulang punggung keluarga. Suami Rati tidak memiliki pekerjaan tetap. Ia bekerja jika ada orang menyewa mobil milik keluarga Rati. Satu – satunya mobil itu juga dibeli dari kocek Rati.

Bahkan, Rati pernah memergoki suaminya itu bersama dengan wanita lain di dalam mobil. Hati, jiwa, pikiran dan hidup Rati benar – benar terguncang menghadapi orang – orang yang sangat ia cintai itu. Mereka tidak peduli dengan keadaan Rati. Mereka tidak pernah memikirkan perasaan Rati. Mereka tidak pernah membantu Rati sedikitpun. Mereka hanya bisa menuntut ini dan itu kepada Rati. Rati merasa, ia hidup seorang diri di dunia ini dengan memikul beban yang begitu berat.

Tak terasa, air mata Rati meleleh. Ia teringat kedua orang tuanya yang telah meninggal. Kejadian masa lalu berkelebatan di depan Rati. Ia teringat waktu ia masih muda. Rati merupakan anak ketiga dari delapan bersaudara. Pada jaman dahulu, memiliki anak banyak adalah hal yang biasa. Kehidupan orang tua Rati cukup sulit walaupun begitu kedua orang tua Rati berhasil menyekolahkan delapan anaknya hingga sekolah menengah atas. Pada jaman dahulu, sekolah menengah atas setara dengan perguruan tinggi pada jaman sekarang.

Orang tua Rati memiliki banyak anak sekaligus orang tua harus bekerja siang dan malam untuk biaya hidup membuat Rati tidak terlalu mendapat curahan kasih sayang penuh dari orang tua. Orang tua Rati harus membagi waktu dan kasih sayang antara pekerjaan dengan kedelapan anaknya. Pada saat kakak pertama Rati lulus sekolah menengah atas, dia langsung merantau ke Sumatera. Kakak pertama Rati ini mendapat suami orang Sumatera. Kehidupan kakak pertama Rati ini cukup berkecukupan karena kakak pertama Rati dan suami Kakak pertama Rati memiliki berhektar – hektar tanaman kopi, cokelat dan kakao.

Semenjak kakak pertama Rati menikah, secara otomatis Rati dan kakak kedua Rati mendapat amanah dari kedua orang tua untuk mengasuh kelima adik – adik yang masih kecil. Rati sering berontak. Masa mudanya habis tercurah untuk merawat adik – adiknya. Ia tidak punya kesempatan untuk menikmati masa mudanya. Hingga akhirnya, sejak Rati masuk ke SMA, ia memilih tinggal sendiri di dekat sekolah. Semenjak Rati menyewa tempat kos di dekat sekolah, ia jarang pulang karena ia tak mau terbebani kelima adiknya.

Rati akan pulang jika persediaan uang dan persediaan beras habis. Setelah ia meminta uang dan beras dari orang tua maka Rati segera kembali ke tempat kos. Ia tidak mau berlama – lama tinggal di rumah. Keputusan Rati ini membuat semua beban pengasuhan kelima adik jatuh ke pundak kakak kedua Rati. Untunglah, kakak kedua Rati termasuk kakak yang baik hati dan berjiwa tulus. Ia rela mengasuh kelima adiknya seorang diri walaupun ia juga harus belajar dan sekolah.

Hal tak diharapkan terjadi, saat Rati lulus SMA, ayah Rati berusaha menjodohkan Rati dengan seorang polisi tapi Rati menolak perjodohan itu. Rati memilih menjalin hubungan dengan sopir bus yang ia kenal. Ayah Rati tidak merestui hubungan Rati dengan sopir bus ini. Akan tetapi, Rati tidak peduli. Bahkan, ia hamil sebelum menikah ia dengan pacarnya itu. Kejadian ini membuat ayah Rati menjadi terpukul. Mau tak mau, ayah Rati mengawinkan Rati dengan pacarnya itu. Setelah Rati menikah, ia dibawa oleh suaminya ke kampung halaman suaminya. Untunglah, saat ada lowongan guru, Rati bisa dengan mudah menjadi guru.

Bayangan – bayangan masa lalu tak berhenti sampai di situ, Rati teringat saat ia merasa marah sekali dengan sikap ayah yang tidak menyetujui pernikahannya. Bahkan, suami Rati sering menanamkan kebencian terhadap orang tua Rati. Suami Rati sering berkata jika orang tua Rati tidak perhatian terhadap anak tapi ia malah memaksakan kehendaknya terhadap anak. Suami Rati bilang kepada Rati jika orang tua Rati sangat egois. Suami Rati terus menanamkan pikiran negatif kepada Rati. Hingga, saat ayah Rati sakit, Rati tidak pernah menengok. Rati juga jarang mengunjungi kedua orang tuanya. Bahkan, Rati tidak pernah memberikan barang sedikit penghasilannya untuk kedua orang tua. Benar, orang tua tidak mengharapkan pemberian dari anak – anaknya. Akan tetapi, pemberian yang sedikit dari anak bisa membuat orang tua merasa senang.

Tingkah Rati, suami dan anak – anak Rati semakin menjadi – jadi. Saat ibu Rati sakit, Rati tidak pernah menengok. Bahkan, hingga ibu Rati meninggal dunia, Rati hanya beberapa jam untuk memberikan penghormatan terakhir. Ia langsung pulang ke rumahnya di luar kota setelah ia datang ke acara pemakaman Ibu Rati. Ia bagaikan seorang tamu di rumah orangtuanya sendiri. Tingkah Rati ini membuat ayah Rati dan saudara – saudara Rati mengelus dada.

Tingkah aneh Rati tidak berhenti sampai disitu. Beberapa bulan setelah kematian Ibu Rati, ayah Rati sering sakit – sakitan. Kakak Rati dan adik Rati lah yang sering membantu biaya pengobatan ayah. Rati tak pernah sepeserpun membantu biaya pengobatan ayah Rati. Bahkan, ia tidak menyumbang tenaga untuk ikut merawat ayahnya. Pada suatu ketika, ayah Rati sakit parah. Beliau harus dirawat di rumah sakit. Saudara – saudara Rati memberitahu Rati jika sepertinya hidup ayah tidak akan lama lagi.

Mereka berharap Rati bisa datang menengok ayah akan tetapi Rati tetaplah Rati. Ia tidak datang menengok ayahanda. Dan ayahanda pun meninggal dunia, seperti pada saat kematian ibunda. Ia bagaikan seorang tamu di rumah orang tua sendiri. Rati berada di acara pemakaman ayahanda hanya beberapa jam saja. Ia pulang secepat kilat setelah ayahanda dimakamkan.

Rati menangis tertahan di dalam kamarnya. Tak ada suami, tak ada anak, tak ada cucu tak ada menantu yang menemaninya ataupun sekedar menghiburnya dengan mengajak Rati bicara. Anak, cucu, suami dan menantu Rati akan datang kepada Rati jika mereka memerlukan uang.

Rati. Rati. Rati. Saat ini, terbersit dibenak Rati. Ia ingin mengikuti orang tua. Rati ingin bertemu dengan kedua orang tua Rati yang telah meninggal dunia. Rati tidak memiliki alasan lagi untuk terus hidup. Ia ingin minta maaf kepada kedua orang tua di di alam sana. Ia berharap, satu kata maaf bisa sedikit menghilangkan beban berat hidup Rati. Saat ini, ia bisa merasakan bagaimana perasaan orangtuanya dulu.

Rati meraba – raba sesuatu di bawah bantal tipisnya. Ia meraih telepon genggam kuno yang menyempil di bawah bantal. Ia berusaha menelepon seseorang. “ Halo,” sapa Rati. “ Halo. Bagaimana kabarmu, Dik?” tanya seseorang diseberang sana.

“ Masih seperti biasa, Mbak. Tapi, lumayan agak baik kondisiku. Hanya saja badanku masih terasa lemah.” kata Rati. “ Jaga baik – baik kondisimu. Jangan terlalu banyak berpikir. Ikhlaskan saja semua yang terjadi dalam hidupmu.” nasehat seseorang diseberang sana. “ Lah, Mbak. Bagaimana aku tidak berpikir jika keadaanku seperti ini…” kata Rati lirih.

Suara Rati terdengar sangat tertekan. Rati dan seseorang disana bercerita banyak. Rati berkeluh kesah dengan orang diseberang sana. Ternyata, orang diseberang sana adalah kakak kedua Rati. Kakak kedua Rati selalu menguatkan Rati. Oleh karena itu, Rati memilih berkeluh kesah dengan kakak keduanya itu. Setengah jam kemudian, Rati menutup telepon genggamnya.

“ Siapa, Bu?” tanyaku. “ Bibi Rati, Dik.” jawab Ibu. “ Kenapa lagi dengan Bibi Rati?” tanyaku lagi. “ Yah, seperti biasa. Kasihan Bibi Rati, Dik!” Ibu menyandarkan badan ke kursi. Wajah ibu sudah tampak tua. “ Sudahlah, Bu. Ibu tidak usah ikut memikirkan Bibi Rati. Manusia sudah diberi jalan masing – masing.” kataku, aku tidak ingin melihat Ibu terlalu banyak pikiran.

“Dik, kalau kirim uang lewat bank bisa, kan?” tanya Ibu. “Tentu saja, bisa Bu. Ibu akan kirim uang untuk siapa?” tanyaku. “ Ibu ingin sedikit memberikan rejeki ibu untuk Bibimu. Bibi Rati.” kata Ibu sambil menatapku. “ O, begitu, Bu. ya baguslah kalau begitu. Besok aku akan menemani Ibu pergi ke bank.” kataku. Ibu mengangguk tanda setuju.

SELESAI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender

September 2012
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Top Rated

HTML hit counter - Quick-counter.net
free counters
free counters

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 15 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 171,062 hits
%d blogger menyukai ini: