Anak Oh Anak

4

Mei 31, 2012 oleh nugraheniismyname

Anak Oh Anak

Pada suatu pagi yang cukup cerah, ada sepasang suami istri duduk di teras rumah sambil menatap tanaman hias yang menghiasi halaman depan rumah. Sang suami sibuk dengan pikirannya, sedangkan sang istri mengaduk gula di dalam cangkir yang berisi air teh. Si suami bernama Edi Suryo dan si istri bernama Utriani.

“Permisi! Selamat pagi!” tiba – tiba, datanglah seorang wanita paruh baya membawa kotak berukuran sedang. Wanita paruh baya itu membuka pintu pagar rumah. Suara decitan besi pagar terdengar saat pintu pagar dibuka. Wanita itu berjalan menghampiri  Edi Suryo dan Utriani. 

“O, Bu Puspo! Silahkan masuk!” kata Utriani dengan muka riang, ia berhenti mengaduk gula. “Ini lho, Bu Rahmat syukuran kelahiran anak ketiga!” wanita paruh baya yang dipanggil dengan sebutan Bu Puspo itu meletakkan kotak yang ia bawa di atas meja.

“ Apa ini?” Utriani membuka bagian penutup kotak yang terbuat dari kertas tebal. Kotak itu berisi roti bundar yang dilapisi dengan krim cokelat. Ada selembar kertas tergeletak di atas roti. Kertas itu dihiasi oleh foto gambar bayi. Pada bagian bawah foto tertulis nama si bayi dan tanggal lahir si bayi.

“Nanti sore, saya mau kondangan ke tempat Bu Rahmat. Mbak Utri mau bareng sama saya, tidak?” Bu Puspo mengajak Utriani untuk kondangan bareng ke tempat Bu Rahmat. “Iya, Bu… Saya bareng Bu Puspo saja.” kata Utri, ia menerima ajakan Bu Puspo.

“ Kalau begitu, saya pulang dulu ya, Mbak Utri! Mari, Mas Edi…” Bu Puspo pamit pulang. “Iya, Bu! Terimakasih!” kata Edi. Setelah Bu Puspo pamit pulang, wanita itu meninggalkan rumah Edi dan Utri. Bu Puspo merupakan tetangga yang paling akrab dengan keluarga Edi.

“ Aku selalu menyumbang di tempat orang yang baru melahirkan. Kapan ya? Aku ganti disumbang oleh mereka?” kata Utri dengan suara pelan dan tertahan. Ia duduk di samping suaminya. Edi hanya terdiam saat ia mendengar perkataan istrinya itu.

Utriani berkata seperti itu bukan berarti ia tidak ikhlas saat ia harus menyumbang orang yang baru melahirkan. Tapi, sejak lama Utri merindukan seorang anak yang lahir dari rahimnya. Ia ingin sekali orang – orang mengunjunginya saat ia melahirkan anak. Selama Utri menikah dengan Edi, mereka belum juga dikaruniai seorang anak. Padahal, Edi dan Utri telah menikah selama hampir lima belas tahun. Pada umur pernikahan tersebut, Edi dan Utri seharusnya telah memiliki anak yang mulai tumbuh remaja. Tapi, Tuhan berkehendak lain. Sepasang suami istri itu tak jua dikaruniai anak.

Edi dan Utri telah melakukan berbagai cara untuk memiliki anak. Mereka periksa rutin ke dokter kandungan. Mereka melakukan terapi supaya mereka bisa memiliki anak. Mereka juga minum obat – obat tradisional untuk kesuburan. Bahkan, Utriani rela keluar dari pekerjaannya supaya ia bisa mengandung. Dulu, Utri bekerja sebagai analis kimia di sebuah perusahaan yang bergerak dibidang obat – obatan. Sedangkan, Edi bekerja di perusahaan konstruksi bangunan.

Edi dan Utri juga rajin berdoa, rajin berpuasa, rajin beribadah serta rajin beramal supaya anak yang didambakan segera hadir di tengah – tengah mereka. Tapi, Tuhan belum mengijinkan Edi dan Utri untuk memiliki anak dari hasil perkawinan mereka.

Edi dan Utri terkadang merasa sedih saat mereka berkumpul dengan para tetangga. Tetangga – tetangga sering menceritakan keadaan anak – anak mereka. Edi dan Utri hanya bisa terdiam pilu saat mereka mendengar cerita para tetangga mengenai kondisi anak.

Sore itu, Utriani dan Bu Puspo telah kembali dari kondangan di tempat Bu Rahmat. Bu Puspo berkunjung ke rumah Utri karena ia ingin berbicara serius dengan Utri dan Edi. Mula – mula, Utri mempersilahkan Bu Puspo duduk di kursi ruang tamu. Kemudian, Utri memanggil suaminya untuk ikut bergabung di ruang tamu.

“Begini lho, Mbak Utri dan Mas Edi! Mohon maaf sebelumnya, jika perkataan saya menyinggung Mbak Utri dan Mas Edi,” kata Bu Puspo, wanita paruh baya itu agak sungkan untuk mengatakan apa yang ia pikirkan.

“Tidak apa – apa Bu. Ada apa ya, Bu?” kata Edi dengan rasa penasaran karena muka Bu Puspo tampak serius sekali.

“ Em… Tadi siang, Pak Puspo bilang jika di rumah sakit tempat suami saya bekerja itu ada seorang wanita yang mau melahirkan. Selama wanita itu hamil, ia rajin memeriksakan kandungannya di rumah sakit tempat Pak Puspo bekerja. Tapi, wanita itu tidak punya suami. Wanita itu berniat menyerahkan anak yang akan dilahirkan kepada siapa saja yang mau merawat anaknya.” kata Bu Puspo panjang lebar, ia berkata sesopan yang ia bisa. Pak Puspo merupakan suami Bu Puspo. Pak Puspo bekerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit bersalin.

“Kalau Mas Edi dan Mbak Utri berkenan. Mungkin, Mbak Utri dan Mas Edi bisa merawat anak tersebut daripada anak tersebut ditelantarkan oleh ibunya.” Bu Puspo menatap wajah Edi dan Utri secara bergantian. Ia berharap, perkataannya tadi tidak menyinggung perasaan sepasang suami istri itu. Edi dan Utri saling berpandangan saat Bu Puspo menyelesaikan perkataannya.

“Wanita itu berasal dari mana ya, Bu?” tanya Edi dengan suara berat. “Wanita itu berasal dari Kedu Utara. Dia masih kuliah. Selama dia hamil, ia cuti kuliah. Ia hamil tapi laki – laki yang menghamilinya tidak mau bertanggung jawab.” bisik Bu Puspo. Ia tidak ingin kata – katanya didengar oleh orang lain selain mereka bertiga.

“O, begitu ya, Bu… Baiklah, saya akan bicarakan dulu hal ini dengan istri saya dulu.” kata Edi sambil menatap wajah sayu istrinya. Ada keraguan terlukis di wajah Edi.

“Iya, Mas Edi. Kalau masalah anak itu lahir dari hubungan di luar nikah, saya rasa itu tidak masalah. Jika Mbak Utri dan Mas Edi mendidik dengan baik anak itu, pasti anak itu akan berkembang dan tumbuh dengan baik. Toh! Ada banyak anak nakal dan anak bandel, walaupun anak – anak itu lahir dari keluarga yang baik – baik.” Bu Utri mengemukakan pendapatnya untuk meyakinkan sepasang suami istri yang malang itu.

“Iya. Kami mengerti itu, Bu.” kata Edi. “Oiya, diperkirakan, wanita muda itu akan melahirkan satu minggu lagi. Jadi, pikirkanlah baik – baik perkataan saya tadi ya, Mas Edi dan Mbak Utri.” kata Bu Puspo lagi. Edi dan Utri mengangguk pelan untuk menanggapi perkataan Bu Puspo. Selama beberapa menit, tak ada pembicaraan lagi antara Bu Puspo, Edi dan Utri. Akhirnya, Bu Puspo pamit pulang karena tak ada hal lain untuk dibicarakan lagi.

oOo

Satu minggu kemudian, Bu Puspo datang ke rumah Edi dan Utri saat waktu maghrib mulai tiba. Ia bilang jika wanita muda tanpa suami itu akan segera melahirkan. Tanda – tanda kelahiran telah dialami wanita muda itu.

Sekitar pukul 22.00 Waktu Indonesia Barat; Pak Puspo, Bu Puspo dan Edi pergi ke rumah sakit bersalin di Kedu Utara dengan naik mobil. Edi dan Keluarga Puspo tinggal di daerah Kedu Tenggara. Jarak antara Kedu Utara dengan Kedu Tenggara cukup jauh. Mereka membutuhkan waktu satu jam dari Kedu Tenggara menuju Kedu Utara.

Utri tidak ikut pergi ke rumah sakit karena ia harus mempersiapkan segala sesuatu di rumah. Rupanya, Utri dan Edi memutuskan untuk merawat bayi yang akan dilahirkan oleh wanita muda tanpa suami itu. Utri dan Edi berpikir jika mereka harus memiliki anak walaupun itu dengan cara merawat anak orang lain. Mereka ingin sekali mengasuh dan membesarkan seorang anak. Mereka ingin menjadi orang tua sepenuhnya.

Tengah malam, Edi dan rombongan tiba di rumah sakit. Waktu itu, wanita muda belum melahirkan tapi beberapa perawat telah memasang obat pacu supaya bayi bisa segera keluar dari rahim ibunya. Tak lama kemudian, bayi tak berdosa keluar dari rahim wanita muda tanpa suami itu.

Bayi itu tidak tahu jika ia tidak diinginkan oleh ibu kandungnya. Bayi itu juga tidak tahu jika ia akan dirawat oleh orang lain. Mata Edi terlihat berkaca – kaca haru saat ia melihat bayi mungil yang sedang dimandikan perawat. Edi merasa terharu karena bayi itu tidak diharapkan oleh orang tuanya, sedangkan selama bertahun – tahun ia sangat mengharapkan dan merindukan kehadiran seorang anak.

Edi menatap wajah pucat wanita muda yang baru melahirkan anak tanpa dosa itu. “Selama bertahun – tahun aku merindukan kehadiran anak tapi Tuhan tak juga memberiku anak. Tapi, Tuhan malah memberikan anak kepada orang yang tidak menginginkan anak?!” ada jerit ketidakadilan menyeruak di sanubari Edi. Jeritan hati Edi itu sangat manusiawi, disaat sebagian pasangan suami istri berjuang ingin mendapatkan anak kandung, ada beberapa orang yang tega menelantarkan anak kandung sendiri. Tapi, Tuhan memiliki rencana lain yang tidak bisa dijangkau oleh pemikiran manusia yang terbatas.

Setelah Edi berbicara dan berdiskusi panjang lebar dengan wanita muda dan keluarganya, ia menelepon Utri. “Dik! Calon anak kita belum bisa kita bawa pulang sekarang. Anak itu harus dirawat dulu di rumah sakit. Tapi, ari – ari bayi itu akan aku bawa pulang saat ini juga!” begitu kata Edi dari ujung telepon genggamnya.

“ O, begitu! Baiklah, Mas. Kapan Mas Edi akan pulang ke rumah?” tanya Utri. “ Aku pulang sekitar jam tiga pagi, Dik!” jawab Edi, ia menatap jam dinding yang menempel di tembok rumah sakit. Jarum jam menunjuk ke arah angka dua.

Satu jam berlalu, Edi dan rombongan berniat meninggakan rumah sakit. Mereka pulang dengan membawa ari – ari calon anak Edi. Ari – ari itu telah dibersihkan oleh perawat, lalu benda itu dibungkus kain mori. Ari – ari yang telah dibungkus kain mori dimasukkan ke dalam kendi kecil. Edi akan menanam kendi berisi ari – ari itu di halaman samping rumah.

Edi, Bu Puspo dan Pak Puspo sampai di rumah bertepatan dengan kumandang adzan subuh. Suara kokok ayam jantan mengiringi suara adzan. Utriani menyambut kedatangan suami dengan hati yang berdebar, karena mulai hari ini ia akan segera memiliki anak.

Edi mengambil sekop besar dari dapur. Laki – laki itu berniat menggali tanah untuk menguburkan ari – ari calon anak angkatnya. Halaman samping rumah ditutup dengan paving sehingga Edi harus menghancurkan beberapa paving untuk tempat ari – ari. Pak Puspo membantu Edi, ia mengambil cangkul dari rumah. Lalu, laki – laki baik hati itu ikut menghancurkan paving. Setelah dua laki – laki itu berhasil menyingkirkan paving, Edi menggali tanah.

Bu Puspo membawa kendi kecil berisi ari – ari. Kendi kecil itu berada dipelukan Bu Puspo. Utri menyalakan senter besar untuk penerangan. Lampu kecil yang dipasang di bagian samping rumah tidak cukup terang sehingga mereka butuh penerangan tambahan.

Bu Puspo menyerahkan kendi kecil kearah Edi saat Edi selesai mencakul. Sebelum kendi berisi ari – ari ditanam, Pak Puspo berdoa terlebih dahulu. Edi, Utri dan Bu Puspo mengamini doa Pak Puspo. Mereka berdoa supaya kelak calon anak Edi akan menjadi anak yang diberkahi oleh Tuhan. Pak Puspo dan Bu Puspo pamit pulang setelah mereka selesai mengurus ari – ari.

Utri mengambil lampu teplok yang telah ia persiapkan sebelumnya. Ia menyalakan lampu teplok itu. Perempuan itu meletakkan lampu teplok didekat tempat ari – ari dikuburkan. Ia bermaksud memberi penerangan bagi ari – ari calon anaknya itu. Setelah Utri dan Edi selesai mengubur ari – ari, mereka sholat subuh lalu mereka duduk di ruang tamu.

“Mas, minum dulu teh hangat ini.” Utri menyiapkan satu gelas berisi air teh hangat untuk suaminya. “ Nanti, beli bunga untuk ditabur di atas ari – ari, ya? Dik? Oiya, perlengkapan bayi sudah lengkap, kan? ” tanya Edi sambil meneguk habis air teh. Laki – laki itu duduk di kursi ruang tamu, wajah Edi tampak kelelahan.

“Iya, nanti aku akan beli bunga mawar dan melati di pasar kembang. Untuk sementara, perlengkapan bayi sudah cukup, Mas.” jawab Utri. Ia duduk di samping suaminya. “Kapan kita akan mengambil calon anak kita? Mas?” tanya Utri hati – hati.

“Besok, Dik. Bayi itu harus disusui ibunya terlebih dahulu sebelum ia dirawat oleh kita.” kata Edi sambil menghela nafas panjang. “Calon anak kita laki – laki kan, Mas?” tanya Utri memastikan. Edi mengangguk pelan. Sebelumnya, Utri telah diberi tahu Pak Puspo dan Bu Puspo jika calon anaknya itu berjenis kelamin laki – laki. Pak Puspo dan Bu Puspo tahu jenis kelamin calon anak Utri dari hasil USG di rumah sakit bersalin.

“Mas, walaupun anak itu bukan anak kandung kita, tapi kita harus merawat dan mendidiknya seperti anak kandung sendiri, ya? Mas?” kata Utri dengan perasaan yang tidak bisa ditebak.

“Tentu saja, kita harus menganggap anak itu seperti anak kita sendiri. Kita harus merawat anak itu dengan landasan ibadah. Yah, supaya kita mendapat pahala untuk kehidupan setelah kita mati.” kata Edi menguatkan perasaan istrinya.

“ Lagipula, jika kita memelihara kehidupan satu orang maka kita seolah – olah memelihara kehidupan semua manusia. Kita merawat anak itu berarti kita menyelamatkan dan memelihara kehidupan dia. Daripada dia dibuang dan ditelantarkan oleh orang tua kandungnya, lebih baik kita rawat dan pelihara anak itu.” kata Edi, ucapannya meniru sebagian kalimat yang tertera di dalam kitab suci walau tidak sama persis dengan kalam Tuhan tersebut.

“Oh, terimakasih, Mas. Perkataanmu menguatkan hati dan jiwaku.  Aku semakin mantap untuk merawat anak itu seperti anak kandung kita!” Utri tersenyum cerah kearah suaminya.

“Tentu saja, Dik! Kita akan bersama – sama membesarkan anak itu dengan baik dan penuh kasih sayang serta keikhlasan. Apapun yang akan terjadi, kita serahkan saja hasilnya kepada Tuhan.” Edi merangkul pundak istrinya. Utri menyandarkan kepalanya di pundak suami tercinta. Tak terasa, air mata Utri meleleh dan membasahi pipinya yang mulai keriput.

Mulai hari ini, Edi dan Utri akan memiliki seorang anak laki – laki. Mereka berjanji akan merawat anak itu seperti anak sendiri. Sepasang suami istri itu telah menyelamatkan kehidupan satu orang manusia, seorang manusia yang terlahir tanpa dosa tapi ia tidak diinginkan oleh orang tua kandungnya. Bagi Edi dan Utri, untuk menjadi orang tua sempurna bukan berarti mereka harus memiliki anak kandung sendiri.

Akhirnya, perjuangan Edi dan Utri telah membuahkan hasil. Mereka diberi ijin oleh Tuhan untuk mendapatkan seorang anak, walaupun anak tersebut bukan lahir dari kandungan Utri. Edi dan Utri akan selalu mendoakan anak yang telah diberikan oleh Tuhan. Mereka berharap anak itu bisa tumbuh dengan baik seperti anak – anak manusia pada umumnya.

-SELESAI-

«

4 thoughts on “Anak Oh Anak

  1. fandi mengatakan:

    menyentuh banget…

    Suka

    • nugraheniismyname mengatakan:

      Terimakasih. Ini adalah kisah nyata. Kita doakan semoga sepasang suami istri ini selalu mendapat berkah dari Tuhan. Amin

      Suka

      • fandi mengatakan:

        ada beberapa tetangga yang juga mengalami hal yang sama, belum dikaruniai keturunan. ada yang 6tahun bahkan lebih dari 10tahun… dan memang sangat sensitif kalau sedang membicarakan perihal anak
        terlebih kalau kebetulan lagi jalan bareng… dan melihat ada pengemis di perempatan yang sedang menggendong bayi atau anak jalanan… tambah nelangsa

        Suka

      • nugraheniismyname mengatakan:

        Iya, kasihan sekali, manusia hanya bisa berusaha tapi tetap Tuhan yang menentukan nasib hidup manusia

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender

Mei 2012
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Top Rated

HTML hit counter - Quick-counter.net
free counters
free counters

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 15 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 171,062 hits
%d blogger menyukai ini: