RUMAH KOS

5

April 13, 2012 oleh nugraheniismyname

RUMAH KOS

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah menuntut ilmu hingga jauh ke luar kota. Berhubung saya harus tinggal di luar kota maka otomatis saya harus tinggal di rumah kos. Selama saya menuntut ilmu di luar kota itu saya beberapa kali pindah tempat kos. Nah, menurut saya, ada banyak cerita aneh, tidak tahu diri dan cerita lainnya saat saya beberapa kali pindah tempat kos. Seingat saya, saya pindah kos hingga empat kali. Berikut ceritanya,

Rumah Kos Pertama

Pertama kali saya sampai di Luar Kota, saya langsung bisa menemukan tempat kos. Hal ini karena, ada teman kakak saya yang juga kuliah di Luar Kota tersebut. Sehingga teman kakak saya itu yang mencarikan tempat kos  untuk saya.

Rumah kos pertama yang saya tinggali ini berada di perumahan yang cukup elite. Setiap beberapa jam sekali, pasti ada satpam yang berkeliling memeriksa keamanan. Aktivitas dibatasi hingga jam 9 malam. Jika, lebih dari jam Sembilan malam, maka tamu ataupun teman yang main ke tempat kos pasti akan diusir oleh satpam. Tapi, anak-anak kos boleh pulang malam asalkan pamit dulu dengan beberapa teman kos supaya saat kita pulang, ada teman yang bersedia membukakan pintu.

Bentuk rumah di perumahan itu bagus-bagus termasuk rumah kos yang saya tinggali juga lumayan bagus. Saya mendapat bagian sebuah kamar di lantai dua. Berhubung, semua kamar sudah penuh, maka saya mendapat jatah 1 kamar berdua. Jadi, saya harus berbagi kamar kos dengan orang lain.

Suasana rumah memang nyaman, tapi, orang-orang yang tinggal di rumah kos itu tidak terlalu menyenangkan. Ada gap antara anak-anak  yang tinggal di lantai atas dengan anak-anak di lantai bawah. Sebagian besar, anak-anak di lantai atas adalah anak-anak baru. Sedangkan, anak-anak yang tinggal di lantai bawah merupakan anak-anak mahasiswa senior yang telah lama menghuni kos. Sering kali terjadi adu mulut dan permusuhan antara anak-anak atas dengan anak-anak bawah.

Hal yang tidak menyenangkan lainnya yaitu  pemilik kos dan anaknya juga kurang menyenangkan. Apalagi saat pembayaran sewa kos tiba. Untungnya, pemiliki kos itu tidak tinggal satu rumah dengan anak – anak kos. Pemilik kos tinggal di rumah yang berbeda dan tempat tinggal pemilik kos itu cukup jauh dari rumah kos. Maklum, orang kaya pasti rumahnya banyak dan dimana-mana!

Karena lama kelamaan, saya merasa tidak betah tinggal di kos itu. Maka saya berniat pindah kos. Pada saat libur semester kuliah, saya ajak kakak dan tetangga saya untuk ikut ke Luar Kota. Mereka saya minta untuk membantu mengangkut barang-barang. Saat saya dan rombongan sampai di tempat kos, suasana tempat kos sangat sepi karena mereka juga sedang libur semester, hanya ada beberapa teman saya yang ada di kos karena mereka harus ikut perbaikan mata kuliah. Perbaikan nilai mata kuliah biasanya dilakukan pada saat libur semester.

Saya, kakak dan tetangga saya membantu saya mengangkut barang-barang. Barang-barang di dalam kamar dimasukkan ke dalam mobil. Beberapa teman yang melihat kelakuan saya menjadi terheran-heran. Mengapa saya pindah begitu cepat? Apalagi, mereka tidak tahu rencana kepindahan saya ini. Hal ini karena, saya tidak pernah menceritakan niat kepindahan saya ini ke teman-teman lain. Saya pindah tanpa memberitahu teman-teman. Saya juga pindah kos tanpa pamit kepada pemilik kos. Pokoknya, waktu itu, saya harus pindah kos! Itu keinginan saya. Dan, saya pun akhirnya berhasil pindah kos baru.

Rumah Kos Kedua

Di rumah kos yang kedua ini, saya tahu info tempatnya dari tetangga saya yang kuliah di universitas yang sama dengan saya. Tetangga saya ini juga baru pindah di tempat kos ini. Suasana rumah kos kedua ini sangat berbeda jauh dengan rumah kos pertama. Rumah kos baru ini berada di lingkungan menengah ke bawah. Tempat kos baru ini berada di perkampungan penduduk dan agak kumuh. Banyak sekali rumah kos yang berjejer tak beraturan.

Rumah kos baru ini berlantai dua dan diapit oleh bangunan yang juga digunakan untuk kos. Disini, setiap anak kos menyewa satu kamar. Jadi, tidak ada istilah satu kamar disewa untuk dua orang. Bangunan di samping kanan digunakan untuk kos cowok, bangunan di samping kiri juga digunakan untuk kos cowok. Pokoknya, tempat kos baru ini sangat semrawut. Tidak ada pengamanan di lingkungan ini, sehingga setiap orang harus mengamankan diri dan barang-barang di dalam kos. Tamu dan teman boleh main sampai malam sekali, tidak ada pembatasan jam berkunjung.

Pemilik kos baru ini juga tidak tinggal satu rumah dengan anak-anak kos. Pemilik rumah tinggal di rumah yang berbeda sehingga tidak ada pengawasan langsung dari pemilik kos. Anak-anak kos bisa berbuat semaunya. Tapi, untunglah, teman-teman kos saya merupakan teman-teman yang baik. Hanya saja, lingkungan yang tidak aman membuat beberapa teman saya kehilangan ponsel dan uang.

Apalagi saat ada penduduk kampung yang mengadakan hajatan maka lingkungan kos menjadi tidak aman. Kadang, ada orang mabuk yang masuk ke halaman kos.

Pokoknya, suasana di tempat kos kedua saya ini lebih tidak menyenangkan. Apalagi, pemilik kos juga sangat pelit sekali. Setiap saya menggunakan komputer dan anak-anak lain juga menyalakan komputer, maka listrik menjadi padam sehingga file tugas yang sedang saya buat menjadi hilang semua karena saya belum sempat menyimpan file itu. Saat, akan mandi juga seperti itu. Air di dalam bak sangat sedikit, ketika kita akan menyalakan mesin air maka listrik juga akan padam mendadak.

Apalagi juga pintu kamar mandi sangat menyedihkan. Pintu kamar mandi dibuat dari tiga papan yang dijepit sehingga ada celah diantara papan. Jika lengah, maka kita bisa diintip oleh anak kos laki-laki sebelah. Hal ini karena kamar mandi berada di luar kamar. Oleh karena itu, waktu saya tinggal di tempat kos kedua ini, saya melatih tingkat kewaspadaan saya setinggi-tingginya.

Ada lagi cerita lain, tatkala saya pindah di tempat kos kedua ini, tak ada teman-teman perempuan saya yang mau main ke tempat  kos saya ini. Maklum, teman-teman perempuan kuliah saya adalah anak-anak sok kaya yang mungkin tak sudi main ke tempat yang tidak sesuai seleranya.

Hanya ada satu teman perempuan saya yang baik hati. Namanya Arda, dia tetap main dengan saya walau saya tinggal di tempat kos yang tidak menyenangkan. Bahkan, dia sering  menjemput saya saat berangkat kuliah. Tapi, satu semester berikutnya, ia keluar kuliah karena ia tidak tahan kuliah.

Kuliah di jurusan ini memang penuh dengan beban dan tekanan. Ada beberapa teman-teman saya yang memilih keluar kuliah dan kuliah di jurusan lain. Saya sempat mengalami tekanan itu. Hingga akhirnya, saya mencoba untuk ikut tes SPMB pada tahun berikutnya lagi, tapi saya gagal. Dan, akhirnya mau tak mau saya harus tetap kuliah di jurusan ini. Jurusan tempat saya kuliah tidak usah saya sebutkan. Hal ini, untuk menjamin keselamatan, keamanan dan nama baik jurusan tempat saya kuliah dulu.

Walau teman-teman perempuan kuliah saya tidak sudi main ke kos baru saya. Tapi, hal ini berbeda dengan teman-teman laki-laki saya. Mereka malah senang sekali main ke kos saya. Bahkan hingga sampai larut malam, hingga jam 1 dan 2 pagi. Saya dan teman-teman saya itu biasanya mengerjakan tugas kuliah sama-sama, lalu ngobrol dan tertawa-tawa sampai larut malam.

Tidak ada yang menegur karena tempat kos saya ini bebas sekali. Ada salah satu teman laki-laki yang memberi sebutan untuk tempat kos baru saya. Teman saya itu menyebut kos kedua saya dengan sebutan Kos Kandang Ayam, hal ini karena gembok pintu kamar kos mirip dengan gembok kandang ayam, begitu katanya.

Semakin lama saya tidak tahan tinggal di tempat itu, apalagi saya juga mendengar kabar jika kos ini akan segera diubah menjadi kos yang disewakan untuk anak laki-laki. Maka sebelum saya diusir, saya harus pindah kos. Setiap malam sepulang kuliah, saya pasti cari-cari info kos yang kosong. Hingga akhirnya, saya menemukan tempat kos yang ada beberapa kamar kosong.

Seperti pada pengalaman pertama, akhirnya saya pindah kos. Saya pindah kos tanpa memberitahu pemilik kos. Saya memindahkan barang-barang saya dibantu teman saya dengan menggunakan motor. Beberapa kali, saya dan teman saya bolak balik mengambil dan memindahkan barang-barang keperluan saya dari kos kedua ke kos ketiga.

Saya pindah kos dengan sembunyi-sembunyi. Berhubung, saya pindah kos dengan cara yang tidak begitu baik maka saya harus rela meja kaca saya pecah akibat jatuh dari pegangan karena saya terburu-buru. Meja kaca itu sering saya gunakan untuk menggambar saat ada tugas kuliah yang mewajibkan untuk menggambar.

Rumah Kos Ketiga

Rumah kos yang ketiga ini berada di perumahan yang juga elite. Rumah kos ketiga ini sangat bagus sekali. Tapi, pemilik kos berada satu rumah dengan anak-anak kos. Saya mendengar berita dari kenalan baru teman kos jika pemilik kos sangat galak. Anak-anak harus berada di rumah sebelum jam 9 malam. Jika anak-anak kos pulang lebih dari jam 9 malam. Maka, mereka tidak akan dibukakan pintu. Lalu, anak-anak kos juga tidak boleh membawa teman ramai-ramai.

Kalau begitu? Lalu bagaimana dengan nasib saya? Saya pasti selalu akan pulang malam karena saya selalu harus mengerjakan tugas kuliah. Kalau anak-anak kos tidak boleh membawa teman-temannya datang ke kos, lalu, bagaimana jika saya mendapat bagian mengerjakan tugas kelompok di kos saya? Teman-teman tidak boleh mengerjakan tugas kelompok di kos saya? Saya tidak cocok dengan kos ini! Begitu kata hati saya. Apalagi di kos ini, saya juga harus sekamar dengan orang lain. Hingga akhirnya, saya hanya tinggal selama 2 minggu di kos ini. Saya pun memutuskan pindah kos lagi.

Kali ini, saya pindah kos dengan cara baik-baik. Saya pamit kepada pemilik kos, walau agak sedikit takut juga karena memang pemilik kos itu sangat galak sekali. Tapi, saya tak peduli, saya bilang saja jika saya ingin pindah. Hingga akhirnya, pemilik kos itu memperbolehkan saya pindah kos. Saya pindah dari kos ketiga ke kos keempat dengan menyewa angkutan untuk membawa barang keperluan sehari-hari.

Rumah Kos Keempat

Saya mendapat info rumah kos keempat ini dari teman kos pertama. Walaupun saya sudah pindah kos, tapi kadang saya masih bermain dengan teman kos yang dulu satu kos di rumah kos pertama. Rumah kos keempat ini ternyata masih satu komplek dengan perumahan dimana saya dulu pernah tinggal di kos pertama (hanya beda gang saja, tempat kos dulu alias kos pertama ada di gang 1 sedangkan kos keempat ini ada di gang 5).

Berhubung saya sudah mantap untuk pindah di kos keempat ini, maka saya langsung bayar uang muka. Tempat kos ke empat ini lumayan nyaman apalagi saya bisa dapat 1 kamar untuk saya tempati sendiri. Pemilik kos juga tidak tinggal satu rumah dengan anak-anak kos. Hanya ada sepasang suami istri penjaga kos yang tinggal satu komplek dengan rumah kos. Antara rumah anak-anak kos dengan rumah penjaga kos di pisahkan oleh garasi.

Nah, sebagai anak baru, saya pastinya harus beramah tamah. Pertama yang saya ramah tamahi adalah tentu saja penjaga kos. Saya tanya-tanya keadaan kos, saya tanya kehidupan anak-anak kos dan lain sebagainya.

Penjaga kos cerita banyak mengenai keadaan kos termasuk kehidupan anak-anak kos. Penjaga kos cerita jika di rumah kos terdapat anak-anak kos yang terbagi menjadi dua kubu. Kubu yang satu merupakan kubu gangster yang sok berkuasa dan kubu kedua  merupakan anak-anak kos penentang kubu gangster. Astaga! Mengapa saya selalu menjumpai kehidupan yang seperti ini? Tapi, bagi saya hal ini tidak terlalu bermasalah karena saya sudah punya banyak pengalaman saat saya dulu tinggal di kos pertama. Di kos yang pertama juga ada dua kubu, yaitu kubu lantai atas dengan kubu lantai bawah.

Penjaga kos memberikan ciri-ciri anggota gangster yang sok berkuasa. Penjaga kos juga memberikan nama-nama anggota gangster. Selain itu, penjaga kos juga memberikan nama-nama kubu anak-anak kos penentang dan yang melawan gangster. Wah, lumayan ini! Informasi yang cukup berguna bagi saya.

Penjaga kos juga cerita jika ia tidak suka dengan gerombolan gangster yang sering membuat keributan di dalam kos. Penjaga kos lebih sering merapat dengan kubu penentang gangster. Sepertinya, penjaga kos memberitahu beberapa anak kos yang tidak suka dengan gangster jika ada anak kos baru. Oleh karena itu, saat saya kembali ke dalam kamar kos. Dua orang anggota kubu penentang masuk ke dalam kamar saya dan mereka mulai mengajak saya untuk berkoloni dengan mereka. Berhubung, anggota kubu penentang gangster ini sesuai dengan kepribadian saya, maka saya pun menyambut baik kehadiran mereka.

Mengapa beberapa anak-anak kos tidak suka dengan kubu gangster? Termasuk saya juga tidak terlalu suka dengan kelakuan mereka. Pokoknya ada banyak kelakuan mereka yang melanggar batas. Tapi, satu yang paling saya ingat, anggota kelompok gangster ini selalu memuntahkan makanan jika mereka selesai makan. Kalau begitu caranya, untuk apa mereka makan jika setelah makan, mereka memuntahkan makanan? Biasanya, setelah gerombolan gangster ini makan, maka mereka akan hoak hoek memuntahkan makanan di dalam kamar mandi.

Kelakuan mereka ini membuat salah satu teman saya dari kubu yang tidak suka dengan kelompok gangster menyebut mereka dengan julukan Mbak – Mbak Bulimia. Pokoknya selama saya tinggal di kos itu, selalu ada keributan dan permusuhan antara anak-anak yang tidak suka dengan gerombolan gangster dengan Kubu Bulimia (kubu gangster). Ada banyak skandal yang terjadi di kos keempat ini, mulai dari anak kos yang ternyata merupakan salah satu anggota organisasi sesat, bahkan ada polisi yang sampai datang ke kos. Ada juga, skandal cinta yang menggegerkan! Pokoknya banyak cerita aneh selama saya tinggal di kos keempat ini.

Tapi, anehnya…Sejak saya pindah ke kos keempat ini, saya tidak ingin pindah – pindah kos lagi. Hal ini mungkin karena saya sudah malas pindah-pindah kos lagi, jadi apapun yang terjadi di dalam kos harus saya hadapi.

Demikian edisi cerpen suka-suka saya. Sekian dan terimakasih.

5 thoughts on “RUMAH KOS

  1. Arlini Putri mengatakan:

    hahahaha:DDD

    Suka

  2. Nurul Ika Maulidiyah mengatakan:

    ini ni klo orang yg suka pindah2 kos…

    Suka

  3. Nurul Ika Maulidiyah mengatakan:

    harusnya diceritain juga ttg teman2 yang ngekos bareng. tambah seru ceritanya

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender

April 2012
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Top Rated

HTML hit counter - Quick-counter.net
free counters
free counters

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 15 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 171,062 hits
%d blogger menyukai ini: