SHATTERED BY BROKEN HEART

Tinggalkan komentar

Maret 3, 2012 oleh nugraheniismyname

gambar diambil dari video Good Charlotte_-_Predictable

SHATTERED BY BROKEN HEART

Ilumi adalah seorang gadis yang baru saja lulus SMA. Ia berhasil masuk ke universitas terkenal di Semarang. Nama universitas itu adalah  Institut Teknologi Semarang (Memangnya ada to Institut Teknologi Semarang?). –>>> Namanya juga cerpen suka-suka saya maka suka-suka saya buat ceritanya.

Pada suatu sore, Ilumi diantar oleh sopir menuju ke Semarang. Ia berhasil mendapat tempat kos. Tempat kos itu dicarikan oleh saudaranya yang juga tinggal di Semarang. Ilumi berjalan tanpa semangat masuk ke dalam kamar kosnya setelah sopir pamit pulang ke kota asal Ilumi. Ilumi dilahirkan dan dibesarkan di sebuah kota kecil yaitu Kota Kedu Tenggara. Sebuah kota kecil di tepian bumi.

Ilumi memandang kamar kos barunya. Kamar kos itu tidak terlalu luas. Ada lemari kecil tempat pakaian, ada satu buah tempat tidur dan satu meja beserta dengan tempat duduk. Ilumi menghela nafas panjang. Ia beringsut membuka barang-barang bawaan dari rumah. Ia mengambil pakaian dari koper. Pakaian-pakaian itu ditata di dalam lemari. Ilumi juga membawa  kipas angin, setrika, komputer, karpet, heater, kotak obat, televisi kecil dan lain-lain.

Setelah Ilumi selesai berbenah kamar. Ia duduk di tepian tempat tidur. Suasana kos sangat sepi seperti suasana kuburan. Ilumi ingin mandi tapi ia takut keluar kamar. Oleh karena itu, Ilumi memilih membersihkan diri dengan tisu basah kemudian badannya ia taburi dengan bedak tabur. 

Selesai membersihkan diri dengan cara instan, Ilumi merasa lapar. Ia memegang perutnya. Kemudian, ia mencari-cari roti di dalam tas. Ia membawa beberapa persediaan makanan seperti roti, mie instan dan cemilan lainnya.

Saat Ilumi sedang asik mengunyah roti, tiba-tiba pintu kamar yang tertutup di ketuk dari luar. Ilumi merasa was-was. Ia berusaha waspada. Suasana kos yang sepi membuat Ilumi harus menjaga diri sendiri dengan baik. Ilumi tak berkutik. Ia tak ingin membuka pintu kamarnya.

“Permisi!” terdengar suara lembut diiringi suara ketukan pintu lagi. Suara itu mendorong kata hati Ilumi untuk membukakan pintu. Ilumi meletakkan roti di kasur. Ia berjalan pelan menuju pintu kamarnya. Gagang pintu diputar pelan-pelan oleh alumi.

“Permisi! Anak baru ya? Siapa namamu?” suara merdu menyapa Ilumi saat Ilumi membukakan pintu kamar. Ilumi tidak menjawab sapaan dari sosok di depannya. Ia mengamati orang di depannya dengan cermat.

Orang yang berdiri di depan Ilumi itu memiliki suara merdu dan wajahnya juga tirus seperti wujud seorang perempuan. Akan tetapi penampilannya mirip dengan laki-laki. Rambutnya di potong pendek dan dicat warna merah menyala. Ia juga memiliki tindik di dekat mata kanannya. Tak hanya itu, bagian hidung sebelah kirinya juga ditindik.

“Halo!” sosok di depan ilumi melambaikan tangan di depan muka Ilumi. Ilumi menatap wajah sosok baru di hadapannya.  “Ada perlu apa ya?” tanya Ilumi curiga.

“Namaku Natali. Panggil saja aku Nat!” Sosok baru yang ternyata bernama Nat itu mengulurkan tangannya. “Saya Ilumi,” Ilumi menyambut uluran tangan Nat. Nat tersenyum, bibirnya terlihat pucat dan kedua matanya tampak cekung. Ada lingkaran hitam menghiasi lingkar mata Nat.

“Oh, namamu Ilumi? Senang berkenalan denganmu. Oiya, jika kau butuh sesuatu. Kau bisa memanggilku. Kamarku persis ada di depan kamarmu.” Nat menawarkan jasa. Ilumi mengangguk kaku.

“Apakah tempat kos ini hanya memiliki sedikit penghuni? Mengapa sepi sekali?” tanya Ilumi, ia berusaha ramah dengan Nat. Lagipula, ia juga merasa ingin buang air kecil tapi ia agak takut jika ia harus pergi ke kamar mandi seorang diri. Maklum, kamar kos Ilumi tidak memiliki kamar mandi di dalam.

“Tempat kos ini penuh dengan penghuni. Biasanya mereka jarang pulang ke kos.” Nat menyandarkan tubuhnya yang tinggi dan kurus di tepian pintu. Pakaian yang ia pakai tampak berantakan. Ia memakai kaos lusuh dan celana pendek robek-robek.

“Oiya, kamar mandi dimana ya?” tanya Ilumi. Ia belum tahu tempat kamar mandi di kos barunya itu. “Kamar mandi ada di ujung belakang sana. Kau mau pergi ke kamar mandi?” Ilumi menunjukkan tempat kamar mandi.

Mata kecil Ilumi mengikuti arah telunjuk Nat. Kamar mandi bisa dilihat dari depan kamar Ilumi. Akan tetapi, Ada lorong panjang yang harus dilalui untuk mencapai kamar mandi. Ilumi terlihat ragu-ragu untuk pergi ke kamar mandi karena lorong itu agak gelap. Pemilik kos tidak memasang lampu terang di sepanjang lorong.

“Ayo! Aku antar kau pergi ke kamar mandi!” Nat menawarkan jasa, ia bisa tahu jika Ilumi agak takut pergi ke kamar mandi sendiri. Ilumi mengangguk sambil tersenyum. Lalu, mereka berjalan beriringan menuju kamar mandi.

Setelah Nat dan Ilumi kembali dari kamar mandi, mereka masuk ke dalam kamar masing-masing. Ilumi merebahkan diri di atas kasur. Mata Ilumi menatap langit-langit kamar.  Pikiran dan hatinya berkecamuk.

“Kita harus hati-hati dengan orang asing. Jangan percaya begitu saja dengan orang asing!” Suara hati sebelah kiri memperingatkan Ilumi tentang sosok Nat. Suara hati sebelah kiri memang selalu mendorong Ilumi untuk berpikiran negatif.

“Jangan melihat orang dari penampilan. Walau penampilannya terlihat sangar tapi ada aura kelembutan disana. Lumayankan? Kau sudah punya teman di kos. Kau dan dia bisa saling membantu!” suara hati sebelah kanan memberikan pandangan positif.

“Ah! Masa bodoh! Kita lihat saja besok!” Ilumi menutup mukanya dengan bantal. Ia pun memilih tidur.

oOo

Keesokan harinya, Nat mengetuk pintu kamar Ilumi. Saat itu, Ilumi baru saja menyalakan televisi. Lalu, Ilumi merebus air dengan heater. Ia berniat membuat teh. Sebungkus roti diletakkan di depan televisi. Sesekali, ia tertawa kecil melihat tingkah spongebob dan Patrick di televisi.

Ilumi membuka pintu kamar kosnya. “Hai!” sapa Nat. “Silahkan masuk,” Ilumi mempersilahkan Nat masuk ke dalam kamar. “Kau mau minum teh?” Ilumi berniat membuatkan minum untuk Nat. Nat menggeleng pelan sambil berkata, “Aku tidak terbiasa makan dan minum di pagi hari.”

“Hari ini masa orientasi mahasiswa baru, ya?” tanya Nat. Ia duduk di lantai beralaskan karpet hangat.

“Iya. Kamu sendiri? Kuliah atau kerja?” Ilumi balik bertanya. “Aku kuliah semester lima.” Jawab Ilumi pelan. “Oh, sudah semester lima? Berarti aku panggil kakak ya? Kak Nat!” Ilumi menoleh cepat kearah Nat. ‘Terserah kamu saja. Oiya, nomor telepon kamu berapa?” tanya Nat. Ilumi memberikan nomor teleponnya. Mereka saling tukar menukar nomor telepon.

Semenjak kejadian itu, hubungan Nat dan Ilumi semakin dekat. Terkadang, Ilumi dan Nat berangkat dan pulang kuliah bersama. Biasanya, Nat mengantar dan menjemput Ilumi dengan sepeda motornya.

Nat dan Ilumi juga sering membeli makan diluar bersama-sama. Saat akhir pekan pun, jika Ilumi dan Nat libur kuliah, mereka mencari udara segar di Lapangan Simpang Lima atapun di sekitar Tugu Muda.

Nat juga bisa keluar masuk ke kamar Ilumi begitu pula sebaliknya. Terkadang saat Ilumi pulang kuliah, di dalam kamarnya sudah ada Nat yang tiduran di atas kasur sambil melihat acara televisi. Malam hari pun, Nat sering tidur di kamar Ilumi. Nat juga sering menemani Ilumi saat Ilumi menonton bola. Begitu pula saat Ilumi akan menemani Nat saat Nat sedang menonton GP. Pokoknya, dimana ada Ilumi, disitu ada Nat.

Walaupun ada banyak penghuni kos, tetapi Ilumi memilih berteman dekat dengan Nat. Hal ini karena Nat dan Ilumi memiliki banyak kesamaan. Mereka tidak suka berdandan, mereka lebih suka berpenampilan cuek dan yang paling penting mereka memiliki selera yang sama dalam mendengarkan musik. Nat dan Ilumi penggemar The Lion’s Roar. The Lion’s Roar merupakan band cadas dari Amerika Serikat.

Sedangkan rata-rata penghuni kos berpenampilan mewah dan glamour, memilih-milih teman, sering menggosip dan membentuk gang sendiri. Penghuni kos lain sering berkumpul dan berkomplot sesuai dengan aliran masing-masing. Nat pernah cerita dengan Ilumi jika ia tidak punya teman dekat di kos karena ia tidak cocok dengan gaya hidup mereka.

Hingga pada suatu hari, saat Ilumi baru pulang dari kuliah. Ia mendengar perbincangan segerombol tetangga kos. Mereka sedang menggosip di salah satu kamar anggota gerombolan.

“Eh, bagaimana ini? Di tempat kos kita ada pasangan sesama jenis! Apakah kita harus mengadukan hal ini pada pemilik kos?!” kata salah satu teman kos yang berambut panjang mengkilat.

“Tapi, mereka berdua itu pasangan yang benar-benar serasi. Lihat saja Ilumi yang bertubuh kecil itu sangat cocok jika berjalan dengan tubuh jangkung si Nat! Hihihihi! Lagipula, Nat juga telihat sangat melindungi pacarnya itu!” teman berwajah sok cantik menimpali pembicaraan.

“Iya,mereka juga tak pernah terlihat membawa cowok! Aku tak pernah melihat Nat ataupun Ilumi pacaran dengan cowok.” Seorang tetangga kos yang berkulit putih akibat disuntik pemutih juga memperkeruh pembicaraan. Gerombolan teman-teman kos Ilumi ini memang hobi sekali pacaran dan melakukan hal-hal tabu di depan kos sehingga kos tempat Ilumi tinggal lebih mirip dengan tempat mesum.

“Yah, begitulah Nat! Ia tak mau berteman dekat dengan kita karena masing-masing dari kita telah memiliki pacar. Jadi tak ada gunanya jika ia berteman dengan kita, karena kita tidak bisa dijadikan pacar oleh dia! Hiiiiii!” teman yang memakai baju ketat juga membakar pembicaraan supaya pembicaraan semakin panas.

Ilumi berdiri kaku di dekat kamar kos para penggosip itu. Ia tak tahan lagi mendengar seminar para penggosip itu. Pintu kamar salah satu cewek penggosip tidak ditutup sehingga Ilumi bisa mendengar pembicaraan dengan jelas.

Ilumi berjalan cepat sambil menunduk. Ia melewati kamar yang dihuni para cewek tengil. Beberapa cewek tengil melihat Ilumi. Lalu, mereka berbisik-bisik menjijikkan.

Ilumi membuka pintu kamarnya. Lalu, ia duduk dengan pikiran yang berkecamuk. Suara hati sebelah kirinya lebih menguasai jiwa Ilumi. Pikiran negatif berkibaran di pelupuk mata.

“Kau pasti ingat saat kau dan Nat pergi ke pusat perbelanjaan. Nat pasti akan selalu menggandeng tanganmu. Dia juga selalu membelikan apa yang kau suka, baik makanan dan minuman. Kau juga dibelikan kaset asli The lion’s Roar. Kau juga dibelikan poster keren milik The Lion’s Roar! Dia itu tidak normal, Mi! Sadarlah! Jangan berteman lagi dengan Nat! Apakah kau tidak curiga dengan Nat! Lihat penampilan Nat, ia mirip sekali dengan laki-laki! Ia juga sering merokok di dalam kamarnya. Bahkan, kau pernah menemukan kaleng bir di dalam kamarnya!” suara hati sebelah kiri mendominasi jiwa Ilumi.

Ilumi menelan ludahnya, ia mengusap-usap muka dengan tangan. Ilumi menatap poster The Lion’s Roar yang ditempel di dinding. Poster itu pemberian Nat. Nat memberinya poster itu sebagai oleh-oleh saat Nat pulang kampung. Rumah Nat ada di Jakarta.

Kali ini, Suara hati sebelah kanan tidak bisa berkata apa-apa karena Ilumi mulai percaya dengan kata hati sebelah kiri. Mendadak, Ilumi merasa dirinya terancam akibat kedekatannya dengan Nat.

Ilumi berjalan kaku menuju pintu kamar kos. Ia mengunci pintu dari dalam supaya Nat tidak bisa masuk ke dalam kamarnya sewaktu-waktu.

Tak lama kemudian, pintu kamar Ilumi diketuk dari luar. Ilumi bisa mendengar suara Nat memanggil namanya. Ilumi tak peduli, ia tak mau membukakan pintu kamar kosnya. Akhirnya, Ilumi berniat akan meninggalkan kos selama beberapa hari. Ia akan tinggal di rumah saudaranya untuk menghindari Nat.

Ilumi benar-benar menghindari Nat. Ia menginap di rumah saudaranya selama tiga hari. Tapi, Ilumi harus kembali ke kos karena ia harus mengambil materi di komputer untuk membuat tugas kuliah. Saat hari pertama Ilumi berada di rumah saudara, beberapa kali Nat mengirim sms dan ia berusaha menelepon Ilumi. Tapi, Ilumi tak mau menanggapi. Beberapa hari kemudian, Nat tak pernah menghubungi dia lagi.

“Lho! Mbak Ilumi pergi ke mana saja? Tiga hari tidak pulang ke kos?” sapa penjaga kos sambil menyapu halaman kos. “Pergi ke tempat saudara, Mbak. Maaf saya tidak sempat pamit karena saya terburu-buru.” Ilumi memberi alasan.

“Oiya. Mbak Nat juga tak terlihat selama tiga hari ini. Dia juga tidak pamit sama saya.” Mbak penjaga kos melaporkan kondisi Nat. Ia tahu kedekatan antara Nat dengan Ilumi. Ilumi hanya tersenyum kecut menanggapi laporan penjaga kos.

Ilumi berjalan pelan menuju kamar kosnya. Kos terlihat sepi karena waktu itu adalah jam sibuk mahasiswa kuliah.

Ilumi bediri kaku di depan pintu kamar kosnya. Ia menoleh kearah pintu kamar Nat. Ilumi merasa rindu juga dengan Nat tapi ia merasa takut juga dengan Nat.

Saat Ilumi masuk ke dalam rumah, pikirannya mulai bimbang. “Kak Nat pergi kemana ya? Dia tak punya saudara di Semarang? Atau di pergi ke rumah temannya???” Ilumi menebak-nebak dalam hati.

Kali ini suara hati sebelah kanan mencoba memperingatkan Ilumi. “Mi, memangnya selama kau bersahabat dengan Nat, kau pernah dilecehkan? Kau pernah diajak pacaran?  Bisa juga kan, dia menganggapmu sebagai saudara? Apakah kau tidak bisa membedakan antara rasa persaudaraan dengan rasa cinta?”.

Ilumi merasa bimbang. Sebenarnya, Ilumi juga merasa rindu juga jika Nat tak berada disampingnya. “Astaga? Ataukah sebenarnya aku ini yang tidak normal???” Ilumi malah mencurigai diri sendiri.

Ilumi membuang nafasnya, ia berusaha membuang semua pikiran dan suara hati yang lalu lalang di depan matanya. Ilumi berjalan pelan menuju depan kamar Nat. Tangan kanannya mengetuk pintu dengan berat. Walau kata Mbak penjaga kos, Nat pergi. Tapi, ada sesuatu yang mendorongnya untuk mengetuk pintu kamar Nat.

Satu ketukan, dua ketukan, tiga ketukan hingga empat ketukan tidak ada reaksi dari dalam kamar. Akhirnya, Ilumi berniat menelepon Nat. Telepon berhasil tersambung.

“Hallo,” terdengar suara lemah menyapa Ilumi. “Hallo, Kak Nat ada dimana? Aku di depan kamar Kak Nat.” kata Ilumi.  Tak ada reaksi lagi dari ujung telepon. Akan tetapi, pintu kamar kos Nat terbuka.

Bau asap rokok dan bau pengap serta bau bir menusuk hidung Ilumi. Ilumi menatap Nat penuh terkejut. Wajah Nat sangat pucat, bibirnya kering, tulang dada dan tulang pipinya juga terlihat lebih menonjol. Ia memegang perutnya sambil meringis kesakitan.

Nat tak berkata-kata saat ia membukakan pintu. Ia memilih berbaring di kasur sambil terus memegangi perutnya. Ilumi memandangi seluruh kamar Nat. Ada banyak putung rokok tersebar di lantai. Beberapa kaleng bir tergeletak tak beraturan.

“Kamu sakit, Kak?” tanya Ilumi. Ia menghampiri tubuh kurus Nat. Nat mengangguk lemah. “Mungkin asam lambungku meningkat, perih sekali perutku ini…” Ia mendesis untuk menahan rasa sakitnya.

“Sebentar ya. Aku punya obat maag. Aku ambilkan sebentar!” Ilumi berlari cepat menuju kamarnya. Ia mengambil persediaan obat maag di dalam kotak obat. Ia juga mengambil balsem andalannya. Jika Ilumi sedang sakit kepala atau sakit perut maka jika diolesi dengan balsem, sakitnya akan sedikit berkurang.

Ilumi menyuruh Nat untuk minum obat maag. Ia juga mengoleskan balsam ke perut kecil milik Nat. Ilumi kembali masuk ke dalam kamarnya, ia mengambil sebungkus roti untuk Nat. Saat Ilumi melihat Nat kesakitan, rasa curiga kepada Nat langsung menghilang begitu saja.

“Ini, maka dulu rotinya, Kak Nat!” Ilumi mengangsurkan roti ke arah Nat. Nat menerima roti pemberian Ilumi. Ia meletakkan roti di sisi ia tidur. Kemudian, Nat memejamkan matanya.

Ilumi berjalan kea rah jendela kamar, ia membuka kaca jendela lebar-lebar supaya udara pengap berganti menjadi udara segar. Ilumi juga membersihkan lantai. Ia mengumpulkan kaleng bekas bir dan dibuang ke tempat sampah. Ia juga membersihkan putung rokok dan abu rokok yang mengotori lantai. Ilumi juga mengumpulkan baju kotor yang bertebaran dilantai.

Cukup lama Ilumi membersihkan kamar Nat, keadaan kamar sudah lumayan cukup bersih sekarang. Ilumi tak masuk kuliah hari ini.

Sesekali Ilumi melirik ke arah Nat yang tertidur setelah minum obat. Ilumi berjalan pelan menghampiri Nat yang sedang tidur. Rupanya, obat dan balsam bekerja cukup baik untuk membantu menyembuhkan rasa sakit Nat.

Ilumi memicingkan matanya saat ia melihat sesuatu yang menyembul dari balik bantal. “Seperti bingkai foto?” tanya Ilumi pada dirinya sendiri. Rasa keingintahuan menyuruh Ilumi untuk mengambil bingkai foto itu. Bingkai foto telah berada di tangan Ilumi.

Ada sosok laki-laki tampan di dalam bingkai foto. Laki-laki itu tersenyum dengan lesung pipit menghiasi pipinya. Selain itu, ada foto kecil yang terselip di dalam bingkai foto. Sebuah foto kecil dengan sosok laki-laki tampan dan gadis cantik. Laki-laki tampan itu memegang kepala wanita cantik disebelahnya.

“Mi…” terdengar suara lemah menyapa Ilumi. “Oh, Kak Nat! Kau sudah bangun?!” kata Ilumi tergagap. Dengan cepat, Ilumi meletakkan bingkai foto di kasur.

“Kau pergi kemana saja??? Apakah ada masalah dengan dirimu?” Nat berusaha bangkit dari tidurnya. Rambut merahnya tampak berantakan. Ia menyandarkan diri di dinding kamar. Roti pemberian Ilumi masih teronggok di kasur. Nat mengambil roti itu, ia mulai memakan roti isi daging itu.

“Aku tidak ada masalah. Aku hanya mengunjungi saudaraku, kok…” kata Ilumi berbohong. Matanya masih menatap penasaran pada bingkai foto di atas kasur.

Tangan Nat bergerak pelan untuk meraih bingkai foto di dekatnya. Ia masih mengunyah pelan roti di dalam mulutnya.

“Kau tadi melihat foto ini?” tanya Nat, wajahnya tampak seperti zombie. Ia memegang erat bingkai foto. Ilumi mengangguk pelan.

“Dia kekasihku…” kata Nat pelan dengan mata menerawang. Ilumi melongo saat ia mendengar perkataan Nat. Kemudian, ia duduk di tempat tidur Nat.

“Dulu, aku adalah orang yang sangat menyebalkan, manja, egois dan apapun yang aku inginkan harus terpenuhi saat itu juga. Apalagi jika dengan pacarku, aku ingin dia memperhatikanku selalu. Aku bertingkah seperti ini mungkin karena aku tidak diperhatikan oleh orang tuaku. Ayah dan ibuku sibuk mencari uang. Walau semua kebutuhanku terpenuhi tapi aku merasa sendiri. oleh karena itu, aku selalu minta diperhatikan oleh pacarku. Dia selalu baik padaku walau aku selalu menyakitinya,” Nat membuka cerita panjang lebar tanpa diminta oleh Ilumi.

“Pada suatu hari, waktu itu aku masih kelas dua SMA, aku pergi ke salon diantar oleh kekasihku. Nama kekasihku adalah Joseph. Joe tidak bisa menungguku saat perawatan di salon, dia harus membawa mobilnya ke bengkel. Beberapa hari, mobil milik Joe agak bermasalah. Waktu itu, aku marah berat karena Joe tidak mau menungguku perawatan di salon. Tapi, dia berusaha memberi pengertian sampai aku bisa mengerti,” Kak Nat menutup bibirnya dengan telapak kanannya. Matanya terlihat berkaca-kaca. Ilumi hanya bisa diam menanggapi cerita Nat. Ia ingin menjadi pendengar yang baik untuk Nat.

“Beberapa jam kemudian, aku telah selesai perawatan. Aku merasa cantik dengan rambut panjangku, aku merasa bersinar dengan kulit wajah dan kulit tubuhku yang bercahaya, aku merasa percaya diri dengan kuku indahku.” Nat berhenti sejenak dari ceritanya.

“Aku menelepon Joe. Aku meminta dia supaya menjemputku. Tapi, Joe berkata jika ia masih mengantri. Bengkel penuh karena banyak mobil rusak yang harus diperbaiki. Aku marah dan jengkel. Aku tidak mau tahu. Pokoknya, dia harus segera menjemputku.” Bulir-bulir air mata keluar dari mata Nat.

“Joe bilang jika ia akan segera menjemputku dengan taksi. Tapi, aku tak mau dijemput dengan taksi. Aku tidak suka naik kendaraan umum…” Nat memegang kepalanya yang terasa pening mendadak.

“Aku menunggu selama berjam-jam di salon. Bahkan, salon hampir tutup. Aku sungguh marah, aku ingin membunuh Joe. Bahkan, aku tak sudi meneleponnya. Hingga pada akhirnya, aku memutuskan untuk pulang naik taksi…” Nat menutup mukanya.

“Akan tetapi, saat aku sampai di rumah. Teman Joe meneleponku jika mobil yang ditumpangi Joe meledak di jalan. Joe dibawa ke rumah sakit tapi ia ikut terbakar di dalam mobil. Dan…saat aku menengoknya di rumah sakit, ia telah meninggal.” Nat menangis tertahan, ia terlihat pilu sekali.

“Rupanya, ia tidak jadi memperbaiki mobilnya. Mobil itu ia gunakan untuk menjemputku karena aku tak mau dijemput pakai taksi. Sejak, itu aku membenci diriku sendiri. Aku berusaha menyakiti diriku sendiri!” Nat membenturkan kepalanya ke dinding.

“Aku merasa sendiri, hidupku tak berguna dan aku membenci diriku seumur hidupku. Oleh karena itu, aku ingin melupakan diriku yang dulu. Entah mengapa, sejak Joe meninggal aku ingin merubah penampilanku. Aku menjadi benci dandan, aku benci ke salon, aku benci merawat diriku! Aku ingin menghukum diriku!!!” Nat memeluk bingkai foto kekasihnya.

Ilumi mengerti, wanita cantik yang juga berada di dalam bingkai foto itu pasti wujud Nat pada jaman dahulu.

“Sebenarnya, aku benci dengan gambar fotoku ini. Tapi, ada sosok Joe bersamaku. Aku tak tega untuk membuang foto ini.” Nat menatap foto kecil di dalam bingkai.

“Aku ingin membunuh diriku sendiri. Tapi, aku tak cukup berani untuk melakukannya. Aku berusaha tegar untuk menjalani hidup ini walau hidupku sudah tak berarti lagi. Biarlah aku mati pelan-pelan dengan sendirinya daripada aku membunuh diriku sendiri. Biarlah aku tanggung semua penderitaan ini akibat aku terlalu jahat dengan Joe…” Nat menyeka air mata yang jatuh ke pipinya yang cekung.

Ilumi tertegun mendengar kisah Nat, ia menjadi terharu. Ilumi ingin menasehati Nat, tapi ia merasa agak segan menasehati orang yang lebih tua dari dirinya. Biarlah Nat belajar sendiri tentang hidupnya.

“Beberapa hari ini, aku teringat Joe. Aku sangat rindu padanya. Aku berusaha menghilangkan rasa itu. Aku ingin mengajakmu jalan-jalan, tapi kau pergi. Apa kau juga sedang ada masalah?” Nat berusaha membangun ketegaran jiwanya kembali.

Ilumi tak bisa berkata-kata. Tak terasa air mata haru keluar dari kedua matanya. Ia merasa bersalah telah salah menilai sosok Nat. Nat bukanlah penyuka sesama jenis. Dia bersikap seperti itu karena di memiliki masa lalu yang suram.

“Aku tidak ada masalah. Aku hanya ingin mengunjungi saudaraku. Oiya, kak! Anggaplah masa lalumu itu sebagai rongsokan dalam hidupmu. Kau tak perlu menangisi rongsokan karena Tuhan akan memberikan sesuatu yang baru untuk kehidupan kita yang akan datang. Apakah selama hidupmu kau akan menghukum dirimu sendiri? Tuhan pasti akan melaknat orang yang menyakiti dirinya sendiri. Menurutku, pemenang sejati adalah orang yang berhasil bangkit dari keterpurukan dan ia bisa menata hidupnya kembali menuju kesuksesan. Kita tinggal pilih, kita akan menjadi pemenang atau kita akan menjadi pecundang.” Ilumi berusaha memberikan kata penyemangat.

“Terkadang, aku marah kepada Tuhan. Tapi, semua itu tidak bisa membuat Joe kembali padaku. Aku tahu aku salah. Aku harus bangkit dari semua ini. Tapi, aku merasa lemah.” Nat beranjak dari tempat tidurnya. Ia sibuk mencari sesuatu di laci meja. Ia mengambil satu kotak rokok.

“Jadi kau merokok dan minum bir itu bertujuan untuk merusak dirimu sendiri?” tanya Ilumi. “Entahlah, tidak ada yang bisa ku lakukan lagi untuk menghibur diriku sendiri.” Nat menyalakan pematik api.

“Jika kau ingin menghibur diri, kau bisa mengajakku jalan-jalan?” usul Ilumi. Nat tersenyum, sesekali ia memegangi perutnya.

“Masih sakit perutmu, Kak?” tanya Ilumi. “Masih agak terasa perih.” Jawab Nat. Ia menghisap rokok. Tapi kemudian, ia mematikan batang rokoknya.

“Bagaimana jika kau menemaniku pergi ke dokter? Beberapa hari ini perutku terasa sakit.” Ada sinar kecil harapan di bola matanya yang redup.

“Ayo, aku akan menemanimu pergi ke dokter!” Ilumi tampak antusias. Ia sudah melupakan semua pikiran buruknya terhadap Nat.

“Kau tidak kuliah?” tanya Nat. “Aku membolos untuk hari ini!” Ilumi rela bolos kuliah untuk menemani Nat.

“Jangan sering-sering bolos kuliah, ya! Kalau kau butuh sesuatu kau bisa bilang padaku, ya! Oiya, kamu sudah makan belum? Bagaimana jika kita pergi makan sekarang?” Nat sudah mulai tenang.

“Iya, sekalian kita pergi ke dokter, ya kak!” Ilumi tersenyum manis. Nat mengangguk setuju. “Aku siap-siap dulu, ya…” Ilumi bangkit dari duduknya. Ia berniat kembali ke kamarnya. “Terimakasih ya, Mi! Kau sudah bersedia mendengarkan ceritaku! Terimakasih juga kau bersedia menjadi sahabat. Kau sudah kuanggap sebagai adikku sendiri karena aku ini anak tunggal.” Kata Nat emosional. Ilumi menganggu cepat. Lalu, ia berlalu dari kamar Nat.

Pelajaran yang bisa diambil oleh Ilumi dari diri Nat adalah bahwa

  1. kita tidak boleh berprasangka buruk terhadap orang lain,
  2. kita juga tidak boleh percaya pada omongan orang lain sebelum kita mengetahui hal yang sebenarnya,
  3. kita harus percaya kepada sahabat,
  4. kita tidak boleh terlalu meratapi masa lalu yang membuat kita terpuruk
  5. kita harus bangkit dan membuat perubahan yang baik pada diri kita
  6. dan lain-lain.

Begitulah kisan cerpen kali ini. Walaupun cerpen ini merupakan cerpen suka-suka saya akan tetapi kisah dari cerpen ini terinspirasi oleh kisah nyata!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender

Maret 2012
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Top Rated

HTML hit counter - Quick-counter.net
free counters
free counters

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 15 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 171,062 hits
%d blogger menyukai ini: