ES KRIM

Tinggalkan komentar

Februari 27, 2012 oleh nugraheniismyname

ES KRIM

Mia merupakan seorang mahasiswa semester empat di Institut Teknologi Bogor. Dia sedang menikmati liburan akhir semester di kampung halamannya. Kampung halaman Mia berada di Kota Semarang. Mia memiliki seorang kakak laki-laki bernama Dio. Mia dan Dio kuliah di universitas yang sama. Selama mereka kuliah di Bogor, dua anak ini jarang pulang ke rumah. Biasanya, mereka pulang ke rumah empat bulan sekali.

Suatu pagi menjelang siang, Dio dan Mia asik bersantai di depan rumah. Mia duduk sambil melamun sedangkan Dio bermain gitar. “Mi! Daripada kamu melamun tidak jelas, lebih baik kamu mandi!” kata Dion sambil mengelus gitarnya. “Malas, ah! Aku mandi nanti sore saja!” Mia menguap, ia masih mengantuk. Liburan memang saat yang tepat untuk bermalas-malasan.  

Saat Mia dan Dio sibuk dengan diri mereka sendiri, tiba-tiba mereka mendengar suara. “Tot! Tet! Tot! Tet!” terdengar suara dari ujung gang. Semakin lama, suara itu semakin jelas terdengar. Tak lama kemudian, suara itu berhenti di depan rumah.

“Es Krim! Es Krim! Mbak! Mas!” terdengar suara laki-laki dari luar pintu pagar rumah. “Mi! Beli es krim, sana!” Dio ingin membeli es krim. “Mana uangnya?!” tanya Mia. “Sebentar, ya! Aku ambil uang dulu!” Dio masuk ke dalam rumah. Beberapa menit kemudian, Dio telah kembali. Mia mengambil uang di tangan Dio.

“Beli dua es krim, Mas!” teriak Mia. Ia berjalan cepat menuju halaman rumah. Mia membuka pintu gerbang. Ia mendekati sebuah gerobak motor. Mia mengernyitkan alisnya saat ia membaca tulisan besar di samping gerobak, tulisan itu berbunyi ‘J03 1C3 CR3AM’. “Wow, penjual es krim ini alay juga, ya?” batin Mia. Ia tersenyum dalam hati.

“Mau rasa apa, Mba?!” terdengar suara merdu menyapa Mia. Mia langsung sadar dari rasa gelinya. “Apa saja rasa es krimnya, Mas?” tanya Mia, ia mendongakkan kepala ke arah penjual es krim. Mia terkejut saat ia melihat penjual es krim. “Tampan sekali…” batin Mia. Mia salah tingkah tatkala ia melihat kenyataan jika penjual es krim itu masih muda, tampan dan keren.

“Ada rasa cokelat, rasa kelapa muda dan rasa durian, Mbak!” kata si penjual. “Dua es krim rasa cokelat deh, Mas!” kata Mia, ia masih terkagum-kagum dengan si penjual es krim. Mia merapikan rambut yang belum ia sisir sejak bangun pagi. Ia juga sibuk merapikan baju tidurnya sambil terus menatap si penjual es krim.

“Mba! Ini es krimnya!” Si penjual mengangsurkan dua gelas plastik berisi es krim kearah Mia. Mia belum sadar, ia terus menatap si penjual es krim. “Mbak! Mbak! Ini es krimnya!” si penjual melambaikan tangannya ke depan muka Mia. Mia tergagap, ia tersenyum salah tingkah. “Terimakasih ya, Mas!” Mia mengambil gelas di tangan penjual dengan rasa gugup. Setelah es krim berada di tangan, Mia bergegas pergi menuju rumah.

“Mbak! Mbak! Maaf, Mbak!” Saat Mia hampir sampai di pintu gerbang, tiba-tiba penjual es krim memanggilnya. Mia membalikkan badannya, ia tersenyum semanis yang ia bisa. “Maaf, Mbak! Es krimnya belum dibayar,” kata si penjual sambil tersenyum ramah dan sopan.

“Oiya! Benar! Benar! Aduh, maaf-maaf!” Mia bergegas kembali ke gerobak, ia meletakkan es krimnya di atas papan gerobak. Mia merogoh saku celana, ia mengangsurkan uang sepuluh ribu ke penjual es krim. “Terimakasih, Mba!” kata si penjual. Mia mengangguk. Ia pergi dengan cepat sebelum rasa malunya bertambah.

“Mas Joe! Beli es krimnya, dong!” Tiba-tiba ada tiga orang ibu-ibu tetangga Mia berjalan tergopoh-gopoh menghampiri gerobak es krim. Mia mempercepat langkahnya. Ia masuk ke dalam rumah.

oOo

Hari ini, Mia mengubah pola hidupnya. Ia mandi pagi-pagi sekali. Mia juga memakai baju rapi. Ia sedang menyisir rambutnya tatkala mami mendekatinya. “Tumben, kau rapi sekali pagi ini. Mau pergi kemana, Mi?” tanya mami saat mami akan berangkat ke rumah sakit. Mami Mia adalah seorang dokter di rumah sakit umum.

“Mia tak pergi kemana-mana. Segar juga, ya! Kalau kita mandi pagi. Walau hari libur,” kata Mia sambil berjalan ke teras rumah. Mami tersenyum saat mendengar perkataan anak perempuannya itu.

Mia duduk di teras rumah, ia bermaksud akan membeli es krim jika penjual es krim lewat di depan rumahnya. Akan tetapi, jarum jam telah menunjuk ke angka sepuluh, penjual es krim belum datang juga. Mia tidak menyerah. Ia menunggu terus hingga akhirnya muncul Dio. “Ngapain kau duduk di teras sendirian?” Dio mengacak rambut rapi Mia. “Bukan urusanmu.” kata Mia sambil merapikan rambutnya.

Hari ini, Mia agak kecewa karena penjual es krim tidak lewat di depan rumah. Hari berikutnya, Mia tidak putus asa. Ia melakukan hal yang sama seperti hari kemarin. Ia mandi pagi. Mia juga memakai baju rapi. Kemudian, ia duduk di teras selama berjam-jam. Mia menunggu kemunculan si tampan penjual es krim.

Selama tiga hari, Mia selalu menunggu si penjual es krim. Hingga pada hari ketiga, Mia mendengar suara ‘Tot, Tet, Tot, Tet’. Mia bergegas keluar pintu gerbang. Dari jauh, Mia melihat penjual itu berhenti di depan rumah tetangga. Tiba-tiba, muncul ibu-ibu rumah tangga dari dalam rumah masing-masing. Ibu-ibu itu berebut membeli es krim.

Mia menghembuskan nafas panjang. Ia malas ikut berebut membeli es krim dengan para ibu-ibu itu. Mia semakin pesimis, ia memainkan pintu gerbang. Ia melihat kerumunan ibu-ibu itu semakin banyak. Akhirnya, Mia memilih masuk kembali ke dalam rumah. Mia memilih tidur siang.

Sekitar pukul empat sore, Mia bangun dari tidurnya. Suasana agak ramai karena mami sudah pulang kerja. Mami tampak  membuat sesuatu di dapur. Sejak mami bercerai dengan papi, mami memilih tinggal dengan anak-anak. Apabila Mia dan Dio pergi kuliah di Bogor, maka mami tinggal sendiri di rumah. Mami tidak merasa kesepian karena setiap hari pasti ada pasien yang membutuhkan jasa mami.

Saat Mia berniat membantu mami di dapur, terdengar bel berbunyi. “Mia, tolong lihat siapa yang datang, ya?” pinta mami lembut. Mia mengangguk. Ia bergegas pergi ke pintu rumah dan ia membuka pintu dengan cepat. Mia terbelalak saat ia tahu siapa yang bertamu ke rumah.

“Hah! Si Penjual Es Krim!” teriak Mia dalam hati. “Maaf, Mba. Saya menganggu. Bu Dokter ada?” tanya pria itu sopan dan lembut. “Ada! Ada!” jawab Mia tergagap. Mia bergegas menemui mami. Mami pun pergi dengan si penjual es krim.

“Wah, ternyata si penjual es krim itu pasien mami!” batin Mia girang. Mia menunggu kedatangan mami di ruang tengah. Ia melihat siaran televisi. Mia tersenyum-senyum sendiri tatkala ia teringat si penjual es krim. Rambutnya yang lurus, hidungnya yang mancung, bibirnya yang tipis kemerahan dan matanya yang tajam bersinar.

“Joe Es Krim? Siapa nama si penjual es krim itu, ya? Johny, Jonathan atau Joshua?” tebak Mia dalam hati. “Penjual tampan itu pasti punya banyak cabang penjualan es krim. Hebat ya, dia? Dia mau jadi penjual es krim, walau si penjual tampan lebih pantas jadi direktur perusahaan es krim.” Mia memberi kesimpulan sendiri mengenai si penjual es krim.

“Tapi, mengapa cowok setampan dan sekeren itu mau menjual es krim keliling? Ah, dia pasti calon manajer perusahaan es krim yang diharuskan magang jadi penjual es krim keliling sebelum ia menjadi manajer.” Mia menambah satu kesimpulan mengenai si penjual tampan.

“Heh! Ngapain kau senyum-senyum sendiri!” Dio mengagetkan Mia. “Apaan, siy!” teriak Mia kaget. “Kamu senyum-senyum sendiri seperti orgil!” kata Dio, ia mengambil remote. Dio memilih saluran televisi yang menyiarkan berita selama 24 jam.

Selama satu jam, Mia dan Dio melihat tayangan berita. Mia masih terbayang wajah si penjual es krim tatkala mami masuk ke dalam rumah. “Mami sudah pulang! Siapa yang sakit, Mi?” tanya Mia cepat, ia tak sabar ingin tahu kabar si penjual es krim.

“Kasihan Joko, umurnya masih sangat muda tapi ia harus berkutat dengan beban hidup sebelum saatnya,” kata mami, mami meletakkan tas berisi obat-obatan ke meja. “Maksud mami?” tanya Mia cepat.

“Tadi itu lho, tamu yang kau bukakan pintu. Namanya Joko, umurnya sama dengan umurmu. Tapi, di sudah punya anak dan istri. Bahkan sekarang, istrinya sedang hamil. Anak pertama Joko sakit panas. Joko meminta mami untuk mengobati anaknya,” mami duduk di sebelah Mia.

“Padahal, Joko belum punya kerja tetap. Mami tidak meremehkan Joko. Joko menjual es krim keliling setiap hari. Tapi, hasil kerja Joko tidak cukup untuk membiayai anak dan istrinya,” kata mami sambil mengelap kacamata. Mia terkejut setengah mati saat mendengar perkataan mami.

“Si Joko itu menikah saat ia masih sekolah di SMA. Ia dikeluarkan dari sekolah sebelum ia lulus. Joko ketahuan pihak sekolah jika ia menghamili pacarnya. Waktu itu, pacarnya juga masih sekolah. Bahkan, Joko diusir dari rumah oleh kedua orang tuanya. Akhirnya, Joko dan pacarnya kawin lari,” kata mami lagi. “Dua bulan yang lalu, Joko mengontrak rumah sederhana di gang sebelah, kasihan dia.” gumam mami.

“Joko pernah bilang sama mami kalau sekarang ia menyesali perbuatannya dulu. Dulu, ia selalu bertingkah semaunya. Ia juga tidak mau mendengarkan nasihat orang tua. Oleh karena itu anak-anakku, mami minta kalian harus kuliah dengan baik. Ingatlah, mami disini berharap kalian menjadi orang yang tidak menyesal kelak,” kata mami panjang lebar. Mami menatap Mia dan Dio silih berganti.

“Iya mami, kami akan menjadi anak yang baik. Tenang saja, bukan begitu, Mia?” Dio menoleh kearah Mia. Mia mengangguk lemah. “Ternyata…” Batin Mia masih berkecamuk tak menentu.

“Penjual tampan itu bukan Jonathan ataupun Joshua. Dia bukan seorang calon manajer perusahaan es krim yang magang kerja. Dia adalah Joko, seorang anak yang menderita akibat ulahnya sendiri.” Kali ini, Mia membuat kesimpulan yang benar.

“Yah, padahal Joko itu tampan menurut mami,” komentar mami. Mia mengusap mukanya cepat. Ia tidak bisa berpikir untuk saat ini. Ternyata, si penjual es krim telah menikah. Mia merasa malu pada dirinya sendiri. Ia sudah bersikap kecentilan pada si penjual es krim. Mulai saat ini Mia berjanji, ia akan lebih berhati-hati dalam bersikap.

oOo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender

Februari 2012
S S R K J S M
    Mar »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
272829  

Top Rated

HTML hit counter - Quick-counter.net
free counters
free counters

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 15 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 171,062 hits
%d blogger menyukai ini: