Kisah Dewi Kebahagiaan

Tinggalkan komentar

Mei 14, 2012 oleh nugraheniismyname

Kisah Dewi Kebahagiaan

Apakah pembaca yang budiman masih ingat dengan kisah dari Kerajaan Berantah di dongeng berjudul ‘Kisah Sebelum Masehi’? Kali ini ada sebuah kisah yang juga berasal dari Kerajaan Berantah. Kisah Siapakah itu? Ini merupakan kisah dari Dewi Kebahagiaan. Dewi Kebahagiaan merupakan seorang dewi yang akan memberikan kebahagiaan bagi rakyat apabila rakyat tersebut berdoa di Bukit Berantah.

Beginilah kisah Dewi Kebahagiaan… 

Alkisah pada jaman dahulu tatkala Kerajaan Berantah belum terbentuk, ada seorang anak perempuan yang hidupnya tidak bahagia. Anak perempuan ini bernama Sri Tan Male. Sri merupakan anak tunggal. Sejak kecil hidupnya penuh penyiksaan. Setiap hari Sri selalu bekerja dari pagi hingga sore hari untuk mencukupi kehidupan keluarganya. Terkadang, ia mencari kayu untuk dibuat arang lalu arang akan dijual ke pasar. Maklum, pada jaman dahulu arang digunakan untuk sumber energi. Selain membuat arang, Sri juga berburu. Ia berburu babi hutan, kijang, ayam hutan, kelinci dan terkadang ia juga mencari ikan di laut. Semua itu ia kerjakan untuk makan dan untuk menghidupi keluarganya.

Sri memiliki seorang ayah. Ayah Sri merupakan ayah yang kejam. Ia akan menyiksa dan memarahi Sri jika Sri tidak bekerja. Hal ini membuat Sri menjadi takut terhadap siksa ayahnya. Sehingga, Sri memilih keluar rumah untuk bekerja daripada ia tinggal di rumah. Sri juga memiliki seorang ibu. Ibu Sri ini merupakan seorang wanita yang lembut, sabar dan tabah. Bayangkan… Ibu Sri ini tidak pernah melawan saat sang ibu dimarahi ataupun disiksa oleh ayah Sri. Sri sering membela ibu tapi pada akhirnya, ia pun juga ikut disiksa oleh ayah Sri. Sri dan Ibunya sering disiksa dan dimarahi tanpa alasan yang jelas.

Ayah Sri gemar berjudi. Biasanya, setelah ayah Sri pulang dari berjudi dan ia kalah judi maka Ibu Sri dan Sri akan menjadi pelampiasan kemarahan ayah Sri. Lalu, ayah Sri juga akan meminta semua penghasilan dari hasil kerja Sri. Sungguh mengerikan kehidupan Sri. Pernah suatu kali, Sri mengajak sang ibu untuk pergi meninggalkan ayahnya. Tapi, ibu Sri tidak mau karena Ibu Sri masih sangat menyayangi ayah Sri. Ibu Sri selalu berkata, “Kalau kita pergi meninggalkan ayah, lalu siapa yang akan merawat ayahmu?”. Bagi Sri, perkataan ibunya itu sangat tidak masuk akal. “ Mengapa Ibu masih menyayangi ayah sedangkan hampir setiap hari ibu disiksa dan dimarahi tanpa alasan yang jelas oleh ayah?”, begitu tanya Sri dalam hati.

Lama kelamaan, Sri tumbuh menjadi pribadi yang keras. Ia juga menjadi seorang wanita yang tangkas, lincah dan cekatan. Ia juga mahir melindungi diri dari serangan binatang buas dan ia juga bisa menghadapi orang – orang jahat yang berusaha merampok hasil buruannya. Kasihan sekali Sri… Dia bahkan tidak bisa berperilaku layaknya seorang gadis. Kulitnya menghitam akibat terpaan sinar matahari, telapak tangannya juga kasar (Saya menyebutnya dengan istilah “Kapalen”). Selain itu, betis dan lengan Sri juga berotot.  Setiap hari, kerjaan Sri hanya berburu, mencari kayu bakar dan mencari ikan di laut.

Wujud Sri yang seperti laki – laki ini membuat beberapa pemuda dan tetangganya sering menghina Sri. “Perempuan kok mirip laki – laki?” begitu kata mereka. Para pemuda dan orang – orang yang menghina dan mencibir Sri ini memang orang – orang yang berpikiran dangkal. Mereka hanya bisa mencibir tanpa melihat kehidupan yang dialami oleh Sri. Sri hanya bisa diam saja saat ia mendapat celaan dari orang – orang yang menghina bentuk fisiknya. Dengan bentuk fisik yang seperti laki – laki, tak ada seorang pemuda pun yang tertarik dengan Sri. Tapi, Sri tak peduli. Ia harus melanjutkan hidupnya. Toh, orang – orang yang mencibirnya itu tidak memberi ia makan.

Pada suatu hari, waktu itu merupakan hari kelahiran Sri. Sri telah berumur tujuh belas tahun. Sri tidak tahu jika hari itu merupakan hari kelahirannya. Maklumlah, cobaan hidup yang ia alami membuat Sri tidak memikirkan hal itu. Yang selalu ia pikirkan dan ia lakukan adalah bagaimana ia bisa tetap bertahan di kehidupan yang mengerikan ini!

Pada hari kelahirannya itu, Sri duduk di bawah pohon beringin di dalam hutan belantara. Hari itu, ia istirahat sambil menunggu binatang buruan muncul untuk dipanah. Sri melamun, Ia berpikir, “Akan sangat membahagiakan jika ia bisa menjadi orang kaya dan ia adalah seorang wanita dengan wajah cantik. Pasti, semua manusia akan menghargainya sebagai manusia…”. Sri terus melamun sambil memainkan busur panahnya.

Sri sangat mahir dalam memanah. Sekali memanah, ia tidak pernah meleset sehingga ia bisa dapat binatang buruan dalam sekali panah. Saat Sri menyandarkan punggungnya di batang pohon Beringin, tiba – tiba ia mendengar suara bising kepakan sayap. Sri sibuk mencari asal suara yang menganggu gendang telinganya itu.

“Hai Sri!” Suara merdu menyapa Sri. Sri menoleh ke kanan dan ke kiri. Mata Sri terbelalak saat ia melihat sesosok makhluk kecil sebesar telunjuk tangan dan bersayap. Makhluk kecil itu terbang di atas kepalanya. “Siapa Engkau?” tanya Sri heran. “Namaku Peri Kebahagiaan, aku adalah salah satu dari peri yang membantu tugas Dewi Kebahagiaan. Aku turun dari langit dan aku ditugaskan untuk memberikan kebahagiaan padamu…” begitu kata makhluk kecil bersayap. Walaupun peri itu sangat kecil tapi Sri bisa melihat jika peri itu sangat cantik dengan sayap dan kulit yang berkilauan.

Peri kebahagiaan dan Sri terlibat dalam perbincangan serius. Peri menyuruh Sri untuk mencari telaga delapan warna yang berbeda. Sri harus mandi dan berendam di setiap telaga selama seratus hari. Mula – mula Sri ragu, ia tidak percaya dengan ucapan peri. Tapi, peri berulang kali meyakinkan Sri jika Sri ingin mendapatkan kebahagiaan maka ia harus berendam di delapan telaga yang berbeda warnanya. Sebenarnya Sri bingung, Kemana ia harus menemukan delapan telaga dengan warna yang berbeda? Sri ingin bertanya kepada peri, dimana letak telaga – telaga itu? Tapi sebelum Sri mendapatkan penjelasan dari peri, peri itu telah menghilang dengan tiba – tiba. Tak ada yang bisa dilakukan Sri. Ia banyak berpikir, apakah ia harus mengikuti perkataan peri? Akhirnya, dengan pemikiran dan pertimbangan yang matang, Sri memutuskan untuk mengikuti perkataan peri. Ia ingin mendapat kebahagiaan. Ia sudah bosan hidup penuh penghinaan akibat kemiskinan. Ia juga sudah lelah, setiap hari dimarahi dan disiksa oleh ayah tanpa penjelasaan yang jelas. Ia juga sudah muak melihat sikap ibu yang memilih diam saat ibu disiksa oleh ayah.

Sri pun memulai perjalanannya. Ia pergi tanpa pamit kepada kedua orang tuanya. Ia berjalan menyusuri hutan, bukit, sungai, lembah, bahkan ia rela bersusah payah membuat rakit saat ia harus menyeberangi danau dan lautan. Apapun ia lakukan untuk mendapatkan kebahagiaan. Pada suatu hari, ia duduk di pinggir danau yang indah. Ia berniat menyeberangi danau tersebut. Saat ia sedang berpikir bagaimana cara supaya ia dapat menyeberangi danau nan luas tersebut, ia mendengar perbincangan antara buaya dan singa di pinggir danau. Pada jaman dahulu, buaya dan singa tidak buas seperti buaya dan singa pada jaman sekarang. Buaya dan singa berteman dengan siapa saja, termasuk dengan ikan – ikan kecil, kepiting kecil dan kura – kura kecil. Jika sekarang buaya dan singa menjadi sangat buas dan berbahaya mungkin karena pada jaman sekarang hidup lebih sulit. Pada jaman sekarang, jika buaya dan singa tidak buas dan tidak memangsa makhluk lain maka buaya dan singa tidak bisa makan. Begitu pula dengan manusia, manusia sekarang ini lebih buas dan mengerikan bahkan lebih parah dari kebuasan buaya dan singa itu sendiri. Yah walau tidak semua manusia seperti itu, hanya oknum – oknum manusia tertentu saja.

Kembali ke cerita, buaya dan singa yang berbincang – bincang tersebut menceritakan jika di sebuah daerah ada telaga berwarna biru. Jika ada makhluk yang mandi dan berendam di danau tersebut maka ia akan memiliki kesegaran dan semangat hidup yang luar biasa. Sri tertarik dengan perbincangan buaya dan singa. Ia mendekati buaya dan singa yang sedang berjemur di pinggir danau. Sri bertanya banyak mengenai telaga biru tersebut. Dengan penuh ketulusan, buaya dan singa menceritakan letak telaga biru tersebut. Buaya dan singa juga bersedia menolong saat Sri harus menyeberangi danau. Pada akhirnya, buaya dan singa tersebut menjadi teman Sri di dalam perjalanan.

Singkat kata, singkat cerita… Sri, buaya dan singa berhasil menemukan delapan telaga dengan warna berbeda tersebut. Telaga pertama merupakan telaga dengan air berwarna biru. Telaga biru ini ditemukan di sebuah daerah dimana penduduknya memiliki mata biru. Telaga kedua merupakan telaga dengan air yang berwarna hijau. Telaga hijau ini ditemukan di daerah dengan penduduknya memiliki postur tubuh kecil, berkulit cokelat dan bermata hitam serta berambut ikal. Telaga ketiga merupakan telaga dengan air berwarna merah. Telaga merah ini ditemukan di daerah dengan penduduk yang memiliki rambut merah dan memiliki kulit putih.

Telaga keempat merupakan telaga dengan air berwarna kuning. Telaga kuning ini ditemukan di daerah yang memiliki banyak gunung berapi. Telaga kelima merupakan telaga dengan air yang berwarna perak. Telaga perak ini berada di daerah dengan penduduk yang memiliki beraneka ragam hasil logam. Setiap penduduk pasti mengenakan perhiasan dari logam perak. Telaga yang keenam merupakan telaga dengan air berwarna ungu. Telaga ungu ini ditemukan di daerah dimana setiap penduduk wanita pasti akan bercerai setelah menikah sehingga di daerah ini jarang ada wanita yang mau menikah sehingga jumlah penduduk di daerah ini hanya sedikit dan didominasi oleh kaum perempuan.

Telaga ketujuh merupakan telaga berwarna putih, telaga ini ditemukan di daerah dimana para penduduknya memiliki keahlian dalam mengolah susu yang dihasilkan dari binatang yang ada di daerah tersebut, baik itu susu sapi, susu kerbau, susu kuda, susu jerapah, susu gajah, susu harimau, susu singa. Pokoknya, semua susu binatang bisa diolah oleh para penduduk di daerah tersebut karena setiap susu dari binatang – binatang tersebut memiliki fungsi yang berbeda – beda bagi kesehatan manusia. Yang terakhir merupakan telaga berwarna hitam. Telaga warna hitam ini ditemukan di daerah dimana penduduknya memiliki kulit yang gelap dan mereka memiliki banyak sekali kekayaan alam seperti emas, minyak bumi, batu permata. Begitulah sekilas gambaran aneh dari delapan telaga yang harus digunakan Sri untuk berendam.

Kalau ditotal maka Sri berendam di telaga selama 800 hari (@telaga = 100 hari). Jadi kira – kira Sri berendam selama berapa tahun ya? Belum lagi Sri, Buaya dan Singa membutuhkan waktu berhari – hari selama dalam perjalanan. Sudahlah, hal ini tidak usah dipikirkan saja.

Kembali ke cerita. Keajaiban mulai terjadi saat Sri telah selesai berendam di delapan telaga warna. Sri berubah menjadi wanita cantik sekali. Kulitnya yang kasar dan menghitam berubah menjadi kulit yang cerah, halus dan bercahaya seperti kulit bayi. Matanya yang sayu karena penderitaan berubah menjadi mata yang jernih dan bersinar. Rambutnya yang kusut berubah menjadi rambut hitam dan berkilauan. Hidungnya yang besar akibat ia selalu menghirup nafas kesedihan berubah agak sedikit mancung. Bibirnya yang kering dan pecah – pecah akibat ia sering menelan pahitnya kehidupan berubah menjadi bibir yang lembut kemerahan.

Buaya dan singa sangat terkejut dengan perubahan yang dialami oleh Sri. Akibat rasa terkejut yang hebat, buaya dan singa mendapat serangan jantung dan akhirnya dua binatang yang setia menemani Sri itu pun meninggal dunia. Sri sangat sedih melihat dua sahabatnya meninggal dunia. Mau tak mau, Sri harus melanjutkan hidupnya. Ia berencana  kembali ke daerah asalnya. Setelah ia mengubur buaya dan singa, Sri melanjutkan perjalanannya. Ia belum tahu wujudnya sendiri setelah ia berubah menjadi cantik. Hingga akhirnya ia tahu saat ia akan minum di pinggir sungai. Ia melihat bayangan wanita yang sangat cantik di atas permukaan air sungai. Mula – mula Sri ragu dengan wujud barunya, tapi lama kelamaan, Sri sadar jika bayangan wajah wanita cantik itu adalah wujud dirinya yang baru. Ia sangat bahagia dan senang sekali dengan wujud barunya. Ia berniat mengucapkan terimakasih kepada peri. Tapi, peri tidak muncul dihadapannya lagi. Mengapa peri tidak muncul lagi padahal Sri ingin berterimakasih pada peri? Hal ini karena negeri langit dimana peri berasal itu sedang dilanda huru hara. Huru hara apakah itu? Ternyata pemimpin para peri kebahagiaan yaitu Dewi Kebahagiaan sedang bermasalah dengan para Dewa dan para Dewi.

Ternyata, Dewi Kebahagiaan menjalin hubungan spesial dengan manusia laki – laki. Hubungan spesial ini diketahui oleh Dewi Kejahatan sehingga Dewi Kejahatan melaporkan hal itu kepada Dewa Agung Segala Dewa Langit. Dewa Agung kemudian menghukum Dewi Kebahagiaan. Dewi Kebahagiaan diusir dari langit. Sehingga posisi Dewi Kebahagiaan menjadi kosong. Untuk sementara, tugas Dewi Kebahagiaan diambil alih oleh beberapa peri kebahagiaan. Mengapa Dewi Kebahagiaan diusir? Hal ini karena, peraturan langit menuliskan jika para dewi tidak boleh menjalin hubungan spesial dengan manusia demikian pula bagi para dewa.

Sri tidak tahu huru hara yang sedang melanda Dewi Kebahagiaan. Yang paling penting ia sangat bahagia sekarang ini. Sri pun memulai perjalanan kembali ke daerah asal. Hal yang tidak diinginkan pun terjadi. Beberapa kali, ia bertemu dengan para pria dan para pria itu langsung terpesona dengan wujud Sri yang rupawan dan indah sekali. Kabar kecantikan Sri akhirnya menyebar dengan cepat. Setiap kali ia berjalan pasti dihadang oleh beberapa laki – laki. Hingga pada akhirnya, Sri membuat sayembara. Siapa laki – laki yang bersedia mengantarnya pulang maka laki – laki tersebut akan diberi hadiah.

Semua laki – laki yang telah buta dengan kemolekan Sri, mereka berlomba – lomba mengikuti sayembara tersebut. Semua pria ingin mengikuti sayembara tersebut. Baik itu pria kaya maupun pria miskin, baik itu pria rupawan maupun pria tidak rupawan, baik itu pria bertubuh pendek maupun pria bertubuh tinggi. Sri tersenyum dalam hati saat ia melihat begitu banyak pria yang berusaha memperebutkannya. Ia menjadi teringat akan masa lalunya, dimana ia sering dihina pemuda – pemuda akibat bentuknya yang seperti laki – laki. Ia juga teringat akan perbuatan ayah yang sering memarahi dan menyiksanya.

Tiba – tiba sebuah ide jahat terlintas di benak Sri. Ia ingin membalas dendam terhadap para kaum laki – laki. Ia pun memberikan syarat jika siapa saja laki – laki  yang bisa saling mengalahkan satu sama lain maka laki – laki tersebut pantas untuk mengantarnya sampai ke daerah asalnya. Akhirnya, para laki – laki yang berkumpul dan saling berdesakan untuk memperebutkan Sri itupun saling berkelahi dan saling membunuh hingga tidak ada satu laki – laki pun yang tersisa. Sri pun tersenyum puas. “Tak diantar laki – laki sampai ke rumah pun aku tidak masalah. Toh, selama perjalanan mencari delapan telaga aku berjuang sendiri. Yah, walaupun ada buaya dan singa yang menemaniku…Tapi, berjalan dengan ditemani binatang lebih berguna dibandingkan berjalan dengan ditemani pemuda berhati busuk yang hanya tertarik dengan kecantikanku sekarang ini…” begitu batin Sri.

Sri pun melanjutkan perjalanannya. Kabar kecantikan Sri terdengar hingga ke seluruh penjuru dunia. Berkali – kali ia diperebutkan oleh laki – laki. Bahkan, kabar kecantikan Sri sampai  di telinga seorang raja yang berasal dari Negeri Nir. Tapi, karena Sri telah menaruh rasa sakit hati kepada para pemuda maka siapapun pemuda yang berniat memperebutkannya akan berakhir dengan celaka bahkan kematian, apalagi rata – rata para pria yang memperebutkan Sri hanyalah laki – laki yang berhati kotor. Sri sangat puas sekali karena ia bisa balas dendam terhadap orang – orang yang menghinanya. Kelak, jika ia telah sampai di tanah kelahirannya, ia juga akan balas dendam terhadap orang – orang yang dulu menghinanya, begitu niat Sri.

Hingga akhirnya, dengan kekuatan kecantikannya, Sri berhasil membawa pengaruh dimana – mana. Bahkan, Raja Nir rela menyerahkan kerajaannya untuk Sri. Setelah kerajaan diserahkan kepada Sri maka raja malah dijadikan budak oleh Sri. Sri pun menjadi ratu yang terkenal dengan kecantikannya. Kekuatan yang berasal dari kecantikannya itu bisa mengalahkan segalanya. Walaupun Sri telah menjadi ratu di Kerajaan Nir, Sri tetap ingin kembali ke daerah asalnya untuk balas dendam. Oleh karena itu, Sri mempersiapkan bala tentara yang banyak untuk mengawal perjalanannya kembali ke tanah kelahiran Sri. Ia juga berniat akan membentuk sebuah kerajaan di tempat ia berasal.

Hingga pada suatu ketika, di tengah perjalanan, Sri dan rombongan dihadang oleh raksasa jahat. Raksasa itu bangun dari tidurnya karena ia mendengar suara berisik dari kaki – kaki kuda yang membawa Sri dan rombongan. Raksasa sangat marah karena suara berisik itu, lagipula ia juga sangat lapar. Hanya dalam sekali tangkap, ia bisa mengambil berpuluh – puluh prajurit pengawal Sri. Prajurit – prajurit itu ditelan raksasa mentah – mentah hingga tak ada lagi yang tersisa, bahkan kuda – kuda yang membawa rombongan juga dimakan oleh raksasa.

Raksasa bersendawa karena ia kekenyangan. Suara sendawa yang dikeluarkan raksasa seperti suara guntur yang menggelegar. Sri sangat terkejut dengan suara sendawa raksasa tersebut. Sri bersembunyi di balik semak – semak untuk menghindari tatapan raksasa. Tapi pada akhirnya, mata besar milik raksasa berhasil menemukan Sri. Raksasa berhasil menangkap Sri. Sri dimasukkan ke dalam kandang perangkap lalu Sri dibawa ke rumah raksasa. Raksasa berniat memakan Sri tapi ia masih kenyang sehingga Sri akan disimpan sebagai cadangan makanan di bulan berikutnya.

Saat sampai dirumah raksasa, Sri hanya bisa berteriak minta tolong. Ia tidak punya kekuatan untuk kabur dari rumah raksasa karena kandang perangkap dibuat dari bahan yang sangat kuat. Setiap hari Sri berteriak minta tolong. Raksasa tidak terganggu dengan suara teriakan Sri karena raksasa telah kembali tidur, ia akan bangun tidur jika ia merasa lapar. Selain minta tolong, di dalam kandang perangkap, Sri juga mulai merenung. Ia merenungi semua perbuatannya. Ada rasa bersalah muncul di hati Sri karena ia telah menyebabkan banyak pria putus asa bahkan mati akibat kecantikannya. Ia pun berjanji jika ia bisa lolos dari kandang perangkap milik raksasa ia akan menghilangkan sifat balas dendamnya terhadap para laki – laki dan ia juga akan mengurungkan niatnya untuk balas dendam terhadap orang – orang yang dulu menghinanya.

Hingga pada akhirnya, keberuntungan Sri pun tiba. Tanpa pemberitahuan, tiba – tiba di dekat kandang perangkap muncul seorang pemuda yang gagah perkasa. Pemuda itu juga rupawan. Pemuda itu tersenyum tulus dan menawan saat ia melihat Sri. Sri bersorak dalam hati. “Akhirnya! Ada pemuda gagah dan berhati tulus yang dikirim dewa untuk menyelamatkanku dari perangkap raksasa! Mungkinkah, pemuda itu adalah jodohku!? Lelaki seperti inilah yang aku cari! Laki – laki yang tidak jahat dan laki – laki yang bisa menolongku saat aku kesulitan!” begitu sorak Sri dalam hati.

Singkat cerita, pemuda rupawan berhasil menyelamatkan Sri bahkan ia juga bisa membunuh raksasa rakus nan jahat. Tubuh Sri sangat lemah karena selama ia disekap di dalam rumah raksasa, ia tidak pernah diberi makan. Pemuda yang baik hati nan tulus itu pun membawa Sri ke pondoknya. Pondok pemuda itu terletak di pinggir pantai. “Astaga selain baik hati, pemuda ini juga sangat romantis…” begitu batin Sri. Ia sangat percaya diri jika pemuda yang menolongnya itu adalah jodohnya.

Pemuda nan sempurna itu mengetuk pintu pondok rumahnya. Sesosok wanita yang sangat cantik menyembul dari balik pintu. Sri terkejut bukan kepalang saat ia melihat keberadaan wanita bak bidadari itu. Hati yang semula berbunga – bunga menjadi layu bahkan rontok seketika. Harapan yang tinggi, runtuh dalam hitungan detik. Sri menundukkan kepalanya, ia merasa hatinya lebih sakit dan perih.

Sri dipersilahkan masuk ke dalam pondok. Ia disuguhi beberapa makanan dan minuman lezat. “Istriku ini memberitahuku jika ada seseorang yang meminta bantuan. Sebenarnya, istriku sendiri yang ingin menolongmu tapi istriku sedang hamil sehingga aku memutuskan supaya aku saja yang menolongmu, Sri…” pemuda nan gagah itu tersenyum manis sekali sehingga senyuman itu laksana garam yang dituangkan ke hati Sri yang terluka. Sri hanya mengangguk pelan, ia mengamati istri pemuda itu. Memang, istri pemuda itu juga sangat cantik. Bahkan, aura wanita itu berkilauan kemana – mana. Ada bisikan halus yang menyuruh Sri untuk merebut pemuda itu dari istrinya tapi ternyata walaupun Sri pernah jahat tapi ia memiliki harga diri sebagai perempuan yang terhormat. Ia tidak akan mau merebut pria yang beristri.

Sepasang suami istri yang serasi itu mempersilahkan Sri untuk istirahat. Saat Sri akan melangkahkan kakinya menuju tempat istirahatnya, tiba – tiba muncul  suara berdesing. Sri tidak asing dengan suara itu. ” Bukankah, suara desingan itu merupakan suara kepakan sayap peri kebahagiaan? Akankah ada keajaiban untukku lagi?”, begitu harapan Sri.

“Oh, Sri! Kau ada di sini?” suara kecil peri kebahagiaan terdengar di telinga Sri. “Peri, mengapa kau masih datang kemari? Kau bisa dihukum Dewa Agung jika kau selalu mengunjungiku…” istri pemuda yang rupawan tampak cemas. “Oh, Dewi…Kami sangat rindu padamu. Kami juga sangat kehilangan Dewi…” suara kecil peri terdengar pilu. Sri mengernyitkan alisnya. Ia tidak mengerti dengan percakapan peri dan istri pemuda tersebut.

Rupanya, istri pemuda yang sangat cantik tersebut merupakan Dewi Kebahagiaan yang menjalin hubungan dengan manusia laki – laki. Dewi Kebahagiaan jatuh hati dengan pemuda manusia tersebut karena pemuda tersebut memiliki akhlak mulia sekaligus ia juga sangat tampan. Dewi Kebahagiaan rela mengundurkan diri dari jabatannya sebagai dewi yang menyebarkan kebahagiaan demi pemuda itu. Sebagai seorang dewi, ia juga ingin hidup bahagia dengan pemuda yang ia kasihi.

Sri tak mau berlama – lama tinggal di pondok milik sepasang suami istri itu. Semakin lama ia tinggal di pondok itu, semakin perih pula luka di hatinya. Ia pun memutuskan pergi dari pondok. Setelah, Sri pamit pulang. Ia pun memulai perjalanannya kembali tanpa ditemani seorangpun. Ia telah kehilangan segalanya, ia juga tidak ingin kembali ke Kerajaan Nir lagi. Ia memutuskan untuk pulang ke rumah. Ada perasaan menyakitkan yang menggelayut di jiwa Sri. Sri menjadi kesepian setelah ia pulang dari pondok milik pemuda dan istri pemuda, istri pemuda yang ternyata mantan Dewi Kebahagiaan.

Tak lama kemudian, Sri telah sampai di bukit dekat rumahnya. Ternyata, rumah pemuda dan istrinya tidak terlalu jauh dari bukit dekat rumah Sri. Sri menangis sejadi – jadinya. Menjadi wanita tidak cantik ia menderita bahkan sekarang, saat ia telah berubah menjadi wanita cantik pun ia juga menderita. “Lebih baik, waktu itu aku dimakan saja oleh raksasa. Toh, hidupku tidak berarti lagi! Aku akan mati saja!” Sri telah bersiap – siap untuk terjun dari puncak bukit. Tapi, sebelum niat Sri terlaksana, tiba – tiba Sri mendengar suara desingan. Rupanya, peri kebahagiaan datang untuk mencegah perbuatan Sri.

Peri memberi nasehat kepada Sri jika kebahagiaan itu bisa didapat jika Sri bisa mensyukuri segala sesuatu yang telah Dewa berikan kepada Sri. Peri memberi nasehat kepada Sri supaya Sri melakukan kebaikan di dunia ini. Peri berkata, “ Jika Sri melakukan satu tindakan buruk maka perbuatan buruk Sri akan dibalas dengan 1000 rasa kesepian dan 1000 rasa kesedihan. Oleh karena itu, Sri harus terus berbuat baik supaya Sri tidak kesepian dan tidak sedih,” begitu saran peri kebahagiaan.

Tak ada jalan lain, Sri pun menuruti saran peri kebahagiaan. Ia mulai berbuat kebaikan. Pertama – tama ia pulang ke rumah. Sri bersyukur karena ternyata kedua orang tua Sri masih hidup. Ia tidak mau menemui kedua orang tuanya karena ia tidak ingin kedua orang tuanya terkejut dengan perubahan wajahnya. Setiap hari, Sri hanya menengok kedua orang tuanya dari kejauhan. Ia juga sering membawa hasil bumi untuk kedua orang tuanya. Hasil bumi itu ia letakkan  di depan rumah, lalu ia akan pergi sebelum orang tua Sri mengetahui keberadaan Sri.

Sri tinggal di bukit. Ia membangun rumah sederhana. Ia juga membangun taman indah dengan dibantu oleh peri kebahagiaan. Sri juga menanam berbagai macam tanaman sayur, ubi – ubian dan buah di bukit tersebut untuk menghidupi dirinya. Sri juga menghentikan kebiasaan berburunya. Hasil kerja kerasnya menanam sayur, ubi – ubian dan buah juga akan ia bagikan ke penduduk yang tinggal  di bawah bukit. Sri juga sering membantu orang yang kesusahan. Ia juga sering memberi nasehat bagi penduduk yang sedih ataupun putus asa dan patah hati. Setiap orang yang berbicara dengan Sri, mereka akan merasa senang dan beban hidup agak berkurang. Kecantikan Sri tidak terdengar lagi karena Sri memilih menutupi muka dengan cadar sehingga aura kecantikan Sri tidak tersebar kemana – mana dan tidak akan ada pemuda – pemuda yang memperebutkan dirinya demi kecantikan semata. Sri juga mendengar jika Raja Nir yang semula ia jadikan budak telah kembali berkuasa di kerajaannya kembali. Sri juga mendengar kabar dari peri kebahagiaan jika pemuda dan mantan Dewi kebahagiaan telah dikarunia seorang putra. Kelak putra dari pemuda dan mantan Dewi Kebahagiaan ini merupakan nenek moyang dari Raja yang memerintah Kerajaan Berantah.

Dengan berbagi kebaikan kepada seluruh manusia dan seluruh makhluk di mana Sri tinggal maka segala rasa kesepian yang melanda Sri berangsur – angsur hilang. Sri berjanji jika ia akan terus berbuat kebaikan selama hidupnya. Ia juga tidak pernah menuruti hawa nasfunya sebagai manusia, yang ia lakukan hanyalah berbuat kebaikan terhadap sesama manusia, berbuat baik terhadap makluk hidup dan berbuat baik terhadap alam semesta serta ia juga selalu beribadah kepada Dewa. Perubahan sikap Sri yang semakin baik ini rupanya dilaporkan oleh peri kebahagiaan kepada Dewa Agung dan Dewa Agung pun juga telah mengetahui perubahan sikap Sri . Dewa Agung pun mengangkat Sri untuk menjadi Dewi Kebahagiaan. Berhubung, posisi Dewi Kebahagiaan sedang kosong, maka Dewa Agung memilih Sri untuk menjadi Dewi Kebahagiaan. Kemudian, Sri diangkat ke langit oleh Dewa Agung. Saat Sri diangkat menjadi Dewi Kebahagiaan ini, Sri meminta Dewa Agung supaya ia bisa kembali ke bentuk semula (bentuk sebelum ia berubah menjadi wanita yang memiliki kecantikan luar biasa). Dewa pun mengabulkan permintaan Sri. Sri kembali ke wujud semula. Walaupun Sri telah kembali ke wajah semula tapi sebagai Dewi Kebahagiaan, Sri memiliki kebaikan yang luar biasa untuk menyebarkan kebahagiaan di bumi.

Penduduk yang ingin berdoa untuk mendapatkan bantuan Dewi Kebahagiaan supaya mereka bisa bahagia maka mereka bisa berdoa di rumah Dewi Kebahagiaan di bukit. Selain itu, Dewi Kebahagiaan juga akan memberikan kekuatan agar manusia (wanita pada khususnya) tidak menjadi lemah dalam menjalani hidup ini. Kelak, bukit tempat tinggal Sri sebelum Sri menjadi Dewi Kebahagiaan ini diberi nama Bukit Berantah. Pada kisah sebelumnya, Wanodya dan Tanaya bertemu di Bukit Berantah saat mereka akan berdoa di rumah Dewi Kebahagiaan.

Demikianlah kisah yang sangat wagu, aneh dan banyak terdapat kejanggalan di sana sini. Mencuplik tulisan Bart Cubbins untuk cerita kali ini, “ This Is Not Reality”. Sekian dan terimakasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender

Mei 2012
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Top Rated

HTML hit counter - Quick-counter.net
free counters
free counters

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 15 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 171,062 hits
%d blogger menyukai ini: