Kisah Sebelum Masehi

Tinggalkan komentar

Mei 4, 2012 oleh nugraheniismyname

Konon pada jaman dahulu, ketika di bumi ini semua negara berbentuk kerajaan, ketika di bumi ini belum ada televisi, belum ada telepon dan belum ada komputer dan barang – barang sejenisnya. Ada sebuah kerajaan bernama Kerajaan Berantah. Kerajaan ini sangat makmur dan rakyatnya juga memiliki kesejahteraan yang cukup. Kerajaan ini dipimpin oleh seorang raja bernama Raja Antah. Raja Antah ini dalam menjalankan tugasnya sebagai raja dibantu oleh beberapa pegawai – pegawainya. Ada Menteri Upeti, Menteri Guru, Menteri Ngrantam, Menteri Redana, Menteri Sesuluh, Menteri Gotong Royong dan lain – lain. Menteri – menteri ini sangat membantu kesuksesan Raja Antah dalam memajukan Kerajaan Berantah.

Tapi kali ini, cerita tidak akan membahas tentang Kerajaan Berantah tersebut.  Cerita ini mengisahkan kehidupan antara anak Menteri Upeti dan anak Menteri Guru. Dua menteri itu merupakan menteri yang paling terkenal di Kerajaan Berantah karena prestasi yang dimiliki. 

Menteri Upeti bertugas untuk menampung dan mengumpulkan semua upeti yang di berikan rakyat untuk kerajaan. Upeti ini bisa berwujud beras, kakao, jagung, kelapa, buah – buahan bahkan bisa juga berbentuk emas dan permata. Bentuk upeti di sesuaikan dengan penghasilan dan pekerjaan dari tiap rakyat. Dalam melaksanakan tugasnya, Menteri Upeti dibantu oleh beberapa pegawai bawahan.

Menteri Upeti memiliki tiga orang anak. Anak pertama merupakan anak laki – laki yang bernama Tanaya Pratanggapati. Tanaya ini merupakan anak laki – laki yang sangat tampah dan gagah. Dulu, banyak perempuan di kerajaan Berantah yang menyukai Tanaya ini. Sejak Tanaya masih kecil, pesona yang dimiliki telah memancar ke seluruh negeri.

Tanaya memiliki dua adik perempuan yang cantik – cantik. Menteri Upeti dan keluarganya hidup makmur dan berlimpah harta. Kekayaan yang melimpah ini membuat kehidupan keluarga Menteri Upeti menjadi bergelimangan kemewahan. Istri dan kedua anak perempuan menteri Upeti menjadi wanita yang gemar berpesta dan gemar  memamerkan kekayaan. Mereka pun menjadi wanita – wanita yang sombong. Bayangkan, mereka harus naik kereta kuda mewah saat berpergian karena mereka takut kepanasan di jalan. Mereka pergi dalam jarak 200 meter pun harus pakai kereta mewah karena mereka juga takut kaki akan melepuh jika kebanyakan jalan kaki.

Walaupun begitu, kehidupan keluarga Menteri Upeti banyak diperbincangkan oleh rakyat karena Menteri Upeti gemar sekali bermain wanita. Menteri Upeti dikabarkan memiliki wanita simpanan. Wanita simpanan ini merupakan pemilik rumah hiburan di Kerajaan Berantah. Kabar ini juga terdengar hingga telinga raja. Tapi, Raja tidak percaya kabar itu karena baginda belum mengetahui secara langsung.

Itu tadi sekilas pemaparan mengenai keluarga Menteri Upeti. Sekarang, mari kita simak pemaparan tentang keluarga Menteri Guru. Menteri Guru bertugas untuk memberikan pengajaran, pendidikan, pengetahuan, pemahaman tentang ilmu pengetahuan dan juga ilmu kepercayaan serta ilmu kehidupan bagi para semua rakyat. Dalam melaksanakan tugasnya, menteri ini juga dibantu oleh banyak pegawai rendahan yang tersebar di seluruh negeri.

Menteri Guru ini pula yang mencetuskan  adanya jenjang pendidikan menjadi tiga bagian yaitu perguruan rendah, perguruan menengah dan perguruan tinggi. Perguruan rendah diperuntukkan bagi anak – anak yang berumur 5 – 10 tahun. Perguruan menengah diperuntukkan bagi rakyat yang berumur 11 – 17 tahun. Sedangkan, perguruan tinggi diperuntukkan bagi rakyat yang telah lulus dari perguruan rendah dan perguruan menengah. Atas ide menteri yang membagi jenjang pendidikan ini maka raja telah memberi penghargaan seumur hidup bagi Menteri Guru.

Menteri guru ini memiliki  tiga orang putri. Anak pertama dan anak terakhir menteri guru sangat cantik, tinggi dan berkulit gemerlapan. Sedangkan, anak kedua menteri tidak terlalu cantik, wajah dan tubuhnya juga biasa – biasa saja. Akan tetapi, anak kedua menteri ini memiliki kepandaian yang lebih dibandingkan dengan dua saudaranya. Anak kedua menteri ini bernama Wanodya Kenya. Karena Wanodya memiliki kepandaian serta ia juga mempunyai kemampuan untuk mendongeng  dan membuat syair maka menteri guru meminta Wano untuk belajar hingga ke luar Kerajaan Berantah. Setelah Wano beranjak dewasa, Wano pun menuntut ilmu hingga ke Kerajaan Seribu Satu Dongeng.

Kerajaan Seribu Satu Dongeng ini memiliki ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang maju sekali. Wano datang ke Kerajaan Seribu Satu Dongeng untuk mempelajari ilmu syair, ilmu dongeng dan ilmu tulis menulis.  Menteri guru berniat menjadikan Wano sebagai penerusnya.

Dalam mendidik ketiga putrinya, menteri guru sangat menjunjung prinsip jika kehormatan dan harga diri harus di junjung tinggi di dalam kehidupan ini. Ketiga putrinya harus bersikap dan bertindak sebagai wanita terhormat. Mereka harus hati – hati dalam bertindak untuk menjaga kehormatan dan harga diri keluarga. Ketiga anaknya tidak boleh keluar dari rumah. Ketiga putrinya itu hanya keluar rumah saat mereka belajar di perguruan. Mereka juga harus hati – hati dalam memilih teman. Dalam bergaul, ketiga anaknya harus memperhatikan bibit, bobot dan bebet.

Menteri Guru mengekang ketiga putrinya supaya mereka tidak bertingkah yang macam – macam. Pokoknya, dalam bertindak, seluruh keluarganya harus sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di Kerajaan Berantah. Maklumlah, Sebagai Menteri guru yang bertugas mendidik rakyatnya maka menteri guru ingin kehidupan keluarganya pantas dicontoh bagi para rakyatnya. Tapi, walaupun begitu, menteri guru mendidik keluarganya untuk menjadi keluarga yang sederhana, walau sebenarnya menteri guru memiliki penghasilan yang melimpah dari pekerjaannya.

Lalu, sebenarnya apa yang akan diceritakan?

Nah, cerita yang sebenarnya dimulai dari sini. Ini merupakan kisah antara anak Menteri Upeti dengan Menteri Guru yaitu kisah antara Tanaya dan Wanodya. Seperti yang diceritakan sebelumnya, jika Wanodya pergi Ke Kerajaan Seribu Satu Dongeng untuk menimba ilmu. Setelah lulus dari perguruan menengah, Wano pergi ke luar kerajaan untuk belajar. Ia belajar di Kerajaan Seribu Satu Dongeng selama tujuh tahun.

Setelah Wano berhasil dalam menimba ilmunya maka ia berniat pulang ke Kerajaan Berantah. Selama tujuh tahun di kerajaan lain, ia tidak pernah tahu keadaan kerajaan tanah kelahirannya. Ia juga tidak bisa berkomunikasi dengan keluarganya. Oleh karena itu, ia sangat bahagia karena ia akan kembali ke rumah. Ia pulang ke tanah kelahiran dengan naik perahu layar. Maklum, antara kerajaan Berantah dengan Kerajaan Seribu Satu Dongeng di pisahkan oleh dua samudera.

Selama berbulan – bulan lamanya, Wano berada di perahu layar. Hingga, akhirnya ia sampai di Pelabuhan Tanjung Berantah. Pelabuhan ini merupakan pintu masuk ke Kerajaan Berantah. Wano sangat bersyukur sekali, ia bisa sampai di tanah kelahiran dengan selamat. Ia naik kereta kuda umum untuk menuju ke rumah. Kereta kuda umum  merupakan alat angkut umum yang disediakan oleh pemerintah Kerajaan Berantah bagi para rakyatnya.

Wano disambut dengan suka cita saat ia sampai di rumah. Ayah, ibu dan saudara- saudaranya juga terlihat sehat dan bahagia. Bahkan, kakak perempuannya telah menikah. Sebentar lagi, adik perempuannya juga akan menikah. Adik Wano harus menunggu Wano menikah dulu baru ia boleh menikah. Peraturan Kerajaan Berantah menyebutkan jika seorang adik perempuan tidak boleh mendahului menikah jika kakak perempuan belum menikah.  Yah, karena kecantikan yang tiada tara yang dimiliki oleh kakak dan adik Wano, maka mereka dikelilingi oleh pria – pria yang memuja sehingga mereka tidak kesulitan untuk mendapatkan pria yang kaya dan bermartabat. Kakak dan adik Wano bisa mendapatkan pria yang memiliki bibit bagus, bebet bagus dan bobot yang bagus pula.

Wano ikut bahagia mendengar kabar baik dari kakak dan adiknya itu. Tapi, hatinya agak miris juga karena ia belum memiliki pria untuk dijadikan pendampingnya. Ia terlalu sibuk dengan pendidikannya sehingga ia tak sempat mencari pria. Padahal, di Kerajaan Seribu Satu Dongeng, banyak sekali pria bermata biru, berambut emas dan berkulit cerah. Tapi, ia teringat pesan ayahnya. Bahwa dia harus memilih segala sesuatu berdasarkan bibit, bobot dan bebet.

Wano berniat tidak akan memikirkan hal itu dulu. Ia akan menerapkan ilmu yang telah ia peroleh. Ia bertekad bulat akan mengajarkan semua pengetahuannya kepada rakyat Berantah. Karena, tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama dengan dirinya. Kesempatan untuk menimba ilmu di luar kerajaan.

Niat baik Wano mendapat sambutan baik dari ayahnya. Menteri Guru memberi kesempatan kepada Wano untuk membagi ilmunya di perguruan rendah. Jika Wano telah berhasil mengajar di perguruan rendah, maka Wano akan dipindahkan mengajar di perguruan menengah dan jika Wano berhasil mengajar di perguruan menengah maka ia akan dipindahkan untuk mengajar di perguruan tinggi, begitu niat menteri guru.

Suatu pagi yang cerah, untuk pertama kalinya, Wano menginjakkan kakinya keluar rumah  tanpa larangan dari ayah. Rupanya, ayah tidak terlalu membatasi ruang gerak Wano karena ayah menilai jika wano telah cukup dewasa untuk membawa diri.

Wano berjalan menyusuri jalan menuju ke Perguruan Rendah. Ada banyak rencana yang menjejali otak Wano. Ia akan mengajarkan pantun dan syair. Ia juga akan menyanyi. Ia juga akan mendongeng untuk anak – anak kecil yang belajar di perguruan rendah. Anak –anak kecil itu pasti akan senang jika Wano mendongeng dan bernyanyi untuk mereka. Wano juga membawa seruling. Ia akan menyisipkan alunan seruling saat ia mendongeng.

Langkah Wano terhenti, ia mengamati sebuah  pasar yang terdapat di sebelah Perguruan Rendah. Ia baru tahu jika ada pasar di dekat Perguruan Rendah. Dulu, waktu ia meninggalkan Kerajaan Berantah belum ada pasar di dekat  perguruan rendah itu.

Wano berniat melanjutkan langkahnya tatkala dua matanya menangkap sosok pria gagah yang berdiri di pintu masuk pasar. Pedang panjang terselip di belakang tubuh pria tegap itu. Pria itu menarik perhatian Wano. Wano merasa, ia pernah tahu sosok yang berdiri di pintu pasar itu. Berhubung Wano merupakan wanita yang pandai, cerdas dan memiliki ingatan yang kuat. Ia bisa mengenali sosok yang berdiri di depan pintu pasar itu.

“Kalau tidak salah. Dia itu kan Tanaya? Putra Menteri Upeti?” tanya Wano dalam hati. Dulu, Wano sering bertemu dengan Tanaya jika ada pesta pertemuan para menteri kerajaan. Menteri Upeti sering mengajak Tanaya ke pesta pertemuan menteri dan ayah Wano juga sering sekali mengajak Wano ikut ke pesta pertemuan keluarga menteri. Ayah cukup bangga dengan kepandaian Wano sehingga Wanolah yang sering diajak ayah pergi ke pesta pertemuan para menteri. Wano tahu siapa itu Tanaya dan Tanaya juga tahu siapa itu Wano. Tapi, mereka tidak saling kenal.

Wano tersenyum dalam hati karena waktu ia masih anak – anak,  ia sempat kagum dengan ketampanan Tanaya. Tapi, itu hanyalah sebuah kisah masa kecil yang indah. “Apa yang dilakukan Tanaya di pasar? Apakah ia menggantikan sosok ayahnya untuk mengawasi upeti dari pasar?” begitu tanya Wano dalam hati. Wano menarik nafasnya pelan, ah! Ia harus segera datang ke perguruan rendah untuk mengajar! Wano pun bergegas pergi menuju ke perguruan rendah.

Wano mengawali hari pertamanya di perguruan dengan membaca syair sambil menyanyi. Suara Wano terdengar merdu dan mendamaikan hati. Sesekali, ia membunyikan seruling. Wano lebih senang membawa murid  – murid belajar di luar ruangan. Ia membawa anak – anak didiknya ke sawah di belakang perguruan. Di sawah itu, ia akan bernyanyi, membaca syair, membunyikan seruling dan mendongeng untuk anak – anak kecil. Saat Wano bernyanyi dan bersyair pasti ada hembusan angin lembut nan semilir mengiringi sehingga seakan – akan angin semilir itu membawa suara merdu Wano hingga ke seluruh penjuru kerajaan.

Tak terasa, Siang hari telah tiba. Wano harus pulang karena waktu untuk mengajar di perguruan telah selesai. Wano meninggalkan perguruan dengan berjalan kaki. Wano sangat disukai oleh anak – anak didiknya. Mereka berjalan dengan  riang di belakang Wano. Wano menghentikan langkahnya saat ia berada di dekat pasar. Anak – anak didiknya juga ikut berhenti. Tapi anak – anak kecil itu tak tahu apa yang ada dipikiran Wano. Mereka terus bersenda gurau dengan penuh keluguan.

Entah kenapa? Ada kekuatan yang menyuruh Wano untuk menoleh ke arah pintu pasar. Ada gelombang aneh yang masuk ke jantung saat kedua matanya menangkap sosok yang berdiri di dekat pintu pasar. Rupanya, Tanaya masih berdiri di depan pintu pasar. “Sebenarnya, apa yang dia lakukan di sana?” tanya Wano pada dirinya sendiri.

Wano mengalihkan pandangannya saat Tanaya melihat keberadaan Wano. Pria tampan itu tahu jika Wano berdiri mengamatinya. Wano pura – pura tak melihat keberadaan Tanaya. Gadis itu melanjutkan perjalanannya diiringi anak – anak kecil.

“Anak – anakku, Guru Wano harus pergi ke tempat ibadah dulu untuk berdoa. Kalian pulanglah dulu, ya…” kata Wano sambil mengelus satu persatu kepala anak – anak didiknya. “Iya Guru!!! Kami pulang dulu!!! Besok bernyanyi lagi ya, Guru!!!” pinta anak – anak didik Wano dengan riang gembira. Wano mengangguk sambil tersenyum menyejukkan.

Wano mengambil jalan yang berbeda dengan  jalan yang diambil anak – anak didiknya. Ia menuju ke tempat ibadah Dewi Kebahagiaan. Tempat ibadah Dewi Kebahagiaan terletak di bukit nan indah bernama Bukit Berantah. Tempat ibadah Dewi kebahagiaan dikelilingi taman yang indah. Ada beberapa penjaga tempat ibadah yang selalu merawat tempat ibadah itu. Wano membersihkan kedua kaki dan kedua tangannya di pancuran air.  Tak lupa, ia membasuh muka. Air terasa dingin dan sejuk di kulit. Setelah Wano selesai membersihkan diri, ia mengambil kain suci berwarna putih. Setiap manusia yang akan berdoa di tempat ibadah, mereka harus menggunakan kain suci itu untuk menutupi badan.

Wano berdoa, ia memohon semoga Dewi Kebahagiaan bisa memberikan kebahagiaan di kehidupan sekarang dan kehidupan  kelak setelah ia mati.  Wano berdoa lama sekali dan dengan sepenuh hati, hingga ia tidak menyadari jika senja telah tiba.

Wano telah selesai berdoa. Selesai Wano berdoa, ia merasa tenang dan damai. Wano melipat kain suci yang baru saja ia pakai. Saat Wano berniat mengembalikan kain suci ke tempat semula, tiba – tiba ia mendengar gong  di tempat ibadah berbunyi. Gong  dipukul dan dibunyikan untuk mengajak manusia agar mereka selalu berdoa dan beribadah. Suara gong bersumber dari pelataran tempat ibadah.

Wano berjalan ke pelataran tempat ibadah. Mata Wano menangkap sesosok pria berdiri di dekat gong. “Ah, dia kan Tanaya?” batin Wano saat ia tahu siapa pria yang membunyikan gong ibadah.

Wano pura –pura tidak melihat keberadaan Tanaya tapi sesekali ia mencuri pandang untuk mengawasai tingkah Tan. Selesai membunyikan gong, Tanaya pergi ke pancuran air. Ia membersihkan tangan, kaki dan muka dari debu. Kemudian, pria muda itu masuk ke dalam tempat ibadah. Saat Tanaya berpapasan dengan Wano, pria itu mengangguk pelan. Wano tak sempat membalas anggukan Tan karena pria itu masuk ke dalam tempat ibadah dengan cepat.

Wano menikmati senja hari di sekitar tempat ibadah Dewi Kebahagiaan. Tempat ini sungguh indah dan menyejukkan. Ia bisa melihat pemandangan dari atas bukit. Bahkan, laut nun jauh di sana juga bisa dilihat Wano dari atas bukit. Suasana bertambah  menawan saat warna senja yang berwarna kemerahan menghiasi langit. Wano bahagia sekali karena pada akhirnya ia bisa kembali menikmati pemandangan indah di Kerajaan Berantah. Saat ia menimba ilmu di Kerajaan Seribu Satu Dongeng, ia tak pernah menjumpai pemandangan alam seindah di kampung halamannya.

Wano menghirup udara segar di atas bukit dengan sepuas – puasnya. Lalu, ia meninggalkan tempat ibadah dengan langkah yang ringan. Wano berjalan menyusuri jalan setapak yang terbuat dari lempengan batu. Wano menghentikan langkahnya saat kaki kecilnya terasa pegal. Wano pun beristirahat dibawah pohon yang terletak di pinggir jalan. Ia duduk sambil menyandarkan punggungnya di batang pohon.

Saat ia duduk bersandar, ia teringat akan serulingnya. Wano mengambil seruling dari balik bajunya. Gadis muda itu pun melantunkan  irama nada dari lubang – lubang seruling. Alunan seruling semakin menambah suasana senja menjadi syahdu.

Wano terus meniup serulingnya. Ia tidak menyadari jika dari kejauhan ada seseorang yang memperhatikannya. Wano berhenti meniup seruling saat ia sadar jika petang mulai datang. Wano pun memutuskan untuk pulang ke rumah. Walau sebenarnya, Wano agak takut pulang sendirian saat petang hari. Namun, mau bagaimana lagi?  Ia terlalu asik meniup seruling sehingga ia tidak sadar jika petang telah datang.

Wano berjalan dengan penuh kewaspadaan. Kedua kakinya melangkah cepat menyusuri jalan. Suara binatang malam mulai terdengar di telinga. Suasana juga terasa sunyi. Daya waspada Wano meningkat saat telinganya menangkap ada suara langkah manusia. Sepertinya, langkah manusia itu mengikutinya. Wano tak berani menoleh. Ia takut jika ternyata ia diikuti oleh penjahat. Wano mempercepat langkahnya. Suara langkah kaki yang mengikutinya masih terdengar di telinga. Bahkan, langkah kaki misterius itu semakin mendekati Wano.

“Siapa yang mengikutiku? Penjahat, perampok atau bahkan itu suara hantu?” tebak hati Wano, jantungnya berdetak kencang. Ia berusaha menguatkan hati. Dengan gerakan spontan, ia menoleh ke belakang. Wano menghela nafas lega sekaligus terkejut. Ada Tanaya berjalan di belakang Wano. Pria itu tersenyum menawan sambil menganggukkan kepala.

“Mau pulang?” dua kata keluar dari mulut Tan. “Iya…” kata Wano, ia terlihat tersipu. “Rumahnya di mana?” suara merdu Tan membelai telinga Wano. “Disana…” Wano mengarahkan telunjuk tangan ke jalan lurus. “Mari, saya antar…” Tanaya menawarkan diri. Wano tersenyum sambil mengangguk pelan. Ia merasa malu. Ada sesuatu yang menjalar hangat di pipinya.

Wano dan Tanaya berjalan beriringan. Selama di perjalanan, mereka terdiam. Wano ingin membuka percakapan  dengan Tanaya, tapi  mulutnya terkunci. Ia ingin menanyakan nama pemuda di sampingnya hanya untuk sekedar memastikan jika ia Tanaya atau bukan? Tapi bibirnya terasa kelu. Ia bisa mendongeng, ia bisa mengungkapkan pikirannya dengan kata – kata tulisan, ia bisa membuat syair tapi mengapa ia tidak bisa berkata – kata saat ia didekat Tanaya saat ini?

Wano menghentikan langkahnya saat ia sampai di depan gapura rumah. Dua prajurit penjaga keamanan rumah berdiri di samping kanan dan kiri gapura. “ Terima kasih sudah mengantarku…” kata Wano dengan suara lirih. Tanaya mengangguk pelan sambil terseyum manis. Ia pergi setelah Wano masuk ke dalam rumah.

Seperti yang telah Wano duga sebelumnya, saat ia sampai di dalam rumah. Ayahanda Menteri Guru dan ibunda telah menyambutnya. “Kamu pergi ke mana saja? Ayah telah mengirimkan prajurit untuk mencarimu di perguruan tapi mereka tak menemukanmu?” tanya menteri guru menyambut kedatangan Wano.

“Maaf, Ayahanda. Ananda pergi ke rumah Dewi Kebahagiaan. Ananda berdoa hingga petang hari…” Wano berusaha memberikan alasan di depan ayah.  “Baiklah. Jangan kau ulangi lagi perbuatanmu itu! Ayah tidak ingin melihat sesuatu terjadi dengan dirimu!” Menteri Guru memperingatkan Wano. Wano mengangguk pelan. Lalu, ia masuk ke dalam ruangannya sendiri untuk membersihkan diri dan berisitirahat.

Wano sedang sibuk menulis dongeng saat ia mendengar suara pintu kamar di ketuk. Wano membukakan pintu dan ia melihat ibunda berdiri di depan pintu. “Ayah memanggilmu, Nak…” kata Ibu penuh kelembutan. Wano pun menemui ayahanda di ruang pribadi ayah. Wano di dampingi ibunda. Saat Wano melihat ayah, wajah ayah tampak serius dan sedikit menakutkan.

“Duduk!” terdengar suara berat ayah dari atas kursi. Wano duduk di lantai. “Apa yang kau lakukan sepulang mengajar di perguruan?! Jawab dengan jujur! Ayah tidak ingin kamu berbohong!” kata menteri guru tanpa basa basi. “Ananda pergi berdoa di Rumah Dewi Kebahagiaan, Ayahanda…” kata Wano tak mengerti.

“Jangan bohong! Pengawal melihatmu, kau diantar oleh pemuda! Siapa pemuda itu??!” tanya Menteri Guru dengan nada tinggi. Wano tertunduk, ia menatap permadani yang menutupi lantai. “Saya tidak tahu secara persis pemuda itu. Ananda bertemu dengan pemuda itu di rumah Dewi Kebahagiaan. Pemuda itu mengantar Ananda sampai rumah karena hari telah petang…”  kata Wano dengan penuh hati – hati. Ia takut jika ada kata – kata yang bisa membuat menteri guru marah.

“Kau tidak tahu siapa pemuda itu? Kau sungguh ceroboh! Di mana harga dirimu sebagai wanita? Kau dengan mudahnya menerima kehadiran laki – laki? Ayah mendidikmu supaya kau tidak menjadi wanita murahan. Ayah ingin kau menjadi wanita yang terpelajar, terhormat dan bemartabat serta berkelas!” kata ayah penuh kemarahan.

“Ananda tidak melakukan apa – apa dengan pemuda itu. Pemuda itu hanya mengantar Ananda pulang. Lagipula, pemuda itu terlihat sebagai pemuda baik – baik. Ananda lihat, pemuda itu membunyikan gong ibadah dan dia berdoa di Rumah Dewi Kebahagiaan.” Wano membela diri dari amarah Menteri Guru.

“Pemuda baik – baik katamu??? Kau belum tahu  siapa pemuda yang mengantarmu itu? Dia itu anak Menteri Upeti!” kata ayah dengan nada tinggi. “Benarkan? Dia Tanaya, anak Menteri Upeti. Bukannya hal ini malah bagus? Aku bisa berkenalan dengan Tanaya???” Wano tersenyum dalam hati.

Menteri guru mengambil gelas di atas meja. Ia meminum habis isi air di dalam gelas besarnya. “Mulai sekarang! Jaga dirimu baik – baik! Jangan sampai kau bertemu dengan dia! Jangan berteman dengan dia!” kata menteri guru. Kumis lebat milik Menteri guru bergerak kesana kemari saat beliau berkata – kata.

“Memangnya? Ada apa dengan anak Menteri Upeti?” tanya Wano. Ia ingin meminta penjelasan dari ayahanda mengapa ia dilarang berhubungan dengan anak Menteri Upeti. Padahal  rasa suka pada Tanaya saat ia masih kecil dulu, sepertinya muncul kembali pada diri Wano. Lagipula apa yang salah dengan Tanaya? Dia anak seorang menteri tentu kedudukannya sama dengan kedudukan Wano.

“Oh baiklah! Ayah akan memberitahumu jika selama kau belajar ke luar kerajaan, ada petaka besar yang menimpa keluarga Menteri Upeti. Ternyata selama ini, Menteri Upeti menyalahgunakan semua upeti dari rakyat untuk kepentingan pribadi. Selain itu, Menteri Upeti juga terlibat dalam perselingkuhan. Kau tahu kan? Kerajaan melarang warga yang telah menikah dan berkeluarga untuk berselingkuh?” kata ayahanda Menteri Guru.

“Raja mengetahui secara langsung perbuatan hina yang dilakukan Menteri Upeti. Raja mengambil semua kekayaan yang dimiliki Menteri Upeti. Menteri Upeti dihukum rajam. Istri Menteri Upeti dan ketiga anak Menteri Upeti diwajibkan melakukan pelayanan kepada negara seumur hidup tanpa diberi gaji sepeser pun. Mereka ditempatkan di penampungan khusus bagi keluarga pejabat yang bermasalah. Mereka seharusnya bersyukur karena kerajaan masih memberi tempat tinggal dan memberi makan mereka! Dan kau harus tahu! Anak pertama Menteri Upeti diwajibkan menjaga keamanan semua pasar di kerajaan ini tanpa diberi upah. Lalu, istri dan kedua anak perempuan menteri upeti diwajibkan berkebun dan bertani bahan pangan untuk persediaan makanan kerajaan saat paceklik. Mereka bekerja tanpa diberi upah!” kata Menteri Guru panjang lebar.

Wano terkejut saat ia mendengar penjelasan dari Menteri Guru. Ia tidak menyangka jika Tanaya harus menanggung semua akibat dari perbuatan ayahnya. Tapi, rasa suka pada sosok Tanaya tidak berkurang. Seperti yang sudah dipaparkan pada bagian awal cerita jika Wano sempat suka dengan Tanaya saat ia masih kecil. Rasa suka itu muncul lagi saat ia bertemu dengan sosok Tanaya di pasar, tadi pagi. Bagaimana ya? Tanaya itu terlihat seperti pria yang berwibawa, tatapan matanya juga terlihat teduh, ia terlihat seperti laki – laki yang baik, lagipula sepertinya, Tanaya juga rajin beribadah.

“Ayahanda peringatkan! Jangan temui pemuda itu! Rakyat di Kerajaan Berantah telah mengucilkan keluarga Menteri Upeti. Jangan cemari nama keluarga kita karena kau berteman dengan anak Menteri Upeti! Keluarga Menteri Upeti merupakan keluarga yang bermasalah! Ayahanda tidak ingin kau terkena sial akibat kau berhubungan dengan anak Menteri Upeti. Kau harus hati – hati dalam setiap tindakanmu!” ayah memberi peringatan untuk kesekian kali.

“Satu lagi! Mulai besok, setiap kau keluar rumah! Kau harus dikawal prajurit! Sekarang! Kau boleh pergi!” kata Menteri Guru tegas.  Wano ingin memprotes perkataan ayah. Tapi, ibunda mengingatkan Wano supaya ia jangan menyanggah perkataan ayahanda. Ibu Wano memegang kedua pundak Wano. Wanita tua itu membimbing Wano untuk keluar dari ruang pribadi Menteri Guru.

Wano menatap langit – langit di kamar. Perkataan ayah masih terngiang di gendang telinga. Selain itu, mata sendu nan teduh  milik Tanaya juga berkelebatan di pelupuk mata Wano. Pesona Tanaya begitu kuat menguasai jiwa Wano. Lelaki tampan memang memiliki pesona yang memikat. Apalagi bagi Wano, Tanaya juga pria baik hati dan rajin berdoa.

Wano memejamkan matanya, ia berpikir mengapa hidupnya tidak bebas. Ia tidak bisa hidup sesuai dengan apa yang ia inginkan. Setiap kali ia bertindak, ia harus menuruti sabda dari ayahanda. Ia ingin melawan tapi ia tak memiliki kemampuan. Jika ia melawan ayahanda, pasti nama baik keluarga Menteri Guru menjadi tercoreng. Padahal ia ingin lebih dekat dengan Tanaya.

Wano tidak bisa tidur. Ia menatap tembok rumah yang terbuat dari kayu jati pilihan. Tak terasa air mata meleleh di kedua pipinya. Entah mengapa? Ia merasa sangat kesepian. Hidup penuh kekangan untuk mempertahankan harga diri dan menjaga nama baik keluarga. Tapi Wano masih bersyukur karena ayahanda mengijinkan dia untuk menimba ilmu.

Wano berusaha menguatkan hati. Ia mengambil kertas yang terbuat dari daun lontar. Ia juga mengambil pena bulu yang berisi tinta yang terbuat dari tinta cumi – cumi. Wano pun menuangkan apa yang ia rasakan dan apa yang ia pikirkan melalui cerita, dongeng dan syair yang ia buat sendiri hingga pagi hari.

Pagi harinya, Wano harus berangkat mengajar di Perguruan Rendah, seperti hari kemarin. Ada dua prajurit yang siap mengawal Wano. Wano mau dikawal prajurit dengan syarat dua prajurit itu harus berpakaian seperti rakyat biasa. Ia juga tidak mau pergi dengan naik kereta kuda. Ia ingin berjalan kaki untuk pergi mengajar. Hal ini karena, Wano merupakan sosok wanita yang sederhana. Untuk permintaan kali ini, ayahanda menteri guru mengabulkan permintaan Wano.

Seperti hari sebelumnya, Wano melewati pasar di dekat Perguruan Rendah. Ia melihat sosok Tanaya berdiri di depan pintu pasar. Rupanya, Tanaya tahu jika Wano lewat, ia tersenyum manis kepada Wano. Tapi, Wano pura – pura tak melihat Tanaya karena ada dua pengawal yang membuntuti Wano di belakang. Tapi terkadang, Wano mencuri pandang saat ia lewat di dekat Tan. Hingga mata Wano dan Tan beradu. Tapi, tak ada yang bisa mereka lakukan selain beradu tatapan. Kejadian ini akan berulang – ulang terus hingga berhari – hari, berbulan – bulan kemudian.

Seperti hari sebelumnya pula, Wano akan membaca dongeng, bernyanyi, membaca syair dan meniup seruling di dekat sawah bersama dengan anak – anak kecil didikannya. Tanpa ia sadari, rupanya suara merdu Wano dan alunan seruling Wano terdengar hingga ke pasar. Tanpa Wano sadari pula, Tanaya menikmati alunan merdu suara dan alunan seruling Wano. Bahkan terkadang, Tanaya mengawasi sosok Wano dari kejauhan. Wano juga tahu jika ada sosok yang mengawasinya dari jauh. Ia selalu menoleh ke a rah sosok yang mengawasinya. Kemudian,  tak ada yang bisa mereka lakukan selain saling menatap. Kejadian ini juga berulang – ulang terus hingga berkali – kali.

Seperti hari sebelumnya lagi, sepulang mengajar, Wano akan pergi ke Tempat Ibadah Dewi Kebahagiaan. Saat ia selesai berdoa, ia akan berjumpa dengan Tanaya. Pemuda itu akan membunyikan gong ibadah. Wano tidak bisa berbuat apa – apa saat ia bertemu dengan Tanaya karena ada pengawal yang mengawasinya. Ia hanya pura – pura tak melihat keberadaan Tanaya, tapi kedua matanya mengawasi sosok Tanaya. Terkadang, ekor mata Wano bertemu dengan ekor mata Tanaya. Kemudian, mereka hanya bisa saling tatap. Tapi anehnya, seakan-akan mereka tahu arti dari tatapan yang saling berbenturan itu. Kejadian  ini pun berulang – ulang lagi.

Sebenarnya, Wano kagum dan suka dengan sosok Tanaya. Tapi, ia tidak bisa melakukan apa – apa karena ia harus mengikuti sabda ayahanda. Hal inilah yang membuat Wano menderita. Beberapa kali, ayahanda mencoba menjodohkan dirinya dengan pria pilihan ayahanda tapi ia selalu menolak dengan alasan bahwa ia ingin belajar  untuk bisa menjadi menteri guru. Ia belum ingin menikah.

Bukankah, akan sangat membanggakan jika ia bisa menjadi menteri guru yang hebat seperti ayahanda. Pasti nama keluarga akan semakin bagus di mata rakyat dan raja jika salah satu dari anak Menteri Guru bisa menjadi menteri guru? Itu alasan yang diutarakan Wano. Saat Wano menyebut, jika Wano berusaha akan menjadi menteri guru supaya nama baik keluarga Menteri Guru tetap abadi maka ayahanda Menteri Guru pun setuju dengan alasan Wano. Beliaupun berhenti menjodohkan Wano dengan pria pilihan Menteri Guru.

Lalu bagaimana nasib adik Wano yang telah berencana menikah? Adik Wano belum bisa menikah sebelum Wano menikah. Untuk mengatasi hal ini, Wano telah mengijinkan adik perempuannya untuk menikah terlebih dahulu. Dalam hal ini, Menteri Guru telah menyiapkan upacara penghormatan bagi  Wano yang didahului menikah oleh adik perempuannya. Hal ini telah menjadi peraturan di Kerajaan, sekaligus upacara ini bertujuan supaya Wano bisa segera menikah secepatnya.

Kembali ke kisah Tanaya… Sebenarnya, Tanaya juga kagum dan suka dengan Wano walaupun bentuk fisik Wano tidak terlalu memesona. Tanaya kagum sejak hari pertama saat ia mendengar suara merdu dan suara seruling yang dimainkan Wano. Ia berkata dalam hati, “Siapa gerangan yang membuat alunan seindah ini?”. Tak disangka, tak dinyana, pada sore hari saat ia akan pulang dari tempat ibadah Dewi Kebahagiaan, ia berjumpa dengan  si peniup seruling. Si pemilik suara merdu serta si peniup seruling itu ternyata adalah Wanodya.

Setelah Tanaya bertemu berkali – kali dengan Wano dan ia juga berkali – kali mendengar keahlian Wano. Tanaya ingin sekali mengungkapkan rasa kagum dan rasa sukanya kepada Wano. Ia ingin dekat dengan Wano. Wano sungguh wanita yang memikat hatinya. Tapi, sejak peristiwa sadis yang menimpa ayahnya yaitu Menteri Upeti. Sejak saat itu, ia tidak memiliki keberanian untuk menjalin hubungan dengan wanita, apalagi wanita itu adalah Wano. Wano yang merupakan anak menteri guru yang terhormat. Wano yang terpelajar dan memiliki keahlian yang hebat. Ia harus sadar diri, siapa Tanaya itu? Ia hanyalah seorang anak mantan Menteri Upeti, menteri yang telah dihukum rajam, sekaligus seluruh keluarganya menjadi penyakit masyarakat di Kerajaan Berantah.

Tanaya merasa rendah diri, ia tidak mempunyai penghasilan yang berlebih. Selama hidupnya, ia harus melakukan pelayanan kepada masyarakat. Dirinya selalu dipandang sebelah mata akibat dari perbuatan ayahnya. Terkadang, ada tatapan menghina saat orang – orang tahu siapa dirinya. Ia harus berdiri di depan pasar, mungkin selama hidupnya karena ia tidak bisa memperoleh pekerjaan  lain karena latar belakang keluarganya yang bermasalah dengan kerajaan.

Hingga akhirnya pun, Wano memilih hidup dengan jalannya dan Tanaya juga hidup dengan jalannya sendiri. Mereka tidak akan bisa berjalan di jalan yang sama karena mereka tidak berjuang untuk saling berjalan bersama dan keadaan pun tidak mendukung mereka untuk berjalan di jalan yang sama. Walaupun, mereka memiliki perasaan saling suka. Mungkin, jika kelak Dewi Kebahagiaan bisa membawa mereka untuk jalan di jalan yang sama tentu mereka akan bahagia. Selama ini, Tanaya dan Wanodya hanya bisa mengungkapkan perasaan mereka lewat tatapan. Tatapan yang menyinarkan warna kekaguman satu sama lain tapi ada sinar lain yang menyertai sinar warna kekaguman itu, sinar lain itu adalah sinar kesedihan dan  kesepian.

oOO

Kisah ini hanyalah kisah rekaan belaka dan ditambah dengan imajinasi di sana sini, akan tetapi kisah ini terinspirasi dari kisah nyata. Kisah nyata yang belum tahu akan berakhir seperti apa? Jikalau ada kelanjutan dari kisah nyatanya maka kisah rekaan ini juga akan berlanjut sebagaimana dengan kelanjutan kisah nyatanya.

Penulis yang budiman hanya bisa berpesan kepada Wano. Wano, jalani saja dulu hidupmu! Jika memang, Tan itu adalah jodohmu maka ia akan datang kepadamu. Tapi, jika Tan bukanlah jodohmu, maka itu sudah menjadi takdirmu! Tetaplah berjuang dan berusaha untuk kebahagiaan hidupmu! Berhubung, Wano adalah tipe wanita yang setia maka jika ia sudah suka dengan satu pria maka ia akan sangat susah pindah ke lain hati.

Sekian dan Terimakasih…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender

Mei 2012
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Top Rated

HTML hit counter - Quick-counter.net
free counters
free counters

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 15 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 171,062 hits
%d blogger menyukai ini: