TRAGEDI UJIAN KELULUSAN SEKOLAH

Tinggalkan komentar

Maret 19, 2012 oleh nugraheniismyname

TRAGEDI UJIAN KELULUSAN SEKOLAH

Beberapa minggu ini, saya mendengar dan melihat banyak anak-anak SMP dan SMA yang sibuk belajar untuk menghadapi ujian kelulusan sekolah. Bagi sebagian manusia yang pernah mengalami ujian kelulusan sekolah, pasti hal itu sudah biasa. Beberapa manusia yang pernah sekolah pasti  mengalami apa yang disebut ujian kelulusan sekolah. Akan tetapi, hanya sedikit manusia yang mengalami pengalaman pahit saat ujian kelulusan sekolah. Salah satunya adalah saya. Saya pernah mengalami pengalaman kejam tentang ujian kelulusan sekolah. Pengalaman itu saya alami sebelum, saat dan sesudah ujian kelulusan sekolah. Waktu itu saya kelas tiga SMP dan saya harus menghadapi ujian kelulusan SMP. Begini, kisah saya!

Saat sebelum Ujian Kelulusan Sekolah Menengah Pertama

Saya adalah remaja yang berbeda dengan remaja pada umumnya. Jika remaja pada umumnya melewati masa remajanya dengan bersenang-senang, pacaran, jalan-jalan dan bergembira kesana-kemari, maka saya sebaliknya. Saya memiliki ambisi yang sangat besar. Ambisi saya adalah saya harus sekolah di sekolah paling favorit dan harus menjadi yang terbaik. Langkah pertama berjalan lancar, saya berhasil masuk sekolah SMP favorit di Kota Kelahiran. Nah, setelah saya lulus SMP, saya ingin sekali masuk sekolah di SMA favorit di kota kelahiran saya. Kemudian kelak, saya juga harus kuliah di universitas favorit di Indonesia.

Untuk mewujudkan ambisi supaya saya bisa sekolah di SMA favorit, semua usaha saya lakukan. Saya les matematika, saya les bahasa Inggris dan les-les yang lainnya untuk menambah kepandaian saya. Saya juga belajar pagi, siang, bahkan tengah malam. Saya lupa makan, saya lupa segalanya! Saya harus bisa masuk sekolah favorit! Begitu kata ambisi saya. Waktu itu, jadwal saya adalah: bangun jam 3 pagi (belajar hingga jam 5 pagi), jam 6:00 berangkat sekolah, jam 6:30 mulai pelajaran, jam 14.00 (pulang sekolah), jam 14.30-17.00 (les tambahan pelajaran), jam 19.00-jam 21.00 (belajar), tidur, bangun lagi jam 3 pagi…Begitulah seterusnya. (Benar-benar membosankan hidup saya waktu itu).

Okelah, singkat kata, usaha saya belajar lancar. Saya selalu mendapat nilai memuaskan untuk mata pelajaran yang diujiankan saat ada latihan pra ujian. Saya bisa tersenyum lega, dengan jumlah nilai yang memuaskan berarti saya bisa masuk ke SMA Favorit.

Saat mengikuti ujian kelulusan Sekolah Menengah Pertama

Berikut pengalaman saya saat saya harus menghadapi ujian kelulusan sekolah. Saat ujian sekolah telah tiba, tiba-tiba saya terserang pusing kepala dan mual. Saya tetap memaksakan diri untuk ikut ujian sekolah (waktu itu mata pelajaran bahasa jawa dan tata krama kalau tidak salah yang diujiankan).

Dengan memaksakan diri, saya mengerjakan soal-soal ujian. Akan tetapi, ditengah-tengah ujian, kepala saya semakin pening dan pusing. Bahkan, pandangan mata saya menjadi kabur. Saya tetap bertahan hingga akhir ujian. Hingga akhirnya saya berhasil mengikuti ujian untuk hari itu hingga selesai dengan susah payah.

Ada teman sekaligus tetangga saya yang peduli dengan saya (yang lainnya tidak, itu seingat saya). Nama teman saya itu Nova, Nova membantu saya untuk menemui ayah saya. Ayah saya sudah siap menjemput saya karena beliau tahu jika keadaan saya tidak begitu sehat saat akan berangkat sekolah. Ayah berinisiatif membawa saya ke rumah sakit terdekat untuk memeriksakan saya karena kondisi saya waktu itu sangat memprihatinkan. Kepala saya pusing, suhu tubuh juga sangat tinggi, muka saya pucat dan badan saya terasa lemah sekali. Waktu itu, Nova ikut menemani saya pergi ke rumah sakit.

Akhirnya, saya, ayah dan nova sampai di rumah sakit. Saya diperiksa oleh dokter. Dokter mengatakan jika saya harus dirawat inap di rumah sakit karena kondisi saya sangat lemah. Mau bagaimana lagi? saya tidak bisa melawan perkataan dokter karena badan saya memang harus diobati supaya saya bisa sembuh kembali. Akhirnya, saya menginap di rumah sakit. Saya sangat khawatir dengan nasib ujian saya. Tapi, saudara saya bilang, saya bisa ikut ujian susulan untuk ujian sekolah. “kamu harus cepat sembuh supaya kamu bisa ikut ujian nasional.” Kata saudara saya untuk menyemangati supaya saya bisa cepat sembuh.

Oiya, waktu itu ada tetangga saya yang juga sedang mengikuti ujian kelulusan SMP, namanya Rita. Rita juga terserang penyakit. Rita dirawat di rumah sakit yang sama dengan saya. Waktu itu, saya lumayan agak lega karena ada teman yang satu nasib dengan saya. Rita adalah tetangga saya tapi dia sekolah di tempat yang berbeda dengan sekolah saya.

Sehari, dua hari, tiga hari, empat hari hingga satu minggu, saya dirawat di rumah sakit. Saya tidak ikut ujian sekolah dan saya hanya tidur dengan ditemani infus. Seharusnya, ketika kita dirawat di rumah sakit, semakin lama maka kita akan sehat dan segar kembali. Tapi, sebaliknya, semakin lama, tubuh saya semakin lemah. Saya mutah-mutah tiap jam, saya juga buang air besar terus menerus, kepala saya bertambah berat, tubuh saya semakin terasa panas, bahkan rambut saya juga rontok. Kata dokter, saya mengidap tipus parah ditambah sakit maag parah.

Karena kondisi saya tidak membaik, maka saudara saya berniat memindahkan saya ke rumah sakit lain yang lebih baik perawatannya. Saya pun dipindahkan ke rumah sakit yang lebih besar, lebih bagus perawatannya dan tentunya lebih mahal harganya. Dan benar saja, saat hari pertama saya dirawat di rumah sakit yang lebih bagus, kondisi saya mulai membaik walau saya juga kehilangan cairan yang cukup banyak. Satu minggu saya dirawat di rumah sakit. Berarti totalnya, saya menginap selama dua minggu di rumah sakit. Satu minggu di rumah sakit yang tidak bagus dan satu minggu di rumah sakit yang bagus perawatannya.

Selama dua minggu saya menginap di rumah sakit, saya melewatkan banyak kejadian penting bagi hidup saya. Saya tidak ikut ujian sekolah sekaligus saya tidak ikut ujian nasional. Waktu itu, setiap orang yang menjenguk saya, mereka selalu menghibur saya supaya saya tidak terlalu memikirkan ujian sekolah dulu. Mereka juga bilang jika saya masih bisa ujian susulan.

Akhirnya, saya ikut ujian susulan. Untuk ujian sekolah susulan, ada dua orang utusan dari sekolah yang datang ke rumah saya. Dua orang utusan itu membawa soal-soal ujian sekolah susulan. Saya ujian sekolah susulan di rumah karena kondisi saya masih sangat lemah. Selama tiga hari, saya mengikuti ujian sekolah susulan di rumah. Walaupun, saya ujian susulan di rumah. Akan tetapi, saya juga tidak bisa seenaknya sendiri. Saya tidak boleh mencontek dan saya juga diawasi dengan ketat oleh dua utusan dari sekolah. Saya tidak belajar saat saya harus menghadapi ujian sekolah susulan karena otak saya tidak bisa diajak untuk belajar lagi setelah saya terserang penyakit aneh yang mendadak. Saya hanya mengandalkan ingatan-ingatan pelajaran dulu sebelum saya sakit.

Ujian sekolah susulan berhasil saya lewati. Saya harus ikut ujian nasional susulan di sekolah karena ujian nasional susulan tidak boleh dikerjakan di rumah. Saya pun harus berangkat ke sekolah untuk mengikuti ujian nasional susulan. Saya ikut ujian nasional susulan juga tidak belajar sama sekali. Saya hanya mengandalkan ingatan-ingatan yang masih tersisa di otak saya. Saya pun ikut ujian nasional susulan seorang diri. Selama tiga hari saya mengikuti ujian nasional susulan. Waktu itu bertepatan dengan ajang Piala Dunia 2002. Saya tidak belajar dan memutuskan untuk menonton bola saat itu karena saya berniat menyegarkan otak saya. Saya hanya pasrah saja dengan nasib saya.

Saat sesudah mengikuti ujian kelulusan sekolah

Beberapa minggu kemudian, pengumuman kelulusan ujian tiba. Singkat kata, saya pergi ke sekolah untuk mengambil Surat  Kelulusan Hasil Ujian (SKHU). Saya meneliti nilai-nilai yang terpampang  di lembar SKHU itu. OKelah, nilai-nilai ujian sekolah saya sangat bagus-bagus. Saya sangat puas dengan nilai ujian sekolah. Walau saya sakit, tapi saya masih bisa berusaha dengan baik. Akan tetapi, saat saya melihat nilai-nilai ujian nasional, saya sangat terkejut karena nilai PPKN saya adalah 4. Waktu itu, PPKN masuk ke dalam ujian nasional. Nilai 4 untuk PPKN merupakan nilai paling jelek. Nilai matematika, nilai IPA, nilai IPS, nilai bahasa Inggris, nilai bahasa Indonesia semua bagus-bagus diatas tujuh.

Saya terkejut, frustasi, kecewa dan sedih dengan nilai 4 untuk nilai PPKN itu. Mengapa bisa? Nilai PPKN saya 4? Sedangkan mata pelajaran lain, saya mendapat nilai bagus. Jiwa pemberontak saya muncul. Saya minta diantar ke rumah wali kelas. Saudara saya mengantar ke rumah wali kelas. Saya bilang jika nilai PPKN saya 4. Tapi, apa kata Ibu Wali Kelas yang terhormat. Dia bilang supaya saya harus menerima nilai itu. “Mungkin, pada waktu kamu mengerjakan PPKN, kamu kan masih sakit sehingga kamu salah melingkari jawaban.” Begitu kata wali kelas.

Saya tetap tidak percaya dengan nilai PPKN itu. Lain hari, saya menemui kepala sekolah. Saya diantar saudara menemui pak kepala sekolah. Saat menemui pak kepala sekolah ini, saya mendapat jawaban yang cukup memuaskan. “Iya, saya juga tidak percaya. Ini kan sekolah favorit, mengapa ada siswa yang mendapat nilai rendah seperti itu. Nanti, saya akan coba untuk meminta penjelasan lagi dari kantor pendidikan pusat.” Begitu kata Pak Kepala Sekolah. Rupanya, Pak Kepala sekolah juga malu jika siswanya ada yang mendapat nilai jelek. Oleh karena itu, Pak kelapa sekolah berniat mengusut nilai 4 milik saya itu. Tak hanya itu, bahkan pak kepala sekolah juga bilang jika saya tidak akan diluluskan karena nilai 4 untuk PPKN itu. Tapi, karena berbagai petimbangan, maka Pak Kepala sekolah dan guru-guru meluluskan saya. Waktu itu, belum ada standar nilai kelulusan bagi siswa.

Sehari, dua hari, tiga hari, empat hari berlalu tidak ada pengumuman dari sekolah untuk nilai 4 itu. Hingga akhirnya, pendaftaran sekolah SMA dibuka. Saya tidak memiliki semangat untuk mendaftar sekolah menengah atas. Dengan jumlah nilai yang tidak memuaskan dan nilai 4 untuk PPKN, saya tidak mungkin bisa diterima di SMA favorit. Saya memilih tidur sambil menonton televisi di rumah. Ayah, ibu dan saudara saya yang pergi kesana-kemari untuk mendaftarkan diri saya.

Pendaftaran masuk ke SMA negeri di batasi selama tiga hari. Dan benar saja, jumlah nilai saya hanya bisa masuk di SMA Negeri yang biasa-biasa saja. Saya pun hanya bisa pasrah dengan impian yang hancur berantakan.

Oiya, bagaimana dengan nasib Rita? Rita juga ikut ujian susulan seperti saya. Kata ibu, Rita mendapat nilai 3 untuk nilai PPKN. Yah, lumayanlah. Saya masih ada teman, begitu kata saya dalam hati.

Sehari setelah penutupan pendaftaran masuk SMA, pagi-pagi sekali, ada tamu datang ke rumah. Ibu saya yang menemui tamu itu. Tamu itu ternyata adalah utusan dari SMP. Utusan dari SMP itu mengatakan jika nilai empat saya telah diurus hingga ke propinsi. Orang itu mengatakan jika ternyata jawaban ujian saya dikoreksi dengan kunci jawaban yang salah. Kunci jawaban ujian nasional tidak susulan digunakan untuk mengoreksi jawaban ujian nasional susulan. Sedangkan, saya ini termasuk siswa yang mengikuti ujian susulan. Setelah dikoreksi dengan kunci jawaban yang benar, nilai PPKN yang benar adalah 7,9. Pihak sekolah membawakan SKHU yang telah direvisi dengan nilai PPKN saya 7, 9 dan SKHU yang lama (dengan nilai PPKN 4) diminta oleh pihak sekolah.

Ibu saya bertanya, “Apakah semua jawaban ujian nasional susulan dikoreksi dengan kunci jawaban yang salah semua?”. Utusan Pihak sekolah bilang jika hanya mata pelajaran PPKN saja yang salah koreksi.

Saat saya mendengar penjelasan dari utusan pihak sekolah dan saat saya melihat nilai PPKn saya yang sebenar-benarnya, saya tidak bisa berpikir jernih lagi. saya bahkan tidak merasa sedih, saya tidak merasa marah, saya tidak merasa kecewa, saya tidak merasa bahagia, saya tidak merasa lega dll. Saya tida bisa merasakan apa-apa lagi. saya hanya bisa terdiam, hampa dan kosong.

Banyak pertanyaan yang muncul dibenak saya. Mengapa pihak sekolah memberitahu setelah pendaftaran masuk SMA ditutup? Jika pihak sekolah membawa pemberitahuan itu kemarin, saya masih bisa mendaftar masuk di SMA favorit. Dengan nilai 7,9 untuk PPKN itu, saya bisa dengan mudah masuk ke SMA favorit. Mengapa orang yang ditugasi untuk mengoreksi jawaban ujian nasional susulan itu sangat ceroboh? Sehingga nilai PPKN saya bisa salah? Mengapa saya harus sakit sehingga saya harus ikut ujian susulan???? Begitu banyak pertanyaan yang tidak bisa saya jawab.

Ambisi saya, impian saya, usaha saya, cita-cita saya, harapan saya hancur berantakan akibat sakit dan akibat kecerobohan orang dalam mengoreksi jawaban ujian.

Bagaimana dengan Rita? Ternyata nilai Rita juga berhasil dikoreksi ulang sehingga nilainya yang 3 berubah menjadi  lebih bagus. (begitu katanya saat saya bertemu dengan rita). Sebenarnya Rita juga bisa diterima di SMA yang lebih baik, tapi, nasibnya juga sama dengan saya. Menurut kabar dari sekolah, semua siswa yang ikut ujian susulan ternyata mengalami nasib yang sama dengan nasib saya. Dan, begitulah nasib para siswa yang mengalami ujian susulan. Nilai PPKN mereka mengalami nasib salah koreksi.

Dampak yang diakibatkan dari pengalaman pahit saat ujian kelulusan sekolah

Dampak yang diakibatkan dari kejadian tersebut ada dua dampak yaitu dampak negatif dan dampak positif.

Dampak Negatif

  1. Saya menjadi remaja yang seperti mayat hidup karena impian, cita-cita yang hancur berantakan padahal saya telah memperjuangkan cita-cita saya itu dengan keras sekali.
  2. Teman SMP yang dulu sangat dekat dengan saya pura-pura tidak kenal dengan saya karena saya sekolah di SMA yang biasa-biasa saja. Begini ceritanya, waktu itu saya satu angkutan dengan teman SMP itu. Dengan antusias saya panggil namanya karena kami cukup dekat saat saya dan dia satu SMP dulu. Tapi, apa reaksinya? Dia menoleh sebentar dan saat dia melihat saya, dia seperti tidak kenal dengan saya bahkan dia menoleh kearah lain. Sampai saat ini saya masih menyimpan sakit hati dengan orang itu. Bayangkan, dulu saat masih SMP, dia sering pinjam catatan saya, pinjam LKS saya, pulang sekolah juga bareng saya kalau dia tidak dijemput ibunya. Tapi, karena saya hanya sekolah di SMA yang biasa-biasa saja sedangkan dia bisa masuk di SMA Favorit maka dia malu saat bertemu dengan saya. Padahal, saya diterima di SMA yang biasa-biasa saja bukan karena saya bodoh tapi karena nilai saya yang salah koreksi. Mengapa ia malu jika berteman dengan saya? Sebagian besar memang siswa SMP favorit saya dulu berhasil diterima masuk di SMA favorit.
  3. Waktu itu, setiap hari saya hanya menyesali hidup, menyalahkan diri sendiri dan mengutuk dalam hati. Semoga orang yang ceroboh saat mengoreksi jawaban ujian nasional itu mendapat penderitaan yang sama denganku!
  4. Akibat guncangan yang hebat, setiap satu bulan sekali, penyakit tipus saya pasti kambuh. Hingga saya merasa bosan sendiri dengan penyakit yang membuat cita-cita saya menjadi hancur itu! Bahkan dokter pernah bilang, jika saya terus menerus sakit seperti itu lama kelamaan saya bisa terkena hepatitis. Akhirnya, saya berjuang keras untuk melawan penyakit aneh itu. Syukurlah, setelah saya masuk kuliah, penyakit itu tak pernah menyerang lagi hingga saat ini.

Dampak positif

Sebenarnya ada banyak dampak positif yang bisa diambil dari peristiwa yang saya alami, diantaranya,

  1. Kita boleh berusaha dengan keras asalkan hasilnya nanti kita serahkan kepada Alloh SWT. Dulu, saya memiliki pedoman, “Jika kita berusaha sekeras mungkin, maka kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan!”, begitu pedoman saya. Tapi, ternyata apa yang kita inginkan belum tentu mendapat ridho dari Alloh SWT. Oleh karena itu, tetap berusaha semampu kita dan ikhlaskan saja apa yang akan terjadi dengan hasil dari usaha kita itu.
  2. Walaupun saya mengalami kejadian yang membuat saya terpuruk hebat, tapi saya masih bisa bangkit dan menata hidup kembali. Saya menjadi orang yang cukup pandai di SMA yang biasa-biasa saja. Hal ini karena saya selalu mendapat rangking paling bagus, bukannya sombong ataupun yang lainnya. Ada pepatah bilang, JADILAH IKAN BESAR DI KOLAM YANG KECIL, JANGAN JADI IKAN KECIL DI KOLAM YANG BESAR! Pepatah itu ada baiknya juga, walaupun sebenarnya pepatah yang paling baik adalah JADILAH IKAN BESAR DI KOLAM YANG BESAR!
  3. Karena nilai saya yang selalu baik, saya ditawari beasiswa. Dan lumayanlah, saya bisa dapat beasiswa, cukup untuk menghibur diri akibat kekecewaan yang cukup besar.

Sekian dan terimakasih. Demikian kisah ujian kelulusan SMP yang cukup memberikan dampak yang besar bagi hidup saya.

Walaupun cerita pendek ini masuk dalam kategori cerpen suka-suka saya, tapi cerita ini merupakan kisah yang nyata yang pernah saya alami sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender

Maret 2012
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Top Rated

HTML hit counter - Quick-counter.net
free counters
free counters

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 15 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 171,062 hits
%d blogger menyukai ini: